
"Apa ini" Tanyaku langsung.
Dia memberikan aku sebuah amplop coklat yang berukuran kecil tapi memanjang.
Apa isinya kira-kira? Kenapa dia hobi sekali sih memberiku beginian?
"Bukalah, terserah kau mau apakan isinya nanti." Dia duduk di sebelahku, sembari menyuapiku potongan buah.
"Sebenarnya apa sih, sayang?" Sembari mulutku menguyah, aku membuka amplopnya dan aku menemukan sebuah kertas yang di lipat.
Dengan perlahan aku membuka lipatannya, dan mataku di kejutkan dengan tulisan yang tertera di sana.
"Surat kontrak pernikahan!" Ucapku lirih, lalu melihat ke arahnya.
Memberiku sebuah surat yang pernah aku tanda tangani sebagai perjanjian ku dengannya.
"Ap_apa maksudnya ini?" Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti apa maksudnya memberikan surat kontrak pernikahan di saat hubungan antara kami punya kemajuan.
"Seperti yang sudah aku bilang, terserah mau di apakan surat itu sekarang. Bagiku itu sudah tidak penting lagi." Dia memberiku senyuman yang manis dan meyakinkan.
Dia sudah mengatakan tidak penting, itu artinya dia akan menjadikan aku sebagai istri sahnya dan satu-satunya.
"Jadi, aku robek pun tidak masalah?" Tanyaku sembari beranjak dari tempat duduk.
"Iya, sayang. Tentu saja, kau pasti juga tidak membutuhkannya, bukan?"
Aku tersenyum sembari menganggukkan kepalaku. Benar, untuk apalagi surat ini di simpan, aku tidak membutuhkannya lagi karena sudah tidak ada lagi batas waktu untuk aku terus di sampingnya.
Mungkin aku harus sedikit berterimakasih dengan surat kontrak ini, karena telah membawa takdirku bersamanya. Meski tidak mudah dalam menjalaninya tapi berakhir dengan bahagia.
Kemudian aku benar-benar merobek surat itu menjadi potongan kecil-kecil dan ku lemparkan ke atas.
"Haaaa..."
Di angkatnya tubuhku yang masih berdiri lalu di putar-putar kan olehnya. Dia tertawa melihat ku yang sedikit takut terjatuh.
Iya bahagia sekali rasanya, akhirnya aku dan dia benar-benar akan menjadi suami istri yang sesungguhnya. Bukan lagi hanya kepura-puraan saja. Dia yang selalu membuatku marah, sebal dan kesal, bahkan dia yang membuatku selalu ingin lari dari jerat peraturannya sudah membuatku ingin tetap bersamanya.
"Kau bahagia?" Tanyanya setelah menurunkan aku lalu memelukku, membenamkan kepalaku di bidang dadanya yang besar.
"Pasti, aku berharap kau akan seperti ini selamanya padaku dan menjadikan aku sebagai prioritas mu bukan Vanesa atau wanita lain." Pintaku.
"Sussttt! Jangan sebut nama itu lagi. Dia sudah pergi lama dari hatiku." Ucapnya sembari meletakkan Jari telunjuk di atas bibirku, setelah mengurai pelukannya.
"Aku ingin kau percaya padaku sekarang, dan jangan berpikir kalau aku akan meninggalkan mu lagi." Lanjutnya meyakinkan aku bahwa tidak ada lagi Vanesa di hatinya.
"Iya, suamiku." Akan aku coba untuk percaya sepenuhnya padanya, dan meyakinkan diri bahwa dia benar-benar mencintaiku.
"Ayo, lanjutkan sarapannya," mengajakku duduk untuk kembali melanjutkan sarapan yang belum usai.
"Apa hari ini tidak ke kantor?" Dia tersenyum sembari menggeleng.
__ADS_1
"Aku ingin menghabiskan waktu bersama istriku hari ini."
"Beneran...?"
"Iya, sayang."
Aku senang mendengarnya dia akan di rumah hari ini, karena aku tidak sendirian di kamar ada suami yang setia menemani ku.
Seusai sarapan Pak Didi membereskan mengambil barang yang kotor dan juga membersihkan potongan kertas-kertas tadi.
"Maaf Pak Didi, merepotkan." Melihat Pak Didi yang tengah menyapu potongan kertas yang berhamburan kemana-mana.
"Tidak, Nyonya. Ini tugas saya, anda tidak perlu sungkan."
Aku tersenyum pada Pak Didi dan mengucapkan terimakasih setelah usai membersikan kamar.
"Sayang, adalagi yang lupa aku berikan, tunggu sebentar." Dia baru saja keluar kamar mandi setelah aku selesai mandi dan bersantai di atas ranjang.
"Eh, mau kemana?" Melihatnya yang hendak keluar kamar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Ke ruang kerja sebentar," Ucapnya membalikkan badan.
"Iya, itu. Kau belum berpakaian. Di rumah ini memang banyak laki-laki tapi tidak semua laki-laki, ada Sisi. Bagaimana kalau Sisi lihat, tidak baik kan?" Hanya sekedar mengingatkan bahwa ada putriku yang masih kecil, tidak boleh ternoda penglihatannya.
Kemudian aku menyuruhnya untuk memakai pakaian yang sudah aku siapkan. Dia tersenyum malu lalu bergegas memakai pakaiannya dan buru-buru turun.
"Kenapa harus terburu-buru? Toh, aku juga tidak akan kemana-mana." Aku membuka ponsel milikku yang sudah lama mati dan tidak aku sentuh.
Ada banyak sekali panggilan terutama darinya dan yang kedua dari Doni. Tapi hanya ada satu chat yang tertulis dan itu dari suamiku. 'Kembalilah' ya hanya kata itu yang ada tidak ada yang lain. Chat yang di kirim sesaat setelah kepergian ku.
"Apalagi ini, sayang?" Tak sabar aku pun langsung membukanya dan mengambil isinya.
"Sayang, i_ini kan..." Mataku berbinar seketika melihat buku nikah yang resmi dari Agama dan catatan sipil.
"Iya, pernikahan kita sudah resmi sekarang. Jadi jangan kau ragu lagi. Aku sudah mendaftarkan pernikahan kita setelah kau di bawa kabur oleh mantan suami mu yang gila itu."
Aku terharu, hampir tidak percaya ternyata dia sudah lama menjadikan aku sebagai istrinya yang sah. Aku membuka perlembar dan membaca semua isinya.
"Hey, kenapa ini malah menetes?" Dia duduk menghadap ku lalu mengusap buliran bening yang sempat menetes.
"Aku hanya tidak menyangka kau lakukan ini diam-diam. Bagaimana kalau aku tidak kembali?"
"Tidak, aku yakin kau pasti kembali. Karena kaulah takdirku." Ucapnya terdengar manis sekali.
Benar, jika sudah berbicara takdir. Sejauh apapun kita berusaha pergi dan menghindar pasti akan kembali, entah bagaimana caranya itu.
Sekarang ini aku benar-benar sudah percaya karena bukti dia menjadikan aku sebagai istri sahnya sudah terlihat nyata.
Seharian ini, dia dan aku hanya mengurung saja di kamar. Dia menemaniku menonton tv tanpa sibuk dengan ponsel dan laptopnya, dia membuktikan benar waktunya hanya untukku.
kami menghabiskan waktu dengan bahagia meski sesekali harus beradu mulut karena beda pendapat dalam menonton sinetron.
__ADS_1
"Sayang, aku sangat bosen kalau hanya di kamar terus." Ucapku manja agar dia mau mengajakku keluar.
"Apa kau ingin mengulang hal yang tidak membosankan lagi, hem?" Dia mulai memancingku dengan melakukan ciuman-ciuman kecil di bahuku.
"Tidak, aku lelah."
"Ya sudah istirahat,"
"Aku ingin keluar mengajak Sisi ke taman bermain. Sudah lama dia tidak bersenang-senang."
"No! Di rumah saja." Tolaknya tegas.
"Sayang, hanya sebentar. Boleh ya..." ku kedip-kedip kan mataku, berusaha merayunya.
"Istriku, aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian. Mengertilah."
"Sayang, tidak akan. Aku janji." Terus berusaha meyakinkannya.
"Baiklah, kau yang akan menemani kami pergi saja, bagaimana." Sambung ku tidak menyerah, dia tampak berpikir sejenak. Kemudian aku beranjak dari ranjang.
"Baiklah, aku telpon Ken dulu. Biar dia yang akan mengantarkan kita dan mengatur semuanya." Dia pasti akan mengosongkan tempatnya dan itu tidak akan mengasyikkan.
"Tidak, tidak. Aku hanya ingin bertiga saja, tidak ada orang lain."
"Tapi sayang..., itu akan menyulitkan."
"Tidak sayang, percayalah! Aku hanya ingin seperti keluarga kecil lainnya, yang selalu bermain bersama dengan bebas di luar." Ucapku pelan sembari memperlihatkan ekspresi sedih.
"Ck, iya baiklah." Walupun kelihatan kesal dia mau menuruti permintaanku melihat kesedihan yang nampak di wajahku.
"Bersiaplah, jangan lupa pakai masker dan topi." Dia bangkit berdiri dan mengambil jaket, topi dan juga masker.
"Sayang, tapi kan sekarang sudah ada kelonggaran memakai masker dan lagi pula ini sore hari tidak perlu pakai topi." Protes ku padanya karena hari tidak panas lagi.
"Ini, kau juga harus pakai, topinya tidak usah." Memberikan aku jaket yang tebal dengan hody yang berbulu lalu memakaikan ke tubuhku.
Astaga, apa-apaan sih ini. Ini kan bukan musim dingin!
Aku sudah tidak bisa menolaknya lagi kali ini, jika aku menolak pasti akan batal acarnya.
Aku terkejut saat melihat diriku di kaca, aku sudah terlihat seperti orang yang akan bermain di salju belum lagi dengan kacamata hitam yang bertengger di mataku, sudah seperti orang Eskimo saja. Padahal cuma mau ke tempat biasa bermain anak-anak.
Benar-benar berlebihan!
Dan aku lebih terkejut saat melihat suamiku berpakaian serba hitam plus kacamata hitam dan topi hitam.
Oh ya ampun, kenapa dia berpakaian layaknya anggota FBI?
"Kenapa cuma mengajaknya keluar sebentar malah buat aku jadi pusing, huf" Gumam ku lirih.
.
__ADS_1
.
Bersambung😊