
Kami terpaku mendengar pertanyaan Sisi yang baru saja keluar dari kamar, mungkin dia tadi mendengar nada suara ku yang sempat meninggi.
"Mama, Ayah! Apa yang kalian lakukan? Bertengkar...?" Tanyanya ulang.
"Tidak sayang..." Jawab suamiku lalu melingkarkan tangannya ke bahuku sembari mengusap-usapnya.
"Kalau mau bertengkar, silahkan keluar..."
Ya..., anakku sudah berani mengusir.
"Sayang, kau mengusir Ayah?" Tanya suamiku.
"Sisi hanya tidak mau melihat kalian bertengkar. Sisi nggak ingin kalian bercerai." Dia mengungkapkan isi hatinya.
"Tidak sayang, kami tidak akan bercerai!" ucapku untuk meyakinkannya agar tidak bersedih.
"Benar, besok kita akan pulang. Oma Sonya pasti akan sangat senang." Timpal suamiku.
Kenapa secepat itu?
Padahal aku masih ingin menikmati waktu dengannya di sini, tanpa di ganggu dengan banyaknya pekerjaan yang harus di tanganinya.
"Tapi, Mama masih ingin di sini, kan...?"
"Kalau Sisi besok ingin pulang kita akan pulang." Kali ini aku menurut padanya karena jika aku menolak lagi, dia pasti akan sedih lagian sang suami juga sudah ingin membawaku pulang.
"Yea..., asyik besok pulang," soraknya gembira, karena pada akhirnya dia akan kembali ke istananya dan berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh.
Kemudian aku menyiapkan air hangat untuk suamiku, agar dia mandi tidak kedinginan. Udara di kampung sangat jauh berbeda dengan kota. Di kampung akan terasa dingin bagi orang yang baru datang dari perkotaan.
"Suamiku, makanlah. Ini sup ikan, sangat baik untuk metabolisme tubuh." Aku sudah menyiapkan makan malam setelah suamiku selesai mandi, dan putriku juga suamiku sudah berkumpul. Kami makan di lantai yang beralaskan tikar.
"Apa kau yakin aku tidak akan sakit perut." Dia sempat meragukan masakan ku, sedikit sedih mendengarnya sih...
"Ayah, Mama itu sudah biasa masak. Jadi pasti enak." Pujian putriku membuatku tersenyum. Sisi yang awalnya juga tidak suka tapi akhirnya dia suka, karena rasa amis ikannya hilang dengan banyaknya rempah di dalam kuahnya.
"Cobalah..., tidak akan seburuk yang kau pikirkan!" Ku lihat dia masih memandangi sup nya saja.
"Aaa..., buka mulutmu." Geregetan, aku ambil sendok untuk memaksanya makan. Diapun mau membuka mulutnya.
"Bilang aja, Ayah minta di suapin." Ceplos Sisi melihat sikap Ayahnya.
Dia tersenyum malu mendengar sindiran langsung putriku sembari mengunyah makanan di mulutnya
"Gimana...?" Tanyaku penasaran.
"Hemmm, lumayan." Ekspresinya biasa banget, membuatku kecewa.
"Sedikit memuji istri juga tidak masalah, kan..." Gerutu ku meletakkan sendok di mangkuknya, lalu fokus dengan makanan ku sendiri.
Terserahlah, dia mau makan atau tidak.
Aku sudah berusaha semaksimal mungkin memasak lebih dari biasanya, berusaha seperti masakan Pak Didi. Tapi, jawabannya tidak memuaskan.
Setelah selesai makan, ku bereskan semua sisa makanan dan mencuci piring yang kotor.
"Istriku..." Suara suami memanggil.
"Hem..." Jawab ku singkat karena masih sibuk memindahkan piring ke tempatnya.
"Lama sekali, bagaimana denganku?" Tanyanya sedikit manja.
"Bagaimana apanya?"
"Kau lihat aku masih memakai pakaian yang sama. Apa kita bisa pergi cari baju ganti untukku?"
"Ups," Aku lupa, dia tidak ada ganti. "Mana ada di kampung ini toko pakaian malam-malam begini, adanya di pasar. Besok pagi. " Sambung ku.
__ADS_1
"Oh, ya ampun. Sayang..." Dia berjalan lalu memelukku dari belakang. Aku tersenyum geli melihatnya manja seperti ini.
"Baiklah, ayo ganti pakaian mu." Ajak ku untuk pergi ke kamar.
"Apa kau punya pakaian laki-laki di sini? Ha. Pu_punya siapa?" Dia bertanya sembari mengekor di belakangku. Lagi-lagi dia sudah negatif thinking terhadap ku.
"Istriku, jangan main-main denganku, ya!" Nada mengancam pun sudah keluar, aku tidak perduli dan sibuk mencari pakaian untuk bisa di pakai tidur olehnya.
"Ini, pakailah..." Setelah aku rasa hanya pakaian itu yang bisa ia kenakan, ku berikan padanya.
"Apa!" Dia tersentak kaget melihat pakaian yang ku berikan.
"Adanya itu yang bisa kau pakai." Ucapku sambil menahan tawa.
"Apa kau sengaja meledek ku? Aku di suruh pakai pakaian wanita gendut!" Ucapnya sembari merentangkan pakaian yang biasa di pakai emak-emak.
"Bukan wanita gendut sayang, itu daster milikku. Aku pakai kalau tidur malam." Terang ku padanya sembari tertawa.
"No, no, no!" Tolaknya langsung.
"Kalau tidak mau ya..., silahkan tidur di luar."
"Tapi..."
"No tapi, Titik." Hitung-hitung ngerjain suami yang suka narsis.
"Ck, baiklah..." Dia pasrah dengan kemauanku.
"Tapi, bantu aku melepaskan semua pakaianku dan bantu aku memakai daster mu ini." Sambungnya dengan senyum yang menggoda.
"Ha!" Wajahku yang sudah bersemu merah terasa sedikit panas karena otakku sudah terbang kemana-mana. Buru-buru aku hendak lari keluar, namun tangannya berhasil menangkap ku dan menarik ke pelukannya.
"Kau mau kemana? Kabur? Bukankah barusan suamimu ini minta tolong?"
"Emm, ak_aku mau melihat Sisi sebentar. Apa dia sudah tidur atau belum?" Alasan yang tepat menurutku.
"Sayang, aku hanya minta di lepasin baju, bukan yang lain."
"Apa kau menginginkan hal yang lain?" Tanyanya menggoda.
"Ah! Maksudnya?" Reflek tanganku pun terhenti.
"Membuat adik buat Sisi, misalnya?" Ucapnya pelan.
"Ad_adik?" Aku sedikit terkejut mendengarnya.
"Kenapa? Apa kau tidak mau melahirkan anak dariku?"
Deg
Kalau aku sampai jawab jujur, dia pasti akan sangat marah padaku. Bukan aku tidak mau hanya saja aku belum siap. Dari lubuk hati masih ada ketakutan tersendiri akan di campakkan.
"Bu_bukan begitu, a_aku hanya masih masa kering?"
"Masa kering, maksudnya?" Dia tidak mengerti dengan alasanku.
"Maksudnya, aku belum memasuki masa subur, jadi akan sedikit sulit untuk kemungkinan bisa cepat hamil."
"Tidak masalah, aku rasa benihku sangat unggul, pasti bisa!"
Maafkan aku yang belum bisa percaya sepenuhnya denganmu.
Melihat dia yang sangat antusias dan percaya diri, membuatku merasa bersalah. Tapi, aku juga tidak bisa mengalahkan rasa takutku saat ini.
"Iya, tidak masalah. Kita akan coba." Ucapku sembari tersenyum.
"Terimakasih, sayang." Di pelukannya erat tubuhku. Hangat, nyaman, tenang itu yang aku rasakan saat ini.
__ADS_1
Kemudian dengan lembut dia mengangkat tubuhku, di bawanya ke sebuah ranjang yang tidak terlalu besar dan empuk seperti ranjang di rumahnya.
Baru saja kami melakukan pemanasan, tiba-tiba mendengar teriakkan Sisi yang sangat kencan.
"Mama..., Ayah..."
Kami berdua sama-sama terkejut. Cepat-cepat bangun dari tempat tidur, untuk melihat keadaannya. Aku berlari sembari mengancingkan baju yang sudah sempat terbuka.
"Sayang, ada apa?" Tanyaku khawatir bersamaan dengan suamiku setelah ada di dalam kamarnya.
"Ada tikus masuk ke sini, Mah." Jawabnya yang tengah naik kursi.
"Apa! Tikus?" Suamiku terkejut dan bergidik ngeri.
"Di mana tikusnya?" Tanyaku sembari menghampirinya di kursi.
"Itu, masuk ke bawah tempat tidur." Jawabnya.
"Oh, ini sebab tikusnya masuk. Kau bawa cemilan dan makan di dalam kamar sih. Mama kan sudah bilang, tidak boleh makan di kamar sayang."
"Kita panggil pemadam kebakaran saja." Ucap suamiku.
Kau pikir ini di kota, perkara tikus saja mau manggil tim pemadam.
"Tidak perlu sayang..." Aku tersenyum mendengar idenya.
"Terus gimana?"
"Sayang, tolong ambil sapu di belakang untuk mengusir tikusnya."
"Hah! Tapi, aku..." Dia justru terlihat makin terkejut saat aku menyuruhnya untuk mengusir tikus.
"Mah, kelihatannya Ayah takut juga sama tikus deh. Kasihan Ayah."
Semua orang tidak dia takuti tapi dia takut dengan tikus, aku benar-benar tidak menyangka. Galaknya sudah seperti singa ko takutnya cuma sama tikus.
Aku tersenyum mendengar ucapan Sisi dan seketika itu juga aku melihat raut wajah suamiku, memang sedikit pucat.
"Ayah, Mama..., Sisi tidur bersama kalian ya?"
Aku dan suamiku saling pandang, mata kami seolah saling berbicara dan bertanya. Terlihat raut wajahnya berubah jadi lesu.
"Gagal sudah" Lirihnya menggerutu namunasih ku dengar.
Akhirnya Sisi ikut tidur bersama kami, di ranjang yang tidak begitu besar Sisi menempati posisi di tengah antara aku dan Ayah tirinya.
Aku bisa merasakan kalau suamiku sedang gelisah dan susah tidur, mungkin dia merasa kesempitan dengan tempatnya.
"Suamiku, tidurlah ini sudah larut. Sisi juga sudah tidur." Ucapku sembari sudah mengantuk.
"Ck, kau bisa tidur nyenyak. Sedangkan aku sedang menahan sesuatu." Aku masih mendengar ucapannya namun aku diam saja, kalau sampai aku bicara, buntutnya akan panjang.
"Istriku, apa kau mendengar ku? Kenapa kau diam saja?" Tanyanya karena aku hanya diam saja dan berpura-pura sudah tidur.
"Ck, sudah tidur rupanya," Aku masih mendengar mulutnya yang mengecap sebagai protes tidak terima.
.
.
Bangun di pagi ini, aku merasakan tubuhku rasanya kurang enak badan. Saat aku bangun dan hendak berjalan, aku merasakan penglihatan ku seperti berkunang-kunang dan berputar. Kepalaku pusing dan perutku terasa nyeri.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Suamiku yang melihat langsung bangun dari tidurnya dan dengan cepat dia memegang tubuhku yang hampir terhuyung.
.
.
__ADS_1
Bersambung 😊
Author mengucapkan selamat hari raya idul Adha bagi yang menjalankannya 🙏