
Assalamualaikum Ustadzah Imah, selamat malam...
maaf mengganggu. Ini dengan Miya.
Waalaikum salam, nak Miya...
jadi kemari kah?
Insha Allah Ustadzah, ini sedang di perjalanan
Subhanallah, Nak Miya... Ustadzah terharu,
semoga Allah dan Ustadzah Nyi Wati
melancarkan perjalananmu kemari nak
Aamiin Ustadzah... Amin...
Ustadzah, bisa dikirimkan lokasi pondok
dari Chat ini kah?
*SHARE LOCATION*
Hati-hati nak Miya, Nanti Ustadzah kirimkan
Ustadzah Shinta untuk menjemput nak Miya
nak Miya kemari naik apa?
Naik mobil bersama teman Ustadzah
Laki-laki atau perempuan nak?
Perempuan Ustadzah, tidak usah khawatir
Oh, baik kalau begitu. Ustadzah akan
siapkan kamar tambahan
Terimakasih Ustadzah Imah,
Sekali lagi Ustazah doakan
semoga Allah dan Ustadzah Nyi Wati
meridhoi perjalananmu kemari nak
Amin Ustadzah, terimakasih
Assalamualaikum
Waalaikumsalam wr wb
"Ya! Oe, Miya!"
__ADS_1
"Eh?" Miya nampak bingun, karena terlalu sibuk menatap handphonenya ia sampai tidak menyadari kalau Mirna memanggilnya berkali-kali. "Gimana na?"
"Ah elu! Hape mulu, chat ama Pak Indra?"
"Engga... EH BELOK KANAN!"
Mirna seketika membanting setirnya dengan cepat, mobil mereka lalu menikung tajam kearah kanan hampir saja menabrak sepeda motor yang tengah melaju kencang dari sisi kanan. Namun Mirna menginjak gasnya kencang-kencang, sehingga tabrakan terhindarkan. Mobil mereka lalu melesat maju ke jalanan perkampungan, meninggalkan jalan raya besar.
"GILA LU YA!" bentak Mirna kesal.
"Maaf na... Maaf, barusan dapat share location dari Ustadzah Imah, arahnya ke sini"
Mirna nampak kesal sambil berusaha mengendalikan mobilnya yang hampir menabrak tadi. Ia lalu menoleh ke sekitar, berusaha melihat dimana mereka berada saat ini sambil menguap ngantuk.
"Dimana nih kita ini? Udah tiga jam nyetir, kok malah suruh belok ke jalan kampung kayak gini?"
"Menurut share location dari Ustadzah Imah gitu sih, belok sini na..."
"Ustadzah lo, salah kali, sinyalnya jelek..."
"Nanti kalau salah kita telepon ya, beliau... sekarang ikutin dulu saja jalannya" rayu Miya.
Mirna-pun tidak banyak protes lagi -mungkin karena sudah cukup lelah- , ia lalu melaju mobilnya dengan perlahan, agar tidak mengganggu warga perkampungan itu. Wajah Mirna menggerutu kesal, sebenarnya ia ingin segera sampai, namun ia tidak bisa lebih cepat dari ini bila melintasi perkampungan seperti ini, terlebih di malam hari.
Sekitar lima belas menit kemudian, perkampungan kecil itu menghilang dari sisi kanan dan kiri mereka, berganti menjadi sebuah hutan yang lebat. Mirna lalu memelankan laju mobilnya.
"Masih jauh Yak?"
"Menurut google maps sih gitu Na..."
Mirna memberhentikan mobilnya, ia lalu memutuskan untuk mundur, mendekati sebuah rumah beberapa meter di belakang mereka. Itu adalah rumah terakhir, rumah paling ujung dari desa itu, sebelum hutan belantara. Mirna melakukan hal itu karena ia sempat melihat ada beberapa pemuda yang nongkrong di teras rumah itu, sepertinya mereka adalah siskamling desa yang tengah berjaga. Mirna hendak bertanya lokasi pondok pesantren yang hendak Miya tuju itu.
Setelah memarkirkan kendaraannya tepat didepan rumah itu, Miya dan Mirna lalu keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"Selamat malam mas..." ucap Miya santun.
"E-eh malam neng..." Seorang pemuda tampak tergopoh bangkit dan menyapa mereka.
"Mas maaf, kalau mau ke pondok pesantren yang khusus wanita, yang terkenal itu, lewat mana ya?"
"Pondok pesantren? Pondok pesantren yang mana ya mbak?" Pemuda itu nampak bingung, lebih-lebih Mirna dan Maya yang tidak menyangka bahwa pemuda desa itu pun tidak tahu tentang pondok pesantren.
"Ahhhh! Tu kan, gua bilang juga apa Yak, nyasar kita nih... udah kita balik ke kota dulu aja, besok malem deh gua anter lagi..." Omel Mirna kesal.
"Aduh..." Desis Miya.
"Lu chat lagi sono itu Ustadzah siapa? Nyi Wati, Nyi Wanto? Bilangin kalau gak jadi males ini..."
"OH! Mau ke tempat Nyi Wati toh?" Seketika pemuda itu menyela obrolan Mirna.
"Nah! Itu mas tau!" sambar Miya
"Iya mbak, kalau Nyi Wati disini semua sudah tau... Lurus aja mbak melewati hutan itu sekitar 1 jam perjalanan lagi, tadi mbak berdua sudah benar jalannya"
"Ok mas makasih ya..."
__ADS_1
"Terima kasih mas..." Ucap Mirna dan Miya bergantian.
"Eh mbak! Memang sekarang sudah malam satu suro kah?"
"Hah? Malam satu suro?" ketus Mirna bingung.
Miya yang tadi sudah mau memutar badannya kini kembali menoleh ke arah pemuda itu "Maksudnya mas?"
"Kok mbak berdua mau kesana?" Tanya pemuda itu.
"Ngawur kamu Jo... Masih dua bulan lagi itu!" Ketus salah seorang pemuda lain dari teras rumah itu.
"Nah iya mbak, kan masih dua bulan lagi?" Tanya pemuda itu lagi, menimpali ucapan temannya
"Emangnya kenapa kalau nggak satu suro kesana? Gaboleh?" Omel Mirna pada pemuda itu.
"Eh bukan begitu mbak maksudnya, biasanya banyak perempuan dari kota yang kesana setiap malam satu suro"
Kata-kata itu sontak membuat bulu kuduk Mirna dan Miya berdiri. Mirna melotot ke arah Miya dengan mimik wajah takut.
"Ehm... Jadi lurus aja kan mas? Oke deh terima kasih ya mas..." Ucap Miya buru-buru memotong pembicaraan.
Miya langsung menarik tangan Mirna untuk pergi. Mereka berdua lalu kembali kedalam mobil, dan bisa ditebak, Mirna mengungkapkan seluruh ketakutannya setelah mendengar ucapan pemuda tadi.
"Lu mau ke pesantren apa pesugihan sih?!"
"Ehmm... aku gak tau Na, sumpah asli aku gak tau..."
"Lu dapet info beginian dari mana sih..."
"Dari temen Na, itu... si Nabila..."
"Nabila si Ayam kampus itu?"
"Iya Na, dia juga udh disana, katanya nyaman tempatnya ... khusus perempuan ..."
Miya lalu fokus pada handphonenya, mencari chat nya dengan Nabila, teman pelacuran yang pernah ia kenal dulu. Miya lalu menunjukkan pada Mirna seluruh obrolan di chat itu, beserta foto-foto kondisi lingkungan pondok pesantren yang terlihat begitu bagus, terawat dan nyaman. Menurut Miya, Nabila sudah berada disana sejak tiga bulan yang lalu, untuk bertaubat, mendekatkan diri pada Allah.
Miya pun juga menginginkan hal yang sama : keluar dari dunia pelacurannya dan kembali ke jalan yang benar. Dengan niat seperti itu, makanya Miya tertarik sekali ketika Nabila menghubunginya. Mirna yang mengetahui bahwa Nabila yang sudah beberapa bulan ini tidak aktif melayani klien-kliennya, justru baru mengetahui kalau Nabila masuk pondok pesantren, dan temannya ini sepertinya akan melakukan hal yang sama.
"Pliss Na... Mumpung udah sejauh ini loh, setidaknya aku pengen lihat seperti apa pesantrennya..."
"Ya-ya-ya..."
"Pliss jangan marah, Ustadzah Imah udah nyiapin kamar buat kamu menginap kok Na"
"Dih... Ogah gua mah, entar dijadiin tumbal! Di Malam Satu Suro, huahahaha..."
"Astagfirullah, ga boleh suudzon gitu Mirna..."
"Nye-nye-nye... Belum sampai pondok udah jadi Ustadzah lu, sok-sok nyeramahin gua... Yaudah, berangkat gak ni?"
"Iya-iya berangkat... Jangan marah dong..."
Mirna mendengkus kesal, wajahnya menekuk cemberut. Meski begitu ia tetap menginjak gasnya, melaju mobilnya kembali menembus kegelapan hutan.
__ADS_1