Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Ustadzah?


__ADS_3

Miya, Dina dan Nina begitu kaget mendengar ucapan seorang Ira yang jarang berbicara itu, mereka bertiga langsung menatapnya nanar.


"HUSH! Ira!"


"Kenapa? Emang bener kan? Lantai dua bangunan seberang itu angker" ketus Ira dengan sinis.


"B-bangunan seberang?"


"E-ehm, i-iya Ukhti ... Eh! Enggak-enggak! Maksud Ira itu bangunan utama ..."


"Maksud kalian tempatnya Ustadzah Nyi Wati?"


"I-Iya Ukhti ..." Jawab Nina sedikit ragu.


"Lantai dua kamar Ukhti juga kok!" seru Ira judes.


"IRA!" Bentak Dina.


"Jangan nakut-nakutin Ukhti Miya, ih!" tambah Nina.


Miya yang awalnya takut kini berusaha mengentengkan pembicaran ini "Kalian ini ada-ada aja ... mana ada Setan di tempat seperti ini! Kan kita selalu mengaji, selalu terdengar Adzan. Setan nya kepanasan!"


Nina dan Dina nampak berbicara sendiri, membuat Miya sedikit bingung. Setelah beberapa saat, Dina dengan wajah ketakutan kemudian bercerita.


"B-Bener si kak ..."


"Nggak percaya ah! Sudah ya, aku duluan ..." potong Miya lalu pergi.


Sebenarnya Miya tidak mau meneruskan obrolan itu, ia cukup penakut. Terlebih, lampu beranda lantai dua kamar Miya sedikit redup, membuat suasana semakin gelap. Ah, nggak mungkin ada hantu begituan di pondok pesantren yang dekat dengan Agama seperti ini. Kalau ada hantu, pasti sudah kepanasan karena mendengar Adzan dan suara orang mengaji setiap harinya, Gumam Miya memberanikan diri.


Setelah menuruni tangga dari lantai dua ruang makan di bangunan satu, Miya perlahan-lahan berjalan melewati pohon besar di tengah lapangan sambil terus melihat kearah beranda kamarnya. Di beranda itu, terlihat seseorang berkerudung hitam tengah melintas. Alhamdulillah ada orang, gumam Miya penuh syukur. Ustadzah Romah? Imah? Ulun? Atau mungkin Ustadzah Nyi Wati? Karena mereka berempat yang pernah memakai kerudung hitam sepengetahuan Miya. Ah, siapapun itu yang penting Miya tidak sendirian ketika melintas beranda gelap itu. Kemudian, Miya langsung berlari menuju tangga, agar berpapasan dengan Ustadzah itu.


Miya dengan cepat menaiki anak tangga. Hingga ketika ia sampai di pertengahan, di ujung atas tangga terlihat Ustadzah itu berdiri, sepertinya ia juga hendak turun. Miya kemudian memelankan langkahnya, ia tentu malu apabila terlihat buru-buru. Cahaya lampu beranda yang remang dan membeNabangi, membuat wajah Ustadzah itu tidak terlihat. Tetapi ketika mereka berdua berpapasan, Miya tetap mengucapkan salam padanya.


"Assalamualaikum Ustadzah"


Krtttt Krtttt Krrttt


Ustadzah itu tidak menjawab, alih-alih terdengar suara seperti benda yang digesek-gesek. Miya lantas menoleh kearah kakinya, takut apabila ada tikus atau serangga, karena suara itu begitu dekat.


Krrtt Krrt Krrt


Lagi-lagi suara itu terdengar, kali ini Miya jelas mengetahui dari mana sumber suara itu. Suara itu berasal dari Ustadzah yang barusaja melintas dibeNabangnya. Miya penasaran, ia kemudian berhenti dan mengamati Ustadzah itu. Dan ketika cahaya lampu beranda tidak lagi membeNabangi Ustadzah itu, Miya akhirnya dapat melihat wajahnya. Wajah itu begitu pucat pasi, dengan bola mata yang seluruhnya putih. Bunyi 'Krrt Krrt' itu berasal dari gigi-giginya yang digesek terus menerus. Seketika itu juga Miya baru sadar bahwa kerudung hitam yang ia kenakan begitu panjang hingga menyentuh lantai tangga.


Sosok menyeramkan itu kemudian menoleh kearah Miya yang daritadi mengamatinya. Kepalanya kini miring ke kesamping kiri, seolah sedang mengintip. Tetapi sudut lekukan yang dibentuk dari lehernya itu terlalu tajam, sehingga kepalanya sampai menempel ke bahu kirinya. Ia menatap Miya sambil terus menggesek-gesekkan giginya.


Krrrt Krrt Krrtt


"AAHHHH!"


Miya langsung jatuh terduduk di tangga. Ia menjerit sejadi-jadinya, sambil terus menutupi matanya.


"Astagfirullah! Ukhti!"


Tiba-tiba seorang santriwati datang dan langsung berusaha menenangkan Miya yang ketakutan. Tetapi Miya terus menutup matanya. Hingga dua-tiga santriwati lainnya yang juga tinggal di lantai itu ikut datang menghampiri karena jeritan Miya, barula Miya membuka kedua tangannya. Ia menoleh kesana kemari, kaget karena kini ada banyak sekali santriwati yang mengerumuninya. Salah satu santriwati itu kemudian bertanya.

__ADS_1


"U-Ukhti ... kenapa?!" tanya salah satu santriwati dengan takut.


"E-Emmm ... anu ... emmm"


Miya mengusap-ngusap matanya, berusaha mengingat-ingat kembali sosok mengerikan yang barusan dilihatnya. Tadi beneran, kah? Gumam Miya tidak percaya. Kerumunan santriwati itu kemudian membopong Miya agar bangkit. Kemudian, mereka semua mengantarkan Miya ke kamarnya.


"Aduh ... Terimakasih ya, semua ... Aku jadi nggak enak"


Santriwati-santriwati itu tidak membalas ucapan Miya, mereka justru terlihat takut dan saling berbicara sendiri.


"Emmm ... Aku Miya, salam kenal ya" ucap Miya memperkenalkan diri.


"Ukhti Miya, lain kali kalau mau naik kesini ... emm ... kalau bisa ditemani" ucap salah satu santriwati.


"I-Iya Ukhti ... Jangan sendiri ..." tambah santriwati lainnya.


"Eh? Kenap ..."


Baru saja Miya ingin bertanya mengapa, ia langsung teringat kejadian mengerikan tadi. Dan ucapan Dina, Nina, dan Ira sebelumnya, membuat Miya kini paham mengapa santriwati-santriwati itu menyarankan hal ini.


"I-Iya deh ... besok-besok aku minta ditemenin yah ..."


"B-Boleh ... Ukhti" jawab santriwati yang memberi saran tadi.


Miya lalu berpamitan dan masuk kedalam kamar. Ketika Miya barusaja akan menutup pintu, terdengar suara gemuruh langkah kaki santriwati-santriwati itu berlarian. Miya kemudian mengintip, dan benar saja, mereka semua lari terbirit-birit seolah ingin cepat-cepat kembali ke kamar.


"Ngapain lo Yak"


Miya terperanjat kaget "Astagfirullah! Nabila!"


"Apa sih Yak! Bikin kaget aja!" sambar Nabila.


"Duh Nab ..." ucap Miya sambil mengelus-elus dadanya.


"Tadi rame-rame siapa?"


"Oh ... emm itu, santriwati lain tadi ngantar aku sampai depan"


"Ohh" ucap Nabila datar, ia kemudian kembali merebahkan diri di kasur.


Pandangan Miya kemudian tertuju pada koper miliknya yang bersandar di tembok. "Alhamdulillah, makasih ya Nab"


"Iya, santai aja ..." Nabila terlihat sibuk sendiri dengan smartphone-nya.


Miya kemudian membawa kopernya ke lemari dan memasukkan semua baju-bajunya ke dalam sana. Kemudian, ia mengambil peralatan mandi kemudian masuk kedalam kamar mandi. Miya membersihkan seluruh badannya, menyiram kepalanya dengan air, berusaha menghilangkan ingatan mengerkian sosok tadi.


...........


"Nab!"


"Apa?"


Miya yang tengah berbaring terlentang kemudian menghadapkan wajahnya ke arah Nabila. Nabila masih tetap sibuk dengan gadgetnya sejak tadi. Sedangkan Miya yang sebenarnya sudah bersiap untuk tidur, tiba-tiba terpikirkan sesuatu.


"Seharian tadi kamu kemana?"

__ADS_1


Nabila lalu menoleh kearah Miya, wajahnya seketika gugup.


"Emm ...anu ... ke bangunan utama" jawabnya dengan ragu.


"Ke aula? kok aku nggak ngeliat"


"K-Ke lantai dua, Yak" jawab Nabila sedikit bingung.


"Ohh ... ke ruangan Ustadzah Nyi Wati?"


"Iya, Iya bener Yak ... Itu kamu tau"


"Sama siapa aja?"


"Sama tante, eh... Maksudku Ustadzah Romah, hehehe..."


Nabila nampak canggung ketika mengucapkan "tante" tetapi Miya tentu sudah tahu. Ia lebih memikirkan hal lain yang ada di benaknya.


"Berdua aja?"


"Berdua aja! Ada apa sih?"


"Ketemu Ustadzah Nyi Wati?"


"Em- enggak ... cuma bersih-bersih kamar Beliau," Nabila lalu menatap Miya curiga. "Kenapa si Yak?"


Miya lalu kembali tidur terlentang dan menatap langit-langit kamar sambil bersyukur.


"Alhamdulillah ... Berarti tadi itu Ustadzah yang lain Nyi Wati"


"HAH?" Nabila langsung melotot ke arah Miya.


Miya nampak heran melihat tatapan tajam sahabatnya itu, kemudian ia berusaha menjelaskan.


"Tadi... aku ketemu Ustadzah Nyi Wati di tangga"


"LO SUDAH GILA YA?!" Bentak Nabila.


Nabila membentaknya begitu keras, sampai-sampai wajah Miya berubah takut. Miya tidak bisa berkata-kata, ia bingung bercampur takut, begitu juga Nabila. Hal itu membuat keduanya hening untuk beberapa saat.


"E-Emmm ... sorry Yak, maksudku ... mungkin lu salah lihat kali" ucap Nabila memelas, sepertinya ia begitu menyesal membentak sahabatnya hingga ketakutan.


"Berarti bukan Ustadzah Nyi ..."


"Ga mungkin! Ustadzah lainnya kali" potong Nabila.


"Kalau Ustadzah lain pasti aku kenal Nab, apa lagi bajunya hitam semua ..."


"HAH?!" Seketika Nabila kembali membentak


"K-Kenapa?" Miya kini memberanikan diri untuk bertanya balik pada Nabila yang begitu ketakutan setelah mendengar penjelasannya.


"Udah-Udah-Udah! Jangan bahas ginian ah malem-malem!" Ketus Nabila.


Nabil lalu meletakkan smartphone-nya dibalik bantalnya, lalu ia berbalik memunggungi Miya. Miya yang semakin takut karena sikap aneh Nabila, kemudian membenamkan dirinya dalam selimut. Berarti yang tadi beneran ...setan ...

__ADS_1


__ADS_2