Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Penerimaan Santriwati


__ADS_3

Setelah masuk kedalam masjid, Ustazah Shinta yang sudah menunggu kedatangan Miya langsung menyodorkan seperangkat mukenah putih. Dengan bergemetar, Miya mengambil mukenah itu, sekali lagi matanya berlinang. Ia begitu terharu, melihat suasana Masjid yang kala itu begitu syahdu, dengan bunyian-bunyian Shalawat yang meggema diseluruh ruangan.


Lalu, Miya mengenakan mukenah itu. Mukenah Putih yang begitu bersih dan wangi, berkali-kali Miya mencium aroma harumnya. Ustazah Shinta begitu bahagia menatap Miya yang mengenakan Mukenah itu, mereka berdua kemudian masuk kedalam barisan Shaf Shalat Subuh dan mulai ber-Shalawat. Beberapa menit kemudian, Iqomah berkumandang, lagi-lagi oleh suara laki-laki dari rekaman radio. Setelah Iqomah selesai, Ustazah Shinta lalu mempimpin Jama'ah Shalat Subuh, sedangkan Ustazah Imah mengambil Shaf persis di sebelah Miya.


Shalat itu terasa begitu khusyu bagi Miya. Shalat berjamaah itu pahalanya 27x lipat lebih banyak daripada Shalat seorang diri, hal itu benar-benar ia rasakan. Padahal hanya 2 Rakaat saja, namun rasanya seperti sudah membayar lunas semua perjuangan Miya. Ya, bukanlah hutang orang tua yang paling memberatkan, tetapi seluruh dosa yang Miya tanggung selama ini. Miya sungguh memikirkan dosa yang ia lakukan, tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur.


Setelah Shalat Subuh selesai, Ustazah Shinta lalu memberikan pengumuman. Dihadapan seluruh santriwati dan Ustazah Imah, ia memperkenalkan Miya. Miya begitu malu ketika seluruh santriwati tersenyum menyapanya, ia merasa berbeda kasta dengan mereka yang begitu suci. Tetapi ketika beberapa santriwati menghampiri Miya dan mengajaknya berkenalan, barulah ia merasa kehangatan yang diberikan oleh teman-teman barunya itu. Jama'ah Shalat Subuh itu akhirnya membubarkan diri dan keluar dari Masjid.


Di halaman Masjid, Mirna yang daritadi menunggu didalam mobil langsung keluar begitu melihat segerombolan orang keluar dari Masjid. Ia kemudian mengambil koper milik Miya yang berada di kursi belakang. Melihat sahabatnya itu sudah menyiapkan kopernya, Miya langsung pergi menghampiri Mirna.


"Gimana? Betah?" tanya Mirna.


"Sejauh ini betah ... orangnya baik-baik Na"


"Syukur deh ... Dah ya, Gua pulang dulu, nih koper lu!"


"Langsung sekarang? Nggak mau nginep dulu?"


"Nggak ah, males! Entar Gua jadi alim dong ..." Tawa Mirna


"Mbak Mirna, ndak menginap dulu kah?" Tiba-tiba Ustazah Shinta datang dari belakang Miya lalu ikut dalam obrolan mereka berdua.


"Eh! Enggak Mbak ... Eh Ustazah! Nggak Ustazah, makasih ... Hehe ..." jawab Mirna Kikuk.


"Oh, ya sudah kalau begitu ..."


Mirna lalu membuka pintu mobilnya. Namun belum sampai kakinya melangkah masuk kedalam mobil, Miya langsung memeluknya.


"Thanks ya Na ... makasih banget ... makasih buat semuanya!" ucap Miya sambil menangis. "Kalau nggak ada Mirna, mungkin aku nggak akan bisa seperti ini ... Makasih ya Na, buat semua bantuan, support, dan semuanya ..."

__ADS_1


Mirna dengan mata yang berkaca-kaca langsung membalas pelukan sahabat baiknya itu.


"Lebay lo Yak! Lebay! Gua gamau nangis jadi nangis gara-gara elu!" Bentaknya sambil terisak.


Kedua sahabat itu kemudian berpelukan begitu erat, disaksikan oleh Ustazah Shinta dan beberapa santri.


"Ehm ... Ustazah! Tolong Miya diajak masuk!" Teriak Ustazah Imah dari kejauhan.


Nampaknya Ustazah gemuk ini sudah lebih dahulu meninggalkan Masjid lalu berbalik karena Miya tidak kunjung masuk kedalam pondok pesantren. Mendengar seruan Ustazah Imah itu, Miya lalu melepaskan pelukannya. Mirna tersenyum kecut dan melotot sinis kearah Ustazah Imah, karena seolah ia sedang diusir. Ustazah Shinta lalu tersenyum dan menyalami Mirna, sepertinya ia paham bagaimana kekesalan Mirna.


Kemudian Mirna masuk kedalam mobil. Namun sebelum ia pergi, Mirna membuka kembali kaca mobilnya dan menoleh kearah Miya dan Ustazah Shinta


"Nanti Gua main-main ya kalau libur! Ngajak Pak Hendra juga! Boleh kan Ustazah?"


"Husss!!" Desis Miya.


"Ah, ga asik nih ... Ustazah"


"Mirna! Ih!" Bentak Miya begitu malu.


Namun Ustazah Shinta begitu baik, ia justru tertawa mendengar sindirian dari Mirna itu. Mirna lalu melaju mobilnya dan pergi berlalu. Setelah Mobil Mirna sudah tidak terlihat lagi, Ustazah Shinta lalu mengajak Miya masuk kedalam Pondok. Sambil menggeret tas kopernya, Miya mengikuti Ustazah Shinta masuk kedalam lapangan pondok pesantren. Sepertinya Ustazah Imah sudah tidak ada di tempatnya berdiri tadi, mungkin ia sudah masuk duluan.


Begitu menginjakkan kaki di lapangan tanah ditengah-tengah Pohon itu. Miya langsung disuguhkan pemandangan gedung tiga lantai di kanan dan kirinya. Gedung itu bercat hijau, kesannya seperti bangunan sekolah dasar. Terlihat lampu penerangan yang menyala di kamar-kamar yang ada di setiap lantai, membuat suasana saat itu cukup terang meski masih subuh. Berbeda dengan dilapangan luas tadi, disini jauh lebih terang. Dihadapan Miya berdiri sebuah pohon besar tinggi menjulang. Daun-daunnya begitu lebat, seolah memberikan keteduhan pada bangku-bangku panjang dibawahnya. Pohon besar yang berada persis ditengah lapangan itu, melengkapi keindahan dan kemegahan pondok pesantren ini.


Karena terus melamun melihat pemandangan pondok, Miya sampai-sampai di gandeng oleh Ustazah Shinta menuju ke bangunan di belakang pohon besar itu. Bangunan pondok ketiga itu ukurannya lebih lebar daripada yang lain, dan juga memiliki tiga lantai. Namun lampu di lantai dua dan tiga tidak dinyalakan, sehingga suasana terasa sedikit gelap. Cahaya lampu dari bangunan lain pun terhalang oleh pohon besar di tengah lapangan. Namun di lantai satu, cahaya memancar begitu terang dari dua buah pintu kayu besar yang terbuka lebar. Pintu kayu itu mengarah ke sebuah ruangan besar.


Lantai satu bangunan pondok yang berada ditengah itu, seluruhnya adalah aula. Setelah membantu Miya meletakkan koper di samping pintu kayu besar itu, Ustazdah Shinta lalu mengajaknya masuk kedalam aula. Di sana, ada tiga orang Ustazah yang sudah menanti Miya. Ketiga orang itu mengenakan kerudung dan baju serba hitam, persis seperti Ustazah aneh yang tersenyum pada Miya sebelum Shalat Subuh tadi. Jantung Miya berdebar-debar, ketenangannya kini berubah kembali menjadi takut melihat ketiga Ustazah itu. Salah satu dari tiga Ustazah itu adalah Ustazah Imah, ia sepertinya berganti kerudung dan baju hitam. Sedangkan kedua orang lainnya ... Miya tidak mengenalinya, sepertinya Ustazah aneh itu bukan salah satu dari mereka.


Dengan masih mengenakan Mukenah masjid, Miya di dudukan di tengah-tengah ketiga orang Ustazah itu. Ustazah Imah duduk dihadapan Miya, sedangkan dua Ustazah lainya berada di kanan dan kirinya. Ustazah Shinta kemudian mengambil posisi persis di belakang Miya. Sekarang, Miya seperti di kepung dari semua arah, meski jarak duduk mereka semua berjauhan. Meski hanya lima orang saja yang ada di aula sebesar itu, rasanya Miya seperti di tatap oleh ribuan pasang mata, ia gugup sejadi-jadinya.

__ADS_1


Ketiga Ustazah yang mengadap Miya itu terlihat tenang dan santai. Bahkan, Ustazah Imah terlihat bercakap-cakap ringan dengan Ustazah yang berada di kiri Miya. Namun ketika Ustazah Shinta memberikan aba-aba pada mereka, wajah Ustazah Imah berubah sedikit serius.


"Baik lah kita mulai saja, nak Shinta ..." ucap Ustazah Imah.


Miya menelan ludahnya pertanda ia saat ini begitu gugup. Mau diapakan aku ... gumamya dalam hati.


"Bismillahirrahmanirahim ... assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ..." salam Ustazah Shinta.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" ketiga Ustazah itu menjawab salam dari Ustazah Shinta. Begitu juga Miya, meski ia menjawabya dengan sedikit kaku.


"Mari kita mulai penerimaan santriwati baru hari ini ..." lanjut Ustazah Shinta.


"Nak Miya, perkenalkan ... ini Ustazah Ulun (menunjuk Ustazah di kanan Miya) dan Ustazah Romah (menunjuk Ustazah di kiri Miya). Kami bertiga adalah Ustazah pengurus dari Pondok Pesantren ini. Dengan rahmat Allah SWT dan dengan doa dari Nyi Wati, kami menerima nak Miya untuk menempuh pendidikan Agama di sini"


Miya menatap satu persatu Ustazah itu. Ustazah Ulun adalah yang paling kurus dari mereka bertiga, badannya pun juga kecil. Ustazah Ulun nampak tersenyum ramah pada Miya. Berbeda dengan Ustazah Romah yang tatapannya tajam melotot. Wajahnya yang judes dengan banyak keriput, sepertinya ia yang paling tua.


"Alhamdulillah ya Allah ..." ucap syukur dari Ustazah Shinta.


"Alhamdulillah ya Allah ... Terima kasih Nyi Wati" sahut Ustazah Imah dan Ustazah Romah.


Miya sedikit binging, namun kemudian ia ikut mengucapkan Hamdallah beriringan dengan Ustazah Imah.


Dari awal sebenarnya Miya sudah heran, sebenarnya siapa itu 'Nyi Wati' kenapa Ustazah-Ustazah disini selalu menyebut-nyebut namanya. Miya sedikit paham bahwa Nyi Wati itu sepertinya adalah pemilik pondok pesantren ini, namun tidak seharusnya namanya selalu disebut-sebut seolah seperti orang yang disembah.


Ustazah Shinta kemudian memulai berdoa, diikuti oleh ketiga Ustazah berpakaian hitam itu. Doa yang di panjatkan adalah bacaan-bacaan Al-Quran yang sering di kumandangkan di Masjid-Masjid, Doa memohon ampun, Doa sapu jagad, dan di tutup dengan bacaan Al-Fatihah. Miya mengikuti dengan khusyu doa-doa yang diucapkan Ustazah Shinta itu, meski dalam hatinya masih ada rasa takut.


Di pojok ruangan aula luas itu, terdapat sebuah tangga kayu yang menuju ke lantai dua. Tentu, tangga itu mengarah ke ruangan yang gelap, karena lampu lantai dua tidak dinyalakan. Ustazah Imah lalu menunjuk kearah tangga itu.


"Nah yang terakhir, Nak Miya naik keatas ... Temui Ustazah Nyi Wati, untuk minta restu dari beliau ..."

__ADS_1


__ADS_2