
Suamiku yang melihat tubuhku tak seimbang langsung sigap menangkap ku. Dia begitu khawatir dengan keadaan ku yang tiba-tiba tidak baik-baik saja.
"Istriku, sayang. Kau kenapa?" Tanyanya khawatir.
"Tidak, tidak apa-apa. Sedikit pusing saja." Aku tersenyum padanya, agar dia tidak terlalu panik.
"Tidak apa-apa, bagaimana? Kau hampir saja terjatuh. Ayo berbaring lagi."
"Tidak, ini sudah pagi. Aku harus bikin sarapan." Tolak ku halus, tidak ingin membuat mereka terlambat sarapan.
"Sayang, tidak. Kau harus istirahat, aku tidak mau kau kenapa-kenapa, mengerti! Aku akan hubungi Ken untuk segera menjemput." Dia memaksaku untuk kembali berbaring.
"Kau tidak perlu khawatir, Ken akan membawa sarapan untuk kita juga." Sambungnya sembari mengambil ponsel untuk menghubungi sekretarisnya.
"Pagi Ken," sapa nya setelah tersambung.
"Ken, cepatlah kau datang kemari. Kami akan segera pulang. Istriku sedang sakit, cepatlah jangan lambat! Kalau tidak kau akan ku beri cuti panjang." Setelah menyuruh bahkan mengancam seenaknya saja, dia mematikan sambungan telponnya. Aku yakin sekertaris Ken belum sempat menjawab apapun kata darinya.
Kemudian suamiku membangunkan Sisi, untuk segera bersiap karena sekertaris Ken akan segera tiba untuk menjemput. Dia juga sudah mulai memasukkan semua pakaian ku ke dalam koper dengan asal.
"Eh, kau mau kemana?" Melihatku bangun dari tidur, karena aku merasa masih sanggup untuk berjalan dan beraktivitas. Hanya saja dia yang over protective, tidak mengizinkan aku turun dari tempat tidur.
"Aku hanya ingin ke kamar mandi." jawabku sembari berdiri.
"Apa kau yakin bisa sendiri?"
"Iya, aku tidak apa-apa." Meski masih terasa pusing dengan perut yang nyeri, aku masih bisa berjalan.
"Tuh, kenapa juga dengan perutmu? Sayang, ayolah aku antar kau ke kamar mandi." Dia melihatku yang berjalan sembari memegang perut, tanpa tanya lagi dia langsung saja mengangkat tubuhku lalu membawa ku ke kamar mandi.
"Sayang, turunkan aku. Aku bisa sendiri, sungguh! Aku tidak apa-apa." Aku hanya malu kalau sampai Sisi melihatnya.
"Sudah, jangan berisik!" Baginya mengangkat tubuhku tidaklah berat, jadi mudah saja saat akan mengangkat.
"Mama! Mama baik-baik aja, kan?" Tanya Sisi yang baru keluar kamar mandi.
"Iya, sayang. Mama baik-baik saja, jangan khawatir." Aku tersenyum malu ke arahnya.
"Iya." Sisi yang berlalu dengan ekspresi yang terlihat aneh.
"Sisi, adakah persediaan obat? Mama kayanya butuh obat untuk menahan rasa sakit." Teriak Suamiku, saat aku di dalam kamar mandi.
Sebenarnya aku juga sering mengalami hal seperti ini kalau mendekati tamu bulanan, cuma kali ini perutku nyerinya lumayan, tidak seperti biasanya.
"Sayang..., kau baik-baik saja?" Dia sudah mulai mengetuk pintu dengan khawatir.
"Iya, sebentar lagi. Aku sekalian mandi." Teriakku dari dalam.
"Cuacanya dingin, kenapa harus mandi sekarang? Kau bisa kena flu nanti!"
"Biasanya aku juga mandi tidak apa-apa kok, kenapa jadi sering lebay sih?" Gumam Ki di dalam kamar mandi.
"Istriku, kau..." Dia sudah mulai teriak lagi, tidak sabar menunggu.
__ADS_1
"Heh, iya. Ini udah selesai! Kenapa sih teriak terus?" Aku keluar hanya memakai handuk yang melilit di bawah ketiak saja, karena tadi tidak bawa baju ganti.
"Ck, kau itu."
"Kenapa? Hem!" Melihatnya yang sempat terbengong lalu malah mengecap.
"Kau sedang sakit, tapi malah menggodaku." Tangannya mengusap kepalanya sendiri dengan kasar.
"Menggoda gimana maksudnya?" Ucapku yang pura-pura tidak mengerti.
"Oh, ya ampun. Sayang..., kau terlihat seksi sekali habis mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk yang_, ah..." Dia terlihat frustasi menahan gejolak miliknya dari semalam, lalu dia memelukku erat dan menciumi rambutku hingga membuatku terasa geli.
"Sayang, lepaskan! Nanti Sisi lihat." Aku berusaha melepaskan pelukannya.
"Ck, kalau saja kau sedang tidak sakit dan kita sedang ada di rumah." Dia melepaskan pelukannya lalu mengangkat tubuhku lagi sembari menggerutu. Aku hanya tersenyum melihat dia kebingungan bercampur khawatir.
Dia membawaku kembali ke kamar dan menurunkan aku di ranjang pelan-pelan. Lalu dia membongkar lagi pakaian yang sudah di dalam koper. Mencari pakaian ganti untukku.
"Suamiku, sayang. Aku biar aku sendiri saja, aku masih bisa_" Belum sempat aku selesai bicara, dia sudah memberikan pakaian ganti plus pakaian dalam.
"Pakailah, atau aku bantu sekalian memakainya." Ucapnya sembari memberikan pakaian itu.
"Ah! Tidak, tidak perlu. Aku sendiri saja." Dengan sedikit gugup aku menolaknya, aku takut kali ini aku yang tidak bisa menahan setiap sentuhan tangannya yang menempel di tubuhku.
"Cepatlah, nanti masuk angin. Aku akan mencari obat di tasmu, siapa tahu ada di sana."
"Iya, baiklah." Ucapku sembari memakai pakaian yang sudah di ambilkan-nya.
"Sayang, ada tidak?" Tanyaku setelah selesai, melihatnya yang tiba-tiba diam.
Ada apa dengannya? Aneh sekali, kenapa tiba-tiba jadi dingin.
Aku menyisir rambut ku yang masih basah sembari melihatnya dari kaca. Dia yang tadi banyak bicara sekarang hanya diam sembari mengotak-atik ponsel miliknya di atas ranjang.
"Mama, Ayah." Suara Sisi memanggil dari balik pintu.
"Iya, sayang." Jawabku sembari melirik ke arah suamiku yang cuek mendengar Sisi memanggilnya.
"Ada Ibu Nur, membawakan teh hangat." Bu Nur datang, aku sedikit panik sadar akan kehadiran suamiku. Buru-buru aku mencari masker untuk menutupi wajah suamiku, agar tidak di kenali.
"Sayang, pakailah maskernya. Bu Nur datang." Ucapku sembari memberikan masker warna hitam dan duduk di tepi ranjang.
"Tidak! Apa kau malu? Punya suami seperti ku!" Tatapan matanya menunjukkan rasa tidak suka.
Deg
Kenapa dia?
Pertanyaan macam apa yang dia lontarkan? Aku tidak mungkin malu punya suami setampan dia, apalagi dia seorang kaya raya. Apa yang kurang darinya secara fisik. Pertanyaan yang tidak masuk akal menurutku. Aku merasa ada hal yang tidak beres di otaknya sekarang, tapi aku tidak mengerti, apa yang membuatnya tiba-tiba dingin begini
Kenapa mudah sekali berubah jadi sensi, perempuan yang punya fase itu kan?
"Tidak, tidak mungkin aku malu. Aku hanya tidak ingin kau tidak nyaman dengan perlakuan Bu Nur nantinya." Itu salah satu alasannya, selain itu aku juga tidak rela kalau kau di kerubuti para wanita di kampung ini. Apalagi di sini ada janda yang sedikit gatal.
__ADS_1
"Ya sudah, tidak perlu kan? Kau temui saja lalu cepat di minum tehnya." Ucapnya sembari fokus dengan benda pipih di tangannya.
Kalau dia sudah begini, aku tidak berani lagi bicara. Aku tahu, apapun yang akan aku bilang pasti akan salah di matanya. Lebih baik aku menurut saja.
"Iya, baiklah."
Kemudian aku beranjak dari tempatku duduk lalu berjalan ke arah pintu.
Ceklek
"Bu Nur!" Lirihku yang terkejut melihat Bu Nur yang sudah di depan pintu kamar bersama Sisi.
"Pagi, nak Jesi..." Sapa nya sembari tersenyum ramah.
"Pagi..." Aku tersenyum kikuk.
"Sisi, apa kau dapat obatnya?" Tanya suamiku yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangku.
"Oh, ya ampun!" Bu Nur kaget melihat suamiku.
"Ka-kau, kau kan, Tuan yang baik hati itu kan...? Yang kemarin ada di tv, ya ampun, aku tidak menyangka kau ada di sini" Sambung Bu Nur masih terperangah melihat wajah suamiku yang muncul di acara tv kemarin.
"Sisi, sayang. Apa kau dapat obatnya?" Tanya suamiku kembali, melihat Sisi yang diam karena melihat ekspresi Bu Nur.
"Tidak, Ayah." Jawab Sisi.
Suamiku terlihat cuek dengan adanya Bu Nur dan seperti tidak perduli dengan kehadirannya. Aku jadi tidak enak dengan situasi ini, melihat Bu Nur yang sudah sangat senang bisa berjumpa dengan pria yang di puja, tapi ternyata pria itu malah cuek.
"Hehehe, Bu Nur. Terimakasih sudah mengantarkan teh untuk saya." Ucapku sembari meminta nampan dari tangan Bu Nur.
"Oh, jangan sungkan. Hanya teh saja. Oh, iya maaf Tuan, saya tidak berani memberikan obat apapun untuk nak Jesi." Ucapnya ramah sembari tersenyum.
"Kenapa?" Suamiku mengerutkan keningnya, tidak mengerti.
"Tadi si cantik cerita, katanya nak Jesi pusing dan perutnya juga sakit. Saya pikir mungkin nak Jesi hamil."
Ucapan Bu Nur sontak membuat aku dan suamiku juga Sisi terkejut.
"Apa!" Pekik kami bersamaan.
"Benarkah?" Tanya suamiku dengan mata berbinar sembari memegang kedua lengan Bu Nur.
Suamiku yang tadinya terkesan cuek dengan kehadiran Bu Nur, tiba-tiba dia mau dekat bahkan memegang kedua bahu Bu Nur. Dia yang sempat murung sekarang terlihat sangat bahagia.
Melihatnya terlalu antusias dan bahagia akan sebuah berita kehamilan, membuat ku merasa takut kalau sampai aku mengecewakannya.
.
.
Bersambung 😊
Kemarin gak bisa up karena sibuk korban 🤭
__ADS_1
Korban perasaan 😁😁 (Canda guys)
Hayuk ah, dukung terus ya..., jangan kendor 😉