Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Perjalanan


__ADS_3

Setelah berberes kamar dan check-out, tengah malam itu juga Miya pergi meninggalkan hotel. Meninggalkan dunia malamnya yang penuh dosa itu, dunia pelacuran yang selama ini menghidupinya, serta membantunya membayar hutang-hutang orang tuanya, untuk selama-lamanya.


Miya melirik kearah bangunan megah hotel bintang lima tersebut, kemudian matanya terpejam. Ia mengingat betul siapa saja laki-laki yang pernah ia layani. Laki-laki pemabuk, Laki-laki hidung belang, bapak-bapak gendut penuh bulu, seorang mahasiswa, sekelompok mahasiswa, bahkan seorang anak kaya yang masih SMA-pun pernah Miya layani di hotel ini. Air mata langsung turun deras membasahi pipinya lagi ketika mengingat semua kejadian itu. Entah sudah berapa kali ia menangis seharian ini.


Kemudian ia terbayang wajah Pak Indra yang tampan, orang yang akhir-akhir ini selalu menyewanya. Dan di pelacurannya yang terakhir pun, Pak Indra lah yang menyewanya. Sepertinya Pak Indra tidak memberikan kenangan buruk pada Miya, Tetapi hati Miya tetap bersedih, tidak seharusnya ia berzina seperti ini, tidak seharusnya ia menjadi wanita hina. Kalau tidak karena hutang mendiang ayahnya yang melilit, bahkan membuat ibunya ikut menyusul mati, Miya tidak mungkin melakukan semua ini.


Miya lalu melirik segebok lembaran uang seratus ribuan yang diberikan oleh Pak Indra tadi. Dalam hati ia begitu bersyukur, hari ini hutang ayahnya akan lunas. Setelah semua malam yang ia lalui melacur, mengemis uang pada kepuasaan laki-laki, kini ia bisa bebas dan menjalani kehidupan yang baru. Miya lalu berjalan pergi meninggalkan Hotel itu, membuang semua kenangan buruknya dalam dunia perzinaan ini, dan bersiap memulai ... kehidupan baru.


Di parkiran hotel, sebuah mobil Jazz putih berhenti perlahan dihadapan Miya. Seorang wanita berdandanan menor dengan rambut pendek cat emas yang tengah merokok, membuka kaca mobilnya dan tersenyum kecut kearah Miya. Wanita itu adalah jemputan Miya, sepertinya ia kesal karena Miya begitu lama tidak segera keluar dari Hotel.


"Main berapa ronde lu? Lama banget... Pak Indra kuat banget ya?" ucapnya menyindir.


"Maaf na..." Miya meminta maaf pada wanita itu sambil tertunduk.

__ADS_1


"Udah ayo, keburu tenggang waktu pembayaran hutang bapak lo, cepet masuk..."


Miya lalu memutar dan masuk ke sisi penumpang mobil, disebelah temannya itu. Teman Miya itu lalu segera mengemudikan mobilnya, meninggalkan parkiran hotel, menuju jalan raya kota.


"Mirna... maaf dong, jangan bete gitu..." Ucap Miya memelas.


"Ya gila aja, dari sore ampe mau tengah malem... lu berdua indehoy apa meeting tahunan perusahaan sih? Gua menguap tau ngga di dalem mobil" Ketusnya sambil terus menghisap rokok dan meniupkan asapnya keudara. Temannya yang bernama Mirna itu nampak kesal, tetapi sepertinya ia mengetahui kondisi Miya.


"I-Iya ... maaf na ... besok-besok nggak lagi deh"


Mobil Jazz itu kemudian berbelok keluar dari jalan raya kota menuju ke jalanan yang lebih kecil. Di sisi kiri jalanan tersebut terdapat sebuah minimarket yang didalamnya ada ATM yang Mirna cari. Mereka lalu berhenti dan masuk kedalam minimarket itu. Di dalam sana, Mirna bergegas menuju ATM, karena ia tahu betul apabila terlambat membayar hutang bank yang akan jatuh tempo besok, maka hutang Miya akan membengkak lagi. Sesekali Mirna melirik jam tangan mahalnya, memastikan hari belum lewat tengah malam.


Berbeda dengan Mirna, Miya yang memiliki hutang itu justru terlihat bingung dengan kepanikan temannya itu. Miya tentu tidak tahu, karena selama ini Mirna lah yang membantunya membayarkan hutang bank mendiang ayahnya. Bahkan, Mirna juga lah yang mengenalkannya dengan semua laki-laki yang pernah meniduri Miya, termasuk Pak Indra karena mereka berdua bekerja di perusahaan miliknya. Bisa dibilang, Mirna adalah seorang teman sekaligus mami atau mucikari Miya.

__ADS_1


"Beliin kopi juga dong Miya, sama snack apa gitu kek" omel Mirna sambil terus sibuk memencet tombol ATM.


Miya lalu mengiyakan permintaan temannya itu dan segera berbelanja. Ia berbelanja banyak sekali camilan dan minuman ringan lalu membayarnya ke kasir, sementara Mirna akhirnya menjerit kegirangan setelah transfer uangnya berhasil. Mirna lagi-lagi melirik jam tangannya, ia mendengkus lega, hari belum lewat tengah malam.


Setelah menyelesaikan urusan masing-masing mereka kembali masuk kedalam mobil. Mirna lalu menunjukkan slip bukti transfernya tadi, Miya lalu mengeluarkan segebok uang pemberian Pak Indra pada Mirna. Miya lalu memeluk erat teman baiknya itu.


"Aku nggak tau lagi harus bilang apa na ke kamu... terima kasih banyak na..." Ucapnya sambil terisak.


Mirna nampak menggeliat berusaha melepaskan diri dari pelukan Miya "Iye-iyee udahh...Jangan lebay ah, kan kita udah temenan lama...Entar gw ikutan nangis, oneng... udah bersyukur Alhamdulillah gitu lo, utang bokap lu lunas setelah bertahun-tahun... gua juga ikut seneng..."


Miya tersenyum senang mendengar omelan temannya itu, omelan yang selalu menemaninya setiap hari baik dikala senang maupun sedih. Mirna lalu melirik kantung belanja yang dibawa oleh Miya.


"Kok elu beli makanan banyak banget?"

__ADS_1


"Kan perjalanan kita jauh Na..."


Seketika Mirna kembali mendengkus kesal, ia lupa bahwa ia sudah berjanji akan mengantarkan temanya ini pergi ... pergi jauh memulai kehidupan baru, dan menebus semua dosa-dosanya.


__ADS_2