Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Rahasia


__ADS_3

Betapa terkejutnya Miya, Nabila muncul dengan mengenakan pakaian serba hitam. Ia lalu menatap kosong Nabila untuk beberapa saat.


"Nggak papa, Nab" ucap Miya dengan sedikit terisak.


"Tante marah banget sama lo, yak"


"Marah kenapa ... Apa yang sudah aku lakukan, Nab"


Nabila hanya diam, ia kemudian duduk disamping Miya dan mengusap-usap kepalanya. Nabila nampak begitu sedih, kali ini, ia begitu perhatian. Padahal biasanya, ia sangat cuek dan tidak mau dicampuri urusannya. Tingkah Nabila yang aneh membuat Miya kembali bertanya.


"Nab... cerita dong ... aku salah apa?"


"Maaf Yak, gua gabisa cerita. Gua ... emm ... Harusnya lo paham"


"Paham soal apa?!" Miya sedikit menaikkan nadanya.


Nabila hanya diam dan menatap keheranan Miya. "Jadi lo gak tau?"


"Tau apa?!"


"Emmm... yaudah kalau gitu ..."

__ADS_1


Lagi-lagi Nabila seolah merahasiakan sesuatu. Sebenarnya Miya begitu marah, dan ingin melampiaskannya, tetapi mungkin ia sudah lelah. Miya seharusnya kaget dengan penampilan Nabila saat itu. Baju serba hitam yang pernah diperlihatkan ketika Miya pertama kali datang ke pondok ini, beserta bau busuk yang selalu menyengat. Sepertinya bau itu berasal dari pakaian serba hitam yang selalu disembunyikan di dalam lemari, namun kali ini Nabila menunjukkannya dihadapan Miya. Tetapi karena percakapan tadi, Miya begitu jengkel dengan Nabila. Padahal menurutnya Nabila adalah teman baiknya disini, malah justru Nabila-lah yang banyak menyimpan rahasia darinya.


Wajah Nabila kembali menekuk sedih, menunjukkan rasa simpati. Tapi Miya acuh, ia sudah lelah dengan semua rahasia Nabila. Baginya sudah terlambat, ia sudah tidak lagi perduli dengan Nabila yang selalu menyimpan rahasia darinya. Miya mengurungkan niatnya menelepon Mirna, memasukan kembali smartphone-nya ke saku, dan pergi berlalu.


....


Hari ini berlalu begitu cepat, tak terasa sudah malam. Hari ini Miya sama sekali tidak menikmati kegiatannya di pondok. Semua yang ia lakukan serasa hampa, percuma, toh ia tidak dimaafkan. Di sebuah tempat yang suci seperti pondok pesantren, dimana ia berharap dapat membuka lembaran baru, orang-orang disini justru mengorek luka lamanya. Hingga malam menjelang, Wajah Miya terus sedih.


Wajahnya justru semakin menekuk ketika ia mendapat kabar dari Mirna bahwa ia baru bisa menjemputnya lusa. Itu berarti, ia harus melewati malam satu suro, besok malam, disini. Seandainya saja desa ini langsung terhubung dengan jalan raya, Miya pasti sudah kabur sejak ustadzah Romah membentaknya, Tidak, sejak penampakan itu menerornya.


Miya kemudian keluar dari kamar dan hendak ke masjid mengikuti Shalat Magrib berjamaah. Tak lupa, ia membawa Al-Quran, karena malam ini Miya harus mengaji sesuai perintah Ustadzah Romah. Tetapi anehnya, tidak ada santriwati atau Ustadzah satupun yang ke Masjid. Pandangan Miya menatap ngeri jalanan lapangan pondok yang mulai gelap. Ia menyadari bahwa saat itu dirinya seorang diri.


Beberapa saat kemudian, perasaannya sedikit lega, karena ia mendengar beberapa langkah kaki di belakangnya. Sepertinya santriwati lain sudah mulai berdatangan untuk Shalat. Tetapi, ketika ia menoleh kebelakang, tidak ada siapa-siapa. Miya mempercepat langkahnya, tetap jumlah suara derap langkah kaki itu justru semakin banyak. Miya kembali menoleh kebelakang, tetap tidak ada siapa-siapa, hanya ada pohon besar pondok pesantren yang bergoyang-goyang mengerikan karena diterpa angin. Miya kemudian berlari, dan segera masuk kedalam Masjid.


Saat itu, di depan kamar Ustadzah Shinta di lantai dua gedung asrama satu, seorang Ustadzah mengetuk pintu kamarnya. Ketika Ustadzah Shinta membuka pintunya, ia langsung menutupnya kembali. Segera, Ustadzah Shinta melompat ke atas kasurnya dan menutup rapat-rapat mata dan telinganya sambil bergetar. Ustadzah yang berpakaian serba hitam itu, terus menerus mengetuk pintu kamar Ustadzah Shinta, hingga suaranya membuat berisik Ustadzah Retno yang kamarnya bertetanggaan.


Ustadzah Retno keluar dan melihat, tetapi sejurus kemudian ia melakukan hal yang sama seperti Ustadzah Shinta, kembali masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Kedua Ustadzah itu diselimuti ketakutan untuk setiap suara ketukan pintu yang didengarnya.


Kemudian, beberapa Santriwati yang berada di lantai itu keluar dari kamarnya. Tentu mereka hendak melaksanakan Shalat Magrib di Masjid. Ketika mereka hendak melintas di depan kamar Ustadzah Shinta, Ustadzah yang terus menerus mengetuk itu melirik mereka. Tangan tua-nya menunjuk, memerintahkan masing-masing dari mereka untuk kembali masuk kedalam kamar. Santriwati-santriwati itu bingung, tetapi salah seorang santri nampak menyuruh teman-temannya untuk menurut saja, karena ia tahu siapa Ustadzah itu.


Kejadian ini, secara bersamaan, nampaknya terjadi di depan kamar Nabila juga. Ia yang baru terbangun dari tidur siang, dikejutkan kemunculan Ustadzah berpakaian serba hitam yang mengetuk pintunya. Ekspresi Nabila tidak kalah ketakutan, ia sempat berteriak histeris sebelum mengunci pintu kamarnya. Santriwati-santriwati yang keluar dari kamar mereka di gedung asrama dua lantai dua, dan yang baru saja turun dari lantai tiga, semuanya kembali ke kamar mereka setelah di usir oleh Ustadzah itu. Santriwati-santriwati itu juga sepertinya mengenali siapa Ustadzah itu, meski mereka ragu. Oleh karena itu mereka hanya bisa menurut dan kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Selain di kamar Ustadzah Shinta dan Nabila, Ustadzah itu muncul di depan kamar setiap Ustadzah lain. Mereka tentu ketakutan setengah mati, kecuali Ustadzah Romah yang memang tidak sedang di kamarnya saat itu. Santriwati yang berpapasan dengan Ustadzah tua itu, semuanya diusir kembali ke kamar mereka. Mereka tidak sadar, bahwa Ustadzah itu muncul di banyak tempat secara bersamaan. Mungkin itu adalah puluhan derap langkah misterius yang Miya dengar tadi.


Kembali kepada Miya yang sudah berada di Masjid, ia tentu keheranan mengapa tidak ada yang datang Shalat Magrib. Karena hari semakin menjelang Isya, ia lalu berinisiatif untuk menyalakan rekaman Adzan yang biasanya di putar oleh Ustadzah Shinta.


Suara Adzan bergema di setiap bangunan pondok. Sosok-sosok Hantu Ustadzah yang mendengar Adzan itu langsung menoleh ke arah Masjid. Kemudian mereka meraung, seperti seekor serigala, wajah mereka berubah pucat pasi. Mereka semua kemudian berkumpul ditengah lapangan, dan bergabung menjadi satu sosok mengerikan yang mengenakan pakaian serba hitam. Dan ketika wajah Ustadzah tua itu sepenuhnya sudah berubah mengerikan, lehernya pun langsung patah dan menggantungkan kepalanya. Sambil terseok-seok ia berjalan keluar dari pondok, menghampiri suara Adzan yang berkumandang,


Karena tidak kunjung ada yang datang Shalat Magrib, Miya lantas Shalat seorang diri. Ia kemudian mengambil wudhu dengan sedikit terburu-buru. Saat itu suasana di lapangan depan pondok memang begitu sunyi, udara dingin berhembus ke kulit Miya yang sudah basah dengan air Wudhu, membuatnya semakin ketakutan.


Dengan segera Miya masuk ke dalam Masjid dan mendirikan Shalat. Ketika takbir ia kumandangkan dan dilanjutkan dengan bacaan Surat Al-Fatihah, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Miya berusaha melirik, sekilas ia melihat seorang perempuan yang tengah mengadakan kedua tangannya untuk bertakbir, nampaknya ia ingin berjemaah Shalat. Kemudian, Miya mengeraskan suara bacaan sholatnya dan menjadi imam untuk perempuan itu. Mereka berdua kemudian melaksanakan Shalat Maghrib Berjemaah.


Miya begitu tenang, karena ternyata ada yang menemaninya Shalat. Tetapi ketika Shalat berakhir dan ia hendak menoleh ke belakang, betapa terkejutnya Miya.


"Ustadzah Nyi Wati! Astagfirullah!" Miya langsung sujud bersimpuh dan mencium tangannya "Assalamualaikum Ustadzah!"


"Waalaikum Salam, Nak Miya ..." Jawab Ustadzah Nyi Wati sambil tersenyum


Miya tentu tidak enak sekali, karena seharusnya Ustadzah Nyi Wati lah yang menjadi Imam Shalat. Tetapi Ustadzah Nyi Wati tidak memperdulikan itu, ia nampak tersenyum sambil mengelus-elus kerudung Miya.


Miya, yang begitu terenyuh dengan sikap Ustadzah Nyi Wati langsung meluapkan emosinya. Ia menangis dan memeluk Ustadzah yang begitu tua itu. Miya lantas menceritakan perlakuan buruk Ustadzah Romah padannya.


Mendengar cerita Miya, Wajah Ustadzah Nyi Wati menekuk sedih.

__ADS_1


"Nak Miya ... Jangan Pergi ..." ucapnya lirih.


__ADS_2