Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Amarah


__ADS_3

Miya bangkit dan memapah Nina. Dina ikut menggandeng tangan kanan Miya, mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan lapangan, menuju ke kamar Dina dan Nina. Saat itu, Mata tajam Ustadzah Romah terus mengikuti kemana Miya bergerak. Entah dendam apa yang membuat Ustadzah Romah nampak melempar emosi pada Miya. Miya yang risih juga sempat melempar pandangan sinis, namun kemudian pandangannya beralih pada sosok yang jauh dibelakang mereka berdua. Sosok Nyi Wati dengan pakaian serba hitam, nampak tersenyum dari kejauhan.


Ketika Mereka bertiga sudah berada di lantai dua gedung asrama satu, hendak menuju kamar Dina, Ustadzah Romah yang dari tadi mematung bersama Nabila mulai mendekati Ustadzah Imah dan Ustadzah Shinta. Mereka mengobrol sesuatu yang serius, Ustadzah Romah tampak begitu emosi, sepertinya tante tua ini memang selalu temperamen. Ustadzah Imah seperti terlihat berusaha menenangkan, sedangkan Nabila kembali melempar pandangan kecut kearah Miya yang tengah mengamati mereka dari beranda lantai dua. Beberapa saat kemudian, giliran Ustadzah Romah lagi-lagi melotot ke arah Miya. Ia bahkan menghentikan diskusi sengitnya dengan Ustadzah Imah, dan membuat keempat orang itu kini Menatap Miya yang tengah berjalan


Miya menunduk malu dan mempercepat langkahnya. Ada apa? Kenapa mereka menatapku seperti itu? sepertinya Ustadzah-Ustadzah disini tidak menyukainya. Hanya Ustadzah Shinta yang masih tetap baik dan nampak prihatin padanya. Tetapi kemudian, Miya menapis semua pikiran curiga itu, Toh sepertinya Ustadzah Romah memang typical orang yang pemarah sejak dari awal, gumamnya. Lagi-lagi, Miya berusaha mensugesti pikirannya agar tetap tenang.


....


Setelah kejadian malam itu, teror 'Hantu Ustadzah' justru semakin menjadi-jadi. Hampir setiap malam sosok itu selalu menampakkan diri kepada santriwati lain. Hal ini mungkin disebabkan karena kegiatan mengaji di malam hari berhenti, tentu tidak ada yang berani begadang malam-malam setelah peristiwa itu. Bahkan setelah Shalat Isya, seluruh penghuni pondok bergegas kembali ke kamar masing-masing secepatnya, termasuk Ustadzah Retno dan Ustadzah Shinta. Seolah sudah paham betul dengan terror ini, mereka semua benar-benar menghindari keluar saat malam.


Ustadzah Romah yang melihat tingkah laku tidak disiplin santriwatinya, kemudian memarahi mereka. Setiap hari, bila ada kesempatan, Ustadzah Romah selalu memarahi siapa saja yang ditemuinya. Santriwati, bahkan Ustadzah Retno dan Ustadzah Shinta-pun tidak luput jadi sasaran. Ia selalu memperingatkan, agar jangan pernah takut terhadap teror hantu itu. Karena itu tidak pantas manusia tunduk dan merasa takut kepada jin dan sebangsanya. Sesungguhnya tipu daya setan atau jin itu lemah.


(Q.S.An-Nisa' : 76).


Justru manusia yang beriman, bertaqwa dan ikhlas sajalah yang paling kuat dan mulia serta tidak bisa dikalahkan atau ditundukkan oleh setan/jin.


(Q.S.al-A'raf :27)


Ketika mendengar ayat itu, Miya seperti diberi angin segar. Benar apa kata Ustadzah Romah, aku tidak boleh takut! Kita manusia diciptakan lebih sempurna dari jin, tidak boleh kita takut pada mereka.


Tiga hari menjelang malam perayaan satu suro, Ustadzah Romah, Ustadzah Imah dan Ustadzah Ulun mengumpulkan seluruh santriwati setelah Shalat Subuh. Itu adalah kali pertama Ustadzah Romah dan Ustadzah Ulun datang dan mengikuti Shalat berjamaah selama Miya di pondok ini. Saat itu, Ustadzah Romah kembali memarahi seluruh santri. Ia ingin bahwa kegiatan mengaji malam kembali diadakan di sisa dua malam terakhir ini. Respon seluruh santriwati jelas menolak, mereka tentu sangat takut begadang malam-malam lagi disini. Mendengar respon yang tidak sesuai, Ustadzah Romah membentak dan melotot, seperti yang selalu ia lakukan.

__ADS_1


Beberapa santriwati yang kritis, memberanikan diri untuk memberikan solusi. Dengan mengaji di kamar masing-masing. Namun Ustadzah Romah menolak, karena ia ingin agar suara lantunan ayat Al-Quran itu terdengar ke seluruh desa. Beberapa santri lain menawarkan agar salah satu Ustadzah menemaninya.


"Mohon maaf Ustadzah, E-Emm, bagaimana kalau ada Ustadzah yang menemani kita"


"Betul Ustadzah!"


Satu persatu, santriwati-santriwati itu saling bersahutan, membuat kondisi sedikit gaduh. Hal itu disikapi dengan sadis oleh Ustadzah Romah. Ia membentak sekencang-kencangnya, memarahi santriwati yang memberikan usulan itu.


"Lancang kamu! Kami semua disini sibuk mengurusi pondok! Mengurusi kalian! Kalian kira bisa makan gratis disini dari mana!"


Memang benar, pondok pesantren ini sama sekali tidak dipungut biaya. Tetapi ucapan itu sungguh tidak pantas, terlebih diucapkan oleh seorang pengurus pondok, seorang Ustadzah yang dihormati betul oleh santriwati-santriwatinya. Terus menerus, umpatan-umpatan kasar keluar dari mulutnya. Seluruh santriwati yang tadinya gaduh, seketika diam bergeming ketika Ustadzah Romah habis-habisan memarahi mereka.


"Maaf Ustadzah! Kalau seperti itu, bagaimana jika Ustadzah Nyi Wati yang menemani kami?"


"Lancang kamu, Miya! Dasar pela.."


"USTADZAH!!! CUKUP!!!" Jerit Ustadzah Shinta.


"Kenapa Shinta?! Kamu juga mau melawan aku? Hah?!"


Dengan sedikit menahan tangis, Ustadzah Shinta memberanikan diri, berusaha menatap tajam Ustadzah Romah. Mungkin sebenarnya ia tidak berani, namun bila dilanjutkan, amarah Ustadzah Romah itu bisa membuat suasana semakin runyam. Pergelutan kini berpindah kepada dua Ustadzah itu.

__ADS_1


Sedangkan Miya, jantungnya seperti baru saja dicambuk. Jelas-jelas ia barusan mendengar Ustadzah Romah hendak mengucapkan kata-kata 'pelacur'. Seketika matanya berkaca-kaca, Miya langsung lemas dan kembali bersimpuh di lantai.


"Astagfirullah, Romah! Sudah-Sudah! Jangan seperti itu!" Tegur Ustadzah Ulun.


"Sudah, jangan diteruskan lagi ... Ehmm, baik kalau begitu, anak-anak ..." Potong Ustadzah Imah, ia langsung mengambil alih posisi Ustadzah Romah dan berbicara ke seluruh santriwati. "Sekarang semuanya kembali ke kamar masing-masing"


"Nanti malam harus ada yang mengaji!!" Bentak Ustadzah Romah. Seolah masih belum puas, kembali, Ustadzah tempramen itu memotong pembicaraan Ustadzah Imah.


"MIYA! KAMU YANG NANTI MALAM MENGAJI! ... SENDIRIAN! Jangan ada yang menemani!! Ustadzah hukum kamu karena sudah lancang!" Lanjutnya.


Jantung Miya serasa berhenti sejenak mendengar bentakan itu. Seluruh santriwati menoleh, seluruh pasang mata menatap ke arahnya. Tidak ada pilihan lain, ia harus menerima hukuman itu.


Kemudian, Jamaah Shalat Subuh itu membubarkan diri. Hampir semua santriwati nampah menghela nafas lega. Selain amarah Ustadzah Romah sudah selesai, mereka juga terbebas dari tanggung jawab mengaji di malam hari. Hal itu membuat Miya semakin ingin menangis, air matanya sudah di pelupuk. Ketika yang lain berhamburan keluar Masjid, Miya masih tersimpuh lemas di tempatnya. Dina dan Nina sebenarnya ingin menemani, namun Ustadzah Romah yang terus melotot ke arah Miya membuat mereka berdua takut. Mereka kemudian memilih untuk meninggalkan Miya.


Ketika semua orang sudah pergi dari Masjid, barulah Miya menangis sejadi-jadinya. Apa salahku? Kenapa Ustadzah Romah begitu tega berkata seperti itu?! Salah kah? Bila seorang pelacur ingin bertaubat? SALAHKAH?!!


Yang paling membuat hati Miya teriris adalah perkataan 'pelacur' yang terpotong oleh bentakan Ustadzah Shinta tadi, bukan yang lain. Entah mengapa, bila Ustadzah Romah memang typical orang yang kejam, tetapi ucapan itu terlalu jahat. Bahkan ia tidak pantas disebut Ustadzah! Guman Miya dalam hati. Semenjak datang ke pondok pesantren ini, memang Ustadzah Romah sangat keras. Ia sering melotot pada Miya tanpa alasan yang jelas. Tapi subuh ini, semuanya sudah berlebihan. Apa yang membuat Ustadzah Romah begitu dendam pada Miya?


Sambil terus menangis, Miya keluar dari Masjid. Bahkan ketika memakai sandal pun, ia lakukan sambil terisak. Miya seperti mengingat kembali dosa-dosanya yang telah lalu, seolah dua minggu lebih di pondok pesantren ini tidak ada gunanya. Tidak ada yang memaafkannya, tidak ada yang membelanya. Justru Ustadzah-Ustadzah itu menatapnya sinis.


Di tengah keputusasaannya itu, Miya merogoh smartphone-nya. Kali ini, ia ingin menelepon Mirna, dan meminta dijemput. Miya begitu tersinggung dengan perlakuan yang diterimanya disini, begitu juga peristiwa- peristiwa diluar nalar yang ia alami. Miya sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


Ketika jarinya hampir menyentuh tombol telepon, tiba-tiba seseorang muncul dihadapannya.


"Yak ... Maafin tante aku ya ..."


__ADS_2