
Jika aku bisa mengulang kembali waktu yang telah lalu, aku tidak akan melakukan tindakan bodoh yang membuatnya pergi tanpa sepengetahuanku.
Waktu tidur yang cukup nyaman aku rasakan selama ini, tiba-tiba terganggu dengan sebuah gerakan tangan yang membangunkan aku untuk mengangkat telpon.
Memaksaku untuk membuka mata yang sudah terpejam, karena wanita di sisiku terganggu dengan suara berisik dari ponselku.
Saat aku sudah menggeser gambar yang berwarna hijau, tiba-tiba langsung mati. Lalu ku buka pesan singkat dari WhatsApp, aku di kejutkan dengan isi pesannya.
Sebuah pesan dari seorang wanita yang pernah singgah dalam hatiku dan membuatku bahagia. Tapi dia juga yang telah membuat hatiku hancur dan kacau karena kepergian yang takkan pernah kembali sekaligus wanita yang membuatku kecewa karena kebohongannya yang sangat besar.
Pesan yang meminta sebuah pertolongan karena dirinya sedang tidak baik-baik saja. Entah kenapa aku sangat khawatir akan keadaannya saat ini, masih tersimpan rasa bersalahku padanya dulu, karena tidak bisa menjaganya baik-baik.
Dengan tergesa dan terburu-buru aku mengganti pakaian dan cepat pergi ke tempat mantan kekasihku. Tidak lupa aku berpesan pada istriku untuk tetap tenang dan berjanji akan segera kembali.
Namun setibanya aku di tempat Nesa, aku di kejutkan melihatnya tidak berdaya. Terbaring dengan selimut yang tebal menutupi sebagian tubuhnya. Tanpa pikir panjang aku menghampirinya dan memegang dahinya.
Panas, sangat panas itu yang aku rasakan. Aku panik dan hendak mengangkat tubuhnya untuk di bawa ke rumah sakit, namun dia menolaknya. Dengan wajah yang sangat memelas dia meminta untuk di temani dan di rawat olehku. Mengingat dulu dia pernah berjuang sendirian melawan maut tanpa aku di sisinya, membuatku merasa tidak tega.
Akhirnya aku menyuruh sekertaris ku untuk mencarikan obat terbaik penurun panas, lalu aku kompres dahinya. Dia selalu saja mengigau tentang kejadian masa lalu yang mengerikan, yang telah menimpanya.
Aku merasa sedih dan kasihan mendengar juga melihatnya seperti itu. Aku merawatnya semalaman dan akhirnya panasnya turun saat sudah pagi, sebelum aku memutuskan untuk kembali pulang aku menyuruh Ken untuk mencarikan sarapan. Memastikan dia makan dengan benar dan keadaanya membaik, barulah aku pamit untuk pulang.
Dalam perjalanan aku sudah merasa lega karena akan segera bertemu lagi dengan wanita yang sudah membuatku nyaman dan tenang. Tidak peduli masa lalu yang seperti apa, yang aku tahu dia seorang wanita yang baik hatinya.
Awalnya aku memang hanya ingin bermain-main saja dengan-nya, namun melihat sikapnya yang berusah melawan setiap hari membuatku merasa terhibur. Hingga aku benar-benar merasa dia milikku, tidak akan ku biarkan orang lain bisa menyentuhnya.
Terlebih saat aku ingat pertempuran malam tadi, dia benar sudah membuatku menggilainya.
"Ken, cepatlah..., aku sudah tidak sabar ingin sampai ke rumah."
"Tuan ini sudah cepat, saya tidak mau menambah kecepatan lagi dengan kondisi saya yang kurang istirahat, saya tidak ingin membuat Tuan celaka."
"Kau benar, aku tidak ingin mati sebelum aku punya anak."
"Tuan tenang saja, Nyonya pasti menunggu dengan sabar."
Memang aku sedikit gelisah tidak mengabarinya setelah aku pergi, apalagi sekarang aku mendapati ponselku habis baterai.
"Apa kau yakin...?"
Mengingat dia yang selalu berusaha keluar rumah, aku takut dia sudah pergi ke toko dan tidak menunggu kepulangan ku. Padahal aku hari ini berencana ingin tinggal di rumah, menghabiskan waktu dengannya dan menunda semua meeting hari ini.
"Tentu Tuan. Meskipun kadang sikap Nyonya yang cuek dan terkesan tidak cemburu dengan Nona Nesa tapi sesungguhnya dia sangat marah pada Tuan."
"Sok tau kau ini. Kau saja tidak punya pasangan. Tapi, jika memang seperti itu aku sangat senang, itu berarti dia mulai mencintaiku." Aku tersenyum membayangkan dia yang selalu mencium ku duluan tanpa ku minta.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, seperti biasa Pak Didi selalu sudah siap di balik pintu untuk menyambut ku.
"Pagi Pak Didi..." Sapa ku dengan tersenyum padanya.
Sebuah salam pagi yang jarang aku ucapkan tiba-tiba keluar begitu saja.
"Pagi, Tu_Tuan..." Melihat Pak Didi yang terkejut, membuatku ingin tertawa.
Aku menyuruh sekertaris Ken untuk pulang dan istirahat sebentar, setelah itu dia harus ke kantor untuk mengatur jadwal ulang kembali meeting yang tertunda hari ini.
Setelah itu aku masuk, dan benar saja sudah tidak ada siapa-siapa di meja makan. Aku yakin anakku sudah berangkat sekolah bersama Ibuku. Tapi, entahlah dengan istriku. Aku berharap dia masih terlelap dalam tidurnya, karena dia sudah bekerja keras semalam untuk memuaskan aku.
"Pak Didi, bagaimana keadaan rumah? Semua baik-baik saja kan..., di mana Nyonya? Pasti dia sedang tidur ya." Aku merasa tidak sabar menunggu jawaban dari sekertaris Ken.
"Tu_Tuan, tunggu!"
"Tidak perlu mengikuti ke atas, lanjutkan saja pekerjaan mu." Ucapku sembari menaiki anak tangga.
Jantungku sudah dag dig dug, melihat pintu kamar yang masih tertutup rapat. Membuatku yakin kalau wanitaku masih berada di dalam.
Aku membuka pintu dengan cepat lalu masuk dan melihat ke arah ranjang. Kecewa saat aku hanya mendapati pakainya di atas ranjang.
"Istriku, sayang..., kau di dalam?" Aku menuju kamar mandi, mungkin dia sedang mandi. Tidak ada jawaban, ku lihat masuk ke dalam dan ternyata juga tidak ada.
"Huf, ternyata dia tidak menunggu." Gumam ku yang sudah duduk di tepi ranjang.
Saat aku hendak meletakkan ponsel di atas nakas, aku heran. Melihat sebuah kartu yang pernah aku berikan padanya tergeletak begitu saja.
"Apa mungkin dia melupakannya?" Ku pegang kartu itu.
"Kenapa selalu ceroboh, kenapa ini bisa keluar dari dompetnya?" Sedikit kesal mengingat kecerobohannya. Lalu ku letakkan kembali benda itu di tempatnya tadi.
"Dan apa ini? Kenapa dia meletakkan pakaian kotornya di sini? Apa dia sangat terburu-buru untuk pergi?" Aku memegang pakaian itu dan sempat menciumnya, masih tercium bau tubuhnya menempel membuatku ingin memeluknya saat ini.
Setelah puas aku memeluk pakaiannya, aku letakkan kembali di atas ranjang. Aku ingin setelah mandi, tetap bisa istirahat dengan pakaiannya di sampingku. Dengan begitu aku bisa tidur dengan tenang.
Sesuai membersihkan diri, aku menuju ke ruang ganti untuk mengambil pakaian di lemari.
Terkejut saat melihat ada lemari yang letaknya tidak jauh dari lemari pakaianku di biarkan terbuka.
"Ck, kenapa lagi-lagi ceroboh. Membiarkan lemarinya terbuka." Ucapku sembari berjalan ke arah lemari itu untuk menutupnya.
Aku terkejut, mataku melotot sempurna melihat lemari yang tidak ada isinya. Semua pakaian istriku tidak ada.
"Sial, dia pergi rupanya" Aku benar-benar merasa marah karena ternyata istriku kabur dari rumah, langsung aku robohkan lemari itu hingga kacanya pecah berhamburan.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lalu aku keluar dan masuk ke kamar Sisi. Di sana juga aku hanya mendapati mainannya yang di tata rapi di ranjang.
Kemudian aku berlari turun ke bawah masih dengan handuk yang melilit di pinggangku.
"Pak Didi, Pak Didi..." Teriakku sembari turun ke bawah.
Ternyata semua pelayan sudah berkumpul dan berjejer rapi di bawah sebelum aku perintahkan.
"Di antara kalian semua ada yang bisa menjelaskan padaku, kenapa tidak ada yang mencegah Nyonya pergi? Kenapa tidak ada yang memberitahu kalau Nyonya berencana pergi?"
Semua diam, tidak ada yang menjawab termasuk Pak Didi. Semua hanya menunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Meraka tahu aku sedang sangat marah, meski aku tidak bersuara tinggi.
"Kalian semua tidak berguna!" Umpat ku langsung, melihat mereka tidak ada yang berani menjawab.
"Pak Didi, ikut aku" Perintahku tegas.
"Katakan, di mana Ibu? Apa Ibuku sengaja membawa Nyonya pergi? ha!" Tanyaku saat sudah di ruang kerja.
"Ibu berangkat ke luar negeri, sedangkan Nyonya..." Terlihat sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Nyonya apa? Di mana? Cepat katakan." Aku sudah tidak bisa mengontrol emosi lagi, ku lempar tumpukan buku yang ada di atas meja ke sembarang tempat.
"Nyonya pergi sendiri membawa Nona Sisi, Nyonya Sonya pergi karena Tuan pasti akan sangat marah padanya."
"Dasar, wanita tua itu. Bisa-bisanya membiarkan istriku pergi. Bukannya dia senang dengan pernikahan ku?" Gerutuku.
"Panggil Ken secepatnya, aku ingin kalian mencari dan menemukan istri dan anakku segera. Aku hanya ingin istriku kembali."
Ya hanya itu yang aku inginkan, melihatnya ada di depan mataku lagi. Aku merindukan kemarahannya, kekesalannya, kebenciannya semua yang ada padanya.
"Pergilah...!" Ucapku pelan, sudah kehilangan daya.
Tanpa banyak bertanya dan perintah ke dua kali, Pak Didi segera keluar dari ruang kerjaku.
Aku terduduk lemah, menerima kenyataan aku telah kehilangan lagi. Sosok wanita yang sudah memberikan warna di hidupku kembali setelah sekian lama tak berwarna.
Hatiku merasa sakit kehilangannya. Aku takut, sangat takut dia tidak bisa ku temukan. Rasa takutku kali ini terasa melebihi rasa takut yang pernah aku alami dulu.
"Ibu, pulanglah. Putramu sedang rapuh saat ini, aku membutuhkan pelukan hangat darimu." Aku benar-benar merasa frustasi.
"Ibu, aku sudah mencintainya sekarang."
.
.
__ADS_1
Yang penasaran reaksi Nathan setelah kepergian istrinya, sudah ya😁
Dia tidak bisa meledak-ledak seperti dulu, karena sudah merasa rapuh hatinya hingga tenaganya pun udah habis😂