
Miya tersenyum kecut mendengar ucapan temannya itu. Sebenarnya ia sudah yakin dan mantab akan membina ilmu agama dan mendekatkan diri pada Allah dan Islam di pondok ini, melihat dari kesantunan dan keramahan Ustadzah Shinta tadi. Namun hatinya sedikit ragu ketika melihat ada seorang santriwati yang mengenakan baju serba hitam itu. Sepengetahuan Miya, Indonesia pun tidak ada yang berpakaian syar'i seperti itu, bahkan beberapa muslimah yang memakai cadar dan berkerudung hitam panjang, panjang kerudungnya bahkan tidak sampai menyentuh tanah, sungguh dandanan yang aneh. Ditambah lagi tentang malam satu suro yang diceritakan pemuda desa tadi, Miya takut jangan-jangan pondok ini menganut ajaran sesat. Tapi UstadzahShinta tidak mengenakan kerudung panjang hitam kan? Desak logika Miya. Ustadzah Shinta berpakaian sopan dan tertutup, kerudung hingga baju terusannya berwarna putih bersih.
Setelah diam beberapa saat, Miya akhirnya memutuskan untuk mengikuti Ustadzah Shinta menuju masjid. Keraguan apapun yang ada di diri Miya sepertinya akan ia tangguhkan dulu, sekarang sudah waktunya Shalat Subuh. Mungkin dengan Shalat, ia akan mendapatkan pencerahan dari keputusan yang hendak ia ambil ini, keputusan yang tidak mudah, yang sudah dinantinya selama empat tahun. Mungkin dengan Shalat di masjid ini ia juga akan bertemu dengan Ustadzah lainnya dan penghuni pondok lain, dan Miya akan mengamati dengan seksama bagaimana penghuni pondok disini. Itulah rencana yang ada di kepala Miya, ia memantapkan langkahnya menuju masjid.
"Gua nunggu di dalam mobil aja ya!" Teriak Mirna. Miya menoleh dan tersenyum kearah temannya itu, lalu masuk kedalam masjid.
Didalam Masjid, Miya mengikuti Ustadzah Shinta ke tempat wudhu. Tempat wudhu itu sangat bersih dan nyaman, tanpa ragu Miya mendahului Ustadzah Shinta menghadap ke sebuah kran air untuk mengambil Wudhu. Begitu tangan Miya mengulur hendak memutar kran itu, tiba-tiba air mata Miya mengalir deras. Badannya bergemetar, ia menangis sejadi-jadinya. Bahkan Miya hampir duduk tersungkur, namun Ustadzah Shinta keburu menahan badannya agar celananya tidak basah karena lantai tempat wudhu.
Miya terus menangis dan memeluk Ustadzah Shinta. Ustadzah cantik itu nampaknya paham dengan apa yang Miya sedihkan, ia lalu mengusap-usap kerudung biru Miya dengan penuh kasih sayang.
"Ustadzah... Miya... Miya sudah lupa... Sudah lupa caranya wudhu... Astagfirullah hal adzim!" Jerit Miya sambil terisak.
"Subhanallah Miya... Tidak apa-apa... Sudah, jangan menangis, nanti Ustadzah ajarkan lagi..."
"Miya sudah nggak suci lagi Ustadzah... Miya sudah kotor... Miya nggak pantas untuk shalat menghadap Allah... Miya nggak pantas Ustadzah..."
"Subhanallah Miya, tidak boleh bicara seperti itu... Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..."
(Q.S. Az-Zumar [39] 53)
Entah karena ikut merasakan kesedihan Miya atau alasan lain, Ustadzah Shinta ikut meneteskan air matanya. Mendengar Ustadzah Shinta yang terisak, Miya lantas menghentikan tangisannya. Ia merasa malu karena sampai membuat Ustadzah Shinta ikut menangis, Miya-pun melepas pelukannya pada Ustadzah Shinta dan berdiri tegak kembali.
"Ayo... Ustadzah ajari pelan-pelan ya" ucap Ustadzah Shinta sambil menghapus air matannya.
Ustadzah Shinta lalu menghadap kran air disebelah Miya dan mulai mencontohkan tata cara berwudhu dari awal. Dimulai dari doa lalu membasuh tangan, berkumur dan seterusnya, Miya dengan antusias mengikuti gerakan-gerakan Ustadzah Shinta.
Setelah beberapa menit, kedua perempuan cantik itu sudah basah oleh air Wudhu. Sungguh pemandangan yang begitu menenangkan hati, ketika Ustadzah Shinta lagi-lagi mengajari Miya doa sesudah Wudhu. Ustadzah Shinta dengan perlahan melafalkan doa itu, agar Miya bisa mengikutinya dengan baik. Setelah selesai, keduannya langsung berjalan menuju ke pintu masjid.
__ADS_1
Seketika angin subuh berhembus kencang, dinginnya langsung menusuk-nusuk tulang Miya. Miya mengigil dingin sesaat kemudian menoleh kearah asal angin itu. Ia mungkin penasaran, karena angin yang berhembus tadi cukup kencang hingga kerudungnya hampir telepas. Angin itu berasal dari Gedung Pondok Pesantren, dari tengah lapangan. Disana, lagi-lagi Miya melihat seorang perempuan mengenakan kerudung panjang serba hitam yang tadi.
Kini Miya dapat melihat seluruh wajah perempuan itu. Mungkin karena posisi Miya saat ini lebih dekat dari lapangan kecil itu, sehingga ia bisa melihat dengan jelas senyum hangat perempuan itu. Wajahnya penuh keriput, sepertinya ia sudah sangat tua. Namun badannya gemuk seperti layaknya ibu-ibu. Badannya terlihat tidak terlalu tinggi, namun kakinya tetap tidak terlihat karena tertutup kerudung.
Karena senyum perempuan tua itu begitu ramah, kekhawatiran Miya sedikit berkurang. Orang-orang disini ramah ya, gumamnya dalam hati. Miya lalu berusaha mengangguk kecil, menyapa Ustadzah... atau santriwati itu. Perempuan tua itu membalas dengan melebarkan senyumannya.
Kemudian pandangan Miya terhalang oleh sekerumunan orang berkerudung putih yang tiba-tiba saja melintas dihadapan perempuan tua itu. Rombongan santriwati yang sudah siap untuk melaksanakan Shalat Subuh berjalan melintas, mengalihkan pandangan Miya. Miya menatap puluhan santriwati itu, semuanya wanita dengan mengenakan Mukenah putih bersih seperti milik Ustadzah Shinta. Didepan rombongan itu ada seorang Ustadzah tua yang langsung melihat kearah Miya ... Ustadzah Imah.
Ustadzah Imah langsung berlari kecil mendauhului rombongan itu. Ia langsung menghampiri Miya dan memeluknya.
"Assalamualaikum! Masya Allah! Nak Miya sudah sampai... Alhamdulillah"
Ustadzah Imah berperawakan pendek. Badannya yang gemuk, membuatnya seperti ibu-ibu desa pada umunya. Tetapi wajahnya terlihat masih segar dan langsat, meski tidak seputih Ustadzah Shinta. Senyumnya yang begitu ramah, membuat Miya begitu nyaman.
"Waalaikum salam Ustadzah ... Alhamdulillah, akhirnya sampai, hehe ..." tawa Miya sedikit grogi, karena kali ini seluruh rombongan santriwati yang berada dibelakang Ustadzah Imah menatapnya.
Santriwati-santriwati itu tentu kaget, dengan kehadiran orang asing yang pakaiannya tidak sama dengan mereka –Miya mengenakan kerudung putih, dan belum memakain mukenah. Ditambah lagi, Ustadzah mereka langsung memeluknya, seolah sudah kenal. Meski mereka tatapan mereka masih setengah heran dan kaget, mereka tetap tersenyum dan menyapa Miya ramah. Miya membalas sapaan itu satu persatu, sampai semua rombongan itu masuk kedalam tempat Wudhu. Melihat antrian yang panjang itu menghalangi pembicaraan mereka berdua, Ustadzah Imah lalu mengajak Miya sedikit maju ke mulut pintu Masjid.
"Alhamdulillah Ustadzah ... oh iya, Nabila ada kah?"
"Sepertinya ada tadi ... Mungkin sudah masuk kedalam Masjid, kamu nggak lihat?"
"Aduh, tidak Ustadzah. Semuanya pakai Mukenah putih..."
Ustadzah Imah lalu menempelkan tangannya ke dahi "Oh iya, Mukenah putih ... nanti nak Miya pakai Mukenah putih juga ya, kita sholat bersama-sama"
"Iya Ustadzah, tadi Ustadzah Shinta sudah menyiapkan Mukenahnya..."
__ADS_1
"Alhamdulillah, tidak usah kaget ya nak, disini memang seperti ini tata-tertib nya ... Inshaallah, nak Miya akan berubah disini. Nak Nabila juga seperti itu ... nak Miya pasti kaget melihat nak Nabila yang sekarang, jauh berubah"
"Kalau Mukenah hitam?"
"Hah? Mukenah hitam?"
"Saya tadi lihat ada Ustadzah yang memakai mukenah hitam ..."
"DIMANA?!"
Tiba-tiba Ustadzah Imah berteriak panik, hal itu sontak membuat Miya kaget setengah mati. Obrolan ringan yang Miya ucapkan langsung dibalas dengan tatapan melotot ketakutan. Miya langsung dibuat kikuk, ia lalu menoleh kebelakang dan menunjuk kearah lapangan Pesanteren
"D-Di sana ... Eh!"
Miya kaget, karena perempuan tua berkerudung hitam panjang tadi sudah tidak ada. Ustadzah Imah langsung memicingkan matanya kearah yang ditunjukk Miya. Miya juga mendongak, berusaha mencari perempuan tua itu tadi. Kerumunan santriwati yang sedang mengantre Wudhu menghalangi pandangan mereka.
"N-Nggak ada... N-Nggak ada kan?!" tanya Ustadzah Imah dengan setengah menegaskan, menegaskan bahwa yang dilihat Miya tidak ada. Sungguh aneh, tiba-tiba Ustadzah Imah jadi ketakutan.
"I-Iya ... Iya nggak ada Ustadzah, padahal ta ... "
DUK DUUUK DUUUUUUK
Suara bedug tiba-tiba terdengar, membuat Miya terkejut kaget. Lebih-lebih Ustadzah Imah yang hampir terjatuh karena saking kagetnya, bahkan Miya sampai memegangi badan Ustadzah Imah agar tidak terjatuh. Miya begitu keheranan, mengapa Ustadzah Imah begitu takut.
ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR
Kemudian disusul dengan Adzan Subuh yang begitu keras. Suara Adzan laki-laki itu berasal dari radio yang diputar oleh Ustadzah Shinta. Tentu saja, perempuan tidak melakukan Adzan disini.
__ADS_1
Ustadzah Imah lalu menghela nafas dalam-dalam berusaha menghilangkan ketakutannya.
"A-Ayo... Ayo nak Miya, kita Shalat ..." ucapnya sambil setengah bergemetar.