Second Marriage

Second Marriage
Bab 101 cemburu dengan anak kecil


__ADS_3

Dengan penampilan yang tidak biasa, aku yakin semua orang akan memandang aneh pada kami.


Awalnya Sisi pun harus mengikuti apa yang di inginkan Ayahnya, tapi dia berani menolak dan Akhirnya dia menang dengan sedikit perdebatan.


Dan benar saja, setibanya kami di tempat bermain banyak pasang mata yang fokus akan penampilan ku dan suamiku, yang terbilang lebay


Aku merasa tidak nyaman dengan pandangan mereka, tapi berbanding terbalik dengan suamiku. Dia sangat percaya diri dan seperti siap memasang badan saat ada orang yang mendekati ku dan juga putriku.


"Mama, Sisi mau main seluncuran di sana itu ya..." Pintanya saat kami baru saja sampai.


"Tidak sayang, nanti kau jatuh gimana?" Tolak ayahnya cepat, melihat seluncuran yang tinggi.


"Ish, ayah ini." Desis Sisi yang merasa tidak suka. "Tidak akan ayah, Sisi sudah besar dan terbiasa main." Lanjutnya memberikan alasan yang tepat.


"Suamiku, biarkan sajalah...kita kan niatnya mau nganterin Sisi bersenang-senang, kalau semua kau larang, bagaimana dia bisa senang?" Aku pun ikut menyambar, tahu suamiku yang belum-belum sudah over protek.


"Tapi kan itu bahaya..."


"Kan ada ayah yang hebat siap menjaganya" bibirnya tersungging saat aku sudah mengeluarkan pujian sembari menepuk-nepuk halus punggung tangannya.


"Kau benar aku ayah yang hebat." Ucapnya seraya tersenyum, membanggakan diri sendiri.


"Iya, pergilah sayang..." Mendengar itu, sisi langsung berlari ke arah seluncuran yang tidak jauh dari tempat yang kami duduki.


"Berhati-hatilah!" Serunya melihat Sisi sudah menaiki seluncuran, dia khawatir.


"Tenanglah, Sisi pasti akan baik-baik saja." Ku usap punggungnya agar tidak terlalu khawatir.


"Ck, kau itu! Apa kau tidak takut kalau nanti dia celaka? Dia kan perempuan!"


"Iya..., tapi perempuan juga kan harus berani! Seperti ku"


"Hehehe, iya kau juga terlalu berani dan bodoh melawan orang sepertiku" Dia memencet hidungku, gemas. Aku pun ikut tertawa teringat setiap kebodohan ku saat berhadapan dengannya.


Terimakasih suamiku kau begitu mengkhawatirkan putriku.


Kemudian dia melingkarkan tangannya di pinggangku, setelah sebelumnya memaksakan kepalaku untuk bersandar di bahunya.


"Suamiku, aku sedikit gerah. Aku lepas sebentar ya jaketnya." Angin yang berhembus menyapu wajahku terasa segar, aku membuka penutup kepala yang berbulu.


"Ya sudah, kita pulang saja!"


Baru juga tiba, udah mau di ajak pulang.


Dalam batinku sangat tidak terima dengan aturannya.


"Lihatlah Sisi, dia begitu senang menikmati bermain di tempat ini, apa kau tega buat dia sedih dengan mengajaknya pulang." Aku menunjuk Sisi yang tengah semangat naik-turun hanya untuk sekedar seluncuran.


"Kenapa tidak, aku bisa membelikannya yang lebih bagus dan akan di tempatkan di taman belakang rumah. Aku rasa itu lebih baik daripada harus main di luar begini." Dia lalu berdiri.


"Eh! Iya baiklah, aku akan memakainya lagi." Aku pun ikut berdiri lalu memakai penutup kepalanya lagi.

__ADS_1


"Bagus, ayo kita mendekat ke sana" Ia berjalan lebih dulu kemudian dengan cepat aku menyusul dan mensejajarkan langkahku.


"Ada apa dengan orang-orang itu, kenapa mereka menatap mu seperti itu? Apa mereka menyukaimu?" Ia melihat pengunjung taman itu sedang memperhatikan aku, lebih tepatnya memperhatikan penampilanku.


Kenapa dia jadi bodoh sih, terang aja mereka melihat ku terus, ya karena aku terlihat ini aneh.


"Tidak sayang, aku rasa tidak begitu. Mereka hanya terpesona saja dengan senyumku." gurauku.


"Apa perlu mata mereka di tutup kain hitam, biar tidak bisa melihat." Ucapnya dingin.


"Apa kau berani, mereka semua belum tentu tahu siapa kau sebenarnya."


"Kenapa tidak? Apa kau ingin lihat?!" Tukasnya.


"Jangan sayang, aku cuma bercanda" Dia selalu serius menanggapi gurauanku.


"Dekatlah, jangan jauh-jauh." Menarik lenganku lalu di gandengannya, padahal aku sudah berjalan seiring dengannya dengan jarak yang dekat. Ah... ternyata punya suami yang terlalu care, tidaklah sebahagia di dalam cerita.


Dengan tindakannya yang begitu, membuat orang makin penasaran, karena aku sudah terlihat seperti tawanan FBI.


"Sayang lepaskan aku!" Aku melepaskan pegangan tangannya, lalu berlari cepat karena melihat ada anak laki-laki yang masih kecil ikut menaiki tangga seluncuran. Kira-kira dia masih berumur satu setengah tahunan gitu, ku lihat dia belum bisa kokoh saat tangannya harus berpegangan.


"Hey, hati-hati!" Serunya ketika aku berlari dan menghampiri anak itu.


"Hai, ganteng. Turunlah sayang nanti kau terjatuh!" Ku angkat paksa dia dari anak tangga, dia meronta dalam gendongan ku dan meminta naik lagi.


"Tidak sayang, belum waktunya." Aku berusaha menenangkannya yang mulai menangis.


"Entahlah, sayang." Memutar kepala mencari orang yang kehilangan anak.


"Tuan putri, turunlah. Ayah tungguin kau di bawah." Dia duduk di ujung seluncuran, menyuruh Sisi yang masih duduk di atas dan siap meluncur.


"Iya, Ayah. Tungguin Sisi ya..." Suara Sisi terdengar girang, lalu meluncur bebas menuju punggung ayahnya yang siap menggendong.


"Sisi sayang, kau tahu anak ini datang bersama siapa?" Aku bertanya pada Sisi yang sekarang di gendong Ayahnya.


"Tidak, Mama. Sisi aja enggak tahu datangnya kapan, tiba-tiba udah ada di bawah." Jawab Sisi cuek.


"Di mana orang tuanya? Kenapa berani meninggalkan anaknya sendirian di tempat umum seperti ini! Dasar gak becus punya anak!" Maki suamiku.


"Sudahlah sayang, gak usah marah-marah. Gak enak di lihat orang, sebentar lagi juga ada yang nyari." Ku gendong si anak tadi.


"Ayah, Sisi mau ice cream di sana itu" Rengekannya menunjuk penjual ice cream yang menggunakan food truk.


"Hei ganteng, tenanglah! Kakak Sisi akan beli ice cream, kau pasti mau kan?" Si anak terlihat cemberut dan bibirnya turun ke bawah hendak menangis.


"Jangan sebut pria lain ganteng, cukup aku saja! Tidak ada yang lain." Protesnya seraya cemberut.


Astaga, dia cemburu dengan anak kecil.


"Cepat belilah, keburu anak itu menangis nanti dan pasti akan menempel padamu terus!" Aku memutar bola mata malas, mendengar alasannya.

__ADS_1


Melihat antrian panjang di sana membuat aku berpikir ulang untuk membelinya, apalagi ada anak yang harus ku gendong. Pasti akan merepotkan.


"Sayang, kau lihat? Antriannya panjang, aku tidak akan sanggup bila harus mengantri sambil gendong anak ini dan kalau aku tinggal, dia pasti akan menangis karena takut sama kamu."


"Jadi maksudmu, aku yang harus mengantri bersama para wanita di sana!"


Aku menganggukkan kepala seraya meringis menunjukkan deretan gigi depan, membuka masker sebentar.


"Tapi..., ck! Baiklah demi kalian, aku akan lakukan hal yang belum pernah aku lakukan seumur hidupku" melihat ekspresi memohon dariku dan Sisi, akhirnya dengan terpaksa dia mau melakukannya.


"Terimakasih, sayang..."


"Terimakasih, Ayah..."


Ucapan terimakasih yang bersamaan membuatnya memaksakan kaki harus bergerak meski berat untuk melangkah.


"Kami akan menunggumu, di tempat duduk yang tadi"


"Iya baiklah, coba saja tadi kita bawa Ken, tidak akan serepot ini." Gerutunya sembari berjalan ke arah food truk.


Langkah kakinya yang panjang membuatnya cepat sampai ke tempat tujuan. Badannya yang tegap dan baju serba hitam yang dia kenakan, tidak membuat para emak-emak di sana menjadi segan dan memberikan jalan untuk mendapatkan giliran depan.


Saat dia melihat ke arah ku, ku berikan satu tangan ke atas dan mengepal, memberikan dia semangat.


Entah apa yang dia lakukan, akhirnya dia di berikan jalan untuk bisa cepat mendapatkan ice cream.


"Wah, ayah hebat! Bisa cepat dapet. Terimakasih, Ayah" dia datang langsung memberikan ice creamnya pada Sisi dan juga padaku.


"Sayang, apa yang kau buat? Sampe mereka rela mengalah" penasaran dengan sikapnya yang datang terlihat senang.


"Tidak ada" jawabnya datar, aku tidak percaya jika dia tidak melakukan hal apapun sampe mereka rela di geser.


Dan sesaat kemudian ada Ibu-ibu yang lewat di depan kami mengucapkan terimakasih silih berganti membuatku terbengong dan sampai tidak fokus saat menyuapi ice cream pada si anak laki-laki tadi.


"Suamiku, apa yang kau lakukan pada mereka? Kenapa mereka semua mengucapkan terimakasih padamu?"


"Hanya sedikit membantu mereka saja"


"Oh" walaupun aku sebenarnya masih penasaran tapi ya sudahlah tidak terlalu penting juga. Kembali aku fokus pada si anak tadi.


"Huh, mau sampai kapan anak kecil ini bersama kita" keluhnya lirih namun masih ku dengar. Aku diam, pura-pura tidak mendengar saja itu lebih baik, daripada aku angkat bicara pasti akan menambah kekesalan dalam hatinya.


"Reymond!" ku dengar seseorang sedang memanggil nama anak laki-laki.


"Kau!"


Masih bersambung ya ๐Ÿ˜Š


Maafkan author ya teman2๐Ÿ™ sudah bikin kecewa karena lama tidak up, ada hal yang memang harus di kerjakan dan membutuhkan waktu yang cukup lama jadi tidak ada waktu untuk menulis๐Ÿ˜


Saya juga gak janji kapan bisa up lagi, yang pasti kalau ada waktu akan di lanjut sampai tamat, sekali lagi maaf ya teman2๐Ÿ™

__ADS_1


Salam sehat selalu๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2