Sang Ustadzah

Sang Ustadzah
Sang Ustadzah


__ADS_3

Namun malam ini berbeda, seorang Santriwati baru telah membongkar semua kebohongan ini di depan muka mereka. Kepala yang menggelinding ke tanah itu menjadi bukti hancurnya seluruh rencana Ustadzah Romah yang telah mereka jaga selama bertahun-tahun. Ustadzah Imah menatap sedih kepala ibu angkat yang telah mengasuhnya selama ini, yang telah menghasilkan pundi-pundi uang, bahkan ketika ia mati. Ia lalu meraih kepala itu dan memeluknya erat-erat sambal terus menangis. Mungkin didalam hatinya ada rasa bersalah atas semua yang mereka lakukan pada Ustadzah Nyi Wati.


Ustadzah Shinta yang buru-buru naik ke lantai dua karena mendengar kegaduhan yang dibuat Nabila dan Ustadzah Romah, dibuat kaget oleh badan tak berkepala yang jatuh bersandar di tembok. Ia menoleh kaku kearah semua orang, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Miya, yang pada akhirnya menyadari bahwa Ustadzah Shinta pun juga mengetahui kenyataan ini, langsung melempar tatapan tajam.


"M-Miya ... Ustadzah ... Bisa jelaskan" Ucap Ustadzah Shinta sambil menahan air mata.


Miya hanya diam, ia tentu kecewa dengan Ustadzah yang membimbingnya selama ini. Ustadzah, yang ia sudah anggap seperti kakak sendiri, telah membiarkan semua ini terjadi bertahun-tahun. Badan seorang wanita tua, diawetkan ... di direndam berkali-kali dengan cairan kimia yang menusuk-nusuk kulit hingga menembus setiap pembuluh darahnya, lalu dijemur seperti layaknya pakaian. Lalu setiap satu malam dalam setahun, tubuh rapuh itu dibawa dan dipamerkan ke ratusan orang, semua itu hanya demi uang derma pejabat, betapa hinanya.

__ADS_1


Amarah Miya sudah mencapai puncaknya, ia kemudian meraih kepala yang dari tadi dipeluk oleh Ustadzah Imah. Ia hendak turun dan menunjukkannya kepada semua orang. Namun Ustadzah Romah dengan sigap memukul kepala Miya dan membuatnya jatuh tersungkur. Kepala Ustadzah yang telah rapuh itu kembali jatuh menggelinding ke lantai. Tulang kepala yang sudah berkali-kali diawetkan itu pada akhirnya tidak dapat menahan hantaman berkali-kali, suara 'krek-krek' pun berkali-kali terdengar. Bola mata yang sudah tidak ada, dan wajah yang tidak mungkin dikenali lagi membuat kepala itu lebih mirip tengkorak.


Nabila terkejut dan segera menghampiri Miya yang jatuh pingsan. Ia memaki-maki bibinya yang begitu kejam itu. Kini, ia tidak lagi mendukung apa yang dilakukan ketiga Ustadzah itu, ia juga berusaha mengambil kembali kepala Ustadzah Nyi Wati dan hendak melakukan hal yang sama. Namun Ustadzah Ulun dan Imah dengan sigap menahannya. Ustadzah Romah memerintahkan agar Ustadzah Shinta mengusir seluruh tamu keluar dari Aula, agar kegaduhan ini tidak membuat mereka curiga. Namun sepertinya semua usaha yang dilakukan tiga saudara angkat itu akan sia-sia.


Suara tertawa melengking tiba-tiba terdengar, membuat hening kegaduhan di lantai dua aula itu. Suara yang berasal dari kepala buntung yang seharusnya tidak lagi bergerak itu membuat jantung semua orang yang disana serasa berhenti berdetak. Dengan begitu jelas, rahang pucat itu bergerak keatas dan kebawah, menertawakan Ustadzah-Ustadzah bejat yang telah menyiksanya itu. Suasana kemudian berubah menjadi sangat mencekam, kala badan rapuh yang jatuh tersadar di tembok, kini berdiri tegak. Badan kurus itu kemudian berjalan gontai, mendekat ke arah kepalanya. Tangan rapun nenek tua itu menjulur meraih kepalanya sendiri, dan memasangkannya kembali di leher. Ustadzah Nyi Wati ... bukan ... Mayat hidup itu bangkit, dan mulai menyerang mereka semua.


Kepala buntung itu terus tertawa melengking bahkan ketika tangannya menjambak rambut dan menentengnya. Hantu Ustadzah, yang kini sudah menunjukkan wujud dan identitas aslinya, berjalan perlahan keluar aula, mengikuti kerumunan tamu yang kabur itu. Di lapangan, beberapa santriwati nampak begitu keheranan melihat banyak sekali orang yang keluar dari aula dengan wajah ketakutan. Beberapa santriwati bahkan tertabrak dan tersungkur ke tanah. Disaat ia berusaha bangkit, dari aula santriwati itu kemudian melihat sosok mengerikan yang menyebabkan seluruh tamu pejabat itu ketakutan. ia pun menjerit histeris, dan kegaduhan tak terelakan lagi. Kerumunan orang saling bertabrakan, berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Jeritan santriwati dan tamu-tamu saling bersahutan satu sama lain. Malam satu suro itu, adalah malam yang paling mengerikan di pondok pesantren ini.

__ADS_1


Hantu Ustadzah itu hanya berdiri mematung di depan pintu aula. Tawanya yang melengking tadi kini sudah berhenti. Wajah tua dari kepala buntung yang ditenteng itu nampak mengelupas, mungkin karena ribuan kali kulit tua yang sudah tidak bernyawa itu tergerus oleh cairan kimia pengawet. Wajah itu hampir tidak bisa dikenali. Tetapi meski begitu, tatapan matanya terlihat begitu sayu dan sedih. Ustadzah Nyi Wati, dengan wujud yang begitu mengerikan, menatap kekacauan yang terjadi di pondok pesantrennya itu. Pondok yang ia dirikan dengan jernih payahnya sendiri, yang ia bangun dan besarkan hingga menjadi pondok pesantren yang begitu terkenal, kini telah dinodai oleh perbuatan tercela anak-anak angkatnya sendiri.


Ajaran sesat apa yang pernah ia ajarkan pada Imah dan Ulun? Harta sebanyak apa yang sudah membutakan mata hati Romah? sehingga ketiga anak angkat nya itu begitu tega menyiksa nya, bahkan setelah ia sudah mati. Setiap malam ia dicuci dengan formalin, layaknya patung berhala persembahan, lalu di pamerkan di hadapan tamu-tamu yang dulu meminta doa restunya secara Islam. Sekarang mereka lebih mirip sekelompok orang yang mencari wangsit dan pesugihan. Dan yang lebih menyakitkan hati Ustadzah Nyi Wati, semua itu adalah dari dirinya. Ustadzah Nyi Wati, dengan apa yang tersisa dari dirinya, menjerit sekencang-kencangnya, meluapkan seluruh emosi yang telah dipendamnya bertahun-tahun, kepada kerumunan itu.


Suara jeritan hantu itu membuat beberapa santriwati dan tamu wanita yang terlambat kabur seketika pingsan. Beberapa orang nampak roboh ke tanah dan tak sadarkan diri, beberapa lainnya menjerit semakin histeris. Suara itu begitu keras, bahkan terasa lebih seperti gempa kecil yang ikut menggoyang-goyangkan pohon dan bangunan pondok, hal itu membuat suasana mencekam.


Kemudian dari arah lantai dua, seorang perempuan nampak berlari menuruni tangga. Badannya yang jatuh tersungkur menghantam lantai aula, tidak membuat berhenti berlari. Ia bangkit dan langsung memeluk hantu ustadzah itu dari belakang. Dengan sedikit terisak, ia berbisik kepada sosok tak berkepala itu.

__ADS_1


"Ustadzah... Sudah Ustadzah, Cukup... Ikhlaskan..."


__ADS_2