
Melihat mereka duduk berdua dan melakukan siaran live di TV, membuatku sedikit iri. Andai saja aku yang ada di sampingnya dan menemaninya saat ini, aku pasti akan sangat bahagia. Tapi, kenyataannya lain. Aku hanyalah istri yang di sembunyikan dari dunianya.
Mereka bahkan saling melempar senyum bahagia, seperti tidak punya beban sama sekali.
"Mah, ayolah duduk. Kita lihat bersama sebentar." Pinta Sisi yang melihatku masih berdiri mematung.
"Ok, baiklah. Kasih ke Mama sebentar remote nya. " Aku duduk dan meminta remote tv padanya.
"Mungkin ada acara yang lebih bagus dari ini, kau tidak akan mengerti juga." Ucapku sembari memencet tombol remote.
"Mah, aku kan hanya ingin melihat Ayah." Ucapnya merengek.
"Kenapa acaranya mereka semua?" Sudah memencet semua tombol ternyata semua stasiun TV sedang melakukan siaran langsung mereka.
"Ck, apa-apaan ini." Sedikit kasar meletakkan remote di atas meja.
"Mama kenapa? Cemburu?"
"Aish, kau ini. Enggaklah sayang, kau lihat Ayahmu seorang yang super sibuk dengan pekerjaannya, bahkan sekarang sudah mengumumkan perusahaan barunya, Jadi kau jangan terlalu berharap Ayah akan datang kesini."
Cemburu? Tidak! hanya kesal. Ternyata dia sudah tidak mengingatku lagi.
Dalam sebuah konferensi pers, tanya jawab tentang perusahaan baru yang dia dirikan telah telah selesai dan di tutup oleh pembawa acara.
Tapi, sekertaris Ken menghentikannya. Terlihat dia membisikkan sesuatu di telinga pembawa acara tersebut. Si pembawa acara tersebut sedikit terkejut saat mendengar bisikan sekertaris Ken.
Aku yang menyaksikan juga sangat penasaran, bukannya waktunya sudah selesai. Apalagi yang ingin dia sampaikan.
"Baiklah, teman-teman dan awak media. Ada kabar bahagia, kali ini Tuan Nathan akan membuka tanya jawab tentang kehidupan pribadinya. Waktu di berikan untuk Tuan Nathan menyampaikan sesuatu terlebih dahulu. Silahkan..." Ucap seorang yang menjadi juru bicara di acara tersebut.
Apa yang ingin dia sampaikan? Apa dia akan melamar Vanesa sekarang, ha?
Aku benar-benar di buat penasaran dengan acaranya kali ini.
"Terimakasih untuk waktu yang sudah di tambahkan dalam acara ini. Sebuah kabar baik untuk kalian bukan? Karena selama ini saya sudah menutup diri untuk pertanyaan pribadi, tapi sekarang saya ingin kalian tahu perihal kehidupan keluarga yang sudah saya miliki."
Semua tercengang mendengar Tuan Nathan menyebutkan kata keluarga.
Aku yang mendengar juga sudah merasa deg-degan. pikiran ku sudah menerka-nerka tentang hal baik atau buruk yang akan ku dengar.
"Tuan Nathan yang terhormat, jadi benarkah isu yang beredar bahwa anda sudah menikah?"
Semua kamera langsung mengarah ke seorang reporter laki-laki yang tiba-tiba saja bertanya.
Hening, sunyi, sepi, tiba-tiba suasana di acara tersebut, Setelah tadinya riuh dengan suara kegembiraan para awak media yang di buat penasaran oleh pernyataannya.
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa itu? Mah. Bukannya Ayah memang sudah menikah dengan Mama."Ucap Sisi.
"Iya, dengar saja dulu."
Jantungku semakin berpacu menantikan jawaban atas pertanyaan yang baru saja ku dengar. Sebuah kabar pernikahan yang mungkin pernah orang itu dengar.
Aku tidak tahu harus berbuat apa? Jika dia mengatakan tentang pernikahan yang lain dan bukan denganku. Mungkin aku akan tinggal di sini dan bersembunyi lebih lama.
Ayo katakan saja, aku juga siap mendengarkan, apa yang ingin kau akui di depan publik.
"Mah, sebenarnya apa yang ingin di katakan Ayah? Kenapa hanya tersenyum saja." Sisi juga kelihatan penasaran melihat Ayah tirinya tidak cepat menjawab malah mengumbar senyum.
Kenapa juga harus senyum-senyum gak jelas gitu? Sadarlah jangan seperti orang yang kurang waras, Tuan besar.
"Entahlah, Mama juga tidak tahu." Jawabku yang memang tidak tahu.
"Tuan Nathan, bagaimana jawaban anda?" Pertanyaan dari pembawa acara.
"Benar, saya sudah menikah!"
Apa aku tidak salah dengar? dia sudah mengakui pernikahan nya.
"Lalu, dimana istri Tuan sekarang? Kenapa belum pernah muncul?" Pertanyaan lagi dari reporter perempuan.
"Istri saya sedang liburan saat ini. Sengaja saya menyembunyikannya karena saya tidak mau wajah istri saya menjadi konsumsi publik. Saya tidak ingin dia merasa tidak nyaman." jawabannya
Hah! benarkah? Siapa yang dia maksud sebenarnya? Aku atau bukan?
Aku masih tidak mau merasa besar kepala mendengar pengakuannya sampai di situ.
"Sebenarnya saya mendirikan perusahaan baru ini sebagai hadiah untuknya, JEKA Cipta garment. Sengaja namanya saya ambil singkat saja sebagai nama perusahaan."
"Nama panjangnya siapa? Tuan."
"JESIKA."
Syiur
Seperti angin yang segar di musim panas. Rasa bahagia langsung menyeruak ke dalam hatiku mendengar pengakuannya.
Aku terdiam seperti tidak percaya kalau aku kali ini benar-benar sudah di akui di hadapan publik, di akui di dunianya. Mataku menatap nanar ke wajahnya yang masih saja selalu tersenyum.
Aku terharu, sungguh terharu.
"Mah, Mama kenapa menangis?" Tanya Sisi
__ADS_1
"Ssst, Mama menangis bahagia. Diamlah, Mama ingin dengar apa yang akan di katakan Ayahmu lagi." Ucapku sembari mengusap air mata yang sempat menetes.
"Hem, tadi aja bilangnya gak mau lihat. Sekarang malah sampai menangis."
"Ssst..." Sekali lagi aku menyuruh Sisi untu diam.
Aku tersenyum melihat wajah Vanesa di sampingnya yang sudah merah padam menahan amarahnya.
"Sekali lagi saya katakan bahwa saya sudah menikah dan saya sangat mencintai istri saya."
Suara riuh tepuk tangan memenuhi gedung tempat mereka melakukan siaran langsung.
"Satu lagi pertanyaan, Tuan." Masih ada yang mengangkat tangan untuk bertanya.
"Baiklah, katakan."
"Apakah benar anda juga sudah di karuniai seorang putri?"
Aku kembali menegang mendengar pertanyaan seperti itu, bahwasannya Sisi itu bukanlah putri kandungnya. Apakah dia juga akan mengakui sebagai putrinya? Aku berharap dia tidak berubah, masih sangat menyayangi putriku dan tidak akan membuangnya.
"Mah, sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan?" Sisi yang bingung mendengar setiap perkataan yang keluar dari acara itu.
Aku tidak merespon pertanyaan Sisi, saat ini aku tengah fokus untuk mendengarkan jawabannya.
"Benar."
Lagi-lagi jawaban yang membuat ku melayang keluar langsung dari mulutnya. Akhirnya dia juga mengakui putri ku sebagai putrinya.
"Apakah benar itu bukanlah putri kandung, anda?"
"Mau bagaimanapun dia berasal, dia tetap putri saya yang saya sayangi." Ucapnya dengan mantab.
Aku semakin terharu mendengar dia bilang seperti itu di depan umum. Sungguh ini di luar dugaan dan pikiran ku.
Apakah ini cukup membuktikan rasa cintanya padaku? Entahlah. Dengan jujur dia berani mengakui aku dan anakku adalah keluarganya.
Aku memang bahagia mendengar pemberitaan ini, tapi aku juga masih sedikit ragu. Apakah selama ini dia berusaha mencari ku atau tidak? Apa mungkin aku terlalu jauh bersembunyi hingga dia tidak bisa menemukan aku?
Atau semua yang di katakan nya hanya untuk memancing ku agar cepat pulang? Makanya dia mengatakan lewat stasiun televisi, karena dia yakin aku pasti melihatnya.
.
.
Bersambung 😊
__ADS_1
Sampai sini dulu ya☺️, dikit sih tapi author udah berusaha 2 kali up hari ini😁