Second Marriage

Second Marriage
Bab 104 Menjauhlah dariku


__ADS_3

Haikal terkejut melihat siapa suamiku yang sebenarnya. Dia menunduk hormat dan meminta maaf pada suamiku karena telah lancang bergurau dan berbincang akrab dengan ku tanpa memperdulikan kehadirannya.


Setelah melihat suamiku menunjukkan jati diri pada Haikal, aku jadi merasa tidak enak. Haikal pun jadi sangat sungkan padaku. Kemudian aku mengajak suamiku untuk pulang, tidak ku biarkan dia untuk duduk lama dengan Haikal karena dia pasti akan menjadikan Haikal seperti seorang tersangka.


Dalam perjalanan pulang, kami hanya saling diam. Ingin sekali mulutku terbuka, tapi rasanya seperti terkunci rapat. Melihatnya yang marah dalam diam justru membuatku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan. Menjelaskan rasanya pun percuma, karena dia tidak tahu masa kecilku seperti apa. Yang dia tahu masa sekarang aku sudah menjadi miliknya dan hanya miliknya, dan sepertinya dia juga tidak akan mudah terima jika masa kecilku dekat dengan banyak pria.


Sesampainya di rumah dia masih saja setia dengan diamnya. Di sapanya sesaat seorang wanita yang sudah melahirkannya tengah duduk di ruang tamu, memandangi banyaknya barang yang ada.


Tentunya barang itu adalah barang dari mall yang sudah tiba di rumah, sedikit membuatku syok. Menghela nafas panjang melihat barang yang ada di depan mata. Semua barang yang aku pegang dari tas, pakaian, sepatu dengan berbagai model dan merk dan barang-barang kecil yang aku pikir tidak berguna sekarang ada di rumah.


"Malam Ibu" Sapanya sembari berjalan menunju lantai atas.


"Nathan, tunggu!" Ibu heran melihatnya yang nampak tidak cemberut, padahal baru pulang dari bersenang-senang.


"Eh, kenapa dia?" Putranya tidak menghiraukan panggilannya.


"Malam Bu," Aku duduk di samping Ibu.


"Jesi, di mana Sisi? Bukankah tadi ikut bersama kalian?" Ibu mertua terlihat celingukan mencari keberadaan putriku.


"Iya Bu, tadi di taman kami bertemu dengan Papanya Sisi, lalu dia meminta izin untuk membawa Sisi pulang bersamanya dan kebetulan Sisi juga merasa rindu pada Papanya, jadi dia mau ikut pulang bersamanya."


"Oh, jadi itu yang membuat Nathan cemberut. Apa dia marah?"


"Tidak, Bu. Bukan marah karena itu."


"Lalu?" Ibu antusias ingin tahu sebab kemarahan putranya.


"Tidak sengaja aku tadi bertemu dengan teman masa kecil di sebuah tempat makan, karena aku terlalu asyik ngobrol jadi dia sedikit terabaikan." Ibu tergelak mendengar ceritaku.


"Oh ya ampun, hanya karena itu. Ibu yakin dia pasti sangat kesal sekali." Ucap Ibu mertua sembari terkekeh.


"Yang sabar aja, sudah lama dia tidak merasakan seperti itu. Jadi kau yang harus lebih mengalah." Pesan Ibu


Aku memang selalu mengalah, Ibu.


"Lalu, bagaimana dengan barang-barang ini?" Mata Ibu menunjuk berbagai barang yang ada dalam paper bagnya masing-masing.


"Hem, aku juga tidak tahu Ibu. Dia yang menyuruh pegawai di sana untuk membungkus semua barang yang aku pegang." Ibu kembali terkekeh. Aku sendiri bingung dengan banyaknya barang yang ada.


"Ya sudah, cepat naik sana. Nathan pasti menunggumu."


Kemudian aku naik ke atas setelah sedikit berbincang dengan Ibu mertua. Sesampainya di dalam kamar mataku melebar di barengi dengan air ludah yang tertelan tiba-tiba. Melihat wajah tampan dan dada yang sedikit basah karena tetesan air rambut yang belum kering sehabis mandi.


Glek


Aku mematung di depan pintu setelah menutup rapat pintu kamar. Aku terpesona melihat sempurna bentuk tubuhnya, meski sudah seringkali ku lihat.

__ADS_1


"Kenapa diam di situ?" Pertanyaannya menyadarkan lamunanku.


"Em, ak_aku..." gugup menghadapinya yang sudah mulai mau mengeluarkan suaranya setelah lama tadi terdiam.


"Cepat bersihkanlah dirimu! Air hangat sudah aku siapkan." Ucapnya sembari mengeringkan rambut.


"Iya, terimakasih." Aku tersenyum sembari berlalu ke kamar mandi.


Bukannya dia sedang marah, kenapa sikapnya malah baik?


"Sayang..." Aku sudah ikut berbaring di sampingnya saat ini.


"Hem!"Jawabnya dengan mata tertutup.


"Maaf" Satu kata awal yang harus terucap mewakili kesalahanku karena telah mengabaikannya tadi.


"Hem!"


Bisa tidak sih? Jawab dengan iya atau apa gitu...?


"Tadi itu, dia itu, teman masa kecilku." Belibet sendiri karena takut dia akan semakin marah jika tahu masa kecilku yang sebenarnya.


"Aku tidak mau tahu siapa dia, tidak penting bagiku!" Kali ini matanya terbuka dan menatapku.


Aku bergeming menatap manik matanya yang tajam.


"Iya, baiklah." Tidak ada bantahan lagi, aku lalu menutup mata.


"Mulai besok jangan keluar rumah, jika butuh sesuatu telepon saja. Nanti Ken akan membantumu." Mataku melebar lagi saat mendengar ultimatum yang baru saja keluar dari mulutnya.


Sampai kapan...?


"Tidak ada batas waktu penentuan kau harus berada di rumah, jadi jangan pernah tanya atau mencoba merayu untuk keluar kecuali bersamaku. Mengerti!"


Akhirnya pasti akan seperti ini, menyuruhku berdiam diri di rumah dengan segala aturannya.


"Sayang..., Toko bagaimana?" Mungkin dengan bertanya tentang Toko dia akan berubah pikiran, setidaknya membiarkan aku keluar dua atau tiga hari sekali.


"Baik-baik saja, untuk sekarang tidak perlu memikirkan Toko. Semua berjalan dengan semestinya."


"Em..."


"Tidurlah, jangan banyak tanya lagi! Besok aku harus ke kantor pagi, ada meeting bulanan." Tangannya mengusap lembut kepalaku.


.


.

__ADS_1


Selama aku tidak boleh keluar rumah, dia selalu rutin menelpon dan video call hanya untuk tanya aku sedang apa? Vitamin minum atau tidak? Semua makanan yang masuk ke tubuh harus selektif agar aku rahimku cepat pulih pasca menggunakan obat penunda kehamilan.


Saat aku sedang tertidur pulas, tiba-tiba saja terbangun. Merasakan ada yang salah dalam tubuhku. Ku lihat suamiku tidur dengan nyenyak, ingin membangunkannya jadi tidak tega.


Aku merasa lidahku pahit, perutku pun rasanya mual. Ku lihat jam di ponsel, waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi.


Mungkin aku salah makan kali?


Aku berbaring lagi dan memeluk suamiku, ingin rasanya membenamkan wajahku di bawah ketiaknya. Tapi, saat aku sudah menempel padanya, rasa mual di perutku semakin jadi. Dan aku benar-benar tidak tahan untuk tidak ke kamar mandi.


Kemudian dengan cepat aku beringsut dari ranjang dengan cepat lalu berlari ke kamar mandi, sembari menahan sesuatu yang ingin keluar dari perutku.


"Sayang, kau kenapa?" Suamiku terbangun dengan gerakan ku yang kasar. Aku sudah tidak tahan hingga ku hiraukan pertanyaannya.


Sesampainya di kamar mandi, aku langsung memuntahkan isi perutku ke dalam wastafel.


Mendengar aku muntah-muntah, dia langsung menghampiri ku dan memijat tengkuk leher. Namun saat dia mendekat aku justru semakin mual.


"Sayang, kau sakit?" Suaranya terdengar khawatir. Aku tidak mampu menjawab karena sibuk mengeluarkan isi perut hingga habis dan membuatku lemas. Aku sudah mengusirnya lewat gerakan tanganku agar dia menjauh, tapi tetap saja dia tidak mengerti.


"Sayang, menjauhlah dariku." Ucapku lemah sembari mengibaskan tanganku.


"Apa maksudmu?" Dia terkejut tidak mengerti.


"Berdirilah agak jauh dariku, aku tidak suka mencium aroma tubuhmu."


"Apa!" Pekiknya.


"Iya, aku benar-benar mual saat kau mendekatiku."


"Sayang, jangan bercanda!" Dia kembali mendekat, aku pun kembali mual dan muntah lagi.


"Kenapa kau ini? Tunggu sebentar aku ambilkan minum dulu." Dia berbalik dan keluar dari kamar mandi.


Aku merasa lega kembali, karena aroma tubuhnya sudah tidak tercium.


"Aku kenapa? Seingatku tadi aku makan biasa saja. Apa mungkin akau hamil?" Aku mengingat kembali makanan yang aku makan seharian tadi dan sepertinya tidak ada yang salah.


"Mungkinkah secepat ini aku hamil? Tapi kenapa rasanya tidak enak sekali?"


Jika aku benar hamil, kenapa rasanya berbeda sewaktu aku mengandung Sisi. Aku tidak pernah merasakan mual dan juga selemah ini.


.


.


Bersambung ☺️

__ADS_1


Dikit dulu ya say...


__ADS_2