Second Marriage

Second Marriage
Bab 106 Ke Rumah sakit


__ADS_3

Setelah di usir terang-terangan, Dokter Arga berpamitan padaku untuk pulang. Aku merasa canggung saat mengucapkan terimakasih karena sikap suami yang seperti gak ngerti adab dan telah mengganggu waktu tidurnya. seharusnya dia masih enak-enaknya bermimpi malah harus bangun untuk memeriksa ku.


Suamiku masih terdiam seperti orang yang syok, matanya yang sendu masih terlihat. Aku berharap tatapannya bukanlah pertanda buruk, mengingat selama ini dia sangat menginginkan kehadiran seorang anak dari rahimku. Tapi kenapa dia justru terlihat sedih? Ada apa dengannya?


"Sayang, ak-aku..., em, sepertinya apa yang di bilang Dokter Arga itu benar." Melihatnya seperti itu membuatku jadi ragu untuk berkata dan bertanya tentang perasaannya.


"Jangan sentuh! Naiklah ke atas lagi, aku tidak mau kau terluka." Mendekat namun tidak terlalu dekat, ia melarang ku yang hendak membereskan pecahan gelas.


"Suamiku, ap-apa kau bahagia? Aku hamil." Lalu aku naik kembali ke ranjang, meski ragu tapi aku harus tahu perasaannya, karena belum ku lihat senyum ataupun tawa di bibirnya.


"Tentu saja, sayang aku bahagia...hanya saja-" Duduk di ujung ranjang dan tersenyum namun hanya sebentar.


"Hanya apa?"


"Aku sedih harus melihat istriku sakit seperti ini, karena keinginanku kau harus mengalami hal aneh."


"Jangan khawatir, ini bukan hal aneh, hal yang biasa di alami seorang Ibu yang ngidam. Dan itu tidak akan lama." Aku tersenyum padanya agar dia tidak bersedih.


"Apa kau bahagia?" Masih dengan ekspresi sedihnya, dia bertanya tentang perasaanku.


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku bahagia, ini adalah hal yang kita tunggu selama ini, jadi mari sambut dengan bahagia."


"Boleh aku memelukmu, aku sangat ingin."


"Pasti sayang, kemarilah..." Ku rentangkan kedua tanganku.


"Sayang, terimakasih karena kau mau mengandung anak dariku, aku bahagia meski tak sepenuhnya." Pelukan hangatnya memberikan ketenangan dan kelegaan di hatiku, meski aku harus menahan gejolak dalam perutku.


"Aku juga senang, jadi kau harus sepenuhnya bahagia. Ini adalah calon anak kita yang akan memperat hubungan kita, tidak masalah jika aku harus melewati hari-hari yang sulit demi membuatnya tumbuh dan berkembang dengan baik di perutku." Ku pegang tangannya dan ku letakkan di perutku yang masih rata.


"Sejujurnya aku lebih bahagia bila melihatmu baik-baik saja." Di usapnya lembut pipiku dengan satu tangannya, setelah mengurai pelukan.


"Tidurlah kembali, kau harus istirahat! Tidak boleh lelah." Dengan pelan di menuntunku berbaring dan menutupi tubuhku dengan selimut.


"Aku akan mengecek pekerjaan." Bangkit berdiri dan mengambil laptop.


"Sayang, kau mau kemana?" Ku lihat dia hendak berjalan ke luar kamar.


"Ke ruang kerja,"


"Jangan! Maksudku di sini saja, temani aku."


"Sayang, aku tahu kau tidak nyaman di dekatku makanya lebih baik aku di bawah saja."


"Meski aku tidak suka kau dekat denganku tapi aku juga tidak mau kau jauh dariku."


"Hah!" Dia nampak bingung dengan permintaanku, tidak mau di dekati tapi juga tidak mau di jauhi.


"Duduklah di sofa saja, karena aku masih bisa melihatmu kalau di situ." Ucapku sembari menunjuk ke arah sofa panjang yang berada tidak jauh dari ranjang.


"Iya, baiklah. Sekarang pejamkan matamu dan tidurlah, aku tidak akan kemana-mana." Kemudian dia duduk dan mulai membuka laptopnya.


Perasaanku tenang jika melihatnya ada di depan mataku. Aku mulai memiringkan tubuhku dan membelakanginya. Mencoba memejamkan mata, namun sudah sulit untuk tertidur.


Tidak lama kemudian, aku merasakan ada gerakan kecil di belakangku. Aku yakin dengan perlahan suamiku pasti naik ke ranjang.


"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar sedih melihatmu jadi lemah seperti ini, bagaimana aku bisa bahagia jika kau harus menderita karena ulahku." Kembali dia mengeluhkan lirih perasaannya. Kali ini dia mengusap lembut kepalaku dan mencium dari belakang.


Terimakasih sudah menjadi suami yang baik untukku.


Kemudian dia kembali turun dan melanjutkan kegiatannya.


"Sayang, kau sudah bangun? Cepat bersihkan dirimu, kita akan ke rumah sakit." Mencium aroma sabun pada tubuh suamiku, membuatku langsung mual kembali. Tanpa bicara aku langsung menuju kamar mandi.


"Ck, lagi-lagi kau mual dan muntah. Bagaimana ini? Sampai kapan seperti itu terus?" Ucapnya sembari menggulung lengan kemeja panjangnya.

__ADS_1


Aku kembali duduk di atas ranjang, tidak perduli dengan yang dia katakan. "sayang, lain kali jika kau mandi jangan pakai sabun dan juga jangan pakai parfum, aku benar-benar tidak suka dengan baunya."


"Apa! Bagaimana bisa seperti itu?" Dia yang selalu tampil perfek, tidak terima dengan permintaanku.


"Suamiku, mengertilah!" Dengan raut wajah yang memelas.


"Iya, baiklah sayang...demi kebaikan mu akan ku lakukan." Melunak setelah tadi sempat ingin bersikeras.


"Sekarang mandilah, hari sudah terang."


"Mandi?" Rasanya aku benar-benar malas untuk ngapa-ngapain, bahkan mandi saja aku malas.


"Kenapa lagi, istriku?" Melihat ku kembali menarik selimut.


"Sayang, bisakah nanti siang saja? Aku merasa malas untuk pergi kemana-mana."


Dengan sabar dia mau mengikuti apa mau ku. Dia juga membawakan sarapan ke atas, meski aku menolak setiap makanan yang dia bawa ke atas. Karena aku tidak selera untuk makan apapun, bahkan dia menawarkan makanan yang menjadi kesukaanku. Tapi tetap saja aku tidak ingin.


"Jesi, sayang...perutmu harus tetap di isi. Jangan di biarkan kosong meskipun kau tidak mau harus tetap di paksa." Ibu mertua datang ke kamar setelah tahu keadaan ku dari putranya.


"Ibu, aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Dulu sewaktu mengandung Sisi tidak begini." keluhku pada Ibu mertua, beliau cukup mengerti karena katanya dulu dia juga begitu saat mengandung Nathan.


Beliau menyarankan aku untuk makan makanan yang tidak terlalu pekat rasanya, seperti roti tawar tanpa rasa.


.


.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku?" Sesampainya di rumah sakit aku terkulai lemas di atas ranjang pasien dengan selang infus menancap di tanganku. Karena dalam perjalanan aku selalu muntah terus.


"Tidak perlu khawatir, Tuan. Ini biasa terjadi di awal kehamilan." Terang Dokter perempuan yang di ketahui namanya Lela.


"Sampai kapan dia seperti itu?" Dengan nada yang begitu khawatir dia terus bertanya-tanya.


"Maksudnya, Dok?" Suamiku memang belum tahu apa-apa tentang kehamilan.


"Maksudnya ini biasanya akan terjadi dalam waktu tiga-"


"Tiga hari, Dok? Kenapa lama sekali?." Terlalu semangat mendengar kata tiga dia langsung saja memotong ucapan Dokter itu.


Tiga hari saja lama, bagaimana kalau dia tahu tiga bulan?


Kasihan melihat suamiku yang begitu khawatir akan keadaanku.


"Hey, Tuan besar. Mana ada trimester pertama kehamilan dalam jangka waktu tiga hari." Dokter Arga yang ikut menemani menepuk pundaknya.


"Jadi?" Suamiku menatap Dokter Arga dengan curiga.


"Tiga bulan, bro..." jawab santai Dokter Arga sembari tersenyum.


"Apa!" Suaranya meninggi hingga tangannya pun ikut menggebrak meja di depannya, membuat kaget Dokter Lela. Lain halnya dengan Dokter Arga, dia sepertinya sudah bisa menebak kejadian yang akan terjadi.


"Jadi kalian akan membiarkan istriku seperti ini selama tiga bulan? Apa kalian semua tidak waras? Ha...!"


Astaga, suamiku, kau yang tidak waras sekarang.


Aku tidak sanggup bicara apapun untuk menghentikan omongannya yang semakin ngawur.


"Tidak seperti itu, Tuan." Dengan gemetar Dokter Lela mengucapkannya.


"Lalu? Apa tidak ada obat yang bisa menghilangkan rasa mual nya, hem?"


"Sayangnya, tidak ada!" Jawab Dokter Arga.


"Ck, tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar. Kalian membiarkan aku gila karena tidak bisa menyentuh istriku."

__ADS_1


Astaga, apa lagi yang dia katakan? Kenapa malah membuat aku malu?


"Jangankan menyentuh, ku dekati saja dia sudah mual." Suamiku terlihat frustasi, kasihan sekali dia.


"Sabarlah, mungkin anakmu sedang balas dendam padamu?" Ucapan Dokter Arga seperti memprovokasi pikiran suamiku untuk semakin ngawur.


"Balas dendam? Apa yang kau bilang bisa di percaya?" Tanya suamiku yang terlihat sangat bodoh.


"Baik-baiklah pada istrimu, mungkin dengan begitu anakmu akan memaafkan perlakuan buruk mu dulu pada Ibunya." Nasehat Dokter Arga.


"Hem, tentu saja!" Ucapnya sembari melirik ke arahku.


.


.


Bukan perkara mudah ternyata melewati masa morning sick. Setiap pagi aku harus mengalami mual dan muntah, apa yang masuk di dalam perutku bisa keluar lagi tanpa sisa. Tidak hanya itu, terpaksa aku mengusir suami dari ranjang. Meminta dia untuk tidur di sofa saja, asalkan masih terlihat oleh mataku. Dengan berat hati pun dia menuruti setiap keinginan ku. Aku tahu dia merasa sedih plus kesal padaku saat aku tidak mau di dekati, dengan alasan si jabang bayi yang masih di dalam perut.


Apalagi saat aku menginginkan hal-hal yang menurutnya tidak masuk akal di tengah malam. Ingin makan rujak di teras bersama para pelayan yang sudah tertidur lelap, jadi harus membangunkan mereka lebih dulu.


Suamiku turut andil dalam merawat ku setiap hari, dia selalu menyempatkan waktunya untukku. Sampai dia rela bekerja dari rumah demi menjagaku, meski sudah sering kali aku menyuruhnya untuk berangkat ke kantor dan mengurus perusahaannya, tapi dia selalu bilang 'Ken bisa di andalkan.'


Dia yang begitu khawatir padaku tidak mau meninggalkan aku, saat aku merasa lemah dan tidak bertenaga. Hingga melewati masa morning sick yang jatuh pada pertengahan bulan ke empat.


Datang Mbak Asih, asisten rumah tangga ku dulu. Dia percaya kalau Mbak Asih bisa menjagaku dengan baik saat dia pergi, karena Ibu mertua dengan segala aktifitasnya tidak mungkin bisa menjagaku selama suami tidak ada. Terlebih Ibu fokus mengurus putriku yang sudah beranjak ke Sekolah Dasar.


Selama kehamilan aku tidak di izinkan keluar rumah, semua yang aku butuhkan sudah dia sediakan di rumah. Bahkan kelas Ibu hamil aku hanya menjalani di rumah saja, seperti seorang les privat dan home schooling saja.


Hingga tiba saat aku merasa bosan tingkat Dewa. Aku merajuk dan pindah tidur ke kamar putriku, tentu saja putriku sangat senang, dengan begitu dia tidak merasa akan di bedakan. Jika sudah begitu, suamiku tidak bisa berbuat apapun, karena dia juga tidak mau melihat putriku bersedih meski dia harus menahan kesal setengah mati.


"Baiklah sayang, ku izinkan kau keluar hari ini." Esok harinya, sembari mengancingkan kemejanya hendak berangkat kerja.


"Benarkah? Terimakasih, sayang." Setelah mengangguk dia tersenyum padaku.


"Tapi ingat, harus hati-hati, tidak boleh kecapean dan harus di temani dengan pengawal. Tidak ku izinkan kau pergi hanya dengan Mbak Asih saja."


"Iya, baiklah...aku janji akan hati-hati" Ku berikan pelukan dengan perut yang sudah membesar.


Dan tiba-tiba, "Auw..."


"kenapa sayang?" Dia langsung mengurai pelukan dan memegang perutku saat aku reflek mengaduh kesakitan.


"Ada apa dengan baby-nya?" Lanjutnya terlihat sangat khawatir.


"Sepertinya dia terlalu girang hingga menendang kuat di dalam." Ucapku sembari tersenyum.


"Owh, baby...jangan begitulah, kasihan Mamanya, ok!" Suamiku menunduk sembari mengusap lembut perutku.


"Iya, Papa..." jawabku seperti anak kecil.


"Masih di dalam perut saja kau sudah berani mengalahkan aku." Gerutu nya sembari berlalu pergi setelah berpamitan dengan mengecup pucuk kepalaku dan juga tak lupa perutku. Itulah ritual yang dilakukan setiap hari sebelum pergi.


Pernah sekali dia melupakannya karena terburu-buru dan aku pun tidak mengingatnya, akhirnya dia balik lagi setelah hampir sampai di kantornya. Sweetnya suamiku, kembali hanya untuk mencium ku dan bayinya yang masih di dalam perut.


.


.


Bersambung😊


Sampai di sini dulu ya guys, bab ini sudah panjang kalo mau di terusin akan sangat panjang😁


Di nantikan kelahiran Nathan junior di bab berikutnya ☺️


Terimakasih buat yang selalu sabar ngikutin cerita ini🙏🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2