
Keesokan subuhnya, Miya terbangun oleh suara berisik Nabila yang tengah berganti baju di depan lemari. Ia terlihat mengganti baju tidurnya, lalu kemudian buru-buru keluar dari kamar. Miya menguap, ia masih mengantuk. Dengan mata yang masih sayup-sayup, ia menyalakan smartphone-nya. Masih jam 03:00 subuh, Adzan subuh saja belum terdengar. Apa Nabila hendak Shalat malam? Karena rasa penasaran mengalahkan rasa kantuknya, Miya lalu bangun dan mencuci mukanya. Ketika air membasahi wajahnya, Miya akhirnya terbangun sepenuhnya. Ia kemudian memutuskan untuk sekalian mengambil air Wudhu, dan pergi ke masjid.
Hawa dingin langsung menusuk kulit Miya ketika ia membuka pintu kamar. Hawa dingin yang sama yang menyambut Miya ketika pertama kali datang kemari. Tetapi pagi ini, sedikit lebih dingin daripada kemarin lusa, tentu saja sekarang masih jam tiga subuh. Miya menoleh ke sekitar beranda, tidak ada siapa-siapa. Seketika ia teringat dengan kejadian kemarin malam, bulu kuduk Miya langsung begidik. Dengan cepat ia langsung turun dan menuju ke masjid.
Ketika Miya keluar dari lapangan tengah pondok, kesunyian langsung menyambutnya. Sama seperti saat ia datang pertama kali, tidak ada siapa-siapa juga. Lho, kukira ada Shalat malam berjamaah? Miya mengira akan ada rombongan Shalat Malam seperti saat Shalat Subuh. Meski begitu lampu Masjid menyala terang, Miya lalu memberanikan diri untuk mengintip.
"Assalamualaikum ..."
Miya terperanjat kaget, tiba-tiba seorang Ustadzah perempuan berpakaian serba hitam ... Ustadzah Nyi Wati.
"Eh! Wa-Waalaikumsalam ... U-Ustadzah Nyi Wati, P-Pagi..." Ucap Miya terbata-bata.
"Mau Shalat nak?"
Miya bingung menjawab pertanyaan Ustadzah Nyi Wati. Sebenarnya ia ingin Shalat, tetapi sepertinya tidak ada orang.
"Mari nak ... sama saya" Ustadzah Nyi Wati mengajak Miya untuk Shalat Malam bersama, seolah ia paham apa yang Miya galaukan.
Meski sedikit malu-malu, Miya sebenarnya sangat senang bisa beribadah berdua saja dengan pendiri pondok pesantren itu. Ia kemudian melangkahkan kaki, hendak menuju masjid sedangkan Ustadzah Nyi Wati pergi berlawanan arah, Lho?
Miya berbalik "Ustadzah!" serunya.
Tetapi Ustadzah Nyi Wati tidak merespon, ia terus berjalan menjauh kearah lapangan Masjid. Jauh di kanan lapangan itu, tepatnya di sisi kanan pondok pesantren, membentang hutan luas dengan pohon-pohon tinggi nya. Hutan itu di sebelah barat, pemukiman penduduk desa di selatan, dan area pondok pesantren di muka utara menjadi batas luasnya lapangan Masjid itu. Miya bahkan baru menyadari bahwa ada hutan lebat disitu. Mungkin, hutan itu adalah terusan dari hutan lebat dan panjang yang kemarin lusa mereka –Miya dan Mirna- lalui.
Ustadzah Nyi Wati terus berjalan menuju hutan itu. Miya terus meneriakinya tetapi tidak merespon, ia lalu memutuskan untuk mengikutinya. Apa yang ia lakukan? Katanya mengajak Shalat? Kok, malah pergi menuju hutan, gumam Miya keheranan. Tetapi ia merasa harus mengikuti Ustadzah Nyi Wati, karena jelas-jelas tadi Beliau mengajaknya untuk Shalat berjamaah ... di dalam hutan?
Tanpa sadar, Miya kini berjalan menjauh dari sumber-sumber cahaya yang ada (Masjid, lampu Pondok pesantren, dan lampu rumah-rumah warga desa), kegelapan seketika menyelimut di sekitarnya. Miya sedikit menahan langkahnya, ia ragu untuk melanjutkan. Tetapi Ustadzah Nyi Wati justru sudah sampai di pohon pertama di muka hutan itu. Ustadzah Nyi Wati terus masuk kedalam, hingga Miya tidak bisa lagi melihat sosoknya. Miya lantas mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Sesampainya di muka hutan, Miya menoleh kekanan dan kekiri. Ia bingung, arah mana yang dilewati Ustadzah Nyi Wati tadi. Banyak sekali jalan-jalan kecil diantara himpitan pohon, yang masuk kedalam hutan. Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba Ustadzah Nyi Wati menoleh dari balik pohon.
"Astagfirullah! Ustazdah!" Miya menjerit kaget.
Tentu ia kaget, tiba-tiba Ustadzah Nyi Wati menampakkan kepalanya mendongak miring dari balik pohon, seolah sedang mengintip Miya yang berdiri kebingungan daritadi. Miya mengelus-elus dadanya, jantungnya berdebar tidak karuan.
"U-Ustadzah ... kok ke sini? Katanya tadi mau Sholat?" Tanya Miya memberanikan diri.
"Lewat sini nak ..." ucapnya sambil tersenyum.
"K-Ke Hutan? Ustadzah?"
Ustadzah Nyi Wati kemudian keluar dari balik pohon dan berbalik arah menghadap ke hutan, tetapi dengan kepala yang masih mendongak miring. Tidak ... kepala itu bukanya mendongak miring, tetapi memang kepala itu miring! Dengan badan yang tegap, kepala itu seperti menggantung bak ranting pohon yang patah. Bahkan kepala itu sampai menyentuh pundak. Ketika Ustadzah Nyi Wati berjalan, kepala itu terayun dan bunyi 'krek-krek' terus terdengar dari pangkal leher yang terlipat itu.
Miya langsung diam membeku, ia melotot ketakutan. Karena santriwatinya itu tidak kunjung beranjak, kepala itu kemudian terayun ke punggung. Sehingga kini, wajah pucat dengan bola mata yang putih itu menatap tajam, dengan badan yang tetap memunggungi Miya.
"Ayo nak ... Kesini!"
Ia kemudian berlari terbirit-birit. Itu adalah hantu yang kemarin dijumpainya di tangga asrama!! Miya bisa mendengar dengan jelas, suara gigi-gigi yang digesek-gesek terus menerus itu. Seketika ketakutannya bertambah, darahnya mendesir cepat ketika berlari. Jantung dan nafasnya tidak karuan, membuatnya terengah-engah, padahal baru beberapa meter berlari menjauhi hutan itu. Kemudian Miya jatuh tersungkur ke tanah, padahal cahaya lampu dari pondok sebentar lagi diraihnya.
Kemudian sebuah tangan yang begitu dingin mencengkram erat bahunya. Miya langsung berkelit, ia meronta-ronta dengan menendang sosok yang hendak menyentuhnya itu. Kemudian sosok itu mendekatkan obor yang dari tadi dipegangnya, membuat Miya silau karena cahaya apinya.
"SETAN!! WAAHH!!! PERGIII!!!"
"Ya ampun nakk!! Sadar!"
Mendengar suara seorang laki-laki, Miya langsung terdiam. Ia kemudian menoleh, terlihat sosok laki-laki tua dengan membawa obor api. Pak tua itu mengenakan peci bulat Hitam dengan sarung melingkar di bahu kanan hingga pinggang kirinya.
__ADS_1
"Ya ampun nakk! Kamu ngapain?!" Bentaknya seraya membantu Miya berdiri.
Miya masih belum bisa menghilangkan ketakutannya itu. Ia menoleh kembali ke arah hutan, berusaha memastikan apakah sosok mengerikan tadi masih ada, namun yang ia lihat hanya hutan kosong dan gelap. Karena tidak direspon lawan bicaranya, Pak tua itu kembali mencerca Miya dengan pertanyaan.
"Kamu ngapain nak ke hutan??"
"E-Emm ... anu ... pak"
"Kan belum waktunya Shalat Subuh?"
Miya terkejut, siapa Pak Tua ini? Ia lalu mengamati dengan seksama celana pendek dan kaos putih lusuhnya, mungkin Pak Tua ini warga desa desa sini. Miya kemudian semakin malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Tua itu.
"Assalamualaikum!!"
Tiba-tiba muncul Ustadzah Shinta dari arah Pondok pesantren. Ustadzah Shinta kemudian terkejut melihat Miya dengan pakaian yang kotor karena debu tanah, tengah berbicara dengan seorang laki-laki tua.
"Astagfirullah Miya! Ada apa ini? Pak Kades?"
Miya kembali dibuat terkejut. Ustadzah Shinta memanggil bapak tua ini ... Pak Kades?
"Lain kali jaga betul santriwatimu, Shinta!" Bentak Pak Kades.
"I-Iya ... baik Pak Kades"
Ustadzah Shinta dengan setengah acuh, langsung menggandeng Miya dan membawanya pergi. Pak Kades tua itu terus menatap mereka berdua yang pergi menjauhinya, dengan tatapan penuh amarah. Miya yang melirik kebelakang bahkan dibuat ngeri, Pak Kades itu galak sekali.
"Astagfirullah Miya! Kamu ngapain tadi?"
__ADS_1
"E-Emm ... anu ..."
Melihat wajah khawatir Ustadzah Shinta, Miya sampai tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa meminta maaf tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tentu, Ustadzah Shinta tidak mungkin percaya apa yang baru saja dilihatnya.