Second Marriage

Second Marriage
Bab 103 Berandalan kecil


__ADS_3

Seorang laki-laki tengah duduk berdampingan dengan suamiku, dia tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Apa masih belum ingat, siapa aku?" Dia menunjukkan gaya keren dengan dua jari di bawah dagunya. Aku menatapnya intens sembari memutar otak untuk mengingat siapa laki-laki yang sok keren ini.


Namun ternyata otakku tidak mampu untuk mengingatnya sama sekali. Dia bahkan sempat berdiri dengan mengangkat dua tangan membentuk hati sembari memiringkan tubuhnya.


Aku jadi ingin tertawa melihat tingkah lakunya yang berani tanpa malu.


"Tertawa lah, tidak perlu di tahan selagi tertawa belum di larang." Dia melihat kedua pipiku yang mengembung menahan tawa.


"Dasar sinting!" Umpat suamiku sembari memalingkan wajahnya.


"Ayolah, masak tidak ingat denganku?" Dia seperti tidak perduli dengan seorang pria yang sudah menahan amarah di sampingnya.


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak ingat!" Jawabku jujur.


"Apa aku perlu mengingatkan kejadian waktu dulu agar kau ingat?" Dia benar-benar seperti sudah mengenal lama diriku.


"Iya, aku rasa itu perlu."


"Apa kau yakin?" Aku mengangguk pasti, mungkin dengan begitu aku bisa mengingat siapa dia?


"Terimakasih, Mas" Pesanan mie pedas pun sudah jadi.


"Ternyata kau masih sama seperti dulu, menyukai mie goreng pedas." Dia melihat sepiring mie lengkap dengan topingnya dan juga berwarna kemerahan.


Siapa dia, kenapa dia seperti sangat mengenalku?


Aku hanya tersenyum dan tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan, melihat suamiku yang diam dengan mata tajam di balik kacamata hitamnya. Aku yakin dia sedang berusaha keras untuk tidak meledakkan amarahnya di tempat ini.


"Baiklah aku akan bantu kau untuk mengingatnya." Ucapnya lalu menarik nafas dalam seperti sedang menetralkan debaran jantungnya.


"Kau ingat waktu masih sekolah dasar kau pernah di jahili oleh teman laki-laki yang menggunakan sepeda, mereka menakuti mu dengan cara berpura-pura akan menabrak mu mengunakan sepeda, sampai kau lari terbirit-birit dengan memegangi rok mu yang kebesaran." Mendengar ceritanya sampai di sini, perlahan aku mulai mengingatnya.


"Kemudian karena kau berlari dengan ceroboh hingga kau terjatuh ke dalam parit yang banyak airnya, lalu kau berdiri dan menyumpahi mereka yang menaiki sepeda, namun kau tidak sadar kalau rok mu sudah melorot ke bawah dan mereka tambah tertawa melihat ****** ***** mu warna putih menjadi coklat karena lumpur." Lanjutnya dengan menahan tawa, dan cerita gamblangnya membuat otak ku langsung memutar kenangan yang memalukan itu.


Brak...


Tanpa sadar satu tanganku menggebrak meja di depanku, membuat orang-orang yang sedang fokus makan jadi beralih menatapku.

__ADS_1


"Kau! Jadi kau..." reflek pun aku pukul-pukul tangannya, sembari tertawa malu mengingat kejadian waktu kecil. Aku lupa kalau sedang di tengah orang banyak.


"Iya, aku Haikal. Pria yang jadi super Hero saat mereka menertawakan mu."


"Dasar kau ya pemimpin berandalan kecil!" umpat ku, melirik ke kana ke kiri melihat banyak orang sedang memandang ke arah kami.


Haikal Pratama, dia adalah teman masa kecil dulu. Dia memang punya hobi menjahili teman-teman perempuan, tapi aku tidak pernah takut dengannya dan dia selalu gagal saat akan mengerjai ku. Sampai pada saat itu dia benar-benar berhasil membuatku malu dan mengeluarkan sumpah serapahku. Tapi dia juga yang sudah menolongku dengan rela dia lompat ke parit lalu memberikan bajunya untuk menutupi bagian bawahku.


Astaga, benar-benar kejadian memalukan. Sejak saat itu aku selalu menghindar dari mereka, aku bilang tidak ingin melihatnya lagi. Dan benar saja, aku tidak bertemu dengannya lagi karena dia di bawa pindah dengan orang tuanya.


Tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi setelah puluhan tahun dan sudah tumbuh dewasa.


"Ternyata kita berjodoh, dan bertemu tidak di sengaja." Ucapnya sembari terkekeh mengingat masa kecil.


Selalu saja ada kejutan yang di berikan oleh kehidupan, hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya bisa terjadi begitu saja.


"Bagaimana kabarmu? Kau tampak lebih lembut sekarang tidak seperti dulu, kau benar-benar menjelma seperti ratu sekarang."


"Aku baik, dan kau sendiri bagaimana sekarang?"


"Yah, beginilah, sumpah mu itu benar-benar berlaku untukku. Aku mengikuti jejak Ayahku menjadi anggota Polri."


"Hem, aku selalu gagal saat menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang menurutku menarik."


"Kenapa begitu?" Tanyaku penasaran, dengan kata wanita-wanita, itu berarti dia sering berganti pasangan. Tapi masak iya sih, melihat perawakannya sekarang, aku rasa wanita akan berpikir ulang untuk meninggalkannya. Apalagi statusnya yang sudah tetap sebagai pengabdi negara.


"Entahlah, hatiku seperti sulit bergetar. Seperti dulu saat aku berhadapan langsung dekat denganmu."


"Hah!" Apa yang ada di otaknya dulu? Waktu itu kan masih kecil.


"Tidak perlu terkejut, aku sudah berusaha untuk menemui mu lagi, tapi kau selalu menolak padahal aku ingin berpamitan padamu dan berjanji akan mengunjungimu."


Glek


Aku menelan kasar ludahku mendengar tutur katanya, tidak menyangka preman kecil mempunyai hati padaku.


"Haikal, mana mungkin aku berpikir jauh seperti itu, ada-ada saja kau ini." Ucapku sembari memakan mie yang sudah menjadi dingin.


"Dan kau sekarang, apa kau sudah bersuami?" Pertanyaan yang pasti akan ku dengar selanjutnya.

__ADS_1


"Iyalah, aku juga sudah punya seorang putri!"


Ngomong-ngomong soal suami, aku jadi ingat kalau suamiku sudah tidak ada bersama ku.


Gawat! Dia pasti akan marah padaku.


Ku hentikan kunyahan mulutku dan meletakkan sumpit di atas piring, mataku melihat ke berbagai arah, mencari keberadaan suamiku.


Karena terlalu asyik bertemu dan berbincang dengan teman masa kecil hingga aku tidak menyadari kepergiannya. Tapi ku lihat mobil masih ada di tempatnya, belum berpindah sama sekali.


"Kenapa, apa yang kau cari?" Tanyanya mengekor penglihatan ku.


"Pria yang tadi di sini?"


"Iya, kemana dia?" Mataku masih melebar mencari keberadaannya.


"Siapa dia? Apa dia suami mu?" Haikal menyadari kekhawatiran ku.


"Iya, dia adalah suamiku!" Tidak mungkin aku bilang kalau dia adalah suami keduaku, bisa-bisa dia akan mengejek dan menertawakan aku. Mengingat sikapnya masa kecil jangan sampai dia tahu aib ku.


"Huf, ternyata bungaku pupus sebelum berkembang." Dia tertawa kecil.


"Haikal, Haikal..." Aku pun tersenyum sembari menggeleng.


Ingin rasanya aku meninggalkan Haikal, namun tidak enak hati. Aku kepikiran tentang suamiku yang pasti sedang marah saat ini melihatku yang melupakan keberadaannya.


"Oh ya, di mana kau tinggal? Siapa tahu nanti aku bisa main-main kalau ada waktu." Pertanyaan Haikal tidak mungkin aku jawab dengan benar, bisa habis aku kalau sampai dia datang ke rumah.


"Eh, malah bengong! Dimana? Tidak mungkin kan kau tidak punya rumah?" Melihat caraku berpakaian Haikal pasti tahu, aku bukanlah istri dari orang sembarangan.


"Rumahku ya..., itu di daerah...mana ya, kenapa aku jadi lupa?" Ucapku yang bingung harus jawab apa, tanpa sadar pun jemariku menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal. Semua itu membuat jelas kalau aku sedang berbohong.


"Hehehe, mencoba berbohong." Dia tahu pasti gesture tubuhku mencoba menyembunyikan sesuatu.


"Sudah selesai? Ini sudah malam!" Suara dingin suamiku tiba-tiba sudah muncul di belakang telingaku dengan tangannya menepuk bahuku.


Terimakasih, sudah muncul di waktu yang tepat.


Bersambung😊

__ADS_1


Sabar ya guys, sebentar lagi end. Tetap kasih semangatnya ya☺️


__ADS_2