Second Marriage

Second Marriage
Bab 92 Di kira janda


__ADS_3

"Diamlah, kau sudah terlalu banyak bicara."


Deg


Mendengar suaranya yang sedikit bergetar membuat tubuhku yang masih di pelukannya langsung terdiam kaku.


Suara milik dari seorang yang aku tunggu selama tinggal di kampung ini telah aku dengar langsung. Hampir aku tidak percaya kalau itu benar-benar suaranya.


"Istriku, ternyata kau sembunyi di sini. Aku sudah mencari mu kemana-mana, dan ternyata kau di sini."


Iya benar, itu suara suamiku yang baru kemarin aku lihat di televisi, sekarang sudah muncul di hadapanku bahkan tengah memelukku erat.


"Kau benar, aku sudah tidak waras karena kau yang menghilang begitu saja, aku hampir gila tidak bisa menemukanmu."


Rasa bahagia ini langsung membuncah hingga air mataku tiba-tiba saja menetes. Merasakan pelukannya yang begitu erat, aku tahu dia sangat merindukan aku.


Setelah aku yakin itu adalah suara orang yang aku rindukan, aku membalas pelukannya dengan erat juga. Senang sekali hati ini rasanya, rindu yang terpendam akhirnya terungkap sudah.


"Suamiku, kau benar suamiku kan...?" Meski aku sudah yakin dengan suaranya tapi rasanya belum puas kalau belum melihat wajahnya.


"Sayang, lihatlah. Aku suamimu bukan orang lain." Dia mengurai pelukannya lalu membuka maskernya.


Setelah aku lihat dengan jelas wajah itu yang sama persis di televisi kemarin, aku sangat yakin dia benar-benar Tuan Nathan, suamiku. Sedikit tercengang melihatnya berkumis tipis, membuatnya sedikit berbeda. Rasanya aku tidak terlalu suka dengan tampilannya sekarang.


Dengan hangat dia kembali menarik ku ke dalam pelukannya, di usap-usapnya kepalaku dan juga punggungku. Dia juga mencium keningku.


"Aku merindukanmu sangat merindukanmu, ku mohon jangan pergi lagi." Ucapnya masih sembari memelukku.


Aku diam menikmati pelukan rindu dari suamiku, masih tidak menyangka dia akan hadir di tempat ini dan kami bertemu dengan tidak sengaja lagi


Rasa bahagia yang teramat sangat membuatku lupa kalau sekarang ini kami sedang berada di tempat umum. Dan tidak menyadari pasti banyak pasang mata yang sedang menyaksikan kemesraan kami.


"Ayah..." Teriakan Sisi menyadarkan kami yang tengah meluapkan perasaan rindu tertahan selama dua Minggu lebih tak bertemu.


Lalu di lepaskannya tangan yang merengkuh tubuhku dan tersenyum ke arah ku lalu ke putriku. Dia lambaikan tangan agar Sisi cepat mendekat.


Sisi berlari dengan cepat sembari memanggil nama Ayah, Ayah, lalu memeluk Ayah tiri yang menyayanginya dari awal pertemuan mereka.


Dengan merentangkan kedua tangannya, suamiku menyambut kedatangan putriku. Kemudian di angkatnya tubuh kecil itu ke dalam gendongannya.


"Sayang, Ayah merindukan mu."


"Sisi juga, Ayah."


Rasa bahagia ku bertambah melihat kedua orang yang aku sayangi saling melepas rindu.


"Ayah, benarkah juga merindukan Sisi? Bukan cuma Mama aja yang Ayah rindu, kan...?" Celetuk Sisi, aku tersenyum mendengar dia berucap seperti itu.


"Tentu saja, Tuan putri." Ucapnya sembari terkekeh.


"Ayah, ayo pulang..., Sisi ingin pulang." Ucapnya mengayun manja.

__ADS_1


"Baiklah sayang, kita akan pulang segera." Ucap suamiku sembari menurunkan putriku dari gendongannya.


"Permata! Ap-apa yang kau lakukan?" Juragan Wira datang lagi dan terkejut melihat suamiku yang melingkarkan tangan ke pinggangku. Dan aku diam saja.


"Ck, sayang...,siapa dia? Sepertinya dia sangat dekat denganmu. Dan, dari tadi ku dengar dia selalu menyebutmu dengan permata. Apa kau mengubah namamu?"


"Ti_tidaklah, mana mungkin."


"Lalu, kenapa dia...?"


"Entahlah, dari awal aku sudah bilang namaku Jesi dan jangan panggil permata, tapi tetep aja dia maunya begitu. Aku bisa apa?" Jelas ku pada suamiku sedikit cuek dengan kecemburuannya.


"Sayang! Apakah Tuan ini...?" Lagi-lagi Juragan Wira terkejut mendengar kata sayang.


"Juragan Wira, ini adalah Ayahku yang berarti suami Mamaku. Jadi kau tidak boleh dekat-dekat dengan Mama lagi." Jawab Sisi dengan gaya sombongnya, Sisi yang dari awal memang sudah tidak menyukai Juragan Wira.


"Oh ya, benarkah itu?" Juragan Wira terlihat seperti tak percaya.


"Benar! Dan kau, jangan coba-coba dekat dengan istriku. Dari jarak dua meter pun kau tidak boleh. Eh, tidak, bukan begitu. Mulai sekarang memandang saja kau sudah tidak boleh. Mengerti!" Suamiku sedikit bingung harus memberi larangan pada Juragan Wira.


Ketegasan suamiku membuat nyali Juragan Wira langsung menciut, Apalagi Juragan Wira tahu kalau suamiku bukanlah orang sembarangan. Dia yang di takuti di kampung ini, sekarang terlihat kalah dan pasrah.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak tahu." Juragan Wira terlihat takut juga putus asa.


"Pergilah..." Usir suamiku.


Kemudian Juragan Wira berbalik arah dan mulai melangkahkan kakinya, namun dia kembali membalikkan badannya.


"Ken!" Seru suamiku pada sekertaris Ken yang tadi datang bersama anakku.


"Iya, Tuan. Akan saya urus dia." Tanpa di perintahkan sekertaris Ken mengerti keinginan dari Tuannya.


Sebelum dia memaksa untuk mengajakku pulang, aku akan mengajaknya tinggal sebentar di kampung ini. Aku ingin melihat seberapa besar dia menginginkan aku ikut bersamanya. Dia sempat menolak dengan alasan banyaknya pekerjaan dan meeting, aku yang kekeh ingin dia di sini, tidak peduli dengan alasannya. Aku yakin tinggal di sini sebentar tidak akan membuatnya bangkrut.


Setelah melalui sedikit perdebatan akhirnya dia mau menuruti kemauan ku, dan itu membuat ku sangat senang. Dengan begitu dia mulai menunjukkan keseriusannya dalam mencintaiku.


"Sayang pakai masker mu, cepatlah!" Dengan cepat aku memakaikan maskernya kembali, dia sedikit tidak mengerti dengan tindakanku yang tidak biasa.


Aku melihat Bu Nur dan ibu-ibu lain datang menghampiri. Aku tidak mau emak-emak di sini terpesona dengan ketampanan suamiku yang sudah berkurang, menurut ku sih. Apalagi kalau mereka sampai tahu suamiku adalah orang yang sama di televisi kemarin.


Aaaaa, bisa-bisa aku di singkirkan hanya untuk minta berfoto.


Membayangkan saja aku sudah merasa parno'.


"Sayang, ada apa sih?" Tanyanya heran.


"Sudah,diamlah, menurut saja. Ok!" Jawabku cepat.


"Wah, nak Jesi..., siapa tuh yang di samping sepertinya mesra sekali?" Tanya Bu nur yang penasaran melihatku menggandeng lengannya.


"Iya, Mbak Jesi, kok saya juga belum pernah melihatnya?" Tanya Ibu-Ibu yang lain juga.

__ADS_1


"Pacarnya ya, Mbak?" Tanya lagi dari salah seorang mereka.


"Apa calon suami barunya?" Tanya Ibu-ibu yang di sampingnya lagi.


"Apa!" Suamiku terkejut lirih.


"Saya kira, nak Jesi akan jadi dengan Juragan Wira" Ucap Bu Nur.


"Hah!" Aku pun terkejut mendengar perkataan Bu Nur.


"Melihat Juragan Wira yang selama ini pantang mundur deketin nak Jesi, iya kan Ibu-ibu...?"


"Iya..." Jawab serempak Ibu-ibu yang lain.


"Sayang, apa maksud perkataannya? Ha!" Suamiku sudah sedikit tersulut emosi, meski dia hanya mengucapkannya pelan.


"Hehehehe, tidak Ibu-ibu. Saya dan Juragan Wira hanya berteman tidak lebih. Dan ini, perkenalkan ini suami saya." Baru saja aku bisa menjawab setelah pertanyaan beruntun yang mereka keluarkan tanpa jeda.


"Oh, sudah punya suami to!" Ucap Bu Nur, karena memang aku tidak pernah cerita apapun tentang kehidupan ku padanya atau orang lain.


"Saya kira janda." Ucap Ibu yang berbaju hijau.


"Tidak Ibu, saya punya suami." Jawabku sembari tersenyum malu.


"Suami nak Jesi sepertinya lebih tampan ya dari juragan Wira, sayang pakai masker jadi gak kelihatan." Pujian Bu Nur hany akan menambah naik darah suamiku, apalagi dia di banding-bandingkan dengan orang lain.


"Iya, Bu. Maaf dia sedang kena flu." Aku terpaksa berbohong pada mereka, agar mereka tidak lagi penasaran.


"Oh, begitu. Ya sudahlah kami permisi ya, maaf nih sudah mengganggu."


"Tidak Bu, tidak menggangu kok."


"Ajak-ajaklah keliling kampung, biar semua orang tahu kalau nak Jesi sudah bersuami, jadi tidak ada yang suka mengganggu." Pesan Bu Nur sebelum pergi dengan yang lainnya.


"Baik Bu, terimakasih sarannya." Ucapku masih dengan tersenyum.


Setelah kepergian Bu Nur dan Ibu-ibu yang lain, aku melihat suamiku yang diam seperti sedang menahan amarah atau sedang marah dalam diamnya.


Gara-gara kedatangan Emak-emak yang penasaran karena melihat ku bersama laki-laki yang tidak di kenal, aku harus meluluhkan orang yang sedang ngambek.


"Aku butuh penjelasan mu tentang semua yang di katakan mereka." Ucapnya dingin padaku.


.


.


Bersambung 😊


Terimakasih ya buat yang setia dengan Second Marriage 🙏 moga sehat selalu😊


Dukung terus ya dengan like, komen hadiah plus votenya😀

__ADS_1


Di kasih hati juga mau😁, biar strong🤗😅


__ADS_2