Second Marriage

Second Marriage
Bab 88 Dua Minggu


__ADS_3

Pagi yang cerah telah datang, suara burung berkicau terdengar sangat merdu. Embun pagi membasahi dedaunan yang rindang. Segar udara yang terasa masuk ke dalam rongga pernapasan.


Tenang, kata yang menggambarkan situasi di sini, jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota yang penuh dengan kebisingan.


Dua Minggu telah aku lalui di tempat ini bersama putriku. Setiap pagi yang kami lakukan adalah berjoging menyusuri jalanan, menyapa setiap orang di pedesaan yang kebetulan berpapasan. Setelah itu kami akan pergi ke pasar mencari sayuran segar dan terutama ikan-ikan segar untuk ku masak dan makan berdua. Terkadang juga, sengaja aku membantu Ibu Nur untuk berjualan ikan segar di pasar.


Waktu yang benar-benar aku nikmati tanpa harus memikirkan bermain rumah-rumahan dengan suami kontrak ku. Mencoba melepaskan pikiran tentang sebuah kepastian yang semu. Membahagiakan diri sendiri dan anakku, itulah yang aku lakukan sebelum aku kembali berperan menjadi seorang istri yang hanya sebatas selembar kertas perjanjian.


Pagi ini aku membangunkan anakku untuk berolahraga, menaiki sepeda yang berukuran besar. Sebuah sepeda yang aku beli atas permintaan putriku. Sisi terlihat semangat pagi ini karena sepeda yang dia inginkan akan segera di naiki.


Sisi membonceng di belakang sedangkan aku yang mengayuh sepedanya. Bersepeda santai sembari menikmati udara pagi yang cerah.


Seperti biasa, juragan Wira menunggu kami lewat, di sebuah persimpangan jalan. Dia sedikit mengganggu waktuku berlibur sih sebenarnya.


"Eh, stop stop..." Juragan Wira menghadang di depan sepedaku.


"Pagi, permata ku..." Sapa nya selalu seperti itu, padahal aku sudah bilang untuk menyebutkan namaku saja. Tapi, dia kekeh buat manggil aku dengan sebutan permata.


"Pagi ini terlihat lebih bercahaya wajahmu seperti mentari yang bersinar saat ini" Sambungnya memberikan gombalan.


Haduuuuh, ini orang selalu saja gangguin!


"Pagi juga..., ada apa ya, kenapa menghadang kami?"


"Aduh permata ku, kenapa kau tidak bilang kalau pagi ini bersepeda? Saya kan juga bisa bawa sepeda buat nemenin permata berolah raga."


Untuk apa aku harus bilang padamu?


Aku hanya mengangkat kedua bahuku. Aku selalu berusaha untuk cuek dan menghindar tapi tetap saja, dia selalu berusaha menarik perhatian ku.


"Juragan, saya permisi dulu ya...,kalau tidak ada yang penting saya mau langsung lanjut ke pasar."


"Tentu saja ada yang penting, karena kau selalu ada dalam mimpiku setiap malam." Ucapnya lagi-lagi menggombal sembari memejamkan mata. Menjiwai ceritanya...


Kebetulan dia menutup matanya, buru-buru aku mengayuh sepeda dengan cepat untuk kabur darinya.


"Permata, tunggu! Saya juga ingin ke pasar." Teriaknya saat aku sudah jauh darinya.


Aku terus mengayuh dengan sekuat tenaga, yah meskipun begitu aku tetap saja tersusul oleh mobilnya.


Sesampainya di pasar aku menemui Bu Nur untuk membeli ikannya, namun Bu Nur terlihat kewalahan meladeni para pembeli. Akhirnya ku putuskan untuk membantunya.


"Mama, sudah belum. Sisi nggak tahan baunya..." Sisi mengeluh tiap kali aku ajak ke pasar.


"Nak Jesi, sudah. Kasihan tuh si cantik sudah gak betah." Ucap Bu Nur.

__ADS_1


"Tapi, Bu Nur masih sangat repot." Melihat antrian pembeli yang masih banyak.


"Sudah tidak apa-apa, sudah biasa itu."


"Tunggu sebentar, saya punya ide." Aku melihat juragan Wira yang berdiri tidak jauh dari kami, dia sedang tersenyum terus sembari melihat ke arahku.


Aku lambaikan tangan menyuruhnya untuk datang ke lapak Bu Nur, lalu dengan sigap diapun datang.


"Tumbenan permata manggil, ada apa suayaaang." Dia selau lebay memang.


"Emmm, saya mau minta tolong."


"Dengan senang hati, saya akan menolong. Permata ku ini. Katakan saja, jangan sungkan."


Aku meminta dia untuk membantu Bu Nur sebentar dalam berjualan. Beruntung dia tidak menolak, karena aku bilang akan mengantarkan Sisi pulang dan akan kembali lagi.


Maafkan aku juragan Wira, aku terpaksa berbohong daripada kau terus saja mengikuti ku, lebih baik kau gunakan waktumu untuk membantu orang lain.


Setelah juragan Wira setuju, aku langsung mengajak Sisi kembali pulang dengan membawa sayuran dan ikan segar.


"Mama, Sisi tidak suka sama juragan Wira itu" Ucap Sisi setelah sampai di rumah.


"Kenapa sayang...?" Tanyaku sembari meletakkan belanjaan di dapur.


"Selalu saja deketin Mama, apa dia pikir Mama gak punya suami." Keluhnya saat sudah duduk di kursi.


"Ish, kenapa juga Ayah tidak juga datang menjemput?" Gerutunya kesal.


Lagi-lagi putriku mengeluhkan hal yang sama, selalu saja menanyakan Ayah tirinya, yang aku tidak tahu. Apakah dia masih mengingat kami atau tidak?


"Sayang, bersihkan dirimu dulu. Setelah itu nonton tv saja, biasanya jam segini film kartun masih ada kan..., Mama mau masak dulu."


Sisi tidak menolak, lalu dia mandi dengan cepat dan mulai menyalakan televisi untuk melihat kartun kesukaannya.


"Sayang, ingat. Hanya nonton kartun tidak boleh nonton film orang dewasa dan gosip, ok!". Aku masih ingin Sisi bersikap layaknya anak-anak.


"Iya, Mah..."


Tak berselang berapa lama, aku mendengar dari dapur Sisi berteriak-teriak memanggil.


"Mama, Mama, Mama. Cepat ke sini."


Aku sedikit panik hingga tidak mematikan kompor saat mendengar teriakannya, takut terjadi sesuatu padanya. Aku langsung saja berlari ke depan tv.


"Ada apa sayang? Kenapa teriak-teriak?" Tanyaku yang khawatir.

__ADS_1


"Lihat, Mah. Lihat itu seperti Ayah." Ucapnya sembari menunjuk ke arah televisi.


Benar dia sedang muncul di sekilas berita. Wajah yang selama ini aku coba lupakan, sekarang terpampang jelas di layar televisi. Senang bisa melihatnya masih tersenyum dan baik-baik saja. Senyuman yang manis mampu membuat setiap wanita terpesona.


Nada bicara yang penuh dengan kewibawaan selalu saja dia tunjukkan dengan baik di depan publik.


Hanya sedikit ada perubahan dalam dirinya. Sekarang dia berkumis, pantas saja Sisi sedikit meragukannya.


"Mah, benarkah itu Ayah?" Pertanyaan Sisi menyadarkan aku dalam lamunan.


"Ah, iya sayang."


"Kenapa Ayah terlihat tua sekarang?"


"Kau ini, ada-ada saja. Ayah masih tampan hanya saja sekarang sedikit berkumis." Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Yah, harus di akui dia seperti tidak peduli dengan penampilannya sekarang.


"Apa Mamah tidak rindu pada Ayah? Kenapa Mama tidak meminta Ayah untuk datang?"


"Rindu sayang, Mama rindu pada Ayah."


Hatiku tidak bisa berbohong kalau aku merindukannya saat ini, tapi aku masih enggan untuk bertemu dengannya. Takut hati ini akan lemah saat berhadapan dengannya.


"Ma, bau gosong."


"Oh astaga, Mama lupa matikan kompornya." Langsung cepat aku berlari ke dapur untuk mematikan kompor, alhasil ikan yang sedang aku goreng sudah berubah warna menjadi hitam pekat.


Baru saja aku matikan kompor, teriakan Sisi kembali terdengar, membuatku kembali ke depan.


"Mah, cepatlah!"


"Ada apa lagi sayang, gara-gara teriakan mu ikannya gosong." Ucapku sembari berjalan santai


"Itu Mah, lihat..." Ucapnya menunjuk ke arah tv lagi, aku pikir berita tadi sudah selesai ternyata belum.


"Bukannya itu Tante yang pernah makan malam bersama di rumah? Tante yang katanya kawan Ayah itu Lo..."


Jleb


Lagi-lagi rasa sakit tiba-tiba menelusup ke dalam hati melihat Vanesa masih berada di samping suamiku. Membuat banyak pertanyaan timbul dalam pikiranku.


.


.


Bersambung ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Awalnya ingin dobel up, tapi ternyata waktunya sudah lewat๐Ÿ˜“


__ADS_2