
Mereka berempat mengaji begitu keras melalui microphone masjid, seolah-olah agar suara mengaji mereka terdengar sampai ke seluruh desa. Miya berusaha mengikuti, meski ia masih sedikit terbata-bata, namun Dina dengan sabar membantunya apabila ada bacaan yang kesulitan dibaca Miya. Tak terasa, malam semakin larut, jam dinding kelas itu sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Ira yang mulai haus kemudian menawarkan diri untuk mengambilkan mereka minum dari kantin pondok di bangunan asrama. Dina setuju kemudian mereka menghentikan mengajinya sebentar untuk beristirahat. Mereka bertiga terus bercanda-canda sambil menunggu Ira datang.
"Eh, memang kita bergantian mengaji keras-keras begini buat apa sih?" Tanya Miya penasaran.
Tentu ia penasaran, karena tepat satu minggu sebelum malam satu suro seluruh santriwati bergiliran mengaji seperti ini, dan malam ini, tiga hari sebelum malam satu suro, adalah giliran kelompok mereka mengaji. Mereka mengaji secara berkelompok sendiri, tanpa ditemani oleh Ustadzah.
"Buat meramaikan malam satu suro, Ukhti" jawab Nina datar. Namun Dina langsung memotong ucapan itu
"Eh, masa Nina gak tau?"
"Tau apa?"
"Emmm ... Soal 'itu'"
"Ah! Jangan cerita setan malem-malem dong Dina!"
"E-Emang karena setan kan?!" ucap Dina, mulutnya sedikit bergemetar takut saat mengucapkan itu.
"Hih! Males! Cerita aja sama Ukhti Miya aja! Nina males kalau malam-malam begini!" ketus Nina, ia lalu pergi ke arah teras Masjid untuk mencari udara segar.
"Kamu ini aneh-aneh aja Dina, masak mengaji ada hubunganya sama setan"
"L-Loh ada Ukhti ... J-Jadi, kita mengaji gini buat ngusir setan!"
Miya terkesiap mendengar jawaban Dina yang spontan itu. "S-setan? M-Maksudnya?"
"S-Siapa lagi kalau bukan 'Hantu Ustadzah' itu Ukhti"
"HAH?!"
Dina kemudian mulai bercerita, tentang asal muasal 'Hantu Ustadzah' ini. Semenjak tiga tahun lalu, Hantu ini mulai muncul dan kerap mengganggu santriwati di malam hari. Tetapi ketika menjelang malam satu suro, justru hantu ini semakin sering menampakkan diri. Bahkan saat malam perayaan satu muharram dua tahun lalu, sempat terjadi insiden dimana santriwati berhamburan keluar ke lapangan karena diganggu oleh Hantu itu. Dina dan Nina yang masih menjadi santriwati baru itu, tidak akan pernah bisa lupa bagaimana ketakutannya Ira kala itu. Meski mereka tidak mengalami sendiri kejadian ini, tetapi bisa dibayangkan betapa kacaunya malam perayaan satu suro tahun itu. Tamu-tamu lain sampai berhamburan pulang, karena beberapa ada yang sempat melihat penampakan itu.
"E-Emang... n-nampakin nya... di ... mana?" Miya bergemetar, ia nampaknya begitu larut dalam cerita Dina.
"DISINI!"
"HAH!!!"
__ADS_1
Ira yang baru saja datang langsung mengagetkan mereka berdua dari belakang Miya. Sambil membawa empat gelas air mineral, ia berteriak begitu kencang dari jarak dekat. Dina dan Miya yang terlalu fokus dengan cerita mereka dibuat kaget, hampir-hampir ia mau terjatuh dari kursi. Nina yang mengikuti Ira ikut tertawa melihat kedua orang itu kaget setengah mati.
"IRA! NGAGETIN AJA!" Bentak Dina kesal.
"Hahaha, kamu sih! Cerita setan kok malem-malem" Ledek Nina.
Ira yang sudah berhasil mengerjainya nampak menunjukkan ekspresi datar seolah tidak puas, ia hanya meletakkan keempat gelas minuman itu lalu duduk kembali.
"Bukan disini ... T-tapi ..."
"DISINI!"
Lagi-lagi Ira membentak Dina yang akan menyelesaikan ucapannya. Matanya kali ini melotot tajam ke arah mereka berdua.
"Bukan Ira, maksud Dina itu dua tahun la ..."
"DISINI! ITU LIHAT!"
Ira menunjuk ke arah jendela di sisi kanan ruangan Masjid. Jendela, yang mengarah ke ruang Wudhu itu tidak memiliki kaca, sehingga cahaya lampu dari lapangan pondok menyorot kuat. Namun cahaya itu kini terhalang oleh kepala seseorang yang mengintip ke dalam Masjid. Dengan kerudung yang hitam, sosok itu seperti bayangan bila dilihat dari jauh. Namun ketika Nina berusaha memicingkan mata dan mendekat, wajah pucat pasi sosok itu mulai terlihat. Ditambah suara 'krrt krrt' bunyi gigi-giginya yang sengaja di gesek-gesek sudah cukup membuat Nina berteriak.
"WAAAAAAA!!!!!!!"
Ira nampak tidak takut, ia masih tetap duduk santai sambil mengamati ketiga temannya itu ketakutan. Tetapi Miya tidak menggubris, ia sudah begitu merinding kala sosok itu menyeret kepalanya menjauh dari jendela. Ia tampak berjalan menuju ke arah muka Masjid. Sontak Miya langsung melepaskan pelukan Dina dan Nina, lalu berlari ke arah saklar lampu. Ia segera mematikan lampu, membuat Masjid kembali gelap. Miya lantas mengajak Dina dan Nina untuk bersembunyi di balik Mimbar Masjid. Sambil setengah menangis, mereka berdua langsung menyusul Miya.
"Ira! Sini!" Teriak Miya sambil berbisik.
Namun anehnya, Ira tidak menggubris, ia masih terlihat santai dengan memasang muka datar. Langkah kaki Hantu Ustadzah itu semakin dekat, jantung Miya berdebar tidak karuan. Tiba-tiba kepala menggantung itu mengintip dari pintu Masjid, tentu tanpa perlu membungkukkan badannya ke samping, kepala hantu yang patah menggantung itu sudah bisa menoleh. Suara 'krrt-krrt' yang semakin terdengar jelas membuat Mereka menjerit histeris.
"WAAHHHHHHHHHH!!!!!!"
"Ukhti?"
"PERGIIIIIIIIII!!!! SETAAAANNNN!!"
"Ukhti!!! Astagfirullah!!!"
Suara bentakan Ira itu membuat Miya menoleh. Ira nampak berdiri di hadapan mereka sambil membawa empat gelas air mineral. Ia begitu terheran-heran, melihat ketiga temannya berpelukan diatas lantai sambil berteriak.
__ADS_1
"Pada ngapain si?!"
Dina dan Nina yang mendengar suara Ira begitu jelas langsung menoleh.
"I-Ira?"
Miya kaget melihat Ira berdiri di hadapan mereka membawa gelas air mineral, padahal sebelumnya ia sudah meletakkannya. Ira seperti barusan masuk kedalam Masjid. Miya langsung menoleh ke arah tempat Ira duduk tadi. Ira yang duduk di lantai Masjid kini sudah berubah menjadi sosok Ustadzah berpakaian serba hitam, lengkap dengan wajah pucatnya. Sosok itu melotot ke arah Miya sambil berteriak lantang.
"DISINI!!!!"
Suara itu berubah menjadi berat dan mengerikan. Kemudian menggema begitu hebat hingga membuat, sekali lagi, keempat orang itu berteriak panik. Ira yang melihat penampakan itu tepat di sebelahnya langsung jatuh pingsan.
....
Kini, di depan Masjid sudah berkumpul banyak santriwati yang terbangun karena suara gaduh jeritan keempat orang itu. Didalam, Ustadzah Shinta dan Ustadzah Imah nampak panik, melihat Ira pingsan disana. Mereka berdua bahu membahu menggotong Ira keluar. Sedangkan Miya berusaha mengajak Dina dan Nina untuk ikut keluar dari ruangan mengerikan ini.
Diluar, semua orang berusaha membangunkan Ira, namun ia tidak kunjung siuman. Ustadzah Imah lalu memutuskan untuk memanggil Pak Kades, tentu ia harus tahu kondisi anaknya. Beberapa santriwati ikut menenangkan Miya, mereka menyodorkan minuman padanya. Namun Dina dan Nina lebih terguncang, mereka berdua tidak mau melepaskan pelukannya pada Miya. Miya juga begitu bingung, jantungnya masih berdebar tidak karuan. Baru Saja mereka berempat melihat penampakan Hantu Ustadzah itu begitu nyata. Miya masih belum bisa menenangkan dirinya yang terguncang.
Keributan di tengah lapangan itu membuat beberapa santriwati lain yang ada di lantai atas ikut keluar dan melihat. Dan kebetulan, Ustadzah Romah dan Nabila yang datang dari luar pondok pesantren melintas pada keramaian itu. Melihat Miya duduk bersimpuh di antara kerumunan itu, ia melotot sejadi-jadinya. Nabila hendak menyusul kearah Miya, namun Bibinya itu menghalangi. Mereka berdua akhirnya hanya diam mematung melihat keramaian itu.
Beberapa saat kemudian, Pak Kades datang. Langsung saja ia menerobos kerumunan dan menyambar anaknya yang pingsan, sambil mencium pipinya bertubi-tubi. Dengan setengah merengek, ia menanyakan pada Ustadzah Imah apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Ustadzah Imah tentu tidak bisa menjawab, begitu juga Ustadzah Shinta.
"KAMI LIHAT HANTU, PAKDE!! HANTU USTADZAH!!" Jerit Dina.
Miya kaget mendengar jeritan itu. Dina yang dari tadi membenamkan wajahnya di pelukan Miya tiba-tiba berdiri dan membentak kesemua orang, sambil terus menangis. Awalnya, Pak Kades terkejut mendengar ucapan itu, namun kemudian wajahnya berubah emosi dan melotot ke arah Ustadzah Romah.
"BUBAR! BUBAR! JANGAN ADA MALAM SATU SURO LAGI! KAFIR KALIAN SEMUA!" bentaknya begitu kencang.
Ustadzah Imah dan Ustadzah Shinta bergidik ketakutan mendengar amarah Pak Kades itu. Namun Ustadzah Romah tidak, ia justru menatap tajam kearah Pak Kades dengan penuh amarah. Seolah mereka sedang berperang tatapan mata, keduanya hening sesaat.
"KAFIR!"
Bersama dengan umpatan terakhirnya itu, ia lalu menggendong Ira yang masih pingsan, pergi dari kerumunan itu. Sepertinya Pak Kades hendak membawa Ira pulang kerumah. Seluruh santriwati menyaksikan peristiwa itu, mereka tidak bisa melepaskan pandangan mereka kearah Pak Kades dan Ira yang pergi berlalu. Miya nampak melotot curiga kearah Ustadzah Romah. Ada sesuatu diantara mereka berdua!
"S-Sudah semuanya ... Bubar ... anak-anakku ... besok kalian harus bangun pagi untuk Shalat, ayo bubar-bubar" Ucap Ustadzah Imah memecah keheningan.
Meski masih bingung, santriwati-santriwati itu lalu membubarkan diri mereka dan kembali ke kamar masing-masing. Ustadzah Shinta juga kemudian sedikit berteriak ke arah Santriwati yang melihat dari lantai atas untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Ustadzah Romah membuang mukanya dari pandangan Miya, lalu mengajak Nabila kembali masuk kedalam aula gedung utama. Nabila terlihat bersedih, ia melempar tatapan menekuk kearah Miya. Seolah ia kecewa karena hendak menolong Miya, namun dihalangi oleh Ustadzah Romah.
"Nak Miya ... Dina dan Nina juga ... Ayo kembali ke kamar" Ucap Ustadzah Shinta.