Second Marriage

Second Marriage
Bab 90 Acara festival


__ADS_3

Meski masih ada sedikit keraguan dalam hatiku, tapi aku tidak mau berbohong. Aku bahagia sangat bahagia, membuatku ingin cepat bertemu dan memeluknya. Ratusan terimakasih pun rasanya tidak cukup untuk di ungkapkan.


Mengingat semua perlakuannya padaku, sepertinya hal yang sulit di percaya dia bisa jatuh cinta padaku. Akhirnya keputusan untuk menjauh darinya adalah hal yang tepat, meski awalnya merupakan seperti kekalahan tapi pada akhirnya membuatku menang bahagia.


Dan mungkin inilah yang di namakan pelangi setelah hujan. Mendung di musim panas yang berakhir dengan hujan. Harapan untuk kembali bahagia terwujud nyata.


Ini yang ku rasakan sekarang, setelah perjuangan panjang yang aku lewati pada akhirnya aku pergi untuk kembali dan menetap pada hati yang tertinggal.


"Mah, kapan kita akan pulang? Apa Mama masih betah tinggal di sini." Tanya Sisi seraya mengucek matanya.


Pagi-pagi baru bangun tidur Sisi sudah menanyakan kapan kembali ke rumah, maklumlah kami sudah lumayan lama berada di kampung ini kalau hanya untuk sekedar berlibur. Mungkin aku egois harus membawanya pergi ke sebuah tempat yang sulit bagi putriku beradaptasi. Dia yang terbiasa tinggal di kota dengan semua fasilitas yang ada, harus tinggal dengan keadaan yang apa adanya.


Sebenarnya aku pun ingin cepat pulang, tapi aku cukup malu untuk pulang sendiri, takut sampai di rumah dia berubah pikiran tidak menerimaku dan menyalahkan aku. Karena telah pergi dari rumahnya dan menghilang tanpa jejak, hingga saat ini dia tidak menemukan aku.


"Sayang, sabar ya...,mungkin sebentar lagi kita akan pulang." Jawabku sembari mengaduk segelas susu untuknya.


Sebentar lagi, entah apa yang aku tunggu? Mungkin aku berharap dia datang dan menjemput ku pulang.


"Aku sudah rindu Ayah dan Oma, juga teman-teman di sekolah."


"Iya sayang, Mama mengerti."


Maafkan Mama membawamu dalam keadaan yang sulit.


Aku merasa bersalah pada putriku yang masih polos, harus ikut dalam permainan hidupku yang tidak mudah. Selama dia tinggal di sini, baru sekarang dia merengek minta pulang. Mungkin memang sudah sangat jenuh, tidak ada hal yang begitu menarik yang bisa dia lakukan. Belum lagi kemarin dia melihat sosok seorang ayah yang telah memanjakannya.


"Minumlah susumu, setelah itu mandi. Mama akan siapkan air hangat, cuaca pagi ini lebih dingin dari biasanya." Ku berikan segelas susu lalu ku tinggalkan dia untuk merebus air.


Senyum selalu mengembang di bibirku kalau ku ingat dia yang menyatakan cintanya lewat stasiun televisi. Hampir tak percaya seorang Tuan Nathan bisa seperti itu.


"Mah..., ada tamu," Ucap Sisi yang menyusul ke dapur.


"Siapa sayang...?" tanyaku heran, pagi-pagi kok sudah ada tamu.


"Itu, Om Parman..." Jawabnya


"Parman? ada apa pagi-pagi datang" Parman adalah anak buah dari juragan Wira yang menagih hutang pada Bu Nur.


"Kau mandilah, airnya sudah siap. Mama ke depan."


Ku langkahkan kaki cepat dengan penuh penasaran, karena Parman tidak biasanya datang sendirian. Biasanya dia dan juragan Wira hanya datang untuk menyapa sehabis menagih hutang.


"Parman ada apa? tumben..."


"Begini neng, permata."


"Hadeeh, kenapa kau jadi ikut-ikutan panggil permata sih? Saya kan sudah bilang, panggil saya Jesi, nama saya Jesika, Parman..." Cukup satu orang saja yang tambeng, ini malah anak buahnya jadi ikut-ikutan.


"Hehehehe...."


"Ketawa, ada apa?"


Si Parman yg berperawakan besar dan selalu terlihat galak dengan orang-orang kampung sini, tapi saat berhadapan denganku hanya senyum-senyum dan salah tingkah.

__ADS_1


"Ini Neng per_, eh, Non_" Ucapnya gugup.


"Jesi, panggil saja Je-Si." Ku ajarkan sekalian abjadnya, merasa geram di buatnya pagi-pagi.


"Baiklah Mbak Jesi, ini Lo saya di suruh mengantarkan undangan, Juragan Wira ingin datang bersama, Mbak Jesi." Ucapnya sembari memberikan selembar kertas.


"Undangan apa?" Aku malah balik bertanya sembari menerima undangannya.


"Ada festival tahunan di kampung ini." Jawab Parman.


Memberikan sebuah undangan dan menginginkan aku untuk datang bersama juragan Wira. Ah, yang benar saja, aku pasti tidak akan mau, apalagi Sisi. Dia pasti akan langsung menolaknya.


Aku hanya bilang pada Parman kalau aku bersedia datang tapi tidak datang bersama, aku akan berangkat bersama putriku saja. Dan kalau juragan Wira masih bersikeras ingin datang bersamaku, aku lebih baik tidak datang.


Mau tidak mau Parman harus menerima kata sepakat dariku. Aku wanita bersuami meski hanya istri kontrak dan kami sedang tidak baik-baik saja, aku bukan wanita yang mudah jalan dengan pria lain. Apalagi pria itu baru aku kenal.


.


.


Sebuah festival rakyat yang di adakan setahun sekali di desa nelayan ini, beruntung aku bisa menyaksikannya.


Banyak acara yang di adakan di festival tersebut, ada acara lomba menerbangkan layang-layang, ada juga bakar ikan bersama dan juga mereka melakukan ucapan syukur dengan memberikan sesaji yang di letakkan di sebuah tempat yang seperti nampan besar lalu di biarkan mengalir bersama gelombang laut.


Sampailah aku bersama putriku di pinggir pantai, di mana acara itu di gelar. Melihat layang-layang yang sudah terbang tinggi dengan bermacam-macam bentuk, sungguh sangat indah sekali.


Ramai, ramai sekali acaranya hari ini. Banyak sekali orang berdatangan, bukan hanya dari desa setempat melainkan orang-orang yang sepertinya dari kota juga datang untuk menyaksikan festival ini.


Bahkan sepertinya ada juga orang yang datang dari luar daerah ini, para pelancong yang sengaja datang di hari ini.


"Iya Mah, sayang sekali"


Sedikit terlambat sih, jadi kami tidak bisa menyaksikan keseruan saat layang-layang itu mulai di terbangkan. Tapi tidak mengurangi rasa bahagia saat melihat keindahan semua layang-layang di atas laut.


"Neng Per_, eh non. Yah salah lagi, maksud saya Mbak jesi..." Parman tiba-tiba menghampiri dengan tergesa-gesa.


"Ada apa Parman? Saya sudah datang kan, jadi kau tidak perlu takut kena marah oleh juragan mu itu."


"Itu, juragan Wira memberikan tempat duduk di depan sana. Katanya supaya enak nontonnya." Ucapnya sembari tersenyum dan menunjuk ke arah sebuah tenda.


Sebuah tenda yang di persiapkan untuk para tamu undangan khusus yang datang dari luar kota atau daerah. Terlihat sepertinya orang-orang prenting yang duduk di sana, dari cara mereka berpakaian dan berdandan.


"Tidak perlu Parman, kami dari sini saja. Lagian di sini juga kelihatan jelas kok." Tolakku halus.


"Tapi di sini sangat panas, Mbak. Kasihan nona kecil ini."


"Mah, Sisi gak mau ya..." Sambung Sisi langsung.


"Tuh kan, anak saya juga tidak mau. Kau tidak perlu khawatir kami juga memakai topi jadi tidak takut kepanasan. Bilang saja sama juragan Wira kalau kami akan ke sana nanti." Meski aku sudah menolak halus, aku juga harus memberikan alasan yang tepat.


Cuaca yang panas memang sangat mendukung untuk menerbangkan layang-layang. Membuat tenggorokan pun cepat terasa kering.


Aku dan putriku berjalan-jalan melihat ada permainan apa saja selain layang-layang sekaligus mencicipi jajanan yang ada di sana.

__ADS_1


"Mah, lihatlah di situ sangat ramai sekali anak berkerumun. Ada apa ya Ma? Sisi penasaran." Sisi menunjuk ke sebuah kerumunan anak-anak yang entah mereka sedang apa.


"Mah, Sisi ke sana ya, pengen lihat juga." Ucapnya lalu berlari arah kerumunan itu.


"Sayang hati-hati..." teriak ku yang masih mengantri membeli minuman es tradisional.


"Ck, anak itu bikin khawatir saja." Gerutu ku lirih.


"Maaf, Bu. Saya minta duluan ya, anak saya sudah lari." Pintaku, merasa cemas melihat Sisi yang pergi sendirian.


"Eh, nak Jesi..." Sapa Bu Nur.


"Hai Bu Nur, mau beli es juga?" Sapaku balik sekaligus bertanya, melihat sepertinya dia ikut mengantri.


"Iya, nak. Oh iya, ngomong-ngomong lihat acara siaran langsung kemarin gak, nak Jesi?"


Sedikit terkejut aku mendengar Bu Nur menanyakan acara live suamiku.


"Oh, lihat Bu Nur."


"Dia itu udah tampan, kaya raya dan sangat baik lagi." Bu Nur begitu memuji suamiku.


"Hehehe, iya Bu." Aku mengiyakan saja tiap pujiannya.


Tampan, kaya raya, emang benar sih. Tapi kalau baik masih di ragukan.


"Udah gitu romantis pula, dia bilang sangat mencintai istrinya. Saya jadi penasaran dengan wajah istrinya itu, secantik apa dia?"


Hah, sebaiknya tidak perlu tahu, aku tidak secantik yang dia bayangkan.


"Oh iya satu lagi, saya ingat nama istrinya itu sama kaya nama nak Jesi, Lo..."


"Hah!" Aku tidak ingat kalau dia sempat menyebutkan namaku.


"Iya benar," ucap Ibu Nur yang melihatku terkejut seperti tak percaya.


"Hanya nama saja Bu Nur, kan banyak nama yang sama." Aku tersenyum simpul.


Sesaat kemudian minuman pesananku sudah jadi, kemudian aku melihat ke arah anak kerumunan tadi dan putriku sudah tidak terlihat lagi.


Aku langsung khawatir dan cemas, karena putri ku satu-satunya sudah tidak kelihatan. Tanpa berpamitan dulu dengan Bu nur, aku langsung pergi begitu saja.


"Eh, nak Jesi kenapa buru-buru?" Teriak Bu Nur melihat ku terburu-buru.


"Iya Bu Nur, nanti kita lanjutkan lagi." Teriakku juga, berbalik badan sembari berjalan mundur.


Bruk, syur...


Akibat aku berjalan mundur aku menabrak seorang pengunjung di festival.


.


.

__ADS_1


Bersambung😊


Like dan komentarnya tetap di tunggu ya, biar cemangat terus nulisnya😁


__ADS_2