
"Ukhti..."
"Ukhti bangun ..."
"Apa Ukhti Miya lagi sakit, ya?"
"Gatau Na, padahal sebentar lagi jam pelajaran Ustadzah Retno"
"Kita bangunin paksa Din"
"Ukhti... Ukhti!"
Miya terbangun dengan tergagap, ketika Dina dan Nina menggoyang-goyangkan badannya berkali-kali, seolah ia baru saja bermimpi buruk. Tetapi sejurus kemudian wajahnya kembali fokus dan tatapannya tajam. Miya kembali mengingat peristiwa tadi malam. Dan malam ini semua akan terjadi, ia membulatkan tekadnya.
"Ukhti kenapa? Sakit?"
"Eh... Emmm, engga Din, Nina... gapapa kok" ucap Miya datar. Kemudian matanya kembali menatap kosong kearah jendela luar. Malam ini, semuanya akan terungkap.
__ADS_1
Jam pelajaran itu berakhir singkat sekali, karena semua santriwati dikerahkan untuk membantu persiapan perayaan satu Muharram nanti malam. Ada yang membantu membersihkan aula, membersihkan ruang makan untuk para tamu dari kota. Ada juga yang membersihkan dan menyiapkan Masjid, Miya salah satunya. Entah mengapa, Ustadzah Romah tidak membiarkan Miya mendekat ke gedung utama, ke tempat kamar Nyi Wati. Apakah karena ia takut kalau Miya berinteraksi dengan Ustadzah Nyi Wati?
Namun siang itu, di luar pondok justru lebih ramai daripada di dalamnya. Warga berbondong-bondong mendirikan warung-warung kecil di depan rumah mereka masing-masing. Ada beberapa warga yang membawa gerobak dagangan atau mendirikan tenda kecil sebagai stand jualan di sisi lapangan masjid yang luas. Tentu lapangan itu akan penuh sesak oleh kendaraan para tamu nanti malam. Mereka semua nampak begitu bahagia menyambut hari ini, seolah-olah ini adalah hari besar untuk desa terpencil itu. Dan dalam sekejap, lapangan Masjid berubah menjadi seperti pasar malam dadakan.
Ketika hari semakin sore, beberapa mobil nampak mulai berdatangan. Terlihat plat mobil-mobil mewah itu berwarna merah dengan bermacam-macam huruf alphabet. Nampaknya mereka adalah pejabat-pejabat dari berbagai kota besar yang tempatnya sangat jauh dari wilayah desa ini. Pejabat-pejabat itu keluar, dan disambut riuh suara masyarakat desa yang tengah bersiap menjajakan jajanannya. Tetapi pejabat-pejabat itu nampak hanya memberikan salam dari jauh dan langsung menuju ke pondok.
Seolah sudah mengetahui kehadiran mereka, trio Ustadzah Romah, Imah, dan Ulun keluar dari pondok dan menyambut mereka. Sambutan itu diterima begitu ramah, bahkan beberapa pejabat wanita nampak sudah begitu akrab dengan Ustadzah Romah. Setelah tegur sapa dan berbincang-bincang ringan itu, Ustadzah Imah langsung mengarahkan mereka semua untuk masuk kedalam Masjid. Sepertinya acara malam ini akan berpusat di Masjid.
Tak lama berselang, mobil-mobil lain yang tak kalah mewah mulai berdatangan, dengan membawa pejabat-pejabat yang tak kalah terkenal turun dari sana. Dan ketika menjelang Magrib, pondok pesantren Miya sudah penuh sesak oleh kendaraan. Acara malam satu suro dimulai.
Adzan Magrib berkumandang, dan lima puluh lebih tamu yang sudah berada di Masjid menyelenggarakan Shalat Magrib berjamaah. Karena jumlah Jama'ah yang begitu banyak, Ustadzah Shinta sudah memerintahkan Miya dkk untuk menggelar karpet panjang di luar Masjid untuk mengakomodasi pejabat-pejabat yang tidak kebagian Shaf didalam Masjid, Seolah sudah begitu hafal dengan kondisi kepadatan perayaan ini setiap tahunnya.
Seusai Shalat, Pak Kades memberikan sambutan. Sambutan yang cukup singkat dan datar, dibawakan dengan muka sinis dan menahan marah. Mungkin Pak Kades masih tidak terima dengan kejadian yang dialami Ira beberapa hari yang lalu itu. Setelah Pak Kades kini giliran Ustadzah Romah memberikan sambutannya. Untuk pertama kalinya, Miya melihat wajah ceria seorang Ustadzah Romah yang kejam itu. Ia nampak begitu bahagia, dan mengatas namakan pendiri pondok, Ustadzah Nyi Wati, ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan seluruh tamu pejabat yang ada.
Sambutan itu berlanjut ke beberapa tamu pejabat penting. Seorang laki-laki yang nampaknya adalah bupati provinsi ini, berdiri untuk memberikan sambutannya. Sambutan yang lebih mirip orasi politik itu nampaknya didengar secara antusias oleh pejabat lain. Sepertinya, seluruh pejabat yang hadir ini merupakan anggota partai yang sama. Bisa disimpulkan bahwa acara satu muharram ini sekaligus mengakomodir pertemuan singkat tahunan partai, gila.
Ketika Adzan Isya berkumandang, sekali lagi seluruh orang yang berada di Masjid melaksanakan Shalat berjamaah, terkecuali beberapa Santriwati yang disuruh Ustadzah Ulun untuk menyiapkan aula. Dan benar saja, Seusai Shalat seluruh tamu berpindah lokasi ke dalam aula. Disana sudah tersedia karpet yang tidak kalah besar membentang hingga ke pohon di tengah lapangan pondok. Para tamu berhamburan duduk, dan pejabat-pejabat yang paling tinggi jabatannya mengambil posisi duduk di dalam aula.
__ADS_1
Kali ini tidak ada orasi ataupun sambutan, melainkan serangkaian acara pengajian yang dipimpin oleh Ustadzah Imah. Pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ira, nyanyian-nyanyian agama yang dibawakan dengan rebana oleh beberapa Santriwati yang terpilih, dan tausiah agama oleh Ustadzah Shinta. Meski dibuat begitu syahdu dan khusyu, pejabat-pejabat yang menonton justru tidak memperhatikan. Mereka nampak asik mengobrol satu sama lain, seolah acara ini seperti acara reunian kawan lama. Bahkan ketika Ustadzah Shinta memberika tausiah, justru beberapa pejabat hidung belang malah menggodanya dengan bersiul, tatakrama macam apa?!
Miya tercengang melihat acara itu, meski sudah lama ia tidak mengikuti pengajian ia merasa sangat aneh dengan perilaku pejabat-pejabat itu. Namun tentu saja yang lebih membuat Miya terkaget-kaget adalah kemunculan Ira. Ira yang sejak peristiwa itu tidak pernah lagi datang ke pondok, tiba-tiba ada di acara itu dan membacakan ayat Al-Quran dengan begitu merdu. Setelah membaca Ayat Al-Quran, Ira menatap sinis Miya. Hal itu langsung membuat wajah Miya kembali menekuk serius sama seperti pagi tadi. Ia langsung ingat tujuannya malam ini
Hari semakin larut, namun suasana justru semakin ramai. Beberapa Pejabat dan anak-anaknya yang bosan mendengarkan acara itu kemudian keluar dan menikmati pasar malam yang diadakan oleh warga. Beberapa orang berhamburan keluar pondok, yang anehnya justru dipersilahkan oleh Ustadzah Romah sendiri. Padahal, makanan untuk ramah tamah sudah susah payah disiapkan Ustadzah Retno dan beberapa santri yang dari tadi siang sibuk memasak. Meski bergitu, masih ada sebagian kecil pejabat penting yang masih bertahan. Mereka sepertinya menunggu acara khusus setelah ini. Acara apa lagi? Malam sudah semakin larut, tetapi nampaknya Miya tahu acara apa itu.
Tepat pukul sebelas malam, Ustadzah Romah memberikan pengumuman melalui speaker Masjid, bahwa seluruh santriwati agar masuk kedalam kamar. Miya sedikit terkejut mendengar pengumuman itu, Dina dan Nina kemudian mengajak Miya untuk masuk kedalam kamarnya. Awalnya Miya menolak, namun Dina dan Nina memaksa, karena setelah ini adalah acara khusus untuk pejabat, yaitu doa dan pemberkatan oleh Nyi Wati. Ustadzah Imah dan Ulun kemudian mulai 'mengusir' seccara halus para santriwati yang ada di sekitaran aula. Melihat hal itu, dengan kecewa Miya bangkit dari duduknya dan pergi mengikuti Dina dan Nina. Ira nampaknya juga mengekor dibelakang mereka.
"Ira! Gimana kabarmu?! Sehat?" Seru Dina langsung merangkul Ira.
Tetapi Ira tetap diam dan cuek terhadap sapaan dua sahabatnya itu. Namun ketika melihat Miya yang diam menatap puluhan pejabat yang berbondong-bondong masuk kedalam pondok setelah mendengar suara Ustadzah Romah, Ira lalu membuka mulutnya.
"Sekarang kak saatnya ..."
Miya menoleh kaget, bagaimana Ira bisa tau apa yang ada di pikirannya. Apakah ira juga tau mengenai semua ini? Gumam Miya. Miya kemudian berbalik arah, pergi menuju ke kamarnya. Ira nampak mengikuti Miya, dank arena penasaran dengan apa yang kedua orang itu bicarakan, Dina dan Nina juga akhirnya ikut ke kamar Miya.
Di kamar, Miya melakukan hal yang begitu aneh. Ia melepas kerudungnya, berpakaian begitu terbuka dan berdandan begitu cantik. Kini Miya seolah kembali menjadi sosok seorang pelacur seperti dulu, bahkan Dina, Ira dan Nina hampir-hampir tidak mengenalinya. Setelah itu ia mengacuhkan ketiga orang itu dan pergi keluar kamar.
__ADS_1
"U-Ukhti... Kenapa berpakaian seperti itu? Mau kemana?" Tanya Dina terheran-heran.
"Ikut aku ... Malam ini semuanya akan terbongkar"