
Miya dan Mirna menghabiskan perjalanan mereka dengan mengobrol, berusaha mengusir rasa bosan yang melanda selama perjalanan. Sejauh mata memandang, hanya pepohonan gelap yang nampak, benar-benar hutan yang lebat. Mirna sesekali mengecek indikator bensin mobilnya, ia takut sekali kehabisan bensin ditengah hutan ini. Beruntung tadi mereka sempat mengisi tangki bensin hingga full, setelah di mini market kota.
Setelah obrolan mereka habis, Miya lantas bersiap-siap. Ia mengeluarkan kerudung dari tas kopernya yang sudah di masukkan kedalam mobil Mirna sedari pagi. Miya berganti baju, menutupi semua auratnya. Setelah itu ia mengeluarkan kaca dan mulai berdandan mengenakan kerudung. Ketika kerudung berwarna biru itu sudah membalut kepalanya, tangis Miya pecah. Sudah berapa lama sejak ia menggunakan kerudung?
Terakhir kali ia menggunakan kerundung adalah setelah kelulusan SMA. Pada saat itu juga Miya mendengar kabar ayahnya meninggal dunia, dan melimpahkan semua hutang-hutangnya padanya sang ibu yang tidak bekerja. Sang ibu, alih-alih berjuang untuk melunasi hutang-hutannya, ia justru menyusul meninggal dunia beberapa bulan setelah kematian suaminya. Dalam kondisi tidak ada lagi saudara yang mau menanggung Miya dengan hutang-hutang itu, ia lalu memutuskan menjual dirinya.
Setelah beberapa bulan menjual diri dengan penghasilan yang tidak menentu, Miya akhirnya berusaha mencari kerja dan mendapatkan pekerjaan sebagai office girl di sebuah perusahaan. Dari situlah Miya mengenal Mirna yang akhirnya membantunya masuk lebih dalam ke dunia pelacuran. Mirna juga seorang pelacur, ia begitu iba melihat masa lalu Miya. Mirna lalu mengajaknya tinggal di kosnya, dan mengajarinya tentang kehidupan malam.
Tetapi Miya tidak seburuk yang Mirna bayangkan, bahkan setelah empat tahun melacur Miya masih berkeinginan untuk kembali ke jalan Allah, kembali ke Islam. Meski Mirna terus menggoda, mengejeknya, ia tidak menyangka bahwa tekad Miya benar-benar bulat. Itulah mengapa Mirna begitu rela mengantar sahabatnya itu hingga sejauh ini, ia terenyuh dengan semua perjuangan Miya. Mirna ikut menangis ketika Miya menangis tersedu-sedu, melihat dirinya kembali memakai kerudung setelah empat tahun lamanya. Miya merasa tidak layak, ia merasa masih begitu kotor, tetapi ia tidak mungkin datang ke pondok pesantren dengan pakaian serba terbuka. Sepanjang perjalanan tersisa ia menangis memeluk Mirna yang sedang menyetir.
Malam ini menjadi akan bukti perjuanngannya dan hari ini menjadi akhir dari penderitaanya... Miya.
.......
Sepertinya apa yang dikatakan oleh pemuda di desa tadi benar, mereka akhirnya berhasil melewati hutan lebat itu. Benar-benar butuh waktu satu jam untuk melewati hutan ini hingga sampai ke desa selanjutnya. Mirna dan Miya langsung menghela nafas lega ketika dihadapannya terdapat beberapa bangunan rumah semi permanen yang terbuat dari kayu dan jerami. Benar, rumah-rumah di desa ini jauh lebih tradisional daripada di desa sebelumnya. Mungkin karena hutan lebat yang sangat panjang tadi, sehingga sedikit memutus hubungan desa ini dari dunia luar? Mirna menggeleng-gelengkan kepala, tidak habis pikir bahwa ada sebuah pondok pesantren yang begitu megah di desa terpencil seperti ini.
Baru saja bibir Mirna akan kembali berceloteh mengeluh, tiba-tiba mereka dikagetkan sebuah penampakan masjid besar di pinggiran sebuah lapangan luas. Itu pasti pesantrennya, gumam kedua orang itu. Tanpa perlu Miya suruh, Mirna langsung mengarahkan mobilnya kearah lapangan luas itu. Perlahan ia memarkirkan mobilnya tepat didepan masjid itu.
Miya dan Mirna langsung keluar dari mobil dan menatap masjid itu, mereka begitu terpana dengan kemegahan dan kebersihannya. Sebenarnya masjid itu berukuran sedang, namun terlihat sangat mewah dan besar bila kita bandingkan dengan rumah-rumah tradisional disepanjang jalanan desa ini. Bangunan masjid itu terbuat dari batu-bata, keramiknya berwarna putih bersih, begitu juga kubahnya. Karena warna putih bersih itulah, cahaya dari lampu di ruangan dalamnya memantul, membuat masjid itu terlihat seolah-olah menyala di kegelapan malam.
Pandangan Miya lalu menoleh kearah sebuah bangunan di sebelah masjid itu. Karena terlalu terpesona dengan masjid putih ini, mereka berdua sampai tidak menyadari bahwa ada bangunan lebih megah dari masjid itu. Di sebelah masjid berdiri sebuah bangunan besar tiga lantai mirip sekolahan. Tiga buah rumah lantai tiga tersebut berjajar membentuk huruf U, dengan sebuah lapangan kecil ditengahnya. Lapangan kecil itu seolah menjadi pintu masuk menuju bangunan itu, dengan tanpa mengurangi sejengkalpun area dari lapangan luas yang Mirna dan Miya pijak ini. Tanpa sadar mereka sadari, kompleks pondok pesantren itu begitu ternyata luas.
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
Miya dan Mirna terperanjat kaget mendengar suara seorang perempuan yang menyapa mereka. Terlihat seorang perempuan muda cantik berkerudung putih, berpakaian serba putih begitu sopan dan tertutup, setengah berlari dari arah teras masjid. Setelah memakai sandalnya, ia lalu menghampiri Miya dan Mirna.
"Mbak Maya ya?"
"Iya... Ustadzah Shinta?"
"Iya mbak betul... aduh maaf ya mbak, jadi menunggu lama, saya sedang menyiapkan masjid tadi"
Cantik dan sopan sekali, batin Mirna, ia tidak menyangka ada perempuan secantik di tempat terpencil seperti ini. Wajahnya putih bersih tidak berjerawat. Hidungnya mancung, dan dari cara bicaranya, sepertinya ia seusia dengan Mirna. Sikapnya yang sopan, membuat Mirna dan Miya malu. Harusnya mereka berdualah yang meminta maaf karena datang begitu larut, bahkan menjelang subuh, tetapi Ustadzah muda ini justru yang meminta maaf.
Miya lalu menyalami Ustadzah yang bernama Shinta ini. Kemudian pandangan Ustadzah Shinta mengarah pada Mirna, yang pakaiannya begitu terbuka
"Kalau mbak ini namanya siapa?"
"Mbak Mirna juga mau masuk pesantren kah?"
"Eh, Ehm... enggak mbak... Eh, enggak Ustadzah! Hehe..."
"Oh begitu..." ucapnya dengan terus menebar senyum.
Mirna memalingkan mukanya, ia terlihat begitu minder dengan kesantunan yang ditunjukkan Ustadzah Shinta.
Miya lalu menoleh kearah bangunan pesantren yang megah itu, sepertinya ia berusaha mengkode Ustadzah Shinta agar segera mengantarkannya kesana, jelas saja Mirna dan Miya pasti sangat lelah dan mengantuk.
__ADS_1
Di tengah lapangan kecil itu, dari kejauhan, Miya melihat seseorang wanita. Wanita itu mengenakan kerudung panjang serba hitam, menutupi seluruh ujung badannya. Bahkan kakinya pun tak terlihat karena kerudung itu menutup hingga menyentuh tanah. Seolah seluruh badannya hanya tertutupi oleh kerudung, hanya kedua bahunya yang terlihat menonjol dan wajahnya saja yang terlihat. Meski wajahnya begitu pucat, wanita itu tetap tersenyum manis pada Miya yang menatapnya heran dari kejauhan, heran karena penampilannya yang serba hitam.
"Emm... Ustadzah, kalau yang itu namaya Ustadzah siapa?" Tanya Miya sambil menunjuk kearah wanita berkerudung hitam itu.
Ustadzah Shinta lalu menoleh kearah yang ditunjuk Miya "Yang mana?"
"Itu Ustadzah, yang pakai baju hitam..."
"Hah?! Eh?"
Ustadzah Shinta yang santun dan murah senyum itu kini terlihat grogi dan kebingungan. Sesekali ia melirik kekanan dan kekiri berusaha mencari sesuatu, tingkahnya sungguh tidak jelas. Mirna nampak bingung melihat tingkah Ustadzah Shinta itu, tetapi Miya sepertinya tidak menggubris. Ia sibuk menatap wanita berkerudung hitam yang terus menatapnya balik dengan senyum itu.
"Ehm, sepertinya sudah dekat waktu subuh Miya... umm... Saya ijin adzan subuh dulu ya, Miya sama mbak Mirna kalau mau menyusul shalat silahkan, tempat wudhunya di sebelah situ"
Ustadzah Miya lalu menunjuk ke sisi masjid yang mengarah ke bangunan pesantren, nampaknya di sisi itu ada tempat untuk mengambil wudhu. Kata-kata Ustadzah Shinta tersebut memecah konsentrasi Miya, belum sempat ia mengiyakan ajakan Ustadzah Shinta, Ustadzah cantik itu buru-buru pergi menuju masjid.
"Na, ayok sholat..."
"Nggak ah... Ustadzah lu aneh..."
Miya terdiam mendengar ucapan temannya itu.
"Lu yakin Yak? Mau mondok disini?"
__ADS_1