Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Keseharian Pondok


__ADS_3

"Nab! Ini bagus banget kamarnya, luas dan bersih ... kotor dari mana?"


Miya menoleh kearah Nabila dengan wajah sumringah. Tetapi Nabila mengacuhkannya, ia justru sibuk menutup salah satu lemari kayu.


"Yak ... emm ... yang ini lemari gua ya, punya lo yang sebelah sana"


"Oh ... oke" Miya sedikit cemberut karena Nabila tidak meresponnya.


Melihat wajah cemberut sahabatnya itu, Nabila sedikit tidak enak. "Oh iya! Koper lu Yak ... gw ambil ya, dimana tadi?"


"Emm ... di aula, tapi dimananya, ya?"


"Yaudah lah, entar gua cari deh! Lu tiduran dulu sono gih!" ucap Nabila. Ia kemudian buru-buru pergi keluar dari kamar.


Miya menarik nafas panjang, ia bingung dengan tingkah Nabila. Awalnya ia begitu kaget melihat Miya, kemudian ia senang. Selanjutnya ia sedikit keberatan bila Miya tidur di kamarnya, namun kemudian ia setuju, benar-benar plin-plan. Seolah-olah Nabila menyembunyikan sesuatu ... Miya langsung melirik kearah lemari yang ditutup oleh Nabila tadi.


Clek-Clek


Miya berusaha membuka lemari itu dengan menari daun pintunya. Dikunci huh, gumam Miya. Ah, terserah Nabila aja lah, aku capek sekali. Miya langsung naik ketempat tidur dan merebahkan diri.


Ia membenamkan wajahnya pada bantal, Miya bahkan belum sempat mandi dan berbersih. Namun rasa kantuk yang tidak tertahankan setelah perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan itu, akhirnya membuatnya terlelap.


................


ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR


Suara Adzan itu menggema, hingga sampai kedalam kamar. Miya yang tengah terlelap dalam tidurnya sontak bangkit. Aduh ... Adzan? Miya mengusap-ngusap matanya, berusaha melihat kesekitar. Ia masih berada dikamar seorang diri, Lho? Kemana Nabila.


ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR


Suara Adzan itu masih berlanjut, membuat Miya memfokusikan perhatiannya pada suara itu. Gawat ... sudah berapa lama aku tertidur? Ini Adzan Dhuhur? Atau Adzan Ashar? Miya lalu beranjak dari kasur dan bergegas ke kamar mandi. Dengan cepat ia mandi dan membersihkan diri. Kemudian ia baru teringat bawah kopernya masih tertinggal di aula, Nabila belum membawanya ke kamar. Alhasil Miya terpaksa mengenakan kembali baju dan Mukenah yang ia gunakan Shalat subuh dan tidur tadi. Setelah siap, ia langsung keluar kamar dan turun kebawah.

__ADS_1


Di lantai bawah ia berpapasan dengan Nabila yang barusaja keluar dari aula bangunan utama.


"Nab! Ayo Sholat!"


Nabila begitu kaget melihat Miya. "E-Eh ... Yak! Aduh Lupa! Koper kamu!"


"Nanti saja Lak ... tidak apa-apa, Mukenah ini masih bersih ..."


"Bentar-bentar ... mumpung disini, aku ambil koper lu dulu aja"


Alih-alih ikut berjalan menuju masjid bersama Miya, Nabila justru berbalik arah masuk kembali kedalam aula. Melihat temannya yang menolak ajakannya, Miya langsung bergegas menuju ke masjid.


Dalam perjalanan, Miya kembali bertemu tiga orang santriwati yang mengajaknya berkenalan subuh tadi. Ira, Dina, dan Nina mereka bertiga adalah teman sekamar. Kamar mereka terletak di lantai tiga bangunan asrama satu. Sambil berjalan menuju Masjid, mereka berempat kemudian melanjutkan perkenalan mereka yang tertunda tadi subuh.


Nina bercerita bahwa mereka sudah setahun disini. Dina dan Nina yang lebih akrab dan ramah pada Miya, sedangkan Ira sendiri tidak terlalu banyak berbicara. Hal itu karena Dina dan Nina sepertinya juga berasal dari kota yang sama dengan Miya dan Nabila. Sedangkan Ira, seperti mayoritas santriwati disini, berasal dari desa-desa di sekitar pondok pesantren ini. Bahkan, Ira adalah anak Kepala Desa, desa kecil ini.


Mereka berempat kemudian berjalan melewati pohon besar dan menuju ke lapangan luas. Di lapangan Luas itu, santriwati lain terlihat berbondong-bondong mengantri mengambil Wudhu.


Mereka memanggil Miya 'Ukhti' karena mereka bertiga usianya jauh lebih muda. Sepertinya, setelah lulus dari bangku SMP mereka langsung 'mondok' di sini.


"Sama Ukhti Nabila"


"Oh, Ukhti masih saudaranya Ustadzah Romah?"


"Hah? Maksudnya?"


"Kan Ukhti Nabila keponakannya Ustadzah Romah"


Mata Miya terbelalak kaget, baru pertama kali ia mendengar hal ini. Ternyata Nabila dan Ustadzah yang sedikit galak semalam itu, masih memiliki hubungan saudara. Pantas saja Nabila bisa berada disini. Miya mengangguk-angguk, pertanda ia paham betul apa yang diucapkan Dina. Sesampainya di Masjid, mereka berempat bergegas mengambil Wudhu dan kemudian melaksanakan Shalat Dhuhur. Lagi-lagi, Ustadzah Shinta yang mengimami Shalat itu.


Seusai Shalat, Ustadzah Shinta kemudian mengajak Miya untuk mengambil jatah makan yang sudah disiapkan. Mereka makan di ruang makan di lantai dua, bangunan asrama satu. Setiap hari, Miya dan santriwati lainnya mendapat jatah makan tiga kali sehari, yaitu pagi siang dan malam. Ustadzah Shinta menemani Miya makan siang, mereka berdua membicarakan banyak hal.

__ADS_1


Setelah makan, Ustadzah Shinta mengajak Miya pergi ke ruang belajar di lantai satu gedung asrama satu. Bersama dengan santriwati-santriwati lain yang masih kecil, ia belajar buku IQRA bersama seorang Ustadzah lain bernama Ustadzah Retno. Miya sebenarnya sudah bisa membaca Al-Quran, dulu sekali. Tetapi sepertinya ketika dicoba membaca, ia begitu kaku sehingga Ustadzah Shinta berniat mengajarinya –dengan menitipkan ke Ustadzah Retno- dari awal. Buku IQRA adalah buku dasar dalam membaca Al-Quran, dibagi menjadi enam tingkatan. Mulai dari pengenalan huruf-huruf Hijaiyah hingga cara membaca surat per surat.


Meski harus duduk seruangan dengan santriwati-santriwati yang masih usia SD-SMP, Miya tidak malu sama sekali. Dibimbing dengan sabar oleh Ustadzah Retno, ia justru bersemangat dalam membaca huruf-huruf itu, sekaligus mengingat kembali kenangannya dulu ketika kecil. Ia selalu ditemani mengaji oleh almarhum ayah dan ibu. Seketika air matanya kembali menetes.


Kegiatan belajar Al-Quran itu berlangsung hingga Adzan Ashar berkumandang. Dengan kompak, Miya dan seluruh santriwati yang ada di ruangan itu menutup buku IQRA mereka dan bergegas pergi menuju masjid. Dalam perjalanan, Miya kembali berpapasan dengan Dina, Ira, dan Nina ... bahkan Ustadzah Shinta. Sepertinya Ustadzah Shinta mengajar mereka bertiga di kelas sebelah. Ustadzah Shinta adalah penanggung jawab pendidikan di Pondok ini, bersama Ustadzah Retno. Sedangkan Ustadzah lainya (Ustadzah Romah, Ustadzah Imah, Ustadzah Rimah) adalah penanggung jawab Pondok. Aneh sekali, meski jumlah santriwati disini tidak begitu banyak (kurang lebih 40 orang) tetapi jumlah itu cukup banyak apabila hanya dua Ustadzah saja yang mengajar.


Seusai Shalat Ashar kegiatan belajar mengajar kembali dilanjutkan hingga Adzan Magrib. Apabila seruan Adzan sudah dikumandangkan secara otomatis seluruh santriwati menghentikan kegiatan mereka dan bergegas ke Masjid. Sungguh budaya agama yang begitu baik dan terpuji, hal ini membuat Miya begitu bahagia dan tentram.


Sepertinya Ustadzah Shinta adalah imam tetap Masjid ini setiap Shalat Fardu (Shalat wajib lima waktu). Lagi-lagi ia memimpin Jama'ah untuk Shalat Magrib. Setelah Shalat Magrib selesai, seluruh santriwati tetap berada di Masjid. Kegiatan selanjutnya adalah mendengarkan Tausiyah (Ceramah pendek) dari Ustadzah Shinta. Menurut Dina, terkadang Ustadzah Retno juga memberi Tausiyah secara bergantian dengan Ustadzah Shinta, kadang juga kita mendengarkan Ira membaca Ayat Al-Quran. Ira begitu pandai dalam membaca Al-Quran secara Tartil. Semua kegiatan itu dilakukan untuk menunggu waktu Isya. Seusai menjalankan ibadah Shalat Isya, seluruh santriwati pergi meninggalkan Masjid dan kembali ke kamar masing-masing. Sebelum masuk ke kamar masing-masing, mereka mengambil jatah makan malam di ruang makan di lantai dua bangunan asrama satu, dan berakhirlah seluruh kegiatan hari itu.


Miya berjalan bersama-sama dengan Dina, Ira, dan Nina. Setelah seharian terus bersama, Miya menjadi akrab dengan tiga orang itu, terutama Dina yang begitu Talkative. Dina yang selalu memberitahunya informasi mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan santriwati di pondok pesantren ini. Menurut Dina, kurang lebih seperti itulah kegiatan disini : pagi hari hingga petang belajar, sore mendengarkan Tausiyah hingga Isya, dan diakhiri oleh Shalat Isya dan mereka beristirahat setiap Adzan Shalat Fardhu berkumandang.


Hari pertama ini begitu melelahkan bagi Miya, berkali-kali ia mengelus-elus tulang belakangnya. Punggungnya capek sekali, setelah seharian duduk tanpa bersandar. Dina menertawai Miya yang bertingkah seperti orang tua itu, tetapi ia meyakinkan bahwa lambat laun Miya akan terbiasa dengan semua ini. Namun Nina menambahkan bahwa terkadang ada kegiatan tambahan setelah Isya, pada hari-hari besar Islam dan hari-hari tertentu, seolah ingin menakut-nakuti. Miya megaduh kesal, dan tiga santriwati muda itu pun tertawa begitu lepas.


Setelah mengambil jatah makanan, Miya lalu berpamitan dengan ketiga teman barunya itu.


"Ukhti Miya!" seru Dina.


Miya yang sudah beberapa langkah meninggalkan mereka dibuat menoleh. "Eh? Kenapa Din?"


"Emm ... Ukhti Miya mau balik sendirian?"


"Nggak nunggu Ukhti Nabila kah?" tambah Nina.


"Sendirian aja, Ukhti Nabila nggak kelihatan seharian ini ..." jawab Miya sambil berbalik, kembali menghadap tiga santriwati muda itu. Pertanyaan Nina membuat Miya menjadi tersadar, Nabila tidak kelihatan seharian ini.


"Nggak takut Ukhti ... kesana sendirian?" ucap Dina.


Miya tertawa kecil "Hahaha, takut sama siapa?"


"Setan!" ketus Ira.

__ADS_1


__ADS_2