
Tahun 1970, disebuah desa yang begitu terpencil, terdapat sebuah rumah kecil yang letaknya bersebelahan dengan masjid. Disana tinggal seorang Ustadzah paruh baya dengan tiga orang anak yatim yang ia rawat. Hidup dibawah garis kemiskinan, mereka berempat mengandalkan derma dari masyarakat desa untuk makan sehari-hari. Tetapi kemiskinan itu sepertinya tidak akan bertahan lama.
Suatu hari, terlihat mobil tua yang begitu terawat rapi, terparkir di lapangan Masjid yang amat luas itu. Didalam rumah sang Ustadzah, terlihat seorang laki-laki tua berpakaian PNS tengah bersujud. Disaksikan oleh tiga anak angkatnya, Laki-laki itu mengutarakan keinginannya untuk naik jabatan menjadi bupati di perusahaan ini.
Ustadzah itu dengan penuh kekhusyuan mulai memanjatkan doa, agar semua keinginan laki-laki itu terkabul. Setelah beberapa ayat dibacakan, akhirnya laki-laki itu pergi dengan perasaan bahagia, penuh percaya diri.
"Nyi... Apa orang itu akan jadi bupati?"
Ustadzah itu tersenyum dan mengelus-elus kepala anak tertuanya itu. "Imah, kita serahkan semuanya pada Allah SWT, Insha Allah kalau kita berdoa dengan tulus, maka Allah akan mengabulkan doa kita"
"Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan." Tambah Sang Ustadzah.
__ADS_1
(Al-Baqarah[2]186)
Beberapa minggu berikutnya, Laki-laki itu datang dengan penuh suka cita. Ia bersujud dan berterimakasih sebesar-besarnya pada Sang Ustadzah. Menurutnya, berkat doa-doa yang dipanjatkan itu, akhirnya ia berhasil dipilih menjadi seorang bupati. Sang Ustadzah menampik hal itu, kembali ia mengutarakan bahwasanya semua itu karena Allah SWT, bukan karena dirinya. Namun sang bupati baru nampaknya tidak memperdulikan, ia kembali memberikan derma sejumlah uang yang dua kali lebih banyak daripada sebelumya. Sang Ustadzah awalnya menolak, namun ketika melihat ketiga anak angkatnya yang kelaparan, ia akhirnya menerima kembali pemberian laki-laki itu.
Berbulan-bulan setelah itu, tiba-tiba datang tiga orang pejabat teras. Sama seperti instruksi yang diberikan oleh atasan (bupati) barunya, mereka meminta doa dan restu pada Sang Ustadzah. Ustadzah-pun segera mendoakannya, namun dengan keras ia menolak apabila diberi pemberian apapun. Sang Ustadzah tulus mendoakan mereka agar mendapat promosi atau kesuksesan dalam pekerjaan. Setelah di doakan, ketiga orang itu memang tidak memberikan apa-apa. Namun sebulan setelahnya mereka kembali dengan membawa ber truck-truck material bangunan beserta tukangnya untuk merenovasi masjid.
Sang Ustadzah kaget bukan main, awalnya ia menolak. Namun karena niat ketiga orang itu ingin membalas budi dengan membangun serta memperbaiki rumah Allah, mau tidak mau Ustadzah itu tidak dapat menolaknya. Masjid desa yang awalnya kecil itu disulap menjadi begitu besar dan megah dalam waktu beberapa bulan.
Lambat laun, rumor tentang seorang Ustadzah yang doanya selalu dikabulkan itu menyerbak ke seluruh kota. Bahkan beberapa pejabat dari luar propinsi mengetahui hal itu, juga ikut 'berkunjung' ke rumah sang Ustadzah. Setiap datang, seorang pejabat akan memberikan uang atau makanan pada sang Ustadzah. Bila ia menolak, maka seorang anak bernama Romah cukup serakah untuk menyimpan derma-derma itu. Sang Ustadzah sudah menegur keras Romah, namun ia tidak memperdulikan. Ia berfikir bahwa mereka berempat hidup begitu miskin, maka mereka sangat butuh uang untuk makan sehari-hari. Karena tidak punya banyak pilihan sang Ustadzah akhirnya memakai uang-uang itu untuk kebutuhan sehari-hari.
Pondok pesantren itu akhirnya selesai dibangun, dengan tiga bangunan lantai dua yang megah beserta puluhan kamar-kamar. Sebagai sang pendiri, Ustadzah itu begitu bangga dengan pondoknya, dan menetapkan aturan bahwa hanya perempuan saja yang dapat menimba ilmu disini. Mengingat ia anak angkatnya kesemuanya perempuan, hal itu akan mempermudah mereka bertiga dalam mengurus pondok.
__ADS_1
Begitu dibuka, banyak sekali pendaftar yang ingin bersekolah di pondok pesantren itu. Tentu, awalnya mereka tidak ingin untuk menimba ilmu agama dengan sungguh-sungguh. Mereka hanya ingin belajar bagaimana caranya menjadi seperti sang Ustadzah, yang doa-doanya selalu mujarab. Tetapi pendidikan yang diberikan oleh sang Ustadzah mengubah pandangan mereka semua, dan membuat pondok pesantren itu sukses besar. Bak gayung bersambut, kesuksesan itu kemudian menjadikan nama sang Ustadzah semakin terkenal.
Di tahun 2000, sang Ustadzah paruh baya itu kini sudah menjadi nenek-nenek yang begitu tua. Penyakit mulai menggerogoti badannya yang kurus. Namun ketiga anak angkatnya masih memaksanya untuk mendoakan setiap 'tamu' yang datang. Ketiga anak tamak itu tentu tidak mau kehilangan pundi-pundi uang gratis yang terus mengalir setiap harinya. Hingga pada akhirnya Sang Ustadzah jatuh dari tangga, hingga membuat lehernya patah. Seketika itu juga Sang Ustadzah akhirnya meninggal dunia.
Alih-alih membawa sang ibu angkat ke rumah sakit, Romah justru melarang kedua saudarinya itu untuk memberitahukan kejadian ini. Ia menyembunyikan jenazah Sang Ustadzah di kamar, dan menolak seluruh tamu yang hendak meminta doa. Ia dan kedua saudarinya itu berbohong bahwa sang Ustadzah sedang sakit keras dan akan menghubungi mereka kembali apabila kondisi beliau sudah membaik. Padahal sebenarnya, Romah sedang menyusun rencana, agar kegiatan ini terus berlanjut, agar mereka terus mendapatkan uang.
Romah kemudian memiliki ide untuk berpura-pura menjadi sang Ustadzah dan tetap medoakan tamu-tamu yang datang. Adalah Ulun, anak angkat paling bungsu yang mengenakan baju gamis dan kerudung hitam panjang untuk mengelabuhi para tamu. Namun hal itu hanya bertahan beberapa minggu sebelum mereka ketahuan. Tetapi, karena lihainya Romah dalam bernegosiasi, kematian sang Ustadzah nampaknya masih berhasil ditutupi.
Barulah di bulan berikutnya Romah memiliki ide yang mengerikan. Ia membawa jenazah sang Ustadzah yang telah membusuk itu ke dalam sebuah goa kecil didalam hutan. Di dalam sana ada kubangan yang kemudian airnya ia ganti dengan cairan pengawet. Tanpa perasaan ia menenggelamkan jasad ibu angkatnnya dan mengawetkannya.
Namun karena membutuhkan waktu cukup lama untuk proses pengawetan mayat, maka tidak mungkin ia mengeluarkan sang Ustadzah setiap harinya. Maka dari itu siasat lain muncul, ia meminta para tamu untuk datang setahun sekali saja, hanya pada saat malam satu suro. Romah berdalih bahwa itu adalah perintah sang Ustadzah yang sudah mulai menua dan tidak bisa lagi mendoakan orang setiap harinya. Pejabat-pejabat itu tentu mempercayai tanpa banyak bertanya, karena mereka juga percaya khasiat dan mitos malam satu suro. Ditambah doa dari Ustadzah termashyur itu, maka tidak ada doa yang tidak akan terkabulkan. .
__ADS_1
Namun ada sedikit kendala, yaitu leher patah yang membuat kepala jenazah selalu miring ke kanan. Tentu pengawet tidak akan memperbaiki tulang yang sudah patah. Namun hal itu teratasi dengan menyuruh seseorang untuk memegangi badan sang mayat. Awalnya Ulun lah yang kebagian tugas memegangi, namun ketika keponakan Romah datang untuk meminta digugurkan kandungannya lima tahun lalu, kini Nabila lah yang bertugas untuk itu. Tidak hanya memegangi mayat setiap tahunnya. Nabila juga bertugas membersihkan dan mengurus mayat Ustadzah itu saat direndam di gua. Setiap harinya ia harus mengecek kondisi mayat, karena tidak bisa terus-terusan direndam.
Sempurna sudah rencana Romah, ia kini hanya perlu mengeluarkan mayat yang diawetkan itu setahun sekali. Dan setiap malam satu suro, mayat itu diberikan pakaian serba hitam panjang yang menutup seluruh wajah dan badannya. Parfum dan wewangian disiramkan pada tubuh tak bernyawa itu, agar bau pengawet bisa tersamarkan. Ditambah dengan larangan mencium tangan atau menyentuh sang Ustadzah, maka tidak akan ada yang tahu bahwa dihadapannya itu adalah mayat.