Second Marriage

Second Marriage
Bab 91 Pria tidak waras


__ADS_3

Alhasil karena kecerobohan ku, akhirnya aku menumpahkan minuman yang ku bawa ke pakaian salah satu pengunjung di situ. Satu gelas cup es yang bercampur isinya ambyar ke baju pria itu.


Seorang pria yang berbadan besar mengunakan kemeja pendek berwarna putih dan celana pendek warna hitam selutut, juga sepatu kets.


Pria itu juga menggunakan topi dan masker untuk menutupi sebagian wajahnya, ada kacamata hitam juga yang membuatnya semakin tidak di kenali.


"Oh astaga, maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja" Ucapku sesaat setelah tadi aku sempat terdiam karena terkejut.


"Tuan, tidak apa-apa? Aduh bagaimana ini? Sebentar saya ambilkan tisu." Aku panik lalu membuka resleting tas selempang yang ku pakai.


"Hai, permata ada apa?" Juragan Wira tiba-tiba datang menghampiriku yang tengah sibuk mencari tisu.


"Eh, juragan Wira, ini lagi nyariin tisu tapi sepertinya tertinggal deh di rumah." Aku melihat sekilas Juragan Wira, lalu kembali sibuk dengan isi dalam tas ku.


"Sudah, ini saya ada, tak perlu cari lagi." Juragan Wira memberikan tisu yang ada di saku bajunya.


"Oh, terimakasih Juragan" Ucapku sembari tersenyum padanya, lalu menerima pemberiannya.


"Untuk apa sih...?" Tanyanya pelan.


"Ini, untuk_" Aku tidak melanjutkan perkataan, melihat ke pria itu yang hanya diam terpaku dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya.


"Oww, kau mengotori tamu terhormat di kampung ini." Ucapnya ikut panik, Juragan Wira yang baru sadar akan baju pria yang kotor di depanku.


Aaaaa, tamu terhormat! Matilah aku.


"Maaf kan kesalahannya Tuan, dia pasti tidak sengaja." Ucap Juragan Wira pada pria itu sembari sedikit menunduk.


Aku tercengang saat mendengar bahwa pria itu adalah tamu terhormat di festival ini. Aku membuat kesalahan besar karena sudah membuatnya malu dengan pakaian kotornya.


"Biar saya saja yang membersihkannya" Juragan Wira mengambil tisu yang sudah ada di tanganku.


Saat Juragan Wira hendak mengelap baju pria itu yang terkena tumpahan es, pria itu langsung menangkisnya dengan kasar.


Aku terkejut menyaksikan kekasaran laki-laki itu yang ku anggap sudah keterlaluan. Juragan Wira tidak bersalah, dia hanya berniat baik untuk membantu ku membersihkannya.


Ish, kasar sekali dia.

__ADS_1


Umpat ku dalam hati.


"Maaf, sekali lagi maaf Tuan." Juragan Wira terlihat takut padanya.


"Maaf Tuan, Juragan Wira hanya berniat membantu saya saja. Tidak bermaksud untuk tidak sopan pada anda." Aku ikut menimpali perkataan Juragan Wira.


Oh ya ampun, sebenarnya dia bisu tidak sih? Kenapa tidak mau bicara?


Dalam hatiku sedikit geram melihatnya yang hanya diam, tidak mau mengeluarkan kata sedikitpun. Dia hanya menatap lewat kacamata hitamnya.


"Juragan, silahkan anda kembali ke tenda. Ini urusan saya, karena di sini saya yang salah saya yang akan bertanggung jawab." Melihat sikap pria itu yang dingin dan sombong, aku tidak ingin orang lain ikut campur. Dan sepertinya akan sulit menanganinya.


"Permata, saya tahu siapa dia. Kau tidak akan di ampuni olehnya, maka dari itu biarkan saya membantumu." Bisik lirih ke telingaku. Aku mendengarnya namun mataku menangkap tangan pria itu sedang mengepal erat.


"Saya tahu, apa yang harus saya lakukan. Jadi pergilah, saya bisa mengatasinya." Ucapku lirih balik padanya.


"Aaaaaa, lepaskan saya! Dasar pria gila!"


Aku terkejut, tiba-tiba saja dengan gerakan cepat pria itu menarik tubuhku lalu di pelukannya sangat erat.


"Lepaskan...! Kau pria mesum!" Aku menghentakkan kakiku di atas kakinya agar dia melepaskan pelukannya.


Aku benar-benar merasa sangat geram menghadapinya, aku melirik Juragan Wira yang hanya diam melihat tanpa mau membantuku yang sedang kesulitan. Semakin menambah emosiku saja.


Dasar pria tidak jantan.


Umpat ku lirih untuk Juragan Wira.


"Tuan, apa yang anda lakukan? Anda sudah berani kurang ajar pada perempuan. Saya tahu anda terhormat tapi tindakan anda menjijikkan.!" Darah ku sudah terasa mendidih hingga keluar kata kasar dari mulutku.


"Anda harus tahu, tidak semua wanita bisa anda peluk sembarangan. Saya wanita terhormat, saya punya suami. Dan ingat! Saya bukan wanita gampangan!" Sambung ku penuh dengan penekanan.


Dengan banyaknya kata yang aku ucapkan tidak membuatnya gentar. Dia masih membungkam mulutnya dan bergeming di tempat yang sama, hanya sedikit memiringkan kepalanya seperti heran melihatku.


"Kenapa diam? Apa anda tuli atau tidak bisa bicara? Ha!" Dia benar-benar seperti menguji kesabaran ku.


"Permata sudahlah, sebaiknya kita pergi saja." Juragan Wira datang mendekat.

__ADS_1


"Kau, Juragan. Jangan ikut campur urusan saya. Pergilah dari hadapanku!" Tidak berniat membentaknya, hanya saja dia juga sudah membuatku kesal dan datang di saat kemarahan ku meledak.


Aku tidak peduli dengan beberapa orang yang sedang menyaksikan kemarahan ku ini. Bagiku harga diriku sedang di injak-injak saat ini. Jangan mentang-mentang dia orang terhormat lalu seenaknya saja bersikap pada wanita. Apalagi aku buka. siapa-siapanya.


"Tenanglah, banyak orang sedang melihat kita di sini." Ucap Juragan Wira.


"Saya tidak peduli! Pergilah Juragan. Sebelum saya marah dan tidak ingin bertemu anda." Ucapku pelan namun dengan mengeratkan gigi.


Kemudian Juragan Wira meninggalkan aku dan pria itu berdua. Sungguh menyebalkan, dia tidak merubah posisinya. Masih setia hanya diam dan diam.


"Tuan yang terhormat, apa sekarang anda sudah merasa bersalah? Mana ucapan maaf dari anda. Aku tidak menyangka seorang yang terhormat mampu melakukan hal seburuk itu. Jika suami saya tahu, anda pasti akan di rajang habis olehnya." Sejak tadi aku sudah bicara panjang lebar tetap saja dia hanya diam layaknya orang bisu.


Dan sekarang justru seperti sedang menertawakan aku tanpa suara, hanya bahunya saja yang terlihat bergetar.


Benar-benar tidak waras nih orang.


"Apa yang sedang anda lakukan? Menertawakan ku? Ha...! Anda pikir saya hanya bercanda, tidak Tuan. Anda salah." Semakin aku banyak bicara sendiri semakin kesal aku di buat oleh sikapnya.


"Dasar pria tidak waras!" Umpat ku terang-terangan padanya.


"Eh, haaaaa...., lepaskan!" Ucapku sembari memukul apa saja yang ku dapat di bagian tubuhnya.


Lagi-lagi dia menarik paksa tubuhku dan kembali memelukku erat, bahkan lebih erat dari yang tadi ia lakukan.


Aku benar-benar merasa sesak di buatnya, meronta sekeras apapun aku tidak bisa lepas dari cengkeraman tangan kekarnya. Membuatku terus berteriak dan terus menggeliat agar terlepas, namun sia-sia. Sekarang dia bahkan mencium di balik telingaku, membuatku langsung merinding.


"Diamlah, kau sudah terlalu banyak bicara!" Bisik lirih di telingaku.


Deg


Mendengar suara yang sedikit bergetar membuat tubuhku langsung terdiam kaku.


.


.


Bersambung 🤗

__ADS_1


Sampai sini dulu ya😊


Sabar-sabarlah menunggu ya say...😅


__ADS_2