Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Ustadzah Romah


__ADS_3

Keesokan harinya, Miya akhirnya menjalani aktivitas di hari keduanya di pondok ini. Diawali dengan shalat subuh berjamaah, kemudian sarapan pagi bersama-sama santriwati lain di kantin di lantai satu gedung asrama utara, dan memulai kegiatan belajar. Setiap hari, Ustadzah Shinta dan Ustadzah Retno bergantian memberikan materi agama dan mengaji. Miya nampak begitu enjoy, meski masih masih sering salah dalam membaca Al-Quran, tetapi ia tidak pantang menyerah.


Malam harinya, seusai Shalat Isya berjamaah, Miya berjalan sendirian di kegelapan malam. Cahaya lampu dari lapangan pondok sedikit memberinya keberanian, tetapi kenyataan bahwa dia seorang saja yang ada disana, membuatnya kembali takut. Trio Ira, Nina, Dina, serta santriwati lainya sudah masuk ke kamar mereka masing-masing, begitu Shalat isya selesai. Mereka begitu terburu-buru, tentu mereka takut bertemu dengan hantu itu. Meski Miya sebenarnya sudah pernah bertemu dengan hantu itu, ia masih belum terbiasa, sehingga akhirnya ia tertinggal begitu jauh. Miya masih dapat mendengar sayup-sayup suara gemuruh langkah kaki di lantai dua dan suara pintu yang dibuka dan ditutup secara cepat. Mereka semua takut...


Miya kemudian mempercepat langkahnya, sebelum akhirnya seseorang menyapanya.


"Assalamualaikum, nak ..."


Bulu kuduk Miya berdiri, seketika rasa takut menyambar, karena ia tahu bahwa hanya dirinya lah satu-satunya orang di lapangan itu. Namun ketika Miya menoleh, ketakutanyya langsung hilang. Ia langsung menghampiri orang tua yang menyapanya itu.


"W-Waalaikum salam, Masya Allah... Ustadzah Nyi Wati..."


Ustadzah Nyi Wati tiba-tiba berdiri di samping pohon tua di tengah lapangan. Bayangan pohon, menutupi sosoknya, ditambah pakaian serba hitam yang ia kenakan membuat Miya tidak sadar bahwa Ustadzah Nyi Wati sudah berdiri disana. Miya langsung mencium tangannya dan memampahnya kearah bangunan utama aula.


"Ustadzah... mari saya antar ke kamar". Ucap Miya begitu santun.


Apa yang dilakukannya disini? Saat Shalat Isya tadi, ia tidak melihat Ustadzah Nyi Wati. Memang Ustadzah Nyi Wati tidak pernah turun dari kamarnya, menurut Ustadzah Shinta. Beliau tidak pernah menghadiri Shalat berjamaah, hal itu karena fisiknya yang sudah melemah. Hal itu semakin membuat Miya heran.


"Nak, Ustadzah ingin keluar..."


"Keluar? Kemana Ustadzah?"


Ustadzah Nyi Wati langsung menunjuk kearah lapangan luas di depan masjid. Namun sesaat kemudian Miya bisa merasakan Ustadzah Nyi Wati sedikit terhuyung. Badan kurusnya itu terlihat bergemetar lelah, padahal mereka baru berjalan beberapa langkah.


"Ustadzah... istirahat saja yuk, sudah malam"


Miya merayu Ustadzah Nyi Wati, agar mau diantar ke kamarnya. Sikap Miya berubah menjadi seseorang yang tengah mengurus lansia. Memang Ustadzah Nyi Wati terlihat begitu tua, tetapi meski begitu ia masih bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Pada akhirnya Ustadzah Nyi Wati menuruti saran Miya. Dengan begitu sabar Miya memapah Ustadzah Nyi Wati, masuk kedalam Aula di bangunan utama, dan menaiki tangga.


Di lantai dua itu sangat gelap seperti biasanya, tetapi kegelapan kali ini bertambah karena Miya tidak menyalakan lampu aula lantai 1. Berbeda saat pertama kali ia diangkat menjadi santriwati, aula ini digunakan untuk berdoa bersama dengan empat ustadzah itu, sehingga suasana sedikit ramai. Tetapi Miya dengan sabar memapah Ustadzah Nyi Wati hingga sampai ke lantai dua.


Disana, Ustadzah Nyi Wati menyuruh Miya turun lebih dahulu. Sebenarnya ia ingin mengantar Ustadzah hingga ke dalam kamar, tetapi sepertinya Ustadzah Nyi Wati kurang berkenan. Dengan sedikit khawatir, Miya akhirnya meninggalkan Ustadzah Nyi Wati yang tengah berjalan pelan masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Miya lalu menuruni tangga, namun betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok tinggi berpakaian serba hitam sudah menghadangnya di pintu aula. Jantung Miya berdetak begitu cepat, ia tidak dapat melihat wajahnya karena aula begitu gelap. Sosok itu berjalan dan menyalakan lampu.


"MIYA!"


"Astagfirullah Ustadzah Romah!"


Ustadzah Romah melotot tajam dan membentak ke arah Miya.


"KAMU NGAPAIN DISINI?!"


Miya yang tadinya sudah bernafas lega karena sosok mengerikan yang dilihatnya itu adalah Ustadzah Romah, kembali dibuat takut dengan kata-kata membentak itu.


"E-emm anu... mengantar Ustadzah Nyi Wati ke kamar"


"APA?!!!"


Ustadzah Romah semakin melotot mendengar jawaban Miya. Ia langsung berlari cepat, sedikit mendorong badan Miya, dan berlari ke lantai dua. Miya yang terdorong hampir saja jatuh ke lantai. Wajah Miya langsung menekuk takut, keringat bercucuran di wajahnya. Apa tadi ia melakukan sesuatu yang salah?


"KAMU TADI MASUK?!"


"T-Tidak Ustadzah..."


Ustadzah Romah maju dan sedikit mencengkram baju Miya. Miya menutup matanya sambil menyilangkan tangannya untuk menangkis. Memang saat itu Ustadzah Romah terlihat begitu emosi, seolah-olah ingin menampar Miya.


"BENER KAMU?! JANGAN BOHONG?!"


"S-Sungguh Ustadzah... Sungguh... Miya tadi tidak diperbolehkan masuk oleh Ustadzah Nyi Wati ..."


"APA??!! KAMU ..."


Ustadzah Romah seperti ingin mengucapkan sesuatu, lalu tertahan. Ia kemudian nampak bingung dan menoleh keatas lagi. Ia lalu melepaskan cengkramannya, dan membuat Miya mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Lancang kamu ya!"


"M-Maaf Ustadzah ... Tapi tadi saya lihat Ustadzah Nyi ..."


"SUDAH-SUDAH!!!"


Ustadzah Romah sekali lagi membentak. Mereka berdua kemudian hening sesaat.


"Cepat kembali ke kamarmu! Jangan pernah lagi kamu masuk kesini! Paham kamu, Miya?!"


"B-Baik... Ustadzah..."


Begitu mendapat bentakan mengusir itu, Miya dengan terbirit-birit keluar dari aula bangunan utama.


...


KRIIIING KRIIING


Miya sudah sampai di kamarnya, dan baru saja ia akan memejamkan mata untuk tidur, tiba-tiba smartphone-nya berbunyi. Terlihat tulisan 'Mirna' terpampang di layarnya. Miya meloncat kegirangan, tanpa basa-basi ia langsung mengangkat telepon itu.


"Halo Na!!" seru Miya


"Halo Yak! Gimana kabar loo?"


Nabila yang belum tidur kemudian ikut terkejut mendengar Miya yang berseru.


"Mirna?!" tanyanya.


Miya mengangguk dengan tersenyum, kemudian memberikan teleponnya itu kepada Nabila. Betapa terkejutnya Mirna, mendengar suara seseorang yang sudah lama tidak di dengarnya. Mereka bertiga kemudian mengobrol begitu asyik di telepon. Nabila dengan antusias meluapkan kangennya pada teman baiknya itu.


Ya, setelah sekian lama Nabila meninggalkan dunia itu, pasti ia sangat kangen dengan Mirna. Sebelum Miya, Nabila lah yang 'dibantu' oleh Mirna. Miya juga tidak kalah semangat, ia menceritakan bagaimana serunya kegiatan disini, meski Mirna tidak tertarik sama sekali. Obrolan mereka bertiga itu terus berlanjut hingga malam. Tentu, Miya tidak menceritakan peristiwa di aula petang tadi.

__ADS_1


__ADS_2