
Nabila berlari masuk kedalam hutan dengan terburu-buru. Cahaya matahari yang mulai terbit, cukup membuat hutan kecil di samping pondok itu terang. Ditemani oleh Pak Kades beberapa warga, mereka langsung masuk kedalam gua tempat biasa Nabila dan Ustadzah Romah mencuci jenazah Ustadzah Nyi Wati. Betapa terkejutnya warga melihat gua itu, yang didalamnya terdapat sebuah kolam dengan bau menyengat formalin. Mereka, yang juga sudah mendengar pengakuan dari Ustadzah Imah, berusaha menghubung-hubungkan dengan cerita itu. Tetapi sepertinya Pak Kades tidak heran, ia tentu juga tahu dengan perbuatan Trio Ustadzah bersaudara itu, dan sudah berusaha melarangnya. Tetapi karena pemilik sah pondok ini adalah Ustadzah Romah, ia jadi tidak bisa berbuat apa-apa.Tetapi wajah datar Pak Kades seketika berubah kaget, ketika dari dalam kolam formalin tersebut Nabila menarik jenazah bibinya yang sudah terbujur kaku. Air formalin mengalir deras keluar dari mulut dan sela-sela matanya, seolah mayat itu habis tercuci bersih oleh formalin.
Di tengah lapangan masjid, seluruh warga dan beberapa tamu pejabat yang masih belum pulang, nampak berkerumun mengelilingi dua orang Ustadzah yang terus menerus bersujud meminta ampun kepada mereka. Beberapa warga sudah tidak tahan ingin segera menghajar kedua wanita paruh baya itu, tetapi yang lain menghalangi karena perintah Pak Kades. Beberapa pejabat yang memang sengaja tidak pulang, memaki keduanya dan meminta uang santunan mereka dikembalikan. Tentu mereka marah sekali, karena selama ini, yang mereka mintai restu adalah mayat yang diawetkan. Suara celaan mereka membuat gaduh dan beberapa warga yang berusaha melindungi Ustadzah Imah dan Ulun hampir-hampir tidak dapat mengendalikan massa yang akan mengamuk.
Kemudian, Pak Kades dan Nabila datang dari arah hutan, membawa sebuah jenazah yang terbujur kaku. Seketika Ustadzah Imah dan Ustadzah Romah menjerit histeris ketika melihat kakaknya telah mati dalam kondisi yang mengenaskan. Nabila pun ikut bersimpuh dan menangis meminta maaf kepada semua orang yang hadir disana. Ia tentu mengetahui semua ini, dan aktif membantu atas paksaan bibinya. Namun tiba-tiba Miya datang dan meraih tangan Nabila. Ia kemudian memeluk sahabatnya itu. Miya sangat paham, apa yang Nabila lakukan semuanya adalah murni paksaan, ia tidak bersalah. Yang pantas disalahkan adalah dua orang Ustadzah berekerudung hitam itu.
Ustadzah Shinta dan Ustadzah Retno kemudian datang, bersama dengan seluruh santriwati pondok pesantren Nyi Wati, ia membawa kepala dan badan dari sang pendiri pondok pesantren. Mereka kemudian meletakkan apa yang tersisa dari jenazah rapuh itu ke hadapan Ustadzah Imah dan Ustadzah Ulun. Tangisan demi tangisan terus diteriakkan oleh kedua pendosa itu, dan mereka berdua bersujud meminta maaf di depan jasad ibu angkat mereka, disaksikan oleh seluruh orang yang ada disana.
Miya menatap langit pagi yang semakin terang, setelah malam yang begitu berat ia jalani di pondok pesantren ini, tentu ia sangat lelah. Padahal ia hanya berniat mendekatkan diri, kembali ke jalan Allah. Tetapi ia tidak menyangka jalan yang harus ia tempuh akan seberat ini. Di tengah kelelahannya, ia menatap kearah pelataran hutan. Dan dibalik pepohonan itu, sosok Ustadzah Nyi Wati nampak berdiri menatap mereka semua.
Ustadzah Nyi Wati menampakkan wujudnya sesungguhnya, dengan mengenakan kerudung serba putih, ia tersenyum dan melambai kearah Miya, untuk kemudian menghilang. Kembali air mata menetes membasahi pipi Miya, entah sudah berapa kali ia menangis seharian ini. Tangisan haru itu kemudian disadari oleh Nabila, ia berusaha menghapus air mata itu. Mereka berdua berpelukan, disambut oleh cahaya fajar yang begitu hangat, mengakhiri malam mengerikan itu.
Pondok pesantren itu akhirnya melalu tahun baru Islam, dimana hari-hari yang baru untuk masa depan seluruh santriwatinya akan dimulai. Kini, tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi acara malam satu suro yang sesat itu. Tahun ini akan menjadi titik balik perubahan bagi mereka semua... termasuk Miya.
__ADS_1
....
"Bis-millah hiloh man nirohim..."
Maya terus mengulang-ulang bacaan Al-Quran yang baru saja ia kuasai itu. Miya nampak memperhatikan anaknya dengan penuh kebahagiaan sambil membelai sang kakak di pangkuannya.
"Terus Bunda... bagaimana dengan mayat Ustadzah itu?" tanya sang kakak dengan penuh antusias.
Sepertinya Miya tengah menceritakan seluruh kejadian yang ia lamai beberapa tahun yang lalu saat di pondok pesantren kepada anak sulungnya. Sang ayah, suami Miya, yang merupakan mantan bosnya dulu kemudian langsung menggendong anak laki-lakinya itu dari pangkuan Miya.
"AAHH!! Kakak nggak mau tidur!!"
"Hehh... nanti di gigit sama mayat hidup loh hihihi..." gelitik sang ayah pada anaknya.
__ADS_1
Miya menatap Pak Indra, yang kini telah menjadi suaminya itu, dengan cemberut. Ia mungkin tidak mau membuat cerita Ustadzah Nyi Wati menjadi konotasi buruk yang dibuat untuk menakuti anak-anak. Ustadzah Nyi Wati tidak jahat, ia tidak semengerikan itu. Justru ialah korban dari semua kebejatan anak angkatnya.
Seolah memahami, Pak Indra kemudian mencium kening istrinya itu. "Udah... nggak akan terjadi lagi... cerita itu"
Miya tersenyum "Iya... Insha Allah tidak akan ada lagi manusia yang berani berbuat sekejam itu lagi..."
Terimakasih Ustadzah, Semoga Ustadzah Nyi Wati Tenang di alam sana... Aamiin
Dan di antara kami ada yang islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang islam maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus. Dan adapun yang menyimpang dari kebenaran maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahanam. Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), niscaya Kami akan mencurahkan pada mereka air yang cukup. Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang sangat berat...
...Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun didalamnya selain Allah...
(Q.S. Al-Jinn[72] 14-18)
__ADS_1
SANG USTADZAH
TAMAT