Second Marriage

Second Marriage
Bab 85 Pergi untuk kembali


__ADS_3

Seorang mantan kekasih dari suami berani menelepon di waktu tengah malam, membuat hatiku yang tadinya tenang menjadi resah. Semua pikiran positif berubah menjadi negatif tanpa di atur.


Terlebih melihat ekspresi wajah yang tidak biasa, membuat hati yang baik-baik saja tiba-tiba terasa perih. Terlihat jelas dia mengkhawatirkan wanita itu.


Dengan cepat dia berganti pakaian setelah meletakkan ponselnya. Aku hanya diam di tempat melihat semua yang dia lakukan terburu-buru. Mulutku terasa kelu hanya ingin sekedar bilang untuk tetap tinggal dan jangan pergi.


Mataku yang sudah berkaca-kaca, berusaha keras untuk menahan buliran air yang siap meluncur.


"Istriku, Vanesa sedang tidak baik-baik saja. Aku akan melihatnya sebentar. Kasihan dia sendirian di apartemen."


Kau masih sangat peduli padanya.


"Tenanglah aku tidak akan pergi sendirian, ada Ken yang akan menemaniku." Ucapnya sembari memakai sepatu.


Mulutku masih setia terdiam seperti terkunci rapat. Apapun yang dia bicarakan telingaku enggan mendengarnya.


"Kau tidurlah, aku akan segera kembali." Dia mendekatiku, sempat mencium kening dan bibirku sekilas sebelum dia beranjak dari kamar.


Mungkin aku wanita bodoh yang hanya diam melihat punggung suami menghilang dari balik pintu kamar. Langkahnya yang tergesa demi menemui wanita lain di waktu yang tidak tepat, membuat hati ini seperti teriris pisau tajam.


Percuma kalaupun aku bisa menahan tubuhmu jika hatimu bersikeras untuk pergi. Biarlah ini menjadi waktuku untuk kembali menimang setiap perkataan dan perlakuan darinya.


Air mata yang tadi ingin terjun bebas sekarang hanya menetes saja. Kembali masuk ke dalam bersamaan rasa sesak yang tak sanggup keluar.


Kecewa, pasti kecewa. Meski aku hanya sebatas istri kontrak, tapi kau selalu membuatku salah menilai mu. Memberi harapan pada hati yang pernah pupus.


Aku tahu aku bukan siapa-siapa dan aku juga sudah berusaha membatasi diri dan hati ini agar tidak terluka. Tapi ternyata dinding pembatas itu tak cukup kuat, untuk menahan rasa yang sama mampu kembali menerobos masuk begitu saja.


Hari sudah hampir pagi, tapi tidak juga ku dengar suara mobil yang datang. Itu berarti dia belum pulang. Mencoba menenangkan hati setiap kali jarum jam berpindah tempat. memejamkan mata meski rasa kantuk sudah hilang dari tadi.


Malam yang terasa panjang membuatku berpikir untuk berusaha menghindar, agar rasa yang tumbuh tidak terlalu dalam.


"Pagi Ibu..." Sapa ku padanya yang sudah duduk di depan meja makan.


"Pagi sayang..." Sapa nya juga sembari tersenyum.


"Ibu, apa Ibu baik-baik saja setelah kemarin bertemu dengan Nyonya Widya?" Aku takut Ibu akan terluka perasaannya ketika mendengar ucapan pedas mantan mertuaku.


"Yah, Ibu sangat baik sekali. Ibu juga sudah tegaskan pada mereka untuk tidak mengulangi hal yang sama, dan mereka sudah berjanji pada Ibu tidak akan melakukannya lagi."


"Terimakasih, Ibu." Ucapku sembari memegangi telapak tangannya.


"Sudahlah jangan sungkan pada Ibu. Oh ya, Nathan mana? Kenapa belum turun?"


"Dia belum pulang." Ucapku pelan.


"Apa dia lembur di kantor?"


"Tidak, Ibu."


"Lalu, kemana dia?"

__ADS_1


Aku diam teringat kepergiannya semalam yang berjanji akan segera pulang, ini bahkan sudah pagi tapi dia juga belum kelihatan.


Janji tinggallah janji.


"Kenapa, apa yang terjadi? Hem. Kenapa kau terlihat sedih?"


"Ibu, dia semalam pergi untuk melihat Vanesa."


"Apa!"


"Katanya Vanesa sedang tidak baik-baik saja."


"Bisa-bisanya dia pergi begitu saja, tidak memikirkan perasaan istri. Apa dia lupa kalau sudah menikah?"


Tidak mungkin lupa, baru saja kami melakukan hubungan layaknya suami-istri.


"Sayang, kenapa kau tidak mencegahnya?"


"Ibu, aku membiarkan dia pergi bukan berarti aku tidak peduli. Aku hanya ingin tahu sebatas mana perasaannya padaku sekarang."


"Ibu bisa mengerti perasaanmu."


"Ibu, ada hal yang ingin aku minta." Kali ini tanpa ragu aku akan mengatakan padanya keinginanku.


"Katakanlah, Ibu akan mengabulkan permintaan mu. Asal, kau tidak minta bercerai ."


"Tidak, bukan itu. Izinkan aku dan Sisi keluar rumah ini untuk sementara waktu."


"Maksudmu apa?" Ibu yang terlihat tak percaya karena aku ingin pergi membawa anakku.


"Emmm, liburan ke suatu tempat misalnya."


"Apa kau ingin pergi dari Nathan?"


"Ibu, aku butuh waktu menghindar darinya sebentar. Bukan berarti aku tidak mau berjuang untuk pernikahan kami. Mungkin dengan tidak adanya aku, dia bisa mengerti dengan perasaannya yang sebenarnya. Aku ingin dia menyelesaikan masalahnya yang sejatinya belum terselesaikan." Ku utarakan keinginanku saat ini.


"Apa kau yakin?"


Aku mengangguk pasti, sudah semalaman aku memikirkan hal ini. Aku berharap keputusan ku ini akan memberikan hasil yang terbaik. Terbaik untuk semuanya.


"Tapi..., apa kau akan kembali?"


"Ibu, aku istri Nathan. Di sinilah nantinya aku pulang, terlepas apa yang akan terjadi nanti. Aku akan kembali meski kembalinya aku untuk pergi lagi."


"Tidak, Ibu yakin Nathan tidak akan membiarkanmu pergi lagi."


"Semoga saja begitu."


Aku pun berharap saat aku kembali nanti, hanya aku yang menjadi prioritasnya bukan wanita lain.


"Ibu akan menyiapkan tempat untuk kalian tinggali dan semua perlengkapannya. Ibu juga akan mengirimkan orang-orang untuk membantu kalian, dan akan_"

__ADS_1


"Ibu, aku tidak mau semua itu. Aku hanya ingin berdua saja dengan anakku, tidak ada orang lain."


Aku yang akan pergi, Ibu mertuaku yang panik. Huf, kalau sampai ada orang Ibu ikut bersamaku, sama saja aku tidak bersembunyi.


"Tapi..."


"Ibu jangan khawatir, aku bisa jaga diri sendiri dan anakku dengan baik. Percayalah padaku." Aku berusaha meyakinkannya agar jangan terlalu khawatir.


"Di luar sana, tidak ada orang yang tahu kalau aku adalah istri dari Nathan Darwin Erlangga. Jadi, tidak akan ada orang yang berusaha mencari kesempatan untuk dekat denganku atau memanfaatkan aku untuk niat yang kurang baik."


"Baiklah kalau begitu bawa ini." Ibu menyerahkan sebuah kartu penyimpan uang.


"Tidak, Ibu. Uang yang di berikan suamiku tiap bulan itu lebih dari cukup untuk kami berlibur."


"Ck, kau ini..., bagaimana Ibu tidak khawatir? Di kasih ini itu nggak mau."


"Ibu, aku tidak selemah yang terlihat." Aku tersenyum melihat sikap Ibu.


"Dan maaf Ibu, sementara aku tidak akan menggunakan ponsel."


"Terus, bagaimana Ibu bisa menghubungi kamu."


"Aku yang akan menghubungi Ibu."


"Baiklah, terserah kau saja. kalau terjadi sesuatu segera hubungi Ibu."


Aku memeluk erat Ibu mertua yang sangat baik padaku.


Aku juga tidak memberitahukan kemana aku pergi, biarlah hanya aku yang tahu. Tak lupa aku juga meminta bantuan Ibu untuk menyingkirkan orang-orang yang selama ini mengawasi ku.


Meski dengan berat hati, Ibu mertua menyetujui semua rencana yang ku buat.


Pergi untuk kembali, itulah yang akan aku lakukan. Bukan aku pengecut yang tidak berani menghadapi masalah, hanya saja terkadang masalah harus di biarkan mengalir begitu saja.


Aku berharap keputusan yang aku ambil bukanlah keputusan yang salah. Membiarkan dia dengan leluasa menemukan siapa pemilik hati yang sebenarnya.


Dia yang membuat aku harus menempuh jalan ini. Sikapnya yang selalu tidak jelas dan berubah-ubah, membuatku merasa gamang.


Kepergian ku bukanlah untuk memberikan pelajaran.


Kepergian ku hanya untuk memberikan ruang bagi hati yang bimbang.


.


.


Bersambung😊


Akhirnya bisa dobel up hari ini ☺️


Buat yang lagi kuesel bingit ama Nathan boleh deh sorak-sorai 😉

__ADS_1


Jangan lupa like nya😘😘😘


__ADS_2