
Seusai meminta izin pada mertua, aku kembali ke atas untuk mengambil koper yang sudah ku persiapkan dari semalam. Tidak semua pakaian aku bawa, masih ada tertinggal satu pakaian yang ku pakai tadi malam.
Aku tinggalkan sebuah kartu tanpa batas di atas nakas. Kartu yang dulu pernah ia berikan padaku, ketika pertama aku masuk ke rumah ini dan menjadi istrinya.
Sebelum aku benar-benar meninggalkan kamar, aku sempatkan untuk melihat semua sudut kamar dan tempat di mana aku dan dia kadang bertengkar dan bermesraan.
Tak tertinggal sebuah foto dengan bingkai besar yang terpampang jelas di kamar ini. Aku tersenyum pada benda mati itu.
"Nikmatilah waktumu bersama suamiku sekarang tanpa ada gangguan. Selesaikan apa yang belum kalian selesaikan."
Aku menuju kamar anakku untuk mengambil koper kecilnya yang masih ada di dalam. Melihat boneka-boneka kesayangannya yang sudah menempati ranjangnya dengan rapi.
Sedikit merasa bersalah harus membawanya pergi dari rumah ini, melihat dia yang hanya menurut tanpa banyak tanya. Aku tahu, ketika anakku bersikap seperti itu, berarti dia sedang sedih. Dengan banyak bertanya dia akan membuat perasaanku sedih, itu yang ada di pikirannya.
Semua hal aku lakukan dengan cepat, sebelum dia kembali ke rumah. Termasuk menghapus jejak digital di rumah ini.
Ketika aku menuruni anak tangga, ku hentikan langkahku sejenak. Melihat sebuah pemandangan yang membuat aku terharu. Ibu mertuaku sedang memeluk erat tubuh anakku, seolah enggan untuk melepaskannya. Aku bahkan melihat air matanya menetes, namun dengan senyum ceria, Sisi berusaha menghibur dan menenangkannya.
Ku hampiri mereka dengan tersenyum sembari membawa dua koper yang satu berukuran besar dan yang satu berukuran lebih kecil. Tersenyum meski hati ini bersedih.
Kemudian aku berpamitan dengan beliau yang sudah mau menerimaku dan anakku apa adanya. Dia perempuan yang hampir sempurna, tidak hanya cantik dan memiliki segalanya tapi juga sangat baik pada semua orang.
"Ibu, jangan bersedih. Aku pergi untuk kembali lagi." Ucapku sembari memeluknya.
Kemudian aku mengajak Sisi keluar rumah. Meski dengan langkah yang berat, aku terus berjalan. Meninggalkan kediaman yang seperti istana.
Sebuah taxi online yang khusus di pesankan untukku sudah menunggu di depan gerbang. Dengan taxi itu, aku menuju ke stasiun bus.
Harusnya aku merasa lega bisa keluar dari rumah itu, seperti yang ku inginkan dulu. Tapi, kenapa sekarang justru aku merasa enggan dan berat. Menyadari atau tidak ternyata hatiku sudah tertinggal di sana.
.
.
Sampailah aku di sebuah tempat yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk suasana kota. Sebuah desa nelayan yang berada jauh dari kediaman Erlangga. Desa yang terletak tidak jauh dari pantai.
Tadinya aku berpikir akan pergi ke kampung halaman, tapi jika aku sampai ke sana, pasti dia akan menemukanku dengan cepat. Makanya aku putuskan untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya.
Setelah aku sampai di desa itu, pertama yang aku lakukan adalah mencari sebuah rumah yang bisa di sewa untuk beberapa hari atau bulan, mungkin.
Kebetulan aku bertemu dengan seorang wanita yang menawarkan rumahnya untuk kami tempati. Wanita itu membawa kami pulang ke rumahnya. Sebuah rumah yang sederhana dengan 2 kamar tidur. Sepakat dengan harga sewanya, aku pun memutuskan untuk tinggal di sana.
"Terimakasih Bu, untuk tempat tinggalnya." Ucapku sembari tersenyum padanya setelah menerima kunci rumah.
"Iya, non..., sama-sama, " jawab wanita itu.
"Oh, ya..., panggil saja saya Jesi, Bu."
"Saya, Bu Nur. Panggil saja begitu."
__ADS_1
"Oh baiklah, Bu Nur..."
"Ngomong-ngomong, nak Jesi bersama putrinya akan tinggal berapa lama?"
"Kami hanya akan tinggal sementara, tapi untuk berapa lamanya, saya belum pastikan. Kami ingin berlibur menikmati suasana pedesaan yang masih alami."
"Oh, bosan dengan suasana perkotaan rupanya."
"Iya, benar..."
Saat kami sedang berbincang-bincang tentang tujuan kedatanganku. Tiba-tiba di kejutkan dengan suara teriakkan seorang pria di luar yang memanggil pemilik rumah.
"Bu Nur, Bu Nur..., keluar kau!"
Buru-buru kami keluar dari rumah untuk menemui pria itu. Seorang pria yang berbadan besar dengan rambut keriting dan sebahu.
Seram, kata yang mewakili perawakan pria tersebut. Membuat Sisi sampai sembunyi di belakang ku.
"Bu, Nur. Kami menagih janjimu untuk membayar hutang hari ini."
Oh, ya ampun ternyata seorang depkoleptor.
"Iya, tapi masih ada waktu nanti malam kan..., uangnya juga belum cukup."
"Hah, mau ingkar janji lagi.!"
"Janji mu itu palsu, Bu Nur."
Saat mereka berdua sedang berdebat, turun seorang pria lagi dari sebuah mobil warna silver mengkilat. Dengan kacamata hitam yang bertengger di matanya. Badan yang tak kalah besar dari pria yang berdebat dengan Bu Nur.
"Ada apalagi ini? Kenapa? Belum mau bayar lagi?" Ucap pria itu.
"Bukan begitu juragan..." Ucap Bu Nur.
Juragan! Berarti dia itu bosnya.
"Bu Nur, rupanya menyimpan permata di sini." Ucap pria yang di sebut juragan itu.
"Permata? Mana ada saya punya permata, juragan," jawab Bu Nur yang terlihat bingung.
"Wanita cantik, perkenalkan. Saya juragan Wira." Ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya padaku.
Sebagai pendatang baru, aku tidak mau bikin masalah dengan membiarkan tangannya yang sudah menjulur. Aku sambut uluran tangannya sembari tersenyum ramah.
"Halus, lembut dan wangi." Ucapnya setelah ku tarik paksa tanganku yang sengaja di genggamnya berlama-lama.
"Oh, bawa seorang adik cantik juga rupanya. Hai..., gadis kecil." Matanya melihat ke arah putriku yang sembunyi di balik badanku.
"Juragan, mereka tamu saya yang baru datang dari kota." Ucap Bu Nur.
__ADS_1
"Baiklah Bu Nur, karena ada permata yang sudah lama tak ku lihat, aku tidak akan meminta buru-buru." Dia mengurungkan niatnya menagih hutang.
"Sampai jumpa, permata." Ucapnya tersenyum genit padaku lalu pergi bersama anak buahnya.
Permata pala mu peyang!
Dalam batinku berani mengumpat, kalau untuk terang-terangan, tentu saja belum berani. Mengingat aku pendatang baru dan belum mengenal siapapun di tempat ini.
Setelah kepergian mereka, lalu Bu Nur pun ikut berpamitan padaku, karena merasa tidak enak dengan penyambutan yang kurang baik.
"Mama, apa kita akan tinggal di sini seterusnya?" Tanya Sisi saat kami sudah berada di kamar.
"Tidak, sayang." Jawabku sembari memindahkan pakaian dari koper ke dalam lemari.
"Kita hanya berlibur, sambil kau tahu kehidupan di desa itu seperti apa. Mama dulu juga dari kampung jadi kamu juga harus tahu kehidupan Mama dulu."
"Kalau cuma berlibur kenapa Ayah tidak ikut?" Tanya putriku dengan muka cemberut.
Akhirnya rasa penasaran yang di sembunyikan putriku di keluarkan juga.
"Sayang, kau tahu kan..., kalau Ayah itu sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tidak mungkin Ayah ninggalin kerjaannya gitu aja, sayang." Aku mencoba memberikan alasan yang tepat untuk putriku.
"Sayang, putri Mama yang cantik. Udah dong jangan sedih, besok kita jalan-jalan ke pantai, kita cari sesuatu yang kamu suka, ok."
"Mah, apa Mama dan Ayah sedang bertengkar?"
"Ti_tidak sayang...," meski gugup menjawab pertanyaannya, aku tetap berusaha tenang.
"Istirahatlah, Sisi pasti lelah kan? Kita sudah jauh berlibur ke sini, jangan sampai Sisi sakit ya." Sambungku menyuruhnya berbaring di ranjang.
"Mah," Panggilnya lagi setelah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Apalagi sayang...?"
"Apa Mama dan Ayah akan bercerai?"
Deg
Pertanyaan yang tidak terduga keluar dari mulut kecilnya. Membuatku harus memutar otak lagi mencari jawaban yang tepat, agar dia tidak merasa sedih kembali seperti dulu. Seperti waktu merasakan perceraian ku dengan Mas Arsya.
.
.
Bersambung😊
Sabar-sabar ya say...nungguin cetarnya hubungan Tuan Nathan dan Jesi, ikut alur dulu😁
Thank you 😘😘
__ADS_1