
Akibat kecerobohan ku, benda yang ku simpan rapi tanpa ada seorangpun yang tahu, sekarang ada di tangan suamiku sendiri.
Menyesal itu pasti, tapi sungguh tiada guna sebuah penyesalan atas hal buruk yang sudah terjadi.
Aku tahu, aku sudah tidak bisa berbuat apapun sekarang. Aku salah, memang salah tapi semua itu aku lakukan dengan alasan yang menurutku baik.
Kaki ku sudah gemetar, jantungku pun sudah sulit terkontrol. Melihat suamiku memegang benda itu di tangannya dengan muka yang sudah merah padam, tatapan tajamnya juga langsung menghunus hatiku.
"Kenapa kau lakukan padaku?" Dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Walaupun ucapan nya pelan tapi penuh dengan kemarahan.
"Ak_aku..." Otakku terasa berhenti berpikir, aku sulit mengutarakan isi hatiku yang sejujurnya.
"Kau tahu, tadinya aku sudah marah padamu. Tapi, mendengar ada orang yang bilang kalau kemungkinan kau mengandung, hilang sudah pikiran buruk ku. Dan aku sangat berharap di dalam sini ada anakku yang akan tumbuh." Dia menusuk-nusuk perutku dengan jari telunjuknya.
Aku mundur selangkah demi selangkah hingga membentur dinding, aku benar-benar takut dia akan membunuhku.
"Tapi, kau sudah membuatku kecewa dan marah!" Suaranya sudah naik oktaf, aku memejamkan mata melihat tangannya sudah mengudara seperti akan memukulku. Namun aku salah mengira, tangannya yang kekar memukul dinding yang berada tepat di belakangku.
Aku terkejut hingga jantungku serasa mau lepas dari tempatnya.
"Ma_maaf" Lagi-lagi hanya itu yang bisa ku ucapkan.
"Gara-gara pil sialan itu, membuatmu tidak bisa hamil. Apa kau mengerti!" Setelah melempar beberapa pil, tangan kekarnya sekarang mencengkeram kedua lengan atas ku.
Sakit sebenarnya, tapi aku sudah tidak bisa merasakannya lagi. Aku tahu rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit dan kecewa di hatinya.
"Apa kau benar-benar berniat ingin berpisah denganku, ha? Apa aku begitu buruk di matamu, hingga kau sangat ingin melihatku kecewa?"
"Ti_tidak, a_aku tidak bermaksud begitu." Kemarahannya yang menggelegar sangat membuatku sulit bicara.
"Jika kau berpikir seperti itu, maka kau salah! sekuat apapun kau ingin pergi dariku, aku tidak akan membiarkan mu pergi!"
Aku juga tidak ingin pergi, sungguh!
"katakan, apa alasanmu sampai kau berani minum pil itu, ha?" Dia kembali berteriak padaku.
"Ak_aku, ha_hanya..."
"Katakan!" Suara teriakannya sungguh menyeramkan.
__ADS_1
Bagaimana aku bisa bicara kalau dia terus berteriak padaku. Jangankan untuk bicara, rasanya bernafas pun sulit. Saat dirinya yang dulu menakutkan telah kembali lagi dan kehangatannya yang baru ku rasakan sudah berubah menjadi gunung es.
Bruak.
Suara pintu terbuka dengan kasar. Ibu mertuaku muncul dengan sangat khawatir, melihat tangan putranya sudah mengapit tubuhku. Dengan cepat dia pun mendekat.
Ibu, tolonglah aku...
"Nathan, sayang. Putraku, apa yang kau lakukan?" Ibu mertua sudah memegang suamiku dan berusaha melepaskan tangannya dari lenganku.
"Apa kau tahu? Kalau wanita ini sudah berani menyakiti ku. Dia sudah minum pil ini tanpa sepengetahuan ku, Ibu." Emosi yang masih meluap membuatnya masih berbicara dengan nada tinggi.
"Iya sayang, tenanglah. Ok!" Ibu mertua mengusap punggung suamiku agar mereda emosinya.
"Ikutlah Ibu..., Ibu ingin bicara padamu." Ibu mertua membawa suamiku keluar kamar, entah untuk apa? Ku harap Ibu mertua bisa memberikan pengertian padanya.
"Jesi, tenangkan dirimu juga dan istirahatlah." Pesan Ibu sebelum meninggalkan aku sendiri di kamar.
Aku sedikit bernafas lega meski masalah ini belum selesai, karena Ibu sudah datang di waktu yang tepat. Aku tidak tahu apa jadinya kalau Ibu mertua tidak ada, mungkin tubuhku bisa melayang di terbangkan nya.
Kembali aku berjalan ke sofa dan duduk di sana. Aku berusaha membuat jantung ini kembali berdetak normal sembari berpikir dan merangaki kata. Sebuah kata yang bisa aku ucapkan dengan tepat dan tidak akan membuatnya marah kembali.
Merasakan lelah dan penat bersamaan, membuat tubuhku terasa lemah, di tambah lagi rasa sakit kepala yang masih terasa. Aku menyenderkan badanku di sofa yang empuk, agar rileks dan rasa tegang menghilang.
Aku yang datang sebagai pelayan dan berakhir menjadi istri kontrak seorang penguasah yang paling terkenal. Hal itu bukanlah kemauanku semata, semua terjadi atas keinginannya. Dia dengan segala caranya telah membawaku sampai ke titik ini, dan membuatku tidak bisa menolak takdir.
Dan pada akhirnya hati yang pernah terluka dan ku jaga baik-baik, tidak bisa ku pertahankan. Seiringnya waktu berjalan aku mulai merasa nyaman bersamanya meski ada saja yang membuatku hampir menyerah.
Inilah sebuah hati, meski pernah terluka di masa lalu dia akan sembuh dengan berjalannya waktu.
Sejatinya masa lalu yang buruk akan tetap menjadi banyangan semu dan akan terus mengikuti kemana kita pergi. Melupakan bukanlah cara terbaik namun berikanlah ruang untuknya agar dia pergi dengan sendirinya.
Ceklek
Mendengar suara pintu terbuka, mataku langsung terbuka lebar. Dengan cepat aku langsung berdiri, tegang kembali aku rasakan.
Suara hentakan kaki yang terdengar keras di telinga, membuatku tidak berani mengangkat kepala. Tidak perlu di ragukan, suara langkah itu adalah milik suamiku.
Dia sudah kembali setelah beberapa saat tadi pergi bersama Ibunya. Aku tidak tahu yang mereka bicarakan, yang pasti aku sangat berharap kemarahan suamiku sudah menghilang saat ini.
__ADS_1
Perlahan namun pasti langkahnya mendekat ke arahku yang berdiri di depan sofa. Tidak ku dengar suaranya yang selalu berdecak saat merasa kesal.
"Duduklah!" Suaranya pelan tapi serasa memerintah.
Aku kembali duduk namun masih tidak berani menatapnya. Setelah aku duduk aku merasakan dia pun ikut duduk di sampingku.
"Kenapa menunduk? Istri dari seorang Nathan Darwin Erlangga tidaklah pantas untuk menunduk, apalagi dia sedang di tindas."
Apa maksud ucapannya? Apa dia sudah merasa menindasku?
"Angkat kepalamu" Tangannya memegang daguku dan mengangkatnya perlahan.
"Lihat aku, tatap aku baik-baik," dia melepaskan daguku.
Aku mengikuti semua arahannya, menatap lekat wajahnya dan mengunci tatapanku. Ku lihat wajah suamiku yang berjarak kira-kira sejengkal tangan.
Nampak sedikit lebam di area matanya dengan hidung yang juga sedikit memerah.
Mungkinkah dia habis menangis?
Aku tidak percaya, sesakit itukah hatinya? Hingga membuatnya bisa meneteskan air mata.
Lama kami hanya saling menatap dan saling mengunci pandangan. Ku lihat kesedihan dan kekecewaan berat tergambar di wajahnya.
"Ak_aku..." Ingin sekali aku mengatakan alasan ku yang sebenarnya.
"Katakan, katakanlah. Aku siap mendengarnya." Ucapnya lembut. Aku harap dia benar-benar sudah tidak marah.
"Ak_aku, melakukannya karena aku takut. Jika aku hamil lalu kau akan membuangku begitu saja seperti sampah yang tidak berguna. Aku tidak berhak melahirkan seorang penerus keluarga ini, aku tidak pantas! Aku hanya istri kontrak dan bayaranmu saja. Aku butuh melindungi diriku yang lemah." Awalnya aku masih gugup, tapi seterusnya aku ucapkan dengan lancar karena melihatnya yang hanya diam.
"Maaf, sekali lagi maafkan aku. Kalau semua alasanku menyakitimu." Dari hati yang tulus aku meminta maaf padanya.
Dia diam, hanya diam mendengarkan semua ucapan ku. Matanya sendu menatapku, membuatku semakin bersalah saja.
Katakanlah sesuatu, jangan diam saja. Jangan buatku jadi sedih. Aku janji padamu akan melahirkan anak untukmu jika kau masih menginginkanku.
.
.
__ADS_1
Bersambung☺️
Duh dah lama nih gak dapat komen dari kak Imel ☺️, Muncul dong😁✌🏻