
Hari ini merupakan hari pertama aku keluar sendiri, tanpa di buntuti oleh sang suami dengan segala keribetan-nya. Rasanya melegakan bisa jalan-jalan dan menghirup udara luar setelah beberapa bulan aku di loloskan dari aktivitas luar rumah.
Bahkan urusan toko pun sudah di serahkan pada orang lain. Aku hanya tinggal menerima laporan tiap bulan saja. Dan keberadaan Doni sekarang, aku juga tidak di beritahu olehnya.
Di sebuah mall yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah, di sinilah aku berada. Aku ingin belanja kebutuhan calon anakku, yang belum di ketahui jenis kelaminnya. Sengaja aku tidak ingin tahu dia perempuan atau laki-laki, aku juga tidak ingin orang lain tahu karena takut akan mengecewakan kalau tidak sesuai dengan harapan. Biarlah akan menjadi kejutan bagi kami.
Karena aku sudah punya anak perempuan, jadi suamiku menginginkan anak laki-laki. Dan aku sangat berharap besar nanti anak yang akan lahir adalah seorang putera, agar suamiku tidak ada rasa kecewa. Meskipun, dia bilang jika anaknya yang lahir adalah perempuan, dia akan tetap menyambut dengan sukacita.
Sebenarnya dia ingin menemaniku berbelanja, beruntung dia punya meeting yang tidak bisa di gantikan oleh sekretarisnya jadi aku bisa puas memilih sesuai seleraku. Tidak hanya itu aku juga bisa makan sesuka hati.
"Hem..., aku jadi bingung mau ambil yang mana? Semuanya terlihat bagus dan ini, baju anak perempuan ini sangat indah sekali..." Sedang memilih-milih baju bayi laki-laki dan perempuan.
"Kenapa tidak ambil semua saja?" Ucap seseorang yang ada di belakangku.
"Tidak mungkin, itu namanya pemborosan." Jawabku masih asyik dan fokus dengan baju-baju di depanku.
"Sesekali boros juga tidak apa-apa, bahkan jika kau ambil semua barang di mall ini, suamimu tidak akan bangkrut."
Ku hentikan gerakan tanganku mendengar suara yang dari tadi menyambar ucapan ku. Baru menyadari, tidak mendengar suaranya kurang lebih selama satu tahun tidak lantas membuatku lupa akan pemilik suara itu.
"Doni!" Aku berbalik terkejut dan benar saja ku lihat Doni, adik sepupu dan juga teman terbaikku sudah memegang troli belanjaan. Tersenyum manis padaku.
"Hai..., apa kabarmu dan calon keponakanku?"
"Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak ada kabar?" Tidak menggubris pertanyaannya justru sangat ingin tahu, kenapa dia menghilang begitu saja? Dia hanya tersenyum tidak berniat menjawab pertanyaan ku
"Ayo lanjutkan belanjanya, akan aku temani setelah itu, kita bisa makan sambil ngobrol." Usul Doni.
Entah bagaimana Doni bisa muncul di tempat ini? Tapi, aku senang akhirnya bisa bertemu dengannya lagi dan dia baik-baik saja, bahkan dia terlihat sedikit gemuk. Aku berharap sekarang di dalam hatinya sudah tidak ada lagi rasa cinta untukku yang hanya melukai hatinya karena tak terbalas olehku.
Kemudian aku melanjutkan belanja mencari perlengkapan yang aku rasa kurang dengan di temani Doni. Banyak orang tersenyum melihat keakraban kami, bahkan banyak yang mengira kalau Doni adalah suamiku. Kami memang hanya jalan berdua karena Mbak asih dan orang-orang yang mengikuti ku di suruh menunggu di tempat makan yang ada di dalam mall ini.
"Mbak Jesi, aku rasa ini sudah banyak. Keranjang yang ku bawa sudah penuh, bisa kita istirahat?" Doni sudah merasa lelah, sedangkan aku masih bersemangat.
"Bentar lagi ya, Don."
"Ayolah Mbak...aku tidak mau kau dan keponakan ku kelelahan, bisa-bisa aku di kirim ke hutan Amazon sama kak Nathan, kalau sampai Mbak kenapa-kenapa." Mendengar nama sang paduka raja, aku tidak jadi meneruskan belanjanya.
"Huff, iya... baiklah. Ayo kita cari makan."
Sesampai di tempat makan, Doni menyerahkan semua barang belanjaan pada orang yang bertugas mengawal ku.
"Terimakasih..." Ucapku setelah Doni menarik kursi untuk ku duduk. Ku hembuskan nafas panjang beberapa kali.
"Tuh...kan, Mbak sudah kecapean. Perut sudah besar seperti itu masih saja berlagak seperti wanita langsing saja."
"Hehehe...sambil olahraga, biar nanti lahirannya lancar, Don..."
"Minum air putih dulu." Dia menyodorkan sebotol air mineral.
__ADS_1
"Mbak, masih lapar?" Pertanyaannya membuatku mengerutkan kening, aku belum makan sama sekali, kenapa bertanya masih lapar?
"Makan aja belum, kenapa pertanyaan begitu?"
"Lah, perut Mbak kan sudah besar. kali udah kenyang, gitu..."
"Ish, kau ini..." Desis ku sembari tersenyum dengan gurauan Doni.
"Kau harus tahu Don, kakakmu selalu membatasi apa yang ingin aku makan, kali ini tidak ada dia, aku hanya ingin makan mie rebus instan. Dan kau juga tidak boleh melarang ku. Ok!" Hanya sesederhana itu makanan yang ingin aku makan, tapi tiap kali aku meminta di rumah tidak pernah ada yang mau memberikannya.
Aku keluarkan sebungkus mie instan rebus rasa ayam bawang dari dalam Tote bag, yang di dalamnya berisi cemilan juga. Ku serahkan mie pada Doni dan meminta agar mie itu bisa aku makan di sini sekarang, terserah bagaimana caranya?
"Iya, baiklah..." Dia membawa mie tersebut ke arah dapur tempat makan ini. Aku tersenyum bahagia, akhirnya aku bisa makan sesuatu yang ingin aku makan dari beberapa bulan yang lalu.
Tidak lama kemudian, sebelum Doni kembali terdengar suara peringatan tanda bahaya di dalam gedung ini.
Ring...ring...ring....
"Astaga! Apa yang terjadi?" Aku mulai panik, apalagi sudah melihat banyak orang berhamburan dan saling menabrak mencari pintu keluar. Orang-orang itupun meneriakkan kata kebakaran sambil berlarian.
"Ayo Bu...lari di lantai atas ada yang terbakar!" Salah satu pengunjung berteriak padaku, melihatku yang masih duduk diam di tempat. Aku menunggu Doni kembali terlebih dahulu.
"Kemana Doni, kenapa tak kunjung kembali?" Aku sudah berdiri bertambah panik. Dengan perut yang sudah besar aku akan sangat kesulitan untuk berjalan cepat, apalagi di tambah harus berebut dengan banyaknya pengunjung di mall ini.
Aku mulai berjalan mencari jalan keluar mengikuti orang-orang lainnya, tidak peduli lagi dengan keberadaan Doni. Aku memikirkan anak yang ada di dalam perutku, dia harus selamat tidak boleh terjadi sesuatu apapun padanya. Dengan susah payah aku menuruni tangga darurat dan berhimpitan dengan yang lainnya.
Ku lihat orang-orang pun memikirkan keselamatan mereka sendiri dan hanya perduli dengan kerabatnya, sesaat sebelum turun ku lihat ada anak kecil yang menangis karena kehilangan orang tuanya.
Aku harus kuat, sayang bertahanlah di dalam, Ibu janji akan menyelamatkan mu...
Di dalam hati aku terus meyakinkan bahwa aku bisa melewati hal ini dengan baik.
Dan akhirnya aku bisa keluar dari gedung itu dengan selamat. Sesampainya di bawah nafasku sudah tersengal-sengal, badanku terasa lemah, perutku rasanya kram.
"Aduh...sakit!" keluhku lirih sembari mengusap perut, agar reda rasa sakitnya.
"Tante, dedek bayinya mau keluar ya...?" Tanya anak tersebut melihatku yang duduk bersandar di sebuah mobil. Aku menggeleng lemah.
Suara riuh semua orang dan sirine mobil ambulance juga mobil polisi membuatku semakin merasa pusing, mataku terpejam, keringat sudah membasahi rambut dan pakaianku.
"Tolong...tolong...tolong...!" Seru anak itu masih terdengar jelas di telingaku, dia berusaha mencari bantuan untuk menolongku.
"Mbak Jesi! Maafkan aku..." Ku buka mata dan melihat Doni sudah di dekatku.
"Doni, tolong aku..." Suaraku sudah semakin melemah.
"Bertahan Mbak, aku akan cepat membawa ke rumah sakit." Ucapnya sembari mengangkat tubuhku yang pasti sudah sangat berat. Sesaat sebelum mengangkat ku Doni menyerahkan anak itu ke polisi agar mendapatkan perlindungan.
Doni membawaku ke salah satu mobil ambulance, perawat dengan sigap langsung memasang selang oksigen di hidungku. Aku sudah mulai bernafas lega setelah alat itu terpasang.
__ADS_1
"Mbak, maafkan aku...terlambat menolong mu..." Di genggamannya erat jemari ku. Aku benar-benar merasa lelah dan tetap memejamkan mata.
"Pak, cepatlah! Kakakku dalam keadaan gawat." Mendengar suaranya yang meninggi, dia terlihat sangat panik.
Tidak butuh waktu yang lama, aku sudah di turunkan dari mobil ambulance dan di bawa ke UGD.
"Doni, hubungi Nathan. Aku ingin dia di sini."
"Iya Mbak..."
Setelah menghubungi suamiku, Doni memastikan aku langsung di bawa ke ruang rawat. Dan pastinya dia juga memilihkan ruangan khusus untukku.
Kemudian aku di periksa oleh seorang Dokter perempuan, dan aku rasa dia juga seorang dokter khusus kandungan.
"Ibu, sepertinya anaknya harus di lahirkan, karena air ketuban Ibu sudah merembes."
"Baiklah Dok, lakukan yang terbaik untukku dan anakku." Aku sudah merasa ini akan terjadi meski waktuku belum genap untuk melahirkannya.
Brak...
Suara pintu keras terdengar terbuka, bahkan suara hentakan kaki yang berlari mendekat.
"Sayang..., gimana keadaanmu?" Ternyata suamiku sudah datang, dengan panik dia membelai kepalaku dan juga memegang perutku.
"Tenanglah, aku baik-baik saja!" Ucapku sembari tersenyum padanya.
"Dokter, bagaimana istri saya?" Dia berbalik badan menghadap Bu Dokter yang masih berada di belakangnya.
"Tuan, karena air ketuban sudah mulai keluar dengan terpaksa harus mengeluarkan bayinya juga, jika tidak itu akan sangat bahaya." Terang Bu Dokter.
"Apa!" Terkejut mendengarnya.
"Bagaimana bisa? Dia belum waktunya lahir, Dok." Panik, pasti suamiku sangat panik dengan keadaanku. Dia tahu, saat bayi belum lahir pada waktunya akan menjadi prematur.
"Sayang, tenanglah...tidak apa-apa. Kau jangan khawatir, aku janji aku dan anak kita akan baik-baik saja." Ku coba menenangkan hatinya yang sudah gusar.
"Saya akan mencoba memberi rangsangan pada impusnya untuk lahir secara normal, Tuan." Ucap Bu Dokter.
"Dokter, apa yang akan di rasakan istriku?"
"Sakit pada perutnya itu pasti."
"Apa!" Yah, suamiku semakin terkejut mendengar aku akan merasakan sakit yang luar biasa saat menjelang melahirkan.
.
.
Bersambung 😊
__ADS_1
Happy reading ☺️, yuk tetap kasih jempolnya ya kawan...🥰🥰