Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Menjelang Malam Satu Suro


__ADS_3

Hari ini, Miya sama sekali tidak fokus dalam belajar. Berkali-kali Ustadzah Retno menegurnya ketika ia salah membaca beberapa ayat Al-Quran. Walaupun memang Miya masih belum bisa mengingat kembali cara membaca Al-Quran yang dulu sempat ia kuasai ketika kecil (karena memang Miya baru dua hari di pondok pesantren ini) Tetapi kali ini ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


Peristiwa penampakan "Hantu Ustadzah" tadi subuh, Ustadzah Romah yang melotot tajam ke arahnya, tingkah aneh Nabila serta bau busuk yang berusaha ia tutupi dari baju hitamnya, serta kenyataan bahwa Nabila juga memiliki baju dan kerudung hitam sudah membuat Miya semakin bingung. Pikirannya menjelajah kemana-mana, menduga yang tidak-tidak. Namun, ketika ia melihat suasana kelas yang begitu syahdu dan khusyu dalam menyenandungkan ayat-ayat suci Al-Quran, hati Miya sedikit tenang.


Tak apa lah, bila ada hantu di pondok pesantren seperti ini, toh di setiap tempat memang ada jin penunggunya,kan? Sudah hal yang wajar bila pondok pesantren di desa terpencil seperti ini memiliki satu atau dua kisah menyeramkan.


Lalu soal Nabila, dari dulu memang anaknya suka menyimpan rahasia dari aku dan Mirna. Lagipula soal pakaian dan kerudung hitam yang berbau busuk itu ... nggak usah diambil pusing deh ... Toh Nabila memang keponakan Ustadzah Romah, mungkin mereka berdua ada urusan tersendiri sehingga mengharuskan Nabila memakai pakaian yang sama dengan Ustadzah-Ustadzah itu.


Aku kesini untuk cari ketenangan, untuk menebus dosa-dosaku, untuk kembali ke jalan Allah. Aku harus fokus belajar agama dan ibadah, hal-hal kayak gini nggak boleh bikin konsentrasiku pecah, nggak boleh membuat aku gak tenang! gumam Miya dalam hati.


Miya sepertinya berusaha menenangkan dirinya dari kekhawatiran yang berlebih tentang peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi selama ia tinggal di pondok ini. Sambil menghela nafas panjang, ia kemudian kembali berkonsentrasi membaca Al-Quran yang terbuka di hadapannya, Bismillahirahmanirahim.


....


Hari-hari berikutnya, Miya habiskan dengan betul-betul menikmati kegiatan pondok seperti mengaji, Shalat Fardhu, Shalat Sunnah, belajar Ilmu Fiqih, dan masih banyak hal lain. Hanya Shalat subuh saja yang Miya enggan melakukannya tepat waktu. Ia lebih memilih melakukannya sendiri di kamar, tentu Miya masih takut dengan penampakan hantu mengerikan itu. Ia tidak berani menuruni tangga bangunan asrama dua saat malam, terlebih harus berjalan ke depan pondok pesantren, tepat di depan hutan yang gelap itu. Ia sudah meminta izin pada Ustadzah Shinta dan berjanji akan benar-benar menjalankan Shalat Subuh di kamar. Ustadzah Shinta yang akhirnya mendengar alasan mengapa Miya berjalan ke hutan sendirian malam itu –hingga ditemukan oleh Pak Kades- mau tidak mau menyetujui permintaan Miya tersebut. Sepertinya Ustadzah Shinta paham dengan Hantu Ustadzah itu, apakah ia pernah melihatnya?


Namun kali ini Miya Nampak bersikap 'bodo amat' dengan semua itu. Ia lebih memilih mengkhusukan diri dalam kegiatan pondok pesantren. Miya juga dengan rajin bangun subuh dan melaksanakan Shalat di kamarnya sendiri, sesuai janjinya. Dan karena itulah, ia jadi tau bahwa Nabila selalu tidak ada di kamar ketika dini hari hingga menjelang pagi.


Nabila pernah berkata padanya bahwa ia melaksanakan Shalat malam bersama Ustadzah Romah, Imah, dan Ulun ditempat Nyi Wati, diteruskan hingga Shalat subuh. Tidak hanya itu, sepertinya Nabila tidak mengikuti kegiatan belajar yang sama seperti Miya. Apa Nabila sudah beda materi, sehingga ia belajar di kelas lain? Atau belajar dengan Ustadzah-Ustadzah itu? Meski pikirannya bergumam liar, sikap 'bodo amat' yang mulai diterapkan oleh Miya itu lagi-lagi berhasil membuat pikirannya tenang. Tetapi karena itu lah, dari hari ke hari selama seminggu ini, Miya semakin jarang berkomunikasi dengan Nabila.


Tetapi, komunikasi dengan Trio Dina, Ira, dan Nina justru semakin akrab. Miya semakin sering bermain ke kamar mereka, terutama ketika istirahat menjelang Shalat Magrib, dimana hari saat itu menjadi petang. Bahkan seusai Shalat Isya (sekitar pukul delapan malam) mereka bertiga tidak pernah absen mengantarkan Miya kembali ke kamar. Ya, bertiga, karena mereka juga takut. Namun malam ini akan berbeda, karena akan ada kegiatan mengaji tambahan seusai Shalat Isya.

__ADS_1


"Dalam rangka apa, nih?" Tanya Miya spontan ketika Dina menceritakan kegiatan mengaji tambahan itu.


Tidak seperti biasanya, Trio Dina, Nina, ira dan Miya berjalan keluar masjid menuju ke ruang kelas gedung asrama dua. Malam ini mereka akan mengaji di ruangan itu hingga subuh. Sambil berjalan, mereka berbincang-bincang terkait hal ini.


"Menjelang Malam satu suro, Ukhti"


"Satu Muharram maksudnya?"


"Bener, Insha allah minggu depan" Sahun Nina.


Miya lalu menengadah ke langit sambil berusaha menghitung tanggal dalam benaknya. Ternyata ia sudah lebih dari dua minggu disini, tak terasa sudah menjelang Tahun Baru Islam.


"Ramai?"


Seketika Miya teringat kembali tentang pemuda desa yang ia tanya arah saat pertama kali kemari dulu. Pemuda itu berhasil membuat Mirna ketakutan kala menjelaskan bahwa biasanya orang akan datang ke pondok pesantren ini ketika malam satu suro.


"Iya! Nanti bakalan banyak orang kota seperti Ukhti" Ucap Nina kegirangan. Nampaknya Nina justru senang dengan keramaian itu, berbeda dengan Ira.


"Eh, ngapain?"


"Mereka minta doa, mengikuti pengajian ... seperti itu" Jawab Dina

__ADS_1


"Betul-Betul! Nanti Nina bakalan dapat jajan banyak!"


"Ah! Mereka itu cuma bikin ribut aja, ibadah nggak khusyu! Pengajian juga nggak Khidmat! Besok paginya kita bakalan bersih-bersih lapangan! Orang kota cuma bisa bikin kotor aja!"


"Hush! Ira, Ukhti Miya orang kota juga!" Bentak Dina


"Hahaha nggak papa, Dina. Tapi ... bakalan seramai itu kah?"


"Ramai banget kak! Lapangan kita bakalan penuh mobil-mobil bagus!"


Lebih lanjut, mereka bertiga menceritakan bahwa kegiatan perayaan malam satu suro di pondok pesantren ini memang seperti itu, akan banyak orang kota datang setiap tahunnya. Mereka melaksanakan ibadah berjamaah dan mengikuti pengajian yang diadakan oleh pondok pesantren ini. Namun itu pengalihan saja, menurut Ira mereka datang untuk meminta 'doa restu' kepada Ustadzah Nyi Wati.


Doa restu yang dimaksud itu, adalah untuk kelancaran urusan masing-masing, seperti memperlancar jodoh, memperlancar rezeki, agar terpilih dalam pemilihan umum, agar lulus dalam ujian, dan sebagainya dan sebagainya. Sehingga, tamu-tamu yang datang adalah orang elit kota, pejabat, bahkan artis terkenal. Kegiatan perayaan malam satu suro ini sudah rutin dilakukan berpuluh-puluh tahun, bahkan sebelum Ira lahir, dan setiap malam itu, desa ini akan ramai penuh dengan perayaan. Pantas saja, Pemuda desa itu awalnya mengira Miya dan Mirna adalah orang kota yang rutin datang kesana setiap malam satu suro.


Mendengar soal perayaan itu, Miya kurang antusias. Ia bahkan sedikit takut, takut apabila ia bertemu dengan salah satu klien yang pernah membookingnya dulu. Miya tidak mau orang luar tau keberadaanya disini. Tentu saja, hanya Mirna saja yang tau, bahkan Pak Indra, bosnya, tidak dikabari akan hal ini. Ia juga belum mengurus surat resign dari perusahaan Pak Indra, dan memutuskan langsung saja kemarin malam itu.


Dan yang paling membuatnya ngeri adalah, alasan orang-orang itu kemari. Bukankah itu suatu perbuatan yang mengarah ke Syirik? meminta doa restu kepada Ustadzah untuk melancarkan kehidupannya. Ketika Miya mengungkapkan hal ini, Ira begitu setuju. Namun ia menjelaskan bahwa menurut ayahnya (Pak Kades) hal itu tidaklah benar. Mereka tetap meminta doa kepada Allah SWT, melalui ibadah-ibadah dan pengajian yang diselenggarakan. Meminta doa restu kepada Ustadzah Nyi Wati hanya merupakan simbolis saja, karena Ustadzah Nyi Wati adalah sesepuh, sekaligus pendiri pondok pesantren ini.


Mereka berempat kemudian sampai di ruangan kelas mereka. Saat itu ruangan begitu gelap dan mengerikan, berbeda sekali saat pagi ketika jam belajar. Ira langsung menyalakan lampu kelas, Dina dan Nina langsung mengambil kursi dan menyusunya secara melingkar dengan sebuah meja tepat berada ditengah-tengah lingkaran kursi itu. Miya ikut membantu mereka, ketiga orang itu nampak gugup sekali. Lalu setelah semuanya duduk, mereka mulai mengeluarkan Al-Quran masing-masing.


"M-Malam ini kita dapat giliran mengaji.. A-ayo kita mulai saja teman-teman, Ukhti ... Bismillahirrahmanirrahim" ucap Dina dengan terbata-bata.

__ADS_1


__ADS_2