Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Pengakuan


__ADS_3

Miya, dengan kepala yang memar bekas pukulan Ustadzah Romah, terus memeluk badan rapuh Hantu Ustadzah Nyi Wati. Sambil terus berusaha untuk menenangkan Nyi Wati yang mengamuk. Hantu itu bukannya berhenti malah jeritannya semakin lantang.


"ROMAH!! IMAH!! ULUN!!!"


Jeritan itu begitu menggema, dan terdengar hingga keluar pondok pesantren. Ustadzah Romah yang tengah berlari didalam hutan, dibuat terjungkal jatuh saat mendengar jeritan itu, jeritan ibu angkatnya, yang sudah puluhan tahun tidak ia dengar lagi. Setelah berusaha bangkit ia kemudian bersujud sambil gemetaran di depan gua tempat biasanya ia mencuci jenazah Ustadzah Nyi Wati dengan formalin bersama Nabila. Berkali-kali ia mengucapkan "maaf maaf maaf", seolah sedang memohon ampun kepada mulut gua, namun tentu saja tidak ada siapa-siapa disana.


Di dalam gua tersebut, ada sebuah kolam kecil yang terbuat dari susunan batuan gua. Air kolam itu adalah formalin pekat, yang rutin diganti oleh Nabila, dengan kata lain, itu adalah tempat dimana mereka menyimpan Jenazah Ustadzah Nyi Wati untuk di awetkan. Dari kolam formalin yang tenang itu tiba-tiba menyeruak keluar sebuah sosok berkerudung hitam. Dengan penuh basah kuyup sosok itu keluar dari kolam dan berjalan menuju mulut gua, seolah ia menyambut rintihan Ustadzah Romah yang tengah menangis tersedu-sedu.


Mencium bau formalin yang begitu menyengat, Ustadzah Romah segera menengadahkan kepalanya, dan melihat sosok hantu Ustadzah Nyi Wati sudah berada di hadapannya. Hantu yang lehernya tergantung itu kemudian menjambak kerudung Ustadzah Romah hingga rambutnya terurai. Rambut itu kemudian ia genggam dan Ustadzah Romah diseret masuk kedalam gua. Ustadzah Romah menangis sekeras-kerasnnya menahan nyeri untuk setiap helai rambut yang tertarik.


Sesampainya didalam gua, hantu itu lalu membenturkan kepala Ustadzah Romah ke bebatuan, membuat dahinya berdarah. Ustadzah Romah hanya meringis kesakitan lalu kemudian merangkak dan memeluk kaki hantu itu.


"Ampun Nyii... Ampun Ibu.... Romah Bersalah... Romah berdosa... Ampuuuni Romah Nyii"


Ustadzah yang begitu bengis dan kejam, kini merengek seperti anak kecil, dihadapan arwah gentayangan ibu angkatnya, gurunya, dan orang yang telah membesarkannya dulu. Dan orang tua itu juga yang ia siksa, ia perjual belikan demi pundi-pundi derma. Mungkin tidak sampai di pikiran Ustadzah Romah bahwa Hantu yang meneror pondok pesantrennya setiap menjelang satu suro adalah perwujutan hantu Ustadzah Nyi Wati. Atau mungkin ia menyadarinya namun berusaha menghiraukannya. Dan malam ini menjadi akhir dari segalanya.

__ADS_1


Hantu itu tidak menggubris tangisan Ustadzah Romah, ia lalu mengangkat seluruh badannya dan membantingnya begitu keras ke kolam. Sebelum tercebur, kepala Ustadzah Romah lagi-lagi menghantam bebatuan. Kepala Ustadzah Jahat itu seketika remuk, dan ia akhirnya meninggal seketika di dalam kolam formalin.


Di tempat lain, Ustadzah Ulun dan Ustadzah Imah berlari keluar dari pondok pesantren. Mereka berdua memisahkan diri dari Ustadzah Romah yang langsung berinisiatif lari ke hutan. Awalnya Ustadzah Imah ingin pergi ke desa dan meminta perlindungan kepada Pak Kades ayah Ira, tetapi kerumunan kendaraan tamu yang, dengan tergesa-gesa, meninggalkan lapangan masjid membuat kemacetan dan menghalangi jalan mereka. Kemudian, dari hutan tempat Ustadzah Romah kabur tiba-tiba muncul sosok Hantu Ustadzah Nyi Wati dengan leher yang menggantung. Sontak Ustadzah Imah dan Ustadzah Ulun berlari masuk kedalam masjid.


Dengan sigap Ustadzah Imah dan Ulun bahu membahu menutup rapat pintu masjid. Mungkin didalam benak mereka berdua berlindung di rumah Allah adalah cara paling aman untuk menghindari terror hantu itu, namun mereka salah. Bahkan mereka sendiri, yang seorang Ustadzah, jarang menginjakkan kaki ke Masjid untuk sholat. Seolah perbuatan mereka sudah benar-benar mendapat murka dari Allah SWT, pintu Masjid yang telah mereka tutup rapat sebelumnya tiba-tiba membuka. Sosok hantu Ustadzah yang selalu mereka hindari, kini berjalan masuk kedalam masjid menghampiri mereka.


Tidak kehabisan akal, Ustadzah Ulun lalu segera menyalakan rekaman adzan yang biasa di putar saat menjelang Sholat. Namun anehnya rekaman itu justru mengeluarkan suara sang Ustadzah.


"IMAH!!!! ULUUN!!!!"


"AMPUUUUNN!!! AMPUUUNN Nyiii!! Ampuuun ibuuu!!! Imah minta maaff...!!! Imah bersalaah!!! Imah sudah berdosaa!!!!" Ucapnya sambil bersujud simpuh di hadapan arwah ibunya.


"Imah hanya menuruti Romah!! Romah yang punya ide untuk mengawetkan jenazah ibu dengan formalin!! Lalu Menghadirkannya di hadapan tamu-tamu setiap malam satu suro... Semua itu ide Romahhh..." Sambungnya.


Ustadzah Ulun kemudian mengikuti apa yang diucapkan kakaknya barusan. Sambil menangis tiada henti, ia membenarkan semua yang telah diucapkan Ustadzah Imah barusan.

__ADS_1


Tanpa mereka berdua sadari, microphone yang terjatuh diatas lantai tadi menyala, sehingga seluruh tangis pengakuan mereka berdua tersiar dengan begitu jelas dari speaker masjid. Seluruh tamu pejabat yang masih belum berhasil meninggalkan pondok pesantren, seluruh santriwati, dan seluruh warga desa yang mendengar suara pengumuman itu dibuat kaget. Pandangan mereka semua kemudian mengarah ke masjid dengan tatapan tidak percaya. Jadi selama ini, Ustadzah Nyi Wati yang ia mintai restu setiap tahunnya, ternyata adalah mayat yang diawetkan. Selama ini mereka meminta restu kepada mayat... Mereka semua, kini paham... kenyataan yang sebenarnya terjadi.


Di lapangan pondok pesantren, hantu kepala buntung, jasad asli Ustadzah Nyi Wati semakin berteriak histeris setelah mendengar pengakuan itu. Hal itu membuat telinga Miya berdenging akibat suara teriakan hantu itu tidak kunjung berhenti, makin lama membuat rasa nyeri berdenyut di kepalanya. Lagi-lagi matanya kembali berkunang-kunang seolah kesadarnya kembali hilang, Miya hampir saja kembali pingsan. Namun di sisa-sia kesadarannya itu, ia kemudian meneriakkan sebuah ayat, yang dulu pernah Ustadzah Nyi Wati ucapkan, saat pertama kali menerimanya di pondok pesantren ini.


"Bismillahirahmanirahim, Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat"


(QS.Al-Isra:25)


Seketika teriakan histeris itu berhenti, tangan mayat hidup itu kemudian melepaskan kepalanya hingga menggelinding ke tanah. Wajah dari kepala itu kemudian menangis, memeteskan air mata cairan formalin yang begitu berbau menyengat. Melihat hal tersebut, bukannya ngeri, Miya justru menyambar kepala Ustadzah Nyi Wati yang tengah menangis, dan langsung memeluknya. Ia kemudian ikut menangis, seolah merasakan seluruh penderitaan yang telah dialami Ustadzah Nyi Wati selama bertahun-tahun ini.


Seluruh santriwati yang tidak pingsan menyaksikan hal itu. Mereka yang telah mendengar apa yang diucapkan Ustadzah Imah dari speaker Masjid kini mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ustadzah Nyi Wati, Guru besar sekaligus pendiri pondok pesantren mereka, sebenarnya telah mati beberapa tahun yang lalu. Namun ketiga kepala Ustadzah mereka merahasiakannya, dan membuat sekenario seolah-olah Ustadzah Nyi Wati masih hidup. Pantas saja semua santriwati disini tidak ada satupun yang pernah bertemu dengan Ustadzah Nyi Wati. Ustadzah selalu mengurung diri di kamar, Ustadzah sedang sakit dan tidak mampu beraktifitas mengajar seperti dulu lagi, ternyata semuanya adalah kebohongan.


Diantara kerumunan santriwati yang tengah memandangi Miya itu ada ustadzah Retno, yang sebenarnya juga sudah tahu tentang kenyataan mengerikan ini dari lama. Ia bersama Ustadzah Shinta tidak berani melawan, mereka berdua akhirnya hanya bisa menuruti perintah dari Ustadzah Romah. Ustadzah Retno kemudian mendekat kearah Miya sambil menangis, dan kemudian memeluk badan tanpa kepala Ustadzah Nyi Wati, yang terus berdiri di depan pintu aula. Dari belakang, Ustadzah Shinta mengikuti, begitu juga Nabila yang barusaja turun dari lantai dua, ikut memeluk badan rapuh itu. Seketika, seluruh santriwati mengikuti mereka, dan sambil menangis, mereka bergantian memeluk dan menyentuh badan Ustadzah Nyi Wati.


Melihat seluruh santriwati pondok pesantrennya begitu sedih melihat kondisinya, tangisan mayat Ustadzah Nyi Wati semakin menjadi-jadi. Tetapi kali ini, mereka semua tidak takut, justru mereka semakin ikut bersedih. Puluhan wanita berkerudung putih yang ada di depan aula itu semuanya bersedih, menangisi kenyataan mengerikan ini, sebuah kebohongan besar selama bertahun-tahun yang akhirnya terungkap.

__ADS_1


Ditengah tangisnya itu, badan tanpa kepala mayat Ustadzah Nyi Wati kemudian roboh. Kepala buntung yang dipeluk Miya itu kemudian terpejam. Seolah telah ikhlas dengan semua yang terjadi, kini mayat Ustadzah Nyi Wati... benar-benar telah mati...


__ADS_2