Second Marriage

Second Marriage
Bab 105 Mungkin morning sick


__ADS_3

Genap tiga puluh hari aku melakukan saran dari dokter agar aku cepat mengandung anak kedua, dari suami keduaku. Dan sekarang yang aku rasakan seperti gejala hamil muda, mungkinkah sekarang aku merasakan morning sick? Seperti kebanyakan orang yang melewati masa ini. Jika benar, bukan waktu yang sebentar bagi yang merasakan untuk melalui masa yang namanya morning sick.


Rasanya sangat tidak nyaman sekali. Tubuhku yang tadinya baik-baik saja, sekarang jadi lemah tak bertenaga. Penciuman ku pun jadi seperti bermasalah.


Langkahku gontai keluar dari kamar mandi, kaki sedikit lemas dan hawanya terasa dingin.


"Sayang, aku bantu." Dia meletakkan segelas air putih lalu bergegas untuk memapah ku. Aku yang tadinya sudah membaik harus merasakan mual lagi saat mencium aroma suamiku. Dengan cepat aku mendorong tubuh suamiku lalu masuk kembali ke kamar mandi, memuntahkan isi perut yang hanya tinggal air saja.


"Sayang, are you ok?" khawatir di ambang pintu tidak berani mendekat karena tanganku sudah memberi aba-aba sebelum dia kembali memijat tengkuk leherku.


Aku menggeleng lemas, karena lagi-lagi harus kehilangan tenaga dengan membuang cairan dari dalam tubuh.


"Suamiku, minggirlah sedikit, aku mau lewat." Dia yang berdiri di pintu membelalakkan matanya.


"Apa! Kau! Mana bisa aku melihat kau jalan sempoyongan seperti tadi." Dia terlihat kesal.


"Tenanglah, aku masih kuat" Ucapku, lalu berjalan sembari menutup hidung ketika melewati suamiku.


"Keterlaluan! Apa yang salah di tubuhku? Apa aku bau busuk?" Mencium aroma tubuhnya sendiri.


"Ah, tidak. Lalu, kenapa kau jadi seperti itu?" Sambungnya mengekor sedikit jauh dariku.


"Kenapa minum air putih pun rasanya tidak enak?" Gumam ku, sampai aku susah menelan air putih yang tidak berasa.


"Bagaimana, sudah enakkan?"


Aku yang sudah duduk di tepi ranjang, hanya tersenyum tipis padanya. Otakku sedang berputar mencari tahu, apa yang sebenarnya bisa membuatku merasa seperti ini? Aku masih ingat, kemarin aku masih datang bulan, dan bulan ini memang belum waktunya.


"Sayang..., kau sangat pucat. Aku panggilkan Arga." Di ambilnya ponsel di atas nakas, samping tempat tidurnya untuk menelpon Dokter Arga.


"Tidak perlu, tunggu hari terang aja." Tidak enak pagi buta begini mengganggu orang yang masih tidur, tapi pasti dia tidak perduli dengan yang aku bilang.


"Sayang, boleh aku minta sesuatu?" Mulutku rasanya sangat tidak enak, ingin minuman yang rasanya segar.


"Katakanlah, apa yang kau inginkan?" Dia duduk di sisi ranjang belakang ku setelah menelpon Dokter Arga.


"Aku ingin air lemon hangat." Sepertinya minum lemon bisa membuat mulutku jadi tidak pahit lagi.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Tidak lama menunggu, dia sudah kembali dengan Pak Didi yang membawa segelas air lemon.


"Ini air lemon nya, Nyonya." Pak Didi meletakkan air di atas samping tempat tidurku.


"Terimakasih, Pak Didi." Aku bangun dari rebahan lalu meminumnya.


"Sayang, kenapa rasanya seperti ini?" Ku lihat Suamiku dan Pak Didi bergantian.


"Emang, kenapa?" Suamiku mengerutkan keningnya.


"Adakah yang salah, Nyonya?" Tanya Pak Didi yang terlihat bingung.


"Ini, terlalu manis dan rasa asamnya jadi hilang. Aku mau sedikit asam." Ku angkat gelas dan mengembalikan ke tempatnya.

__ADS_1


"Baiklah, Nyonya, akan saya ganti." Di ambilnya lagi lalu di bawa turun.


"Sayang, apa kau bisa membuatkannya untukku? Aku rasa Pak Didi tidak tahu cara membuatnya."


"Aku?!" Nampak sedikit terkejut, aku mengangguk seraya tersenyum


"Mana mungkin Pak Didi tidak tahu caranya, sayang..., justru aku yang tidak bisa." Ucapnya seraya tersenyum, entahlah? Rasanya ingin sekali minum buatan suamiku sendiri.


Iya juga sih...


"Jadi, kau tidak mau?" Kecewa mendengar alasannya meskipun itu benar.


"Bukan begitu, aku tidak bisa, sayang..."


Entah kenapa rasanya aku sangat sedih sekali kalau dia tidak mau membuatkannya untukku. Tanpa di sadari ada air yang menggenang di pelupuk mata.


"Iya, baiklah aku akan coba buatkan sendiri untuk istriku tersayang. Jangan sedih" Dia menatap mataku yang sudah berkaca-kaca.


"Ada-ada saja, pagi-pagi begini bahkan matahari belum terbit, minta air lemon." Gerutunya sambil berjalan namun masih ku dengar jelas.


"Terimakasih, sayang." Rasa bahagia pun langsung menyeruak ke dalam hati saat dia mau menuruti permintaanku yang tidak biasanya. Saat seperti ini aku biasa minum susu jahe, tapi rasanya kali ini ingin lemon yang biasa diminum suamiku.


Sedikit lama menunggu kedatangannya membawa minuman yang ku inginkan, dengan sabar menunggu duduk bersandar di head board sembari melihat benda pipih milikku.


Searching tentang tanda-tanda kehamilan yang mengalami morning sick. Waktu aku mengandung Sisi tidak pernah merasakan yang namanya morning sick, jadi aku sangat penasaran. Mungkin dengan begitu aku tahu kiat-kiat yang harus di lakukan saat aku benar-benar mengandung sekarang.


"Sayang, Arga sudah datang." Mataku beralih menatap dua orang yang baru saja masuk ke kamar.


"Pagi, Nyonya Nathan. Ku dengar kau sedang tidak baik-baik saja."


"Terimakasih sayang, ini sangat enak" Tersenyum, memuji minuman buatannya yang terasa segar seperti yang ku inginkan.


"Oh ya! Benarkah? Coba sedikit, aku jadi penasaran." Dia nampak ragu dan langsung mengambil gelas yang sedang ku pegang.


Brusss...


Suamiku menyemburkan air lemon yang sudah masuk mulut ke sampingnya. Beruntung Dokter Arga tidak berada di dekatnya.


"Kenapa?" Bagiku rasanya pas dan enak, tapi kenapa dia malah memuntahkannya?


"Kenapa kau bilang? Ini tidak layak untuk di minum, terlalu asam dan perutmu masih bermasalah. Sudah di buang saja, ganti yang baru!" Dia hendak memanggil Pak Didi yang berada di luar kamar menunggu.


"Eh, jangan! Tidak boleh!" Ku coba meraih gelas di tangannya, namun tidak sampai.


"Sayang...perutmu bisa tambah sakit nanti, ini seperti racun kecoak."


"Hah! Benarkah?" Rasanya aku tidak percaya, meski dia mengangguk tapi nampak jelas kebohongan di wajahnya.


Apa dia pernah minum racun kecoak


"Dokter Arga, bantulah aku. Aku memang dari tadi muntah terus dan mulutku terasa pahit, aku rasa tidak apa-apa jika minum yang sedikit asam." Aku bangun dari ranjang dan mendekati dokter Arga.


"Hey, kenapa malah merengek padanya?" Dia menarik tanganku agar menjauh dari Dokter Arga.

__ADS_1


"Aku yang suamimu, bukan dia!" Sesaat kemudian aku kembali mual karena terlalu dekat dengan suamiku dan lagi-lagi aroma tubuhnya yang membuatku enggan dekat dengannya.


Aku bergegas menuju kamar mandi lagi. Ku dengar Dokter Arga tergelak, tapi entahlah apa yang membuatnya sampai tertawa.


"Nyonya Nathan, sebaiknya berbaring saja akan ku periksa sebentar." Melihatku yang nampak lemas.


Kemudian aku berbaring, meletakan tubuh yang rasanya sudah lemas. Dokter Arga pun bersiap mengeluarkan stetoskopnya dari dalam tas.


"Dokter Arga, tidak perlu pakai itu. Tidak ku izinkan kau menyentuh dada dan juga perut istriku. Periksa saja nadi di tangannya." Suamiku yang duduk di sofa memperhatikan gerak-gerik Dokter Arga.


"Ck, heh..." Dokter Arga berdecak lalu menghela nafas panjang.


"Iya baiklah, kalau mau tahu lebih jelas, kau datang saja ke Dokter Obgyn." Ucap Dokter Arga sembari memegang pergelangan tanganku.


"Dokter, a-apa saya hamil?" Rasanya aku tidak sabar untuk tahu sebenarnya.


"Kemungkinan seperti itu." Dia tersenyum.


"Bagaimana istriku? Berikan obat yang terbaik, agar dia tidak mual lagi seperti itu, terlebih mual saat dekat denganku." Tanya suamiku saat Dokter Arga sudah mendekat padanya.


"Hahaha...aku tidak berani memberikan obat apapun Tuan Nathan." Aku tahu Dokter Arga pasti menertawakan kebodohan kebodohan suamiku. Dalam hati pun aku ikut tertawa.


"Sial! Kenapa kau tertawa? Apa yang lucu? Bagaimana kau seorang Dokter tidak bisa memberikan obat pada orang yang sakit, hah?" Bangkit dari duduknya, suamiku tidak terima karena di tertawakan oleh teman kuliahnya dulu.


"Apa kau benar-benar ingin aku berhentikan dari tugasmu, hem? Istriku sedang menderita sekarang!" Dia bahkan tadi tidak mendengar saat Dokter Arga menyarankan untuk perikasa ke Dokter Obgyn.


"Tenanglah dan duduklah..., harusnya kau senang, Tuan Nathan yang berkuasa." Dokter Arga menepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Apa! Dasar Dokter sinting! Mana bisa aku tenang. Istriku sedang tidak baik-baik saja!" Makinya sembari mengusap kasar wajahnya.


Ku biarkan mereka beradu mulut, ku lihat wajah suamiku yang memerah, dan tangan yang mengepal, seperti ingin menghantam wajah Dokter Arga yang selalu tersenyum menyebalkan. Sembari menghabiskan sisa air lemon aku menonton dua orang yang sedang bermain drama, satu orang seperti anak kecil yang sedang tantrum dan satu lagi sangat santai menyikapinya.


"Arga!!!" Teriak suamiku membuatku kaget dan menjatuhkan gelas yang ku pegang tanpa sengaja.


Prang...


Mereka terdiam melihat ke arahku.


"Istrimu, sepertinya hamil, bodoh!" Dokter Arga pun akhirnya mengumpat langsung suamiku.


"Apa? Katakan sekali lagi." Tanyanya tanpa melihat ke Dokter Arga tapi matanya malah mengarah padaku.


"Nyonya Nathan, hamil! Tuan..." Sekali lagi Dokter Arga ucapkan.


Kali ini dia terdiam mematung melihatku yang sedang tersenyum padanya. Dia tetap bergeming seperti sangat terkejut, menatap sendu ke arahku. Entah perasaan apa yang ada di hatinya saat ini.


"Pulanglah...!" Suara lemah mengusir Dokter Arga.


Giliran Dokter Arga yang menahan amarahnya karena di usir secara langsung.


.


.

__ADS_1


Bersambung 😊


Author mengucapkan banyak terimakasih buat yang masih setia dengan cerita ini. Lagi-lagi harus menunggu lama kelanjutan tiap episodenya, karena belum punya waktu yang banyak 🙏🙏


__ADS_2