Second Marriage

Second Marriage
Bab 93 Lagi-lagi marah


__ADS_3

Di sinilah aku berada sekarang, di sebuah rumah sederhana yang aku tempati selama di kampung nelayan. Aku mengajak Suamiku dan anakku untuk kembali ke rumah, setelah aku meminta sekertaris Ken untuk kembali ke kota dan menghandle semua pekerjaan dari suamiku. Dia sekertaris sekaligus pengawal setia dari suamiku sempat menolak, dengan alasan ingin menjaga suamiku.Tapi aku bilang tidak membutuhkan pengawalan darinya maupun pengawal yang lain. Aku yakin selagi suamiku tidak di kenali banyak orang, kami akan aman.


Aku juga ingin menikmati kehidupan sederhana bersamanya meski hanya sebentar, walaupun aku tahu itu akan sangat sulit baginya.


"Ayo, masuklah..." mengajaknya masuk setelah aku bukan pintunya. Dia yang masih merajuk seperti enggan untuk mengikuti ku masuk ke dalam.


"Ayah, ayo..., masuk dulu." Sisi menarik tangannya paksa, dan akhirnya ikut masuk meski dengan terpaksa, tidak ingin membuat putriku kecewa.


Setelah masuk ke dalam, matanya mulai memindai ke segala sudut ruangan. Dia berjalan berkeliling melihat-lihat keadaan rumah yang aku tempati. Berkali-kali aku mendengar mulutnya mengecap seperti tidak suka. Yah pastilah, kehidupan di sini jauh berbeda dengan kehidupannya.


"Ibu macam apa kau ini, membawa putriku berlibur di tempat seperti ini." Pas seperti yang aku pikirkan dia pasti akan menyalahkan aku.


"Lihatlah ini, barang-barang di sini banyak debu yang menempel." Dia duduk di sofa yang biasa orang kampung miliki.


"Apa kau ingin anak kita kena penyakit?" Sambungnya.


"Tidak segitunya juga kali..." Gumam ku lirih, untung tidak di dengar olehnya.


"Dan, apa kau tidak sadar? Kulitmu dan Sisi sudah jadi hitam sekarang!" Lanjutnya detail sampai ke kulit segala.


"Benar Ayah, Sisi juga tidak betah tinggal di sini. Sisi mau pulang..." Ternyata dia mendapat pembelaan dari putriku.


"Iya sayang, kita akan cepat pulang. Sekarang kau mandilah dan ganti pakaianmu. Hari sudah sore." Ucapnya lembut pada putriku.


Setelah kepergian Sisi ke kamar mandi. Dia menatapku yang masih berdiri dengan sorot mata tajamnya.


"Duduklah...!" Pintanya tegas.


Yah, dia tamunya, kenapa aku yang jadi di perintah?


"Ayo, duduk!" Aku pun duduk di kursi yang ada di sampingnya. Aku tahu dia pasti akan menghakimiku sekarang makanya aku menjauh, takut kalau nanti tiba-tiba dia menggigit ku.


"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk jauh dariku, hem? Duduk di sini." Ucapnya sembari menepuk tempat tepat di sampingnya. Dan akhirnya aku berpindah tempat duduk dekat dengannya.


Grep


Setelah aku duduk mendekat, tiba-tiba saja dia langsung memelukku erat kembali. Aku yang tadinya berpikir buruk, telah di buat nyaman dengan pelukannya.


"Kenapa ingin menjauh lagi? Tidakkah ada yang ingin kau jelaskan padaku, hem?" Ucapnya bernada pelan lalu mengurai pelukannya. Tangannya berpindah menangkup wajahku.


"Katakan padaku, apa kau sudah mengubah status mu di sini?" Sorot matanya menelisik ke dalam mataku.


"Tidak." Jawabku sembari menggeleng.


"Lalu, kenapa para Ibu-ibu itu mengira kau singgel dan kenapa kau biarkan ada laki-laki lain mendekatimu? Apa kau benar-benar ingin berpisah dariku?" Ku lihat ke dalam matanya dan ku temukan cahaya kesedihan di sana.

__ADS_1


"Ak_aku..." Mulutku yang kelu untuk menjawab, tiba-tiba saja mendapat serangan dadakan darinya. Sebuah ciuman lembut mendarat ke bibirku. Hanya sekedar ciuman biasa tidak ada nafsu di dalamnya.


"Katakan padaku, apa kau benar-benar ingin berpisah dariku?" Pertanyaan yang sama dia keluarkan setelah melepaskan ciumannya.


"Aku butuh kepastian darimu. Dari perasaanmu. Apa kau benar-benar menginginkan aku untuk tetap bersamamu?" Ku genggam kedua tangannya yang masih berada di wajahku. Bukan jawaban yang aku berikan melainkan pertanyaan yang seharusnya ku tanyakan dari dulu.


"Apa kau tidak melihat acara tv kemarin?" Tanyanya dengan raut wajah yang sangat penasaran.


"Tidak!" Lagi-lagi ku ucapkan sembari menggeleng. Aku sengaja berbohong karena aku ingin mendengarnya langsung.


"Ck!" Dia berdecak kesal sembari menurunkan tangannya dari wajahku, terlihat sekali kekecewaan di wajahnya. Aku jadi ingin tertawa dalam hati.


"Emang ada acara apa kemarin di tv?" Aku berusaha berakting dengan baik, agar tidak ketahuan kalau berbohong.


Ayo katakan seperti yang kau katakan kemarin.


Aku benar-benar menunggu jawabannya dengan sangat antusias sembari melihat ekspresinya yang sedikit kesal bercampur semu merah di kulit wajahnya yang putih.


"Kau! Sebenarnya apa yang kau lakukan? Sampai tidak sempat menonton tv, ha!"


Hah, kenapa jadi malah marah sih?


Bukannya menjawab dengan pernyataan cintanya malah jadi sebuah pertanyaan yang menyudutkan.


"Bu_bukan begitu, aku hanya..."


"Permisi..." Datang seorang tamu di waktu yang tidak tepat. Aku dan suamiku menoleh ke arah pintu bersamaan.


"Parman!"


"Siapa lagi dia?" Suamiku sudah nampak curiga lagi.


"Ada apa? Parman." Aku berdiri dan di ikuti oleh suamiku, menghampiri Parman yang ada di depan pintu.


"Ini, neng, eh Mbak jesi. Ada titipan." Parman menyerahkan sebuah bingkisan kado dan langsung saja di sambar oleh suamiku. Padahal tanganku sudah menggantug di udara.


"Apaan ini?" Tanya suamiku sembari membolak-balikkan barang yang ada di tangannya.


"It_itu dari juragan Wira untuk Mbak Jesi, sebagai ucapan terimakasih."


"Hah!"


Apa-apaan si Parman ini, terimakasih atas apa? Ah bikin runyam masalah aja.


"Juragan Wira lagi, benar-benar punya nyali dia." Ucap suamiku yang sudah terlihat geram.

__ADS_1


"Maaf Tuan, bukan begitu." Ucap Parman.


"Lalu, bukankah aku sudah melarangnya untuk mendekati istriku, kenapa masih berani?"


"Hanya ingin berterimakasih." Ucap Parman.


Pergilah kau Parman...


Aku memberi kode lewat mataku ke Parman, tapi tidak juga dia mengerti.


Jebruk


Di lemparkan barang itu oleh suamiku langsung mengenai muka Parman. Dia sempat mengaduh kesakitan dan terkejut.


"auw."


"Bawa kembali barang itu atau kau yang akan saya lemparkan ke tengah laut!" Ucap suamiku yang sudah marah.


Dengan cepat Parman memungut barang yang mengenai mukanya dan terjatuh. Buru-buru dia masuk mobil lalu pergi.


"Emm, sayang sudahlah..." Aku menggandeng tangannya dan mengajak masuk namun di tangkisnya, lalu berjalan masuk.


Belum kelar masalah televisi tadi sekarang di tambah dengan masalah kado. Ah, baru juga ketemu sudah merajuk melulu kaya anak ABG saja.


"Katakan, apa yang kau lakukan, hingga dia memberimu hadiah?" Tanyanya setelah duduk kembali.


"Aku tidak tahu, suamiku." Jujur aku memang tidak tahu, karena selama ini aku tidak melakukan apapun untuknya.


"Sudahlah suamiku, stop marahnya. Apa ini yang kau rindukan? Memarahiku dengan hal-hal gak jelas. Apa aku pernah marah padamu saat kau bersama dengan mantan kekasihmu itu? Apa aku pernah protes saat kau meninggalkanku demi wanita lain? Apa aku pernah melarang mu menerima barang atau menyimpan barang dari wanita lain? Tidak! Aku menghormati setiap keputusnmu aku bahkan sudah mengikuti setiap kemauanmu. Aku sadar, posisiku di hidupmu, aku tidak punya hak sepenuhnya atas dirimu, aku hanyalah istri_, euemmm..." Ucapan panjang lebar ku di hentikan dengan ciuman yang mendalam, hingga membuatku sulit bernafas.


"Cukup! Hentikan ucapanmu!" Seusai menciumku dia langsung memeluk ku erat. Entah kenapa aku bisa berucap seperti itu, tidak pernah terlintas dalam pikiranku ucapan yang awalnya pelan justru memunculkan emosi yang terpendam.


"Maaf, aku hanya khawatir kau akan meninggalkan aku." Ucapnya lirih.


"Jangan menangis, aku tidak mau Sisi bersedih melihat kita bertengkar." Ucapnya sembari mengusap lembut air mata yang sempat menetes.


"Ayah, Mama! Apa kalian sedang bertengkar?"


.


.


Bersambung😊


Akhirnya bisa up setelah tadi siang akunnya sempat eror😁

__ADS_1


__ADS_2