Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Hantu Ustadzah


__ADS_3

"Hantu Ustadzah!" seru Ira.


"Hus jangan kencang-kencang! Nanti kalau dia datang gimana?" sambar Nina ketakutan.


"Emang kenapa? Toh, semua santri dan Ustadzah di pondok juga sudah tahu" bantah Ira dengan gaya judes khasnya.


"Emang beneran ada? H-hantu ... Ustadzah?" tanya Miya.


"Ukhti Miya sudah lihat sendiri kan?" tanya Dina balik.


"D-Dua ... kali"


Seusai Shalat Subuh, Miya langsung menceritakan pengalaman mengerikan itu pada trio Dina, Ira dan Nina. Ketiganya begitu penasaran, terlebih ketika Miya menceritakan bahwa ia juga bertemu Pak Kades (Ayah Ira). Alhasil, mereka kemudian mengajak Miya ke kamar mereka. Tentu Miya masih belum berani kembali ke kamar bila belum benar-benar pagi. Oleh karena itu, ia menerima dengan senang hati ajakan mereka untuk bergosip tentang hantu Ustadzah, yang nampaknya, sudah terkenal di seluruh pondok pesantren ini.


Dina dan Nina menatap ngeri Miya, padahal mereka berdua sebenarnya belum pernah melihat secara langsung hantu itu. Mereka berdua hanya mendengar dari cerita Ira dan pengalaman-pengalaman santriwati lain, terutama santriwati yang tinggal di bangunan asrama dua.


Ira membenarkan cerita Miya, bahwa yang ia lihat itu benar Hantu Ustadzah. Julukan itu diberikan oleh santriwati-santriwati yang sudah pernah melihatnya, karena rupa dan pakaian yang ia kenakan. Hantu itu mengenakan pakaian hitam, yang semua orang tahu, hanya tiga Ustadzah saja yang mengenakan Mukenah serba hitam disini. Tidak ada santriwati yang mengenakan Mukenah serba hitam itu. Tidak hanya itu, bentuk lehernya yang menggantung (patah) ke kiri juga diketahui oleh semua orang.


Miya menggeleng-gelengkan kepala ketika mendengar penjabaran Ira yang begitu antusias. Ia tidak habis pikir, di tempat yang suci dan Agamis seperti pondok, masih ada saja hantu dan semacamnya. Mana hantu ini sering menampakkan diri, keluh Miya dalam hati. Apa ia tidak takut dengan suara Adzan dan lantunan ayat Al-Quran?


Menurut Ira, hantu itu adalah roh gentayangan salah satu Ustadzah yang dulu pernah mengajar disini. Meski ia tidak memiliki bukti, tetapi Ira begitu yakin. Karena ketika hal ini diceritakan pada ketiga Ustadzah kepala Pondok tersebut, mereka nampak ketakutan. Mereka tidak berkomentar, dan memilih memarahi balik santriwati yang berani membahas hal ini. Mereka selalu mengingatkan bahwa kita tidak boleh takut. 'Jin dan setan itu ciptaan Allah, kita tidak boleh takut!' ucap mereka sambil bercucuran keringat. Entah kenapa, Ira merasa para Ustadzah menyembunyikan sesuatu, tidak terkecuali Ustadzah Shinta dan Ustadzah Retno.


"Kalau Ustadzah Nyi Wati?" tanya Miya.


Mereka bertiga langsung menoleh kearah Miya dengan kaget. "Hah?"


"Maksudku ... kalau Ustadzah Nyi Wati, tahukah tentang hantu ini?"


"Kayaknya nggak tahu, soalnya Ustadzah Nyi Wati selalu didalam kamarnya" Jawab Ira.


"Iya Ukhti ... nggak pernah keluar!" tambah Dina.


"Di lantai dua bangunan utama itu?"


"Iya Ukhti ..."

__ADS_1


"Tapi, subuh tadi aku lihat Ustadzah Nyi Wati ... eh ..." Miya nampak bingung. Tentu ia melihat Ustadzah Nyi Wati, bahkan Beliau mengajaknya Shalat malam berjamaah, sebelum ia berubah menjadi ...


"Bagaimana Ukhti yakin kalau itu Ustadzah Nyi Wati?" Tanya Ira.


"Emm ... Beliau mengajak Shalat, jadi ya aku kira ..."


Nina, Dina, dan Ira semakin bingung mendengar penjelasan Miya.


"Maksud Ira itu ... Ukhti kok bisa kenal dengan Ustadzah Nyi Wati? Ukhti pernah ketemu dengan Beliau?"


"Loh? Memangnya kalian belum pernah?"


Mereka bertiga terkaget-kaget melihat ucapan Miya. Sesaat suasana menjadi sunyi karena Nina, Dina dan Ira saling tatap satu sama lain.


"Wah hebat Ukhti ... Ira yang sudah setahun disini aja belum pernah tuh ketemu Ustadzah Nyi Wati langsung" sahut Ira sinis.


"Loh? Memangnya pertama kali kesini nggak dikenalkan sama Ustadzah?"


"Hah? Dikenalkan bagaimana, Ukhti?" Dina semakin heran dengan Miya.


"Kami semua begitu kok ..." potong Ira


"Lah terus, kalian nggak ketemu Beliau?"


Sekali lagi, Dina, Ira dan Nina saling tatap satu sama lain. Mereka kemudian berbisik kecil, seolah mengkonfirmasi hal yang sama diantara mereka.


"Ustadzah nggak pernah keluar Ukhti... Bahkan saat aku disuruh naik keatas" jawab Dina


"Iya! aku juga" sahut Nina


"Kemarin malam aku ketemu beliau sedang jalan-jalan di lapangan, lalu aku antar kembali ke kamarnya"


"Hah?! Masa?" Ucap Ira keheranan. "Ukhti beruntung banget ... tidak ada dari kami yang pernah ketemu Ustadzah Nyi Wati" tambah nya sambil setengah cemberut.


Kemudian, mereka berempat terus mengobrol hingga tak terasa cahaya matahari pagi menyorot dari jendela kamar. Ketika mendapati cahaya matahari menyorot masuk ke kama, Nina langsung melompat kaget. Ia bergegas menyuruh yang lain untuk segera bersiap-siap, karena kelas pagi akan segera dimulai. Miya yang panik langsung berpamitan kepada ketiga orang itu dan langsung kembali ke kamarnya. Saat itu hari sudah terang, sehingga Miya tidak takut untuk menaiki tangga bangunan asrama dua hingga ke kamarnya.

__ADS_1


Meski begitu, masih ada hal yang membuatnya terkejut pagi itu. Ketika Miya membuka pintu kamar, ia disuguhkan bau menyengat. Saat ditelusuri, ternyata bau itu berasal dari Nabila yang tertidur pulas dengan pakaian hitamnya ... Tunggu, Nabila berpakaian serba hitam? persis seperti Ustadzah Imah, Romah, dan Ulun, bahkan kerudungnya serba hitam. Karena Nabila tidur tengkurap, Miya sampai-sampai tidak yakin bahwa yang dilihatnya itu adalah Nabila. Ia hendak menyentuh Nabila, namun terhalang oleh bau busuk yang menyengat dari pakaian hitam itu.


"Nab! Bangun Nab!" Ucap Miya sambil memegang hidung.


"Ngggh??"


"Bangun! Bau banget kamu ..."


Mata Nabila yang sayu mengantuk seketika terbelalak lebar ketika mendengar ucapan itu. Ia lalu mengendus-endus bajunya dan seketika menyadari bahwa ia belum berganti baju.


"Eh! Lo keluar dulu deh! Bentar" Ucapnya sambil bangkit dan menarik tangan Miya.


"Loh-loh-loh! Nab! K-Kenapa!" Miya begitu kaget ketika tiba-tiba Nabila bangun dan menariknya keluar kamar.


"Bentar, gua ganti baju dulu!"


"Eh! Gua juga mau ganti baju"


"Bentar-bentar! Gua dulu!"


Ckreeek


Ketika Miya sudah berada diluar, Nabila langsung menutup pintu kamar. Miya dibuat bingung, bukan karena ia mendadak diusir keluar saja, tetapi kini Nabila juga mengunci pintu kamar. Terdengar bunyi kunci lemari yang dibuka oleh Nabila dan ia seperti meletakkan sesuatu disana, benar-benar aneh tingkah Nabila.


Sembari menunggu Nabila yang sedang berganti baju (entah kenapa, Nabila tidak mau diganggu) Miya melihat-lihat kegiatan di lapangan bawah dari pembatas beranda lantai dua. Terlihat banyak sekali santriwati yang sudah berlalu lalang masuk ke lantai bangunan asrama dua tepat dibawah Miya, kegiatan belajar-mengajar hari ini akan segera dimulai. Miya semakin tidak sabar ingin segera masuk dan berganti baju. Sesekali ia berteriak ke arah Nabila, menanyakan apakah sudah selesai. Nabila yang nampaknya begitu buru-buru, membalas dengan teriakan yang sedikit lebih kencang.


Miya kemudian kembali mengarahkan pandangan ke lapangan bawah, ia khawatir pelajaran sudah dimulai. Namun di lapangan sudah tidak lagi terlihat santriwati, hanya ada seorang Ustadzah berpakaian serba hitam yang menatap Miya tajam. Miya menelan ludahnya dalam-dalam, itu adalah Ustadzah Romah, Ustadzah yang terkenal begitu kejam daripada yang lain, sekaligus kerabat dari Nabila. Miya berusaha menyapanya balik dengan menganggukan kepala dengan kikuk, tetapi tatapan tajam Ustadzah Romah itu lebih seperti menahan amarah, Ada apa? Apakah Ustadzah Romah masih marah soal kejadian aula kemarin malam?


"Udah nih Yak, maaf ya lama hehe ..."


Sapaan Nabila itu langsung membuyarkan fokus Miya pada Ustadzah Romah. Ia lalu menggerutu kesal pada Nabila, tetapi Nabila hanya tertawa menyeringai karena merasa tidak enak. Nabila yang sudah berpakaian serba putih dan rapi lalu meninggalkan Miya dengan buru-buru. Dasar! Kenapa sih tidak ganti baju bareng? Toh sama-sama perempuan kan? gerutu Miya dalam hati.


Setelah masuk kedalam kamar, Miya langsung mencium bau yang begitu wangi. Sama persis seperti saat ia datang pertama kali dulu, bau harum ini adalah bau parfum khas Nabila namun dalam jumlah yang banyak. Aneh sekali, mengapa untuk ke kelas saja Nabila perlu menyemprotkan parfum sebanyak itu? seolah-olah ... seolah-olah ia mau menutupi bau busuk yang tadi!


Pandangan Miya langsung mengarah ke lemari Nabila, lemari yang terkunci rapat itu kembali berusaha ia buka. Pasti ada sesuatu didalam sini, Miya lalu mendekatkan hidungnya diantara pertemuan dua pintu lemari, berusaha mengendus bau benda yang ada di dalam dari celah itu. Tercium sedikit bau busuk yang sama yang Miya cium dari baju hitam Nabila tadi.

__ADS_1


__ADS_2