Second Marriage

Second Marriage
Bab 102 Putraku


__ADS_3

Hai, hai...jumpa lagi☺️, mudah-mudahan tetap sehat ya semua and tetap dukung karya ini🥰


"Kau?" Suamiku terkejut, begitu juga denganku dan juga Sisi. Melihat kedatangan Mas Arsya.


"Papa!" Seru sisi langsung berdiri dari duduknya.


"Sisi!" Mas Arsya yang tadinya fokus dengan anak yang sedang dalam pangkuanku, ikut terkejut dengan keberadaan putrinya. Kemudian langsung memeluknya erat dan menciumnya, nampak jelas kerinduan di dirinya karena lama tak bertemu.


"Sayang apa kabarmu? Papa sangat merindukanmu, sayang" masih dengan memeluknya.


"Sisi baik-baik aja, Papa" Sisi yang juga merindukan Papanya pun memeluknya erat.


Hati ini sedikit terenyuh melihat pemandangan yang mengharukan. Bukan inginku memisahkan anak dengan ayah kandungnya, tapi keadaan lah yang mengharuskan aku berbuat begitu.


"Mas Arsya, apa kau mencari anak ini?" Tanyaku memecah kerinduan yang baru tercipta.


"Astaga! Benar" Dia melepaskan pelukannya lalu beralih mengambil anak yang ada padaku.


"Apa kau benar-benar tidak becus menjaga seorang anak? Membiarkannya berkeliaran seorang diri di tempat seperti ini!" Suamiku bertambah kesal saja karena tahu ternyata orang tua yang lalai pada anak itu adalah Mas Arsya.


"Maafkan aku, terimakasih sudah menjaga putraku."


"Putraku!" Lirih, seingat ku Karla tidak mungkin bisa melahirkan lagi karena rahimnya sudah di angkat.


Mungkinkan dia menikah lagi?


"Ini Reymond, aku dan Karla mengadopsinya dari panti asuhan." Jelas Mas Arsya melihat ekspresi wajah ku yang bingung.


"Baguslah, dengan begitu kalian tidak akan mengganggu istriku lagi!" Suamiku merangkul pundak ku.


"Maafkan istri saya, Tuan."


"Maafkan sikap Karla, Jesi. Kau pasti mengerti akan posisinya waktu itu." lanjutnya juga meminta maaf padaku.


Aku hanya mengangguk tidak berniat berucap melihat suamiku yang diam saja.


"Sisi, ini Reymond. Dia putra angkat Papa, Papa harap kau bisa menerimanya sebagai saudara." Entah apa yang ada di pikiran Sisi, dia seperti memaksakan senyuman di bibirnya, mungkin dia teringat pernah di abaikan waktu dulu.


"Maafkan Papa, sayang. Jika dulu sempat mengabaikan mu, Papa janji tidak akan seperti dulu. Percayalah!" Menyadari ekspresi wajah putrinya yang kurang senang.


Aku pun berharap Mas Arsya tidak membedakan kasih sayangnya seperti dulu, mengingat Reymond hanya seorang anak angkat. Jangan sampai dia hanya sayang sesaat saja.


"Sayang, ayo kita pulang." Sumiku sudah memegang tangan putriku, hendak mengajaknya pulang.


"Tunggu, Tuan!" Mas Arsya tiba-tiba mencegahnya.


"Bolehkah saya mengajak putri saya pulang bersama kami." Melihat Mas Arsya memohon, membuat ku merasa kasihan jika sampai suamiku tidak mengizinkannya.


"Tidak!" Tolaknya tegas, aku sudah bisa menebak sih, pasti suamiku tidak mengizinkannya.


"Ayah, Sisi kangen sama Papa. Boleh ya Sisi ikut sebentar." Sisi pun ikut memohon padanya. Aku tahu perasaan Sisi, sebagai seorang anak dia pasti akan merindukan sosok Ayah kandungnya.


"Sayang, aku tidak tahu harus bilang apa dan bagaimana sama kamu? Tapi aku yakin kau mengerti dengan perasaan putri kita saat ini." Ku lingkarkan tanganku ke pinggangnya, memberikan rasa nyaman agar dia mengerti maksud dari perkataan ku.


Dia diam melihat wajah Sisi yang memelas padanya, membuatnya tidak bisa menolak permintaan putriku.

__ADS_1


"Baiklah sayang, tapi janji sama Ayah, kau harus tetap baik-baik saja. Jika ingin pulang cepat hubungi kami, Ayah akan menjemputmu." Meski sikap suamiku keras, tapi aku tahu dia tidak tega melihat Sisi bersedih.


"Iya, Ayah. Terimakasih" Sisi memeluknya untuk berpamitan, suamiku mengusap lembut pucuk kepala Sisi.


"Jaga Sisi baik-baik, jangan sampai dia terluka sedikit saja, atau dia merasa sedih karena mu." Ancam suamiku pada Mas Arsya.


"Tentu Tuan, Sisi adalah putri kandungku, tidak mungkin aku akan membiarkannya kenapa-kenapa." Ada benarnya yang di ucapkan Mas Arsya, dia tidak mungkin melakukan hal yang membuatnya menyesal seumur hidup.


"Terimakasih, sayang." Ku peluk hangat suamiku dari samping.


"Aku tidak seburuk yang kau pikirkan." Dia pun memelukku, lalu mengajakku berjalan untuk pulang.


Dulu sososknya memang terlihat dingin, keras dan tegas. Tapi ternyata hatinya tidak seperti itu. Banyak hal baik yang dia lakukan tanpa sepengetahuanku.


"Sayang, apa kau bahagia?" Tanyanya dalam perjalanan.


"Tentu, terimakasih ya, sudah mau menerima ku dan putriku apa adanya." Aku tersenyum, dia mengusap lembut pipiku.


"Aku rasa kita bisa menghabiskan waktu berdua. Kemana lagi kau ingin pergi?" Tanyanya sambil fokus menyetir sendiri, karena Ken sekretarisnya yang biasa menempel sekarang sengaja di tinggal.


"Nonton, makan, belanja, apalagi ya...?" Jiwa aslinya perempuan keluar sudah, mendapatkan tawaran langka dari sang suami langsung saja deh di borong keinginannya.


"Yakin kau sanggup?" Aku mengangguk pasti, mumpung bisa keluar.


"Aku tidak mau kau terlalu lelah, belum lagi nanti malam harus bekerja keras mencetak..." Dia menggodaku dengan menaik turunkan alisnya.


Mencetak! Di pikir bikin kue kali ya?


Aku tersenyum malu, seperti masih baru pertama kali bermain dengannya.


Akhirnya kami sampai di tempat pertama, yaitu di sebuah bioskop yang besar. Aku tahu meski dia memberikan sebuah penawaran yang menarik, tapi akan sulit untuk dilakukan.


Tidak hanya itu, sepanjang acaranya berjalan dia selalu saja memainkan rambutku terlihat. membuka dan menutup hody jaketku membuatku tidak konsentrasi saat menonton.


Entah apa maksudnya melakukan hal yang menarik perhatian orang saja, apalagi kami duduk di bangku barisan paling depan.


Aku merasa bukan lagi layar yang di tonton mereka melainkan tingkah konyol suamiku.


Setelah drama menonton selesai sekarang di lanjutkan dengan belanja. Dia mengajakku ke sebuah mall ternama dan terbesar dimana brand-brand ternama ada di dalamnya.


Dia meminta lima pramuniaga untuk bertugas mengikuti langkah kami berjalan dan tak lupa, masing-masing membawa troli dorong untuk belanjaan.


Aku benar-benar tidak merasa bebas saat harus memilih. Mbak-mbak yang mengikutiku justru membuatku merasa risih. Aku hanya jalan-jalan saja dan berputar tanpa ingin membeli.


"Sayang, sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa tidak ada satupun yang masuk di keranjang?" Dia terlihat lelah dan bingung.


"Tidak ada, hanya ingin melihat saja." Jawabku santai.


"Apa!" pekiknya.


"Lalu, barang yang kau pegang-pegang, apa tidak ada yang kau suka?" lanjutnya protes.


"Hehehe..." Gigiku terlihat bersamaan dengan ekspresi tak bersalah telah membuat orang lain kelelahan mengikuti langkahku.


"Ya sudah, kita pulang saja!" Ajaknya tegas.

__ADS_1


"Kalian semua, ambil barang yang tadi sempat di lihat dan di pegang istriku. Masukkan dalam keranjang!" Perintah tegas suamiku, kelima pramuniaga itu melongo bersamaan, aku pun ikut ternganga.


"Jangan ada yang tertinggal! Kalau salah, saya pecat kalian!" lagi-lagi mereka saling pandang dan bingung.


Mana mungkin mereka ingat, aku sendiri saja tidak ingat. Kasihan sekali kalau sampai di pecat.


"Sayang... tidak perlu, aku tidak membutuhkan semua itu. Aku cuma ingin cuci mata." Berusaha membatalkan perintahnya.


"Sudah, ayo kita makan. Ini sudah waktunya makan malam, barang akan sampai di rumah nanti." Kemudian dia menggenggam tanganku dan mengajakku keluar.


Asataga! Aku tidak bisa membayangkan akan sebanyak apa barang yang sampai di rumah nanti.


Kali ini aku yang harus menentukan makanan apa yang harus ku makan, aku tidak mau dia lagi yang memilih tempat dan juga makanannya.


"Stop, stop! Sayang." Ku memaksa dia memberhentikan laju mobilnya.


sriiiit...


"Membuatku kaget saja, ada apa? Katanya mau makan."


"Iya, mau makan di situ." Tunjukku di seberang jalan raya, ada warung tenda yang ramai pengunjung dan mereka duduk lesehan di tikar.


"Apa! Sayang, jangan bercanda!" melihat hanya sebuah warung tenda di pinggir jalan dan ada banyak pengamen yang datang silih berganti, membuatnya enggan untuk turun.


"Aku hanya ingin makan di situ, aku tidak ingin makan yang lain!"


"Sayang, bisa cari tempat yang lain dan punya menu yang sama, yang pasti tempatnya lebih nyaman."


"Tidak!" Ku manyunkan bibirku sebagai tanda merajuk.


Cup


selalu saja memberikan serangan dadakan saat aku sedang seperti itu, reflek tanganku langsung mengusap mulutku yang basah karenanya.


"Bisa-bisanya menggodaku di tempat seperti ini." Kemudian dia memutar setir mobil, menuju warung tenda. Dalam hati aku merasa puas.


Kau pikir, kau saja yang bisa selalu menang!


Kami duduk di antara ramainya orang yang tengah makan dengan bermacam-macam menu. Bau sambal yang khas sudah tercium aromanya, membuatku semakin bernafsu untuk makan.


"Mas, saya pesan mie goreng spesial yang level pedas ya..." Pintaku pada pemilik warung makan.


"Kenapa makan mie? kan banyak menu yang lain, ganti ganti...!"


"Sayang, sudah lama sekali aku tidak makan mie goreng seperti ini, sekali ini saja ya...please..." Ku buka masker dan penutup kepala, sembari memohon padanya dengan ekspresi sedih.


"Ck, jika melihatmu begitu, mana mungkin aku tega" Ucapnya sembari menarik pelan hidungku.


"Iya, ya, ya... makanlah sesukamu hari ini, tapi tidak untuk esok!" Dia tersenyum melihatku kembali senang dengan hidung yang sedikit berubah warna menjadi merah pastinya.


"Nah, ini baru suami yang pengertian!" Sembari tersenyum padanya.


"Hai..., kau apa kabar?" Tiba-tiba seseorang menyapaku lalu duduk dengan posisi di sebelah suamiku dan di depanku.


Dia berambut cepak dengan badan yang besar dan juga berkulit sedikit hitam. Aku terpaku dan bingung melihatnya yang mengenaliku.

__ADS_1


Bersambung 😊


Minta support nya ya teman2, agar saya mampu menyelesaikan karya ini dengan baik🙏


__ADS_2