Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Ustadzah Nyi Wati


__ADS_3

Keringat langsung bercucuran di wajah Miya. Ia begitu gugup, sampai-sampai ia masih duduk disana tidak beranjak meski Ustadzah Imah sudah menyuruhnya untuk naik ke tangga gelap itu.


"Silahkan Naik nak Miya, nanti duduk saja di depan ruangan Ustadzah Nyi Wati ..." ucap Ustadzah Ulun.


"Emm ... Ustadzah ... apa boleh lampunya dinyalakan terlebih dahulu?"


"Tidak usah takut, Ustadzah Nyi Wati pendiri pondok pesantren ini ... begitulah kebiasaan Beliau, selalu beribadah dan berdoa dalam kondisi gelap. Agar lebih khusyu katanya ..." terang Ustadzah Imah.


"T-Tapi ..."


"Tidak apa ... Nak siapa tadi?" sambar Ustadzah Ulun.


"Miya ... Ustadzah"


"Oh iya, maaf. Tidak apa nak Miya, Ustadzah Nyi Wati orangnya memang sedikit pendiam. Tapi sebenarnya beliau begitu baik. Kondisi Ustazah Nyi Wati sedikit lemah, kalau beliau tidak berbicara pada nak Miya, langsung turun saja" ucap Ustadzah Ulun menjelaskan.


"Tidak usah ragu ... naik saja!" Tambah Ustadzah Romah dengan setengah membentak.


Ucapan Ustadzah Romah dengan nada agak tinggi itu membuat Miya bangkit, ia lebih takut dimarahi oleh Ustadzah-Ustadzah barunya itu. Jantung Miya berdegup semakin kencang ketika kakinya mulai menyentuh anak tangga kayu itu. Kemudian ia memejam, berusaha berdoa dan meyakinkan diri. Ya Allah ... lindungilah hamba-Mu ini, doanya dalam hati. Kemudian, Miya memantapkan langkah, naik ke lantai atas.


Sesampainya di lantai dua, kegelapan langsung menyelimut disekeliling Miya. Kegelapan yang tak biasa, rasanya seperti kau bisa melihat sesuatu dihadapanmu tetapi tidak utuh, seolah ada kabut hitam yang mengitari pandanganmu. Tangga itu mengantar Miya ke sebuah tembok di ujung ruangan lantai dua. Miya lalu berbalik dan mendapati sebuah aula lain dihadapannya. Aula lantai 2 ini lebih kecil karena tembok panjang yang memotongnya. Di tembok itu ada sebuah pintu yang menghubungkan ke ruangan lain? Apakah itu ruangan Ustadzah Nyi Wati? Miya tidak tahu dan tidak ingin menjelajah, ia lebih memilih langsung duduk di depan ruangan itu.


Bulu kuduk Miya begidik ngeri, karena ia sekarang seorang diri ditengah-tengah ruangan gelap itu, tidak ada cahaya, tidak ada suara, sunyi sekali. Miya juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya setelah ini ... masa hanya duduk saja? Menunggu siapa? Sungguh aneh untuk seseorang yang merupakan pemimpin pondok pesantren tetapi begitu suka dengan kegelapan seperti ini, apakah Ustadzah Nyi Wati itu gil ...


Ckreeeeeeek


Jantung Mya seakan berhenti sesaat. Tiba-tiba pintu dihadapannya terbuka. Terlihat tangan penuh keriput berbalut kain hitam menggengam daun pintu, mendorongya keluar. Kemudian sosok perempuan tua kurus, memakai kerudung dan pakaian serba hitam, keluar dari pintu itu. Perempuan tua itu ... adalah perempuan yang Miya lihat di lapangan sebelum Shalat Subuh tadi. Dan sama seperti saat itu, perempuan tua ini juga tersenyum hangat pada Miya.


Meski senyumnya itu begitu hangat, tetapi tidak bisa mengangkat ketakutan hati Miya. Ia justru semakin gugup dan takut, Miya hanya bisa diam dan mematung ketika perempuan tua itu duduk dihadapan Miya.


"Assalamualaikum Nak ..." ucap perempuan itu lembut.


Mendengar ucapan lembut perempuan tua itu, ketakutan Miya sedikit hilang. Ia lalu memberanikan diri membalas salamnya.


"W-Waalaikum salam ... U-Ustadzah ..."


"Nyi Wati ..." ucap perempuan itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Miya terkejut, ternyata yang melihatnya dari kejauhan saat itu adalah Ustadzah Nyi Wati sendiri. Miya lalu maju kedepan dan segera meraih tangan keriput Ustadzah Nyi Wati. Ia lalu mencium tangan keriput perempuan tua itu. Melihat tindakan Miya itu, Ustadzah Nyi Wati langsung mengelus kerudung Miya.


"Sudah, Nak ... tidak usah seperti ini."


Miya lalu melepas tangan Ustadzah Nyi Wati. "B-Baik Ustadzah"


Rasa gugup dan takut di dalam hati Miya seketika hilang, ia begitu bahagia karena Ustadzah Nyi Wati ternyata begitu baik. Walaupun kemunculannya tadi begitu menyeramkan, mungkin karena lampu ruangan ini yang tidak dinyalakan.


"Emm ... Ustadzah ... apa lampunya bisa dinyalakan?" tanya Miya.


Ia sungguh tidak nyaman berada dikegelapan seperti ini. Terlebih, Miya sebenarnya tidak begitu jelas melihat wajah Ustadzah Nyi Wati.


"Nak Miya ..." Ustadzah Nyi Wati seolah mengacuhkan ucapan Miya tadi. "Ustadzah bangga sama Nak Miya..."


Suara perempuan tua ini begitu parau, nampaknya usianya benar-benar sudah tua. Tetapi ia berbicara begitu lancar, tidak seperti orang tua pada umumnya. Miya terdiam mendengar ucapan itu, ia tidak tahu apa yang Ustadzah Nyi Wati banggakan dari dirinya.


"Meski nak Miya hidup ditengah-tengah dunia maksiat, tetapi hati nak Miya terus berada di jalan Allah ... Alhamdulillah" ucap Ustadzah Nyi Wati


"Insha Allah ... Allah akan membalas semua perbuatan baik nak Miya. Pahala yang besar dari melunasi hutang, terlebih hutang orang tua sendiri. Meski begitu nak Miya ... tetap berdosa cara nak Miya dalam mencari harta tersebut. ... Tapi tidak apa nak ... Bismillahirahmanirahim, Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat"


(QS.Al-Isra:25)


"Tetapi, dengan nak Miya datang kemari ... menimba ilmu agama ... kembali ke Islam. Isha Allah, Allah akan mengampuni semua dosa nak Miya ... Sungguh, Allah sangat menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri"


QS.Al-Baqarah:222)


"Terimakasih Ustadzah Nyi Wati ... terimakasih, Miya mohon petunjuk, agar kembali kejalan yang benar" jawab Miya dengan terisak.


"Mintalah petunjuk pada Allah SWT nak, Ustadzah Nyi Wati disini hanya sebagai perantara. Insha Allah, Miya akan mendapat petunjuk ... Amin ya rabbal alamin"


"Amin ya rabbal alamin" timpal Miya, ikut mengamini doa Ustadzah Nyi Wati itu.


"Bismillahirahmanirahim, dengan ini ... nak Miya resmi jadi santriwati disini ..."


Ustadzah Nyi Wati lalu berdiri dan mengusap kembali kepala Miya. Miya lalu meraih dan sekali lagi mencium tangan keriput itu. Kemudian Ustadzah Nyi Wati mengajak Miya berdoa bersama. Sungguh doa yang dipanjatkan oleh Ustadzah Nyi Wati itu begitu khusyu dan dalam, Miya kembali menitihkan air mata. Ditambah suasana yang begitu hening, membuat doa kedua orang itu seperti menggema diseluruh ruangan. Setelah selesai berdoa, Ustadzah Nyi Wati kemudian kembali masuk kedalam ruangannya.


"Nak Miya! Nak Miya!"

__ADS_1


BRUK BRUK BRUK


Tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara Ustadzah Imah yang berteriak kencang, disusul dengan suara telapak kaki yang tengah menaiki tangga. Miya menoleh kearah tangga dan ...


BLIP


Lampu ruangan lantai dua seketika menyala. Miya yang sudah terbiasa dengan kegelapan langsung memicingkan matanya karena silau. Namun ia bisa melihat Ustadzah Imah berdiri di mulut tangga terlihat begitu panik melihat Miya. Ustadzah Imah lantas berlari ke arah ruangan Ustadzah Nyi Wati dengan terburu-buru. Kemudian, ia segera masuk dan mengintip ruangan Ustadzah Nyi Wati yang masih terbuka, sepertinya Ustadzah Nyi Wati belum sempat menutup pintu ruangannya.


Wajah Ustadzah Imah begitu ketakutan dengan keringat bercucuran di keningnya. Ia kemudian langsung menutup pintu ruangan Ustadzah Nyi Wati.


"Kamu tadi masuk kedalam?!!"


"E-eh ... enggak Ustadzah"


"JAWAB YANG JUJUR!" Bentak Ustadzah Imah


"T-Tidak Ustadzah" Jawab Miya terbata-bata.


Ustadzah Imah kemudian melirik kekanan dan kekiri, seolah takut akan sesuatu. Miya yang bingung dengan tingkah Ustadzah Imah memberanikan diri untuk bertanya.


"U-Ustadzah ... Ada apa?"


"PINTUNYA KOK BISA TERBUKA?"


"Tadi Ustadzah Nyi Wati keluar, menemui Miya Ustadzah"


Ustadzah Imah langsung melotot menatap Miya. Ia seperti habis dikejar setan, wajahnya menekuk takut tidak karuan.


"M-Memangnya ... kenapa Ustadzah?"


Ustadzah Imah tidak langsung menjawab, ia terus melirik kekanan dan kekiri tidak jelas. Untuk beberapa saat mereka berdua hening sejenak, karena Miya juga tidak tahu apa yang sedang ditakutkan Ustadzah Imah.


"E-Eh ... emmm ... tidak apa-apa! Tadi Ustadzah sudah memanggil-manggil Miya berkali-kali, tapi kamu tidak dengar!"


Miya menatap bingung Ustadzah Imah, ia merasa tidak dengar bila dipanggil. Dari tadi, ia sibuk berbicara dengan Ustadzah Nyi Wati, lalu tiba-tiba saja Ustadzah Imah muncul dan panik sendiri seperti ini. Sejurus kemudian ia berubah marah tidak jelas. Miya jelas tidak paham dengan tingkah Ustadzah Imah itu, bukannya Miya hanya menjalankan apa yang diperintahkannya? Apa yang salah?


"Sudah-Sudah-Sudah! Ayo turun!" Bentak Ustadzah Imah.

__ADS_1


Ustadzah Imah lalu menggandeng paksa Miya. Mereka berdua kemudian dengan terburu-buru, turun kembali ke aula lantai satu.


__ADS_2