
Miya terkejut mendengar ucapan itu, bagaimana Ustadzah Nyi Wati tahu? Kalau ia berencana keluar dari pondok?
"Nak Miya harus mengingatkan Ustadzah Romah ... Mengingatkan semua orang"
Belum selesai kelu di lidah Miya, ia kembali dibuat kaget. "M-Maksud Ustadzah?"
Ustadzah Nyi Wati tidak berkata apa-apa, ia terus mengusap-usap kepala Miya. Apakah yang di maksud Ustadzah Nyi Wati adalah sikap Ustadzah Romah yang begitu kejam? Lalu apa maksudnya mengingatkan semua orang? ... OH!
Miya lalu bangkit dan menatap Ustadzah Nyi Wati. Ia sepertinya memiliki gambaran, apa yang dimaksudkan oleh Nyi Wati.
"M-Maksud Ustadzah ... Soal Malam Satu suro besok?"
Ustadzah Nyi Wati menatap Miya tajam. Mata tua nya yang sudah sayu itu seolah mengiyakan apa yang barusan Miya ucapkan.
Cerita dari Ira, Dina Nina tentang acara yang diadakan pondok pesantren ini di setiap perayaan satu Muharram itu, lalu terror hantu yang semakin sering setiap menjelang acara satu suro, dan yang paling membuat Miya begitu heran adalah bentakkan 'Kafir' dari pak kades, semua hal tersebut sudah cukup membuat Miya curiga.
"Ustadzah ... Sebenarnya besok itu kita akan melakukan apa?"
Ustadzah Nyi Wati, tanpa banyak berkata-kata, langsung berdiri dan mengajak Miya keluar dari Masjid. Dengan sigap Miya mengikutinya, mereka berdua kemudian berjalan membelah kegelapan lapangan Masjid yang semakin larut.
Ustadzah Nyi Wati berjalan menuju ke arah hutan. Miya seketika menghentikan langkahnya.Ia tentu ingat betul malam itu, Ustadzah Nyi Wati juga mengajaknya pergi ke hutan, sebelum dia berubah menjadi sosok itu...
"Emm.. Ustadzah? Kita mau kemana?"
Miya tentu tidak berani melanjutkan langkahnya, iya memilih memastikan terlebih dahulu. Memastikan kemana mereka pergi, dan apakah yang ada berjalan di depannya ini benar-benar Ustadzah Nyi Wati atau bukan.
Ustadzah Nyi Wati menoleh "Percayalah nak..."
Kata-kata itu membuat Miya tidak berani menolak. Dengan sedikit takut, ia melanjutkan langkahnya masuk kedalam hutan.
Kali ini mereka berdua masuk kedalam, membelah kegelapan di sela-sela pepohonan lebat. Miya menggenggam erat tangan Ustadzah Nyi Wati, karena takut Ustadzah yang sudah sangat tua itu terjatuh atau tersandung karena gelap. Tetapi Ustadzah Nyi Wati melangkah dengan mantap, seolah ia begitu tahu kemana ia akan pergi. Justru sekarang terlihat Miya yang seolah-olah sedang berlindung ketakutan dari kegelapan.
Mereka berdua kemudian semakin masuk kedalam. Hutan yang seharusnya semakin gelap, justru mendadak terang. Sebuah cahaya kemerahan menyorot terang ke wajah kedua orang itu. Miya terheran-heran kepada apa yang ada di hadapannya saat ini. Sebuah mulut gua dengan dua obor yang menyala di dindingnya.
__ADS_1
"U-Ustadzah ... I-ini?"
"Ini lah nak... yang dari kemarin ingin Ustadzah ceritakan pada nak Miya"
Miya melotot ke arah Ustadzah "K-Kemarin?"
Saat itu, kepala Ustadzah Nyi Wati sudah menekuk patah ke arah bahu kiri. Patahan tulang leher yang terpampang jelas itu membuat Miya seketika menjerit histeris. Lalu, leher itu berputar arah, menghadapkan wajahnya ke arah Miya, sambil terus menggantung.
"Nak Miya ... Tolong ..."
Suara itu tetap terdengar seperti Ustadzah Nyi Wati, namun tidak dengan wujudnya. Tangan kurusnya itu kini berubah menjadi tulang belulang saja, dan mencengkram Miya begitu kuat. Miya seketika kehilangan kesadaran dan jatuh ke tanah. Ustadzah Nyi Wati ... bukan ... Hantu Ustadzah itu kemudian menyeret Miya masuk kedalam gua.
.....................
Di bangunan utama asrama, pintu aula tiba-tiba terbuka dengan kencang. Ustadzah Romah yang sepertinya habis dari lantai dua ruang Ustadzah Nyi Wati, nampak begitu kesal. Tentu kesal, karena lantunan ayat Al-Quran Miya yang dari tadi terdengar, tiba-tiba berhenti. Awalnya suara mengaji itu berhenti ketika Adzan Isya berkumandang, namun setelah beberapa menit, tidak lagi terdengar. Ustadzah Romah mengira, Miya kabur ke dalam kamar dan melalaikan hukumannya. Segera, ia mengambil handphone dan menghubungi keponakannya.
"Halo! Kamu dimana?"
"Kamu di kamar ya?! Si Pelacur itu ada di kamar?!"
"Bibi! Jangan ngomong begitu! Miya kan sudah bertaubat"
"Halah! Mau bertaubat kek, Pelacur ya Pelacur!"
"Jadi maksud bibi, Nabila juga gitu?!"
"Diam kamu! Masih syukur Bibi mau terima kamu di sini, mau bantu kamu gugurkan kandungan itu! Kalau nggak ..."
"Kalau nggak apa?! Bibik mau lapor ke papa Nabila?! Mau utang bibik di tagih semua sama papa?"
"Jaga mulut kamu ya! Bibik bakal lunasin hutang Bibik! Besok malam satu suro, kalau dana dari tamu sudah sampai akan langsung bibi bayar! Biar kamu juga bebas dari sini!"
"....."
__ADS_1
"Kamu lagi dimana?!"
"Ya disini lah Bi ... Bibi ga bantuin!"
"Bibi kan siapin ruangannya! Yasudah, sebentar lagi Bibi nyusul kesana! Eh, kamu dengar suara ngaji nggak dari sana?"
"Nggak"
"Kurang ajar itu Pelacur! Berani-beraninya mangkir dari hukuman bibi..."
"Tadi Nabila dengar kok, sayup-sayup, mungkin karena disini jauh jadinya nggak dengar lagi"
"Halah! Kamu ini, selalu saja belain dia. Yasudah! Bibi mau ke masjid dulu, habis itu bibi nyusul kesana"
Setelah mematikan telepon, Ustadzah Romah langsung berjalan menuju masjid. Wajahnya terlihat begitu geram ketika melihat speaker masjid yang tidak berbunyi. Ia kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik arah menuju gedung asrama timur, tempat kamar Miya. Namun ketika ia hendak menaiki tangga, tiba-tiba ada sosok Ustadzah berpakaian serba hitam menghadangnya.
"Ulun! Ngapain kamu berdiri disitu!"
Sosok itu hanya diam bergeming. Tentu saja, dia hanya bisa diam membisu.
"Ulun! Jangan bikin saya takut!"
Bentakan itu nampaknya sepertinya percuma, selain sosok itu bukanlah Ustadzah Ulun, aura mengerikan yang dibawanya justru semakin menjadi ketika seketika lehernya menekuk patah dan menggantungkan kepalanya ke bahu kiri.
Ustadzah Romah langsung berlari terbirit-birit berbalik arah. Ia jatuh tersungkur ketika kakinya tersandung gundukan tanah yang mencuat karena akar pohon besar di tengah lapangan. Saat itu ia menoleh kebelakang, beruntungnya sosok itu tidak mengikuti. Sosok hantu Ustadzah yang sudah berkali-kali menerornya dari tahun lalu itu, tampaknya sudah menghilang entah kemana. Hal itu membuat membuatnya semakin panik, Ustadzah Romah menoleh kesana kemari, memastikan sekelilingnya aman Tidak ada siapapun saat itu, kesunyian benar-benar mencengkeram jantungnya untuk berdetak lebih kencang.
Disaat Ustadzah Romah ingin bangkit, tiba-tiba suara Miya yang tengah mengaji kembali terdengar. Ustadzah Romah menoleh ke arah masjid, dan segera membelokkan langkahnya dengan cepat menuju sana. Selain untuk mengamankan dirinya dari kejaran hantu Ustadzah itu, ia tentu ingin memarahi Miya yang menghentikan mengajinya tadi.
Setelah masuk kedalam masjid, Ustadzah Romah melihat Miya duduk bersimpuh sambil mengaji dengan khusyu. Ia tidak dapat melihat wajah Miya karena ia menghadap ke arah kiblat, memunggungi pintu masuk masjid. Tetapi, tanpa berfikir panjang, ia membentak Miya, membuatnya menghentikan lantunan tartil Al-Quran yang begitu fasih itu ... fasih? Sejak kapan?
Dengan tatapan yang mengerikan, Miya berjalan mendekat ke arah Ustadzah Romah. Ustadzah bengis dan kejam itu awalnya membentak, namun volume suaranya perlahan menurun takut ketika Miya tidak terpengaruh dengan bentakannya. Ketika mereka berdua cukup dekat, Miya lalu berbisik ke telinga Ustadzah Romah.
Apapun yang diucapkan Miya saat itu, membuat wajah Ustadzah Romah pucat pasi. Ia hampir saja jatuh ke lantai masjid, namun tangannya dengan cepat menopang dan berlari kencang keluar masjid. Melihat Ustadzahnya itu berlari terbirit-birit Miya tersenyum sinis.
__ADS_1