Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Nabila


__ADS_3

Ustadzah Imah dan Miya meneruni tangga dengan begitu terburu-buru. Hal ini membuat heran Ustadzah Imah, Ustadzah Romah, dan Ustadzah Shinta yang masih duduk di aula.


"Ada apa Ustadzah Imah?" tanya Ustadzah Ulun.


"Emm ... anu ... pintunya ..."


Ustadzah Imah dan Ustadzah Romah langsung terkesiap ketika mendengar sepotong penjelasan dari Ustadzah Imah itu. Namun ketika Ustadzah Shinta juga menatap kaget Ustadzah Imah, justru Ustadzah Imah tidak melanjutkan penjelasannya.


"Eh ... emm... tidak apa-apa. Tadi nak Miya dipanggil tetapi tidak dengar" ucapnya jelas-jelas mengalihkan perhatian.


Ustadzah Ulun dan Ustadzah Romah yang sepertinya paham dengan isyarat Ustadzah Imah, lantas melirik sinis kearah Ustadzah Shinta. Ustadzah Shinta sedikit bingung, mengapa semuanya jadi menatap dirinya. Miya juga dibuat bingung dengan suasana saling melirik ini, sepertinya Ustadzah Shinta sedikit tidak disukai oleh ketiga Ustadzah itu.


"Ya sudahlah ... ayo segera kita tutup saja acara ini" ucap Ustadzah Romah.


Ustadzah Imah kemudian menyuruh Miya untuk duduk kembali ditengah-tengah mereka, dengan posisi yang sama seperti tadi sebelum naik ke lantai dua. Keempat Ustadzah itu kemudian mulai memanjatkan doa yang kemudian di akhiri oleh Hamdallah. Setelah selesai, Ustadzah Imah kemudian memerintahkan Ustadzah Shinta untuk mengajak Miya ke kamarnya.


..............


Cahaya matahari pagi mulai menyinar samar-samar kala Miya diajak berjalan keluar aula. Ustadzah Shinta menerangkan bahwa bangunan (tempat aula luas dan ruangan Ustadzah Nyi Wati) ini adalah bangunan utama. Sedangkan bangunan di kanan dan kiri –Ustadzah Shinta menyebutnya asrama satu dan dua- lapangan adalah ruangan belajar dan kamar para santriwati. Bangunan asrama satu adalah bangunan di sebelah kiri Miya, sedangan asrama dua adalah yang di sebelah kanannya. Terlihat di lantai dua dan tiga bangunan asrama satu kini sudah banyak santriwati yang keluar dan bersih-bersih disekitar beranda lantai. Kemudian Miya diajak ke bangunan asrama dua, yang sepertinya terlihat lebih sepi daripada asrama satu.


Lantai satu bangunan asrama dua adalah ruang belajar dan mengaji, terlihat beberapa santri nampak membaca Al-Quran di salah satu ruangan yang mirip aula kecil. Di sebelah ruangan itu ada tangga naik menuju ke lantai dua. Sepertinya lantai dua dan tiga di kedua bangunan asrama adalah kamar untuk santriwati. Setelah naik, Miya dihadapkan pandangan beranda panjang yang membentang sepanjang lantai dua. Bila Miya berjalan ke pinggir beranda, maka akan terlihat pemandangan pohon besar yang ada di tengah lapangan itu, bangunan asrama satu, serta bangunan utama di sebelah kiri.


Angin sejuk langsung berhembus, mendinginkan wajah Miya yang tegang. Miya menghirup udara pagi itu dalam-dalam, sungguh tidak akan pernah ia temukan kesejukan seperti ini di kota. Setelah melihat-lihat pemandangan pondok pesantren dari beranda lantai dua itu, Ustadzah Shinta lalu mengajak Miya melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan menyusuri beranda, menuju ke sebuah kamar paling pojok di lantai itu. Kamar itu berada dekat dengan bangunan utama, sehingga bila Miya melihat dari berandanya akan terlihat langsung beranda lantai dua bangunan utama ... ruangan Ustadzah Nyi Wati.


Ustadzah Shinta lalu mengetuk pintu kamar itu, kemudian seorang santriwati muncul dan membuat terkejut mereka berdua.


"Nabila!" seru Miya kegiranan.


"ASTAGFIRULLAH! NABILA!" bentak Ustadzah Shinta karena begitu kaget.


Santriwati itu mendongak dari balik pintu dengan wajah mengantuk. Mukenah hitamnya terlihat lusuh, kemudian ada bau sedikit tidak enak menyengat, ketika ia membuka pintu. Melihat kehadiran Miya dan Ustadzah Shinta, ia langsung gugup. Ustadzah Shinta lantas menutup kembali pintu kamar itu.

__ADS_1


"Eh! Itu Nabila, Ustadzah?!"


"E-Em... Iya nak Miya" jawab Ustadzah Shinta terbata-bata.


Miya tentu sedikit kaget melihat penampilan Nabila yang lusuh. Nabila yang ia kenal sangat cantik dan berkulit putih, namun yang ia temui lihat sekarang seperti anak rumahan yang jarang mandi. Bahkan Ustadzah Shinta jauh lebih cantik. Sepertinya kecantikan Nabila hanya make-up saja. Meski begitu, wajah centil dan imutnya masih khas, ditambah badannya yang pendek serta sedikit gemuk, Miya tidak salah mengenali Nabila.


"Nabila! Ganti baju dulu! Astagfirullah!" lanjut Ustadzah Shinta.


"I-ya Ustadzah!" ucap Nabila dari dalam kamar.


Miya begitu bahagia, ternyata ia akan di letakkan satu kamar dengan Nabila. Ia tak sabar segera masuk dan bercengkrama dengan sahabatnnya itu. Setelah beberapa saat akhirnya Nabila membuka kembali pintu kamarnnya. Kali ini ia sudah berganti baju dan wajahnya terlihat lebih segar. Bau tidak enak tadi sudah berganti dengan bau parfum wanita yang wangi, dan sepertinya Nabila juga sudah mencuci mukanya.


"Miya!"


Nabila langsung keluar kamar dan memeluk Miya, sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa itu. Terakhir kali mereka bertemu adalah sekitar setahun yang lalu. Nabila yang memutuskan untuk lebih dahulu masuk pondok pesantren, meninggalkan Miya dan Mirna tanpa kabar awalnya. Namun beberapa bulan kemudian ia memberi kabar pada Miya bahwa ia kini sudah berada di pondok pesantren ini.


Dulu, Miya dan Nabila adalah PSK yang dikoordinir oleh Mirna. Bila Miya memiliki alasan untuk melacur karena hutang ayahnya, maka Nabila memiliki alasannya sendiri. Alasan itu adalah 'kesenangan', Nabila melakukan pelacuran ini hanya demi kepuasan dan kesenangan semata. Uang hasil melacurnya, ia gunakan untuk berfoya-foya dan membeli barang mewah. Oleh karena itulah, Minra sempat mengutarakan keheranannya saat di mobil tadi. Tentu mengherankan, karena orang seperti Nabila bisa memutuskan untuk bertaubat dan masuk pondok pesantren.


Ustadzah Shinta tersenyum melihat kedua santriwatinya itu saling berpelukan dan bercakap-cakap begitu bahagia.


"Sepertinya kalian sudah saling kenal ya ..."


"I-Iya Ustadzah ... Nabila ini teman Miya dulu, sewaktu ..." Miya sedikit cemberut.


"Ahahaha sudah Yak! Lupain aja ... itu Masa lalu!" potong Nabila


Miya kembali sumringah mendengar ucapan supel Nabila "I-Iya Nab ... kamu bener!"


"Yasudah ... Nak Miya, Ustadzah tinggal dulu ya"


"Loh Ustadzah? M-Miya tidur sama saya?"

__ADS_1


"Iya Nabila..."


Wajah Nabila yang tadinya bahagia kini menekuk panik. Ia menatap nanar Ustadzah Shinta seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkannya barusan.


"Kenapa Nab? Aku nggak boleh tidur sekamar sama kamu?"


"E-Eh ... B-Bukan gitu ... Tapi ... emm ..." Nabila nampak terbata-bata.


"Ustadzah sudah bilang Ustadzah Romah, dan diijinkan kok Nabila!" ketus Ustadzah Shinta


"Oh! K-Kalau begitu ... nggak papa deh ..."


Nabila nampak terkejut dengan ucapan Ustadzah Shinta yang membawa nama Ustadzah Romah itu. Mereka bertiga kemudian hening sesaat, seolah Nabila masih setengah hati menerima keputusan itu.


"Ustadzah Shinta ... Kalau Nabila tidak berkenan, saya tidak apa-apa di kamar lain kok ..." ucap Miya.


"E-Eh! Nggak gitu Miya! Nggak Papa kok Miya ... Aku nggak papa sekamar dengan Miya... cuma..." Nabila nampak diam sesaat. "Cuma aku malu ... aku orangnya agak kurang bersih .... hehehe" tambahnya sambil meringis kecil.


"Yasudah kalau Nabila sudah setuju, Ustadzah pamit dulu ya. Nak Miya istirahat dulu tidak apa-apa, nanti Ba'da Dhuhur kita mulai belajar" ucap Ustadzah Shinta, ia kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Miya menatap Nabila yang masih bingung. Karena Miya sendiri tidak enak, ia lalu kembali bertanya pada sahabatnya itu.


"Nab ... beneran gapapa?"


"I-Iya gapapa Yak, beneran! Ayo masuk ... eh barang kamu dimana?"


"Oh iya! Masih di aula!"


"Yasudah gak papa ... kamu tidur didalam dulu saja nanti siang pasti diantar kesini, atau nanti aku ambilin deh ..." ucap Nabila


Miya tersenyum bahagia melihat Nabila yang masih ramah dan suka menolong seperti dulu. Nabila lalu mengajak Miya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Begitu masuk Miya langsung disuguhkan pemandangan kamar yang bersih dan harum. Apanya yang nggak bersih? Ini harum sekali, gumam Miya. Ada dua kasur spring-bed yang sudah tertata rapi di sisi kanan kamar. Kemudian di tembok kiri terdapat dua lemari kayu besar. Di ujung kamar ada pintu menuju kamar mandi. Kamar mandi itu juga begitu harum dan bersih, ketika Miya buru-buru mengeceknya. Pondok pesantren ini benar-benar mewah dan megah seperti foto yang dikirimkan Nabila.


__ADS_2