Second Marriage

Second Marriage
Bab 108 Mirip Om Doni


__ADS_3

"Kak, jangan khawatir...semua pasti baik-baik saja." Doni juga berusaha menenangkan pikiran kakak sepupunya itu yang nampak jelas risau.


"Don, kenapa bisa begini? kenapa kau tidak bisa menjaga kakak ipar mu dengan baik?" Meski dengan suara pelan aku tahu dia kecewa dengan Doni. Doni diam dan tampak bersalah.


"Bukankah aku menyuruh mu pulang karena aku percaya padamu, kau bisa menjaga istriku dengan baik." Lanjutnya seperti menghakimi.


"Maaf, Kak."


"Permisi...Tuan" Sela, Dokter dan seorang perawat berpamitan setelah memberikan suntikan induksi.


"Sayang..." Sengaja aku memanggilnya, agar dia tidak terus berbicara dan menyalahkan Doni. Dia menoleh lalu mendekatiku.


"Iya, apakah sakit?" Di genggamnya erat tanganku.


"Tidak..." Jawabku sembari menggeleng.


"Jika sakit, bicaralah...akan ku panggilkan Dokter yang hebat untuk memberikan obat penahan rasa sakit." Aku tersenyum mendengar ucapannya, rasa sakit orang melahirkan tidak akan bisa di beri obat apapun. Apa seperti itu juga dia tidak mengerti?


"Kenapa malah tersenyum, aku serius...!"


"Tidak, aku tidak butuh obat apapun. Aku cuma butuh kau ada di sini di dekatku, itu saja." Ucapku sembari meremas tangannya kuat untuk menahan rasa sakit yang mulai terasa. Rasa sakit ini akan hilang dan muncul kembali, rasa yang bertahap semakin lama akan semakin terasa sakit.


"Apakah sakit?"


"Sedikit, sayang."


"Sedikit kau bilang? Kuku mu saja sampai menusuk kulitku, kau bilang sedikit."


"Belum seberapa, ini baru awal."


"Apa!" Wajah suamiku sudah sedikit pucat.


Ceklek


Suara pintu terbuka menampilkan sosok wanita anggun yang begitu baik padaku.


"Jesi, bagaimana keadaan mu, sayang?" Ibu mertuaku datang berkunjung.


"Ibu, aku baik-baik saja." Jawabku santai.


"Nathan, ku dengar cucu Ibu harus lahir sekarang, apa itu benar?"


"Iya, Bu.." Jawab suamiku.


"Ibu, di mana Sisi?" Tidak ku lihat putriku bersamanya, membuatku khawatir.


"Sisi ada sama Doni, di luar." Jawab Ibu mertua.


"Ibu, jangan kemana-mana. Tunggulah istriku, aku keluar sebentar." Ucapnya sembari berdiri.


"Sayang, kau mau kemana?" Aku khawatir dia akan meninggalkan aku karena tidak sanggup melihatku kesakitan.


"Ke toilet sebentar." Pamitnya padaku, dalam hatiku berharap dia akan cepat kembali. Aku ingin di temani olehnya saat-saat merasa sakit sampai anak kami lahir.


Tak berselang lama dia kembali, dan rasa sakit di perutku semakin cepat jaraknya dan semakin sakit rasanya.


"Sayang..., anakku cepatlah keluar, kasihan Mama sudah sangat kesakitan." Melihatku yang menahan sakit dan selalu menarik nafas dalam-dalam. Dia mengusap-usap perutku, sedangkan tanganku meremas kencang bantal yang ku pakai.


"Nathan, sabarlah..., waktunya dia keluar pasti akan keluar, kau tidak bisa memaksanya sayang." Ucap Ibu yang melihat suamiku terlalu resah dan gelisah, hingga beberapa kali dia bolak-balik ke toilet.

__ADS_1


Waktu yang cepat terasa lambat sekali berjalan, karena aku merasakan sakit yang luar biasa. Hingga saat akhirnya aku merasakan dorongan yang kuat dari dalam perutku.


"Ibu..., anakku sudah ingin keluar. Tolong panggilkan dokternya." Dengan susah aku mengeluarkan suara.


"Iya, sayang." Dengan sigap suamiku yang mendengar langsung memanggil Dokter.


Dengan ditemani suami, Dokter dan dua orang perawat aku akan melakukan persalinan. Sedangkan Ibu mertua di suruh menunggu di luar.


"Nyonya, dalam hitungan ketiga mengejan lebih kuat ya..." Mengikuti saran Dokter, dalam hitungan ketiga Bu Dokter membalikkan tubuhku yang tadinya miring menjadi terlentang.


"Auww..." Jeritan suamiku terdengar sangat kuat bersamaan dengan dorongan kuat dari dalam perut ku. Mungkin suamiku merasakan kulit tangannya tertusuk kembali dengan kuku panjang ku karena dengan kekuatan penuh aku memegang tangannya.


"Oek...oek..." terdengar lirih tangis seorang bayi.


Rasa sakit tergantikan dengan kebahagiaan ketika ku dengar suara dari anakku. Aku bersyukur karena berhasil melahirkan dengan normal.


"Selamat Nyonya, putra anda lahir dengan sehat." Ucap Dokter sembari menidurkan bayiku sebentar di dadaku. Kebahagiaan ku bertambah saat tahu bayi yang ku lahirkan adalah seorang putera.


"Tuan, lihatlah...putera anda sangat tampan." Suamiku terduduk lemas, setelah menemani proses kelahiran putra kami.


"Sayang, kau sungguh kuat." Entah apa maksud suamiku berkata seperti itu pada putranya yang baru saja lahir. Bahkan membuka matanya saja masih sulit sudah di bilang kuat.


Setelah Bu Dokter memperlihatkan puteraku pada Ayahnya sebentar, dia langsung membawa anakku untuk mendapatkan perawatan lanjut.


Tidak berselang lama setelah aku di bersihkan oleh perawat, Ibu mertua ku masuk ke dalam.


"Nathan, kau kenapa?" Terkejut melihat putranya yang masih terlihat lemas dan memejamkan mata.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya lemah.


"Gimana kau ini? Istrimu yang melahirkan kau yang mau pingsan. Ayo, Ibu bantu berdiri..." Meski sedikit kesusahan Ibu berjongkok dan membantunya untuk berdiri dan duduk di kursi.


"Sayang, terimakasih sudah melahirkan seorang putra yang tampan seperti ku." Ucapnya setelah mencium keningku untuk kesekian kalinya. Saat ini aku sudah di pindahkan dari ruang bersalin ke ruang rawat.


Putra ku memang tampan seperti Ayahnya, aku berharap dia banyak mewarisi sisi positif dari Ayahnya bukan negatifnya.


"Mama..." Suara sisi datang berlari lalu memelukku.


"Apa Mama sudah baikan?"


"Iya, sudah sayang..., Sisi sudah melihat dedek baby-nya?"


"Sudah tapi hanya lewat kaca saja." Jawab putriku sedikit kecewa karena belum bisa melihat langsung adiknya.


"Tidak apa-apa sayang, dedek baby-nya masih butuh tempat yang hangat." Sahut suamiku.


"Ayah, kenapa adik Sisi tidak mirip dengan Ayah atau Mama?" Pertanyaan yang membuat aku dan suamiku saling pandang.


"Memang mirip dengan siapa?" Tanyaku langsung.


"Mirip dengan Om Doni." Jawab jujur seorang anak kecil.


"Apa!" Raut wajah suamiku sudah mulai berubah warna, seolah tidak terima anaknya di bilang mirip dengan saudaranya.


Aku menahan tawa melihat ekspresi wajah suamiku yang tiba-tiba cemberut. Gara-gara ucapan seorang anak kecil yang mencoba jujur justru malah membuat mood suamiku menjadi buruk.


"Sayang, tidak mungkin. Dedek nya sangat tampan seperti Ayahmu." Berusaha mencairkan suasana hati suami ku.


"Iya juga sih..."

__ADS_1


"Sayang, kau datang bersama siapa?" Tanyaku, baru sadar tidak ada siapapun yang mengikuti Sisi.


"Pak Ken, Oma sedang menyiapkan pesta untuk Mama saat pulang nanti."


"Oh ya! Kalau begitu, Sisi pulanglah bantuin Oma, tidak baik anak kecil lama-lama ada di rumah sakit." Sengaja aku menyuruhnya pulang cepat selain alasan itu, juga karena Ayahnya saat ini sedang tidak dalam keadaan baik hatinya.


Sisi bukanlah anak yang susah di atur, dia kan menurut dengan apa yang aku bilang. Setelah berpamitan kemudian dia pulang kembali bersama sekertaris Ken.


"Sayang, jangan di pikirkan ucapan Sisi, itu tidak benar."


"Tentu saja tidak benar, mana mungkin anakku mirip dengan orang lain!" Syukurlah jika dia benar-benar tidak memikirkannya, meski aku tahu dari sikapnya dia sangat kesal saat putriku mengatakan hal yang bisa melukai perasaannya. Aku pun senang karena suamiku tidak menunjukkan kemarahannya pada putriku.


.


.


.


"Terimakasih sayang, sudah menyiapkan semua ini." Sesampainya di rumah semua kerabat dekat suamiku berkumpul untuk menyambut kepulangan ku. Mereka terlihat sangat ingin berkenalan dengan ku dan tahu sosok istri dari seorang Nathan yang sebenarnya.


Satu persatu menjabat tanganku dan memberikan selamat padaku, karena telah melahirkan seorang pewaris dari keluarga Erlangga. Aku berharap mereka juga bisa menjalin kekeluargaan denganku tanpa ada rasa benci karena aku berasal dari keluarga yang tidak berada. Aku bahkan hanya seorang yatim piatu.


Bukan cuma kejutan ini yang di berikan suamiku, tapi dia juga sudah menyiapkan kejutan lainnya. Ibu mertua juga sudah menyiapkan banyak nasi kotak beserta amplop berisi uang yang akan di bagikan di sepanjang jalan untuk orang-orang yang kesulitan.


Ku dengar juga suamiku memberikan bonus tambahan untuk semua karyawan Cakradana group, sebagai ucapan syukur. Itu berlaku juga untuk karyawan Toko ku dan juga perusahaan yang di dirikan atas namaku.


Sebuah pesta penyambutan di gelar kembali saat baby Dean pulang dan sudah di nyatakan kuat untuk di rawat di rumah. Ya, Ayahnya memberikan nama yang mudah di ingat dan di ucapkan oleh semua orang, yaitu Dean Darwin Erlangga. Tetap harus menyandang nama belakang dari Ayah dan almarhum kakeknya.


Meski pesta ada pesta di dalam tetap saja tidak mengundang orang luar ataupun awak media. Bagi suamiku belum saatnya dunia luar tahu siapa istri dan anak-anaknya sebenarnya, biarlah masih menjadi teka-teki bagi mereka.


Bukan cuma itu, saudara yang hadir pun di larang berfoto atau mengambil gambar ku dan juga baby Dean. Benar-benar sebuah pesta yang ketat dengan aturan.


"Sayang, kenapa baby Dean berubah mirip dengan Doni?" Ucapnya sembari menggendong putranya.


Aku terdiam mendengar ucapan suamiku, yang sudah membenarkan perkataan Sisi tempo hari.


"Itu karena dulu kak Nathan sangat membenciku, makanya sekarang baby Dean mirip denganku." Ucap Doni yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami, entah sejak kapan?


"Doni..." Teriakku padanya melihat dia berlari setelah berucap seperti itu. Aku merasa kesal padanya karena ucapannya bisa membuat keruh suasana hati suamiku yang sedang bahagia.


Wajah seorang bayi acap kali suka berubah-ubah, belum di pastikan dia akan tumbuh mirip dengan siapa.


Sekarang hari-hari kami bertambah bahagia karena kehadiran baby Dean. Dengan kesibukan suamiku dia tetap menjadi seorang Ayah yang bertanggung jawab, dia ikut ambil bagian dalam mengurus baby Dean. Mengganti popok dan juga memandikan, dia termasuk laki-laki yang cepat tanggap saat belajar mengurus bayi.


Sisi yang dulu merasa khawatir takut tidak di perhatikan, sekarang tidak lagi. Dia sangat senang mempunyai seorang adik karena Ayahnya tidak membedakan kasih sayang antara dia dan adiknya.


Keceriaan keluarga kami bertambah saat baby Dean sudah mulai bisa tertawa, merangkak, berdiri dan mulai belajar bicara.


Sebuah pernikahan tidak semuanya bisa sekali seumur hidup. Pernikahan ke dua terjadi di hidupku, meski awalnya harus dengan keterpaksaan tapi berakhir dengan bahagia. Dalam kehidupan kita tidak pernah tahu takdir akan membawa kita kemana. Bukan cuma manis saja yang kita terima tapi pahitnya juga harus kita terima, mau tidak mau, suka tidak suka, semua harus kita lewati. Tetap percaya akan ada hari terang setelah gelap.


πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«TAMATπŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«πŸ’«


Author mengucapkan banyak sekali terimakasih buat pendukung novel Second Marriage πŸ™πŸ™πŸ™


Like dan komen plus hadiah kalian sangat berarti untukku, tanpa support dari kalian mungkin author tidak akan sampai di titik ini. Di sebuah karya pertama author yang masih berantakan dan sangat banyak kekurangannya. Jujur dari hati author sangat senang bisa menghibur kalian meski menguras waktu dan pikiran 😁


Dan untuk saat ini author harus semedi dulu untuk menambah ilmu, agar saat turun gunung author bisa memberikan yang lebih baik lagi☺️😊


Love you all😘😘😘

__ADS_1


See you di lain waktuπŸ₯Ί


__ADS_2