Second Marriage

Second Marriage
Bab 96 Di periksa


__ADS_3

Sejujurnya melihat dia sangat bahagia aku pun ikut bahagia, membuatku mulai percaya bahwa dia sungguh menginginkan aku untuk tetap bersamanya. Aku berharap kehamilan ku benar-benar terjadi, hingga tidak membuatnya kecewa.


"Sayang, kau dengar itu? Kata Bu Nur kau mungkin sedang hamil. Ada anakku di dalam sini." Setelah memegang Bu Nur beralaih ke padaku, mengusap perutku yang rata dengan lembut.


"Cepat minumlah lalu berbaring lagi." Dia mengambil gelas di nampan lalu membantuku minum.


Perlakuannya yang terlalu membuatku merasa senang sekaligus tidak nyaman. Setelah itu dia memberikan gelasnya pada Bu Nur, dan menyuruh Bu Nur untuk kembali ke rumahnya. Aku merasa tidak enak pada Bu Nur, karena sebenarnya dia masih ingin berlama-lama untuk berbincang dengan suamiku. Tapi, ya begitulah Tuan Nathan, dia tidak sebaik yang di lihat.


"Sisi, apa kau senang? Sebentar lagi kau akan punya kawan di rumah?" Tanya Ayahnya.


"Iya, Ayah," jawab Sisi singkat.


Melihat ekspresi Sisi yang tidak terlalu senang, aku tahu apa yang dia rasakan. Dia pasti punya rasa takut yang sama saat waktu dulu masih bersama Papanya. Dia takut tidak di perhatikan lagi dan tidak di sayangi lagi seperti sekarang.


"Ayah, Sisi mau siap-siap ambil tas, mungkin sebentar lagi Pak Ken dateng menjemput." Ucap Sisi lalu pergi.


"Iya, sayang," ucap suamiku tersenyum manis.


Putriku, jangan khawatir. Mama akan tetap membuat Ayahmu menyayangimu, meski nanti kau harus punya adik.


"Istriku, aku benar-benar berharap benihku sudah tumbuh di perut mu" Ucapnya sembari memeluk ku erat.


"I_iya, sayang, aku juga berharap begitu." Aku mengusap-usap punggungnya.


"Suamiku, ada hal yang ingin ku minta," aku melepaskan pelukannya dan mengajaknya duduk di ranjang.


"Apa itu? Katakan, apa kau ingin emas, berlian, atau liburan ke luar negeri?"


"Bukan itu yang aku inginkan." Jawabku dengan tersenyum.


Aku tahu jika hal itu yang aku minta, dengan mudah kau bisa memberikannya. Tapi bukan hal itu yang ku minta, namun sikap dan kasih sayang yang ada di dirinya.


"Lalu apa? katakanlah..." Terlihat dia tidak sabar.


"Disaat nanti aku benar-benar hamil,"


"Iya...terus,"


"Dan kita punya anak, aku minta agar kau tetap menyayangi putriku seperti sekarang ini." Itu lebih penting ketimbang harta yang melimpah.


"Iya sayang, tentu saja! Aku tidak akan berubah, akan tetap menyayangi Sisi seperti putriku kandungku." Dia genggam hangat tanganku.


"Terimakasih, suamiku." Bahagia sekali mendengar jawabannya. Sampai detik ini aku masih tidak menyangka aku dan dia akan saling jatuh hati. Terlebih lagi, dia yang begitu tinggi rasanya sulit untuk di gapai. Sekarang aku seperti Cinderella dalam dongeng.


Tidak lama kemudian terdengar suara keras helikopter yang sepertinya akan turun di desa ini.


"Sayang, ayo kita tunggu di depan. Ken sudah tiba."


Mungkinkah Ken yang bawa helikopternya?


"Kenapa bengong? Iya, Ken menjemput pakai helikopter" Dia menjawab pertanyaan yang aku ajukan hanya dengan mengangkat jari tangan menunjuk ke atas.


Ini berlebihan sekali, kenapa juga harus menggemparkan orang-orang kampung sini.


"Aku tidak ingin istriku yang sedang sakit menunggu lama." Sambungnya lagi.


Aku hanya tersenyum gak jelas, bingung caranya mengahadapi orang desa yang pasti akan sangat heboh.


Dan benar saja, di saat kami bertiga keluar rumah, orang-orang sudah berkumpul di halaman rumah. Mereka datang demi melihat wajah asli suamiku yang terkenal. Mereka juga mengucapkan terimakasih lewat kepala desa, atas bantuan yang di berikan di kampung nelayan, selama ini.

__ADS_1


Ternyata suamiku yang sudah membantu kampung ini hingga berkembang dengan baik.


Pantas saja, banyak orang kampung sini memuji suamiku.


Setelah acara temu dadakan selesai, sekertaris Ken membawa kami ke tanah lapang tempat helikopternya turun.


Terlihat putriku sangat gembira karena dia bisa naik helikopter, apalagi itu adalah kepunyaan Ayahnya.


.


.


Tibalah kami di depan rumah yang sempat aku tinggalkan dua Minggu lalu. Semua penghuni rumah sudah menyambut kedatangan kami. Bahkan ada sebuah kursi roda yang sudah di siapkan untukku.


Ah, ini benar-benar sangat berlebihan. Aku hanya pusing saja, bukan nggak bisa jalan.


Kalaupun aku mau menolak, pasti tidak akan bisa akhirnya dengan terpaksa aku pun naik kursi roda dan di dorong olehnya.


Aku tersenyum bahagia dan juga malu, mungkin para pelayan sudah berpikir aku sangatlah manja.


Aku melihat Ibu mertua juga sudah menyambut di depan pintu, dia tersenyum bahagia melihat ku kembali. Aku pun ikut tersenyum padanya begitu juga putriku. Saat turun dari mobil Sisi langsung berlari ke arahnya, terlihat dia juga sangat merindukan sang Oma Sonya.


Hati ini benar-benar bahagia bisa kembali untuk menetap bukan kembali untuk pergi lagi. Senyum selalu mengembang aku tunjukkan pada semua orang, sepanjang aku memasuki area rumah hingga aku berhadapan dengan Ibu mertua yang langsung memelukku.


"Sayang apa kabarmu? Kau membuatku sangat khawatir." Ucap Ibu mertua.


"Saya baik-baik saja, Ibu. Aku sudah menepati janjiku untuk kembali, Ibu."


Mungkin Ibu sangat khawatir, karena selama aku pergi tidak pernah mengabarinya. Sengaja aku melakukannya karena tidak ingin cepat ketahuan kemana aku pergi.


"Ibu dengar kau membawa kabar bahagia sekarang. Ayo putraku bawa masuk istrimu. Arga sudah menyiapkan semua untuk pemeriksaan."


Astaga, jadi dokter Arga juga sudah di panggil.


Kemudian aku di bawa masuk ke dalam masih menggunakan kursi roda, dan ku lihat dokter Arga sudah siap dengan seorang perawat wanita di ruang tamu.


"Hai, apa kabar Nyonya Nathan? Senang melihatmu kembali." Dokter Arga mengulurkan tangannya, namun langsung di tepis suamiku.


"Pelit sekali kau kawan." Kesal Dokter Arga.


"Kau tahu kan, aku paling tidak suka melihat orang lain menyentuh istriku. Apalagi kau, buaya rawa!"


Aku tertawa kecil mendengar Dokter Arga di sebut buaya rawa, sungguh memang keterlaluan.


"Ayo cepatlah kau periksa istriku."


"Untung saja Nona Jesi kembali, kalau tidak, Tuan Nathan ini akan jadi lebih gila dari sebelumnya." Gumamnya sembari naik ke atas.


"Dasar Dokter buaya!" Lagi-lagi suamiku mengumpatnya.


Dia mendorong ku sampai di depan tangga,dan lagi-lagi aku tidak boleh berjalan. Di angkatnya tubuhku yang tidak terlalu berat untuk naik menuju ke kamar.


Sampai di dalam kamar dia membaringkan tubuhku perlahan di ranjang. Aku terkesiap saat melihat pakaian yang aku tinggalkan kemarin masih ada di tempat yang sama, di atas ranjang ini.


Mungkinkah pakaian ku tidak di cuci?


Ku pegang pakaian tidur itu dan masih mencium bau smooth parfumnya.


"Kau tahu, aku sengaja tidak mencucinya. Agar aku tetap bisa mencium aroma tubuhmu yang bisa membuatku tidur." Bisik nya di telingaku.

__ADS_1


Wah, suamiku so sweet sekali...


Aku tersenyum malu mendengar ucapan gombalannya. Sejak kapan dia pandai menggombal?


"Hei, kalian tidak sadar, ada aku dan perawat di sini!" Ternyata Dokter Arga memperhatikan kami, aku semakin malu.


"Mau jadi di periksa tidak, istrinya?" Lanjut tanya Dokter Arga.


"Tentu saja!" Jawab suamiku


"Nyonya, ayo ikut saya ke kamar mandi." Ajak perawat perempuan tadi.


"Kenapa harus ke kamar mandi?" Suamiku yang tidak mengerti sekaligus penasaran, akhirnya bertanya. Melihatku yang di tuntun ke kamar mandi.


"Ya, di periksalah..., kau mau tahu kan istrimu hamil atau tidak?" Jawab Dokter Arga yang kesal dengan sikap Tuan Nathan.


Aku melakukan pemeriksaan dengan testpack, alat pendeteksi kehamilan yang paling akurat. Cukup sebentar saja sudah selesai.


Harap-harap cemas dan takut, karena aku tidak yakin kalau aku hamil. Fase ini sering terjadi saat akan menjelang tamu bulanan.


Perasaan was-was sedang melandaku ketika alat itu sudah jatuh ke tangan Dokter Arga. Aku yakin kalau semua di luar ekspektasiku dan suamiku, melihat ekspresi biasa saja dari dokter Arga.


"Kita bicara di ruang kerja saja." Ajak Dokter Arga pada suamiku.


"Baiklah," Ucapnya lalu berdiri dan berjalan pergi ke luar kamar namun dia sempat kembali menghampiriku.


"Istirahatlah sayang, aku akan segera kembali." Ucapannya sembari mengecup keningku.


Aku diam dan hanya mengangguk saja, melihatnya pergi dan di ikuti oleh Dokter Arga dan perawatnya. Perasaanku sudah tidak enak, karena Dokter Arga tidak mau berbicara saja di kamar malah berusaha agar aku tidak mendengar.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa aku tidak boleh ikut mendengar?"


Setelah aku bertanya pada diri sendiri, aku berusaha mengingat-ingat sesuatu yang kira-kira mengganjal dan salah.


"Astaga, aku ingat sekarang."


Buru-buru aku mencari keberadaan tas milikku yang ku bawa pergi, dan aku melihatnya ada di atas meja rias.


Aku membuka dan mencari benda itu, ku buka semua resleting yang ada. Tapi, tidak juga ku temukan benda yang aku cari, sampai aku bongkar semua isi dalam tas dan aku keluarkan di atas meja. Namun, tetap saja tidak ku temukan.


Aku berpikir dan terus berpikir, kemana menghilangkannya benda itu? Aku sangat yakin aku tidak meninggalkannya di rumah, meskipun begitu aku tetap memeriksa tiap laci yang ada.


"Apa kau mencari benda ini?"


Deg, deg, deg.


Dengan jantung yang sudah deg degan, aku menoleh ke arah suara yang muncul tiba-tiba. Aku langsung lemas, melihat benda itu ada di tangan suamiku. Rasa takut, bingung, sudah menjadi satu.


"Maaf" Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan.


"Tega sekali kau!" Hardiknya langsung.


Aku yang teledor aku yang ceroboh, tidak membuangnya saat di desa itu.


.


.


Bersambung 😊

__ADS_1


__ADS_2