
Happy reading buat kak Imel dan yang lain, yang penasaran dengan putusnya Nathan dan Vanesa, sudah terealisasikan ☺️🥰🥰
Setelah aku mengetahui istri ku kabur dari rumah, aku tidak mau membuang waktu untuk mencari keberadaannya. Aku menyuruh sekertaris ku yang setia dan biasa menyelesaikan masalahku, untuk mengumpulkan semua orang yang bertugas mengamankan keluargaku. Baik itu orang yang biasa berjaga dengan terlihat maupun orang-orang yang berjaga dalam bayangan.
Semua harus bergerak ke setiap sudut kota dan daerah dimana istriku pernah berada.
Berhari-hari aku selalu hanya menunggu dan menunggu di kamar bersama pakaiannya yang terakhir di pakai.
Sengaja pakaian itu ku biarkan masih berada di atas ranjang meski dalam keadaan kotor, tidak ku biarkan ada orang lain yang menyentuhnya. Mungkin aku sudah tidak waras selalu tidur dengan memeluk pakaiannya dan juga aku akan tertidur menjelang pagi setelah minum obat tidur. Itupun tidaklah lama, aku sudah terbangun lagi.
Pak Didi selalu, mengantarkan makanan ke kamar karena aku enggan untuk makan di bawah. Itu hanya akan mengingatkan aku pada istri dan anak tiri ku yang kadang kami berkumpul untuk makan bersama.
Seminggu sudah berlalu, tapi belum juga ada kabar dari orang-orang yang bertugas mencari keberadaan istriku. Semua itu membuatku semakin bingung, sampai ada terlintas pertanyaan dalam pikiran ku.
Mungkinkah Doni yang membantunya untuk kabur? Tidak, aku rasa dia tidak akan seberani itu.
Untuk memastikan kebenaran dalam pikiranku, langsung saja aku menyuruh orang untuk membawa paksa Doni datang ke rumah. Aku akan bertanya langsung padanya, karena sehari sebelum dia pergi, dia sibuk mencari tahu di mana Doni.
Tidak lama aku menunggu, Pak Didi datang dan memberitahukan kalau Doni sudah di bawah. Sebelum aku bergegas turun, aku teringat akan foto Vanesa yang masih terpajang di dinding kamarku. Aku berpesan pada Pak Didi untuk menurunkan dan menggantinya dengan foto pernikahan ku yang masih tersimpan rapi di ruang kerjaku. Foto yang sudah lama di cetak oleh Ibu ku setelah pernikahan itu terjadi. Aku ingin saat istriku kembali dia tidak lagi meragukan perasaanku.
"Hai kak, ada apa memaksaku kemari?" Tanpa basa-basi, Doni langsung saja bertanya alasanku memanggilnya.
"Di mana Jesi?" Setelah duduk, aku pun langsung bertanya pada intinya.
"Hah! Hahaha" Dia justru menertawakan aku.
"Doni, aku serius!" Melihat aku yang menatapnya tajam dia berhenti tertawa.
"Ada apa? Bukankah dia istrimu, kenapa malah bertanya padaku? Apa yang terjadi" Doni menjadi dingin melihat keseriusan ku.
"Doni, jangan pura-pura tidak tahu" aku masih yakin Doni pasti tahu sesuatu.
"Kak..., aku sudah merelakan dia untukmu dan sekarang kau tidak bisa menjaganya. Bahkan kau tidak tahu dimana dia sekarang. Suami macam apa kau ini!" Doni justru malah mencibir ku.
"Doni!" Aku berteriak sembari melebarkan bola mataku, tidak terima dengan perkataannya.
"Ck, aku tidak tahu!" Doni membuang mukanya, terlihat sangat membenciku.
__ADS_1
"Jika sampai aku tahu kau ada di balik kepergiannya istriku, maka tidak segan-segan aku memberikan ketegasan padamu." Doni tidak gentar dengan ancaman ku, ,dia justru menampilkan senyum menyeringai.
"Kak, kau harus tahu dan sadar bahwa dia pergi karena mu sendiri. Karena kau sudah membuat kecewa saat dia sudah menerima posisinya sebagai istrimu." Aku diam mendengar perkataannya yang memang benar adanya, bahwa aku telah membuatnya kecewa.
"Aku berharap kau mengerti itu. Tidak semua wanita bisa terus menutup matanya dan pura-pura tidak mengerti saat ada wanita lain yang datang dan mengusik." Ucapnya lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan aku.
"Kejarlah sampai kau dapat, jika kau merasa dia penting di hidupmu! Jika tidak, aku akan merebutnya darimu! " Doni menghentikan langkahnya dan berpesan tanpa menoleh padaku, dengan berani juga mengancam ku.
Setelah kepergian Doni, aku masih duduk diam di tempat. Memikirkan semua yang di ucapkan Doni, membuat ku semakin ingin cepat menemukannya. Dan sepertinya dia tidak main-main dengan ucapannya.
"Aaargh..." Ku usap kasar wajah yang pasti sudah terlihat kusam.
"Istriku, dimana kau sekarang? Apa kau bersembunyi di lubang semut dan berbaur dengan mereka, hingga aku tidak bisa menemukanmu?" Terlalu bingung memikirkan keberadaannya membuat otakku tidak bekerja dengan benar.
"Nathan..." Suara Vanesa menyapa dan langsung duduk di sampingku, saat aku tengah sibuk dengan pikiranku sendiri. Kedatangannya membuatku teringat akan kesalahanku yang telah meninggalkan istriku. Aku hanya menatapnya sekilas tanpa ingin membalas sapaannya.
"Kenapa kau tidak pernah bisa di hubungi? Kau juga tidak pernah datang untuk meeting dan hanya menyuruh Ken saja." Tangannya yang hendak memegangi lenganku langsung ku tepis dengan kasar.
"Hei, kau kenapa?" Dia heran melihatku yang tiba-tiba kasar.
"Jangan dekat-dekat lagi denganku!" Dia bingung dengan peringatan ku, dahinya mengernyit.
"Tidak, tidak ada. Kau tahu aku sudah beristri tidak sepantasnya kau masih berharap padaku." Tidak perlu ku katakan semua kesalahannya.
Dulu memang aku sangat bahagia sekali saat tahu dia kembali lagi dan sering menghabiskan waktu bersama untuk mengulang kembali kenangan yang lalu. Mencoba ingin kembali ke rasa yang pernah ada saat bersamanya, namun ternyata semua terasa berbeda. Perasaanku tidak lagi seperti dulu, terasa hambar dan datar. Justru ketika bersamanya, selalu saja terlintas wajah kesal istriku yang membuatku terhibur.
"Jangan! Jangan katakan itu padaku, aku tahu kau hanya menjadikannya sebagai pelampiasan saja. Dan aku bisa terima itu, sayang. Aku tahu kau masih mencintaiku." Vanesa memang keras kepala.
"Iya, itu dulu. Tidak sekarang, aku sudah mencintai istriku sebelum kau kembali." Vanesa menggelengkan kepala, masih tidak mau terima ucapan ku.
"Tidak Nathan, aku kembali hanya untukmu. Tidak perduli kau sudah menikah, aku sangat mencintaimu dan aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta lagi padaku." Lagi-lagi tangannya berusaha bergelayut di tanganku, dengan cepat aku menepisnya lagi.
"Pergilah, sudah ku katakan bahwa aku mencintai istriku dan kau tahu, sekali aku mencintai maka aku akan setia!" Dia terlihat sedih sekaligus marah, ada genangan air di dalam matanya.
"Lantas, apa maksudmu selama ini padaku? Kau masih menunjukkan perhatian dan kasih sayangmu padaku, apa itu bukan cinta?" Teriaknya marah padaku.
"Awalnya aku pikir itu cinta, tapi ternyata bukan. Ternyata aku hanya menyimpan sebuah rasa bersalah padamu, tidak lebih!"
__ADS_1
"Nathan, aku tidak peduli perasaanmu sekarang seperti apa. Aku rela jika harus berbagi dirimu dengannya, karena aku benar-benar masih sangat mencintaimu." Vanesa yang keras kepala, bersikeras untuk tetap bersamaku. Dia tidak akan mudah menyerah begitu saja.
"Pergilah, aku sudah pernah membuat kecewa istriku demi dirimu dan aku tidak mau melihatnya kecewa lagi saat dia kembali dan melihat mu ada di sini." Kedua kali aku sudah menyuruhnya pergi namun dia masih tetap bergeming di tempat duduknya.
"Nathan, aku_,"
"Vanesa, pergilah. Kalau kau masih keras kepala maka ku batalkan saja kerjasama denganmu." Aku sudah merasa jengah menghadapinya, apalagi mengingat belum lama ini Ken memberitahuku bahwa ternyata dia juga pernah menjalin hubungan dengan orang lain saat menghilangnya ke luar negeri bahkan pernah menggugurkan kandungannya agar bisa kembali bersamaku.
"Ok, baiklah. Aku pergi, tapi aku mohon jangan batalkan semua rencana bisnis kita, sebentar lagi akan usai dan tinggal menunggu peresmiannya."
"Satu lagi, aku adalah pemegang saham terbesar di sana dan semua akan ku limpahkan atas nama istriku begitu juga nama perusahaannya." Vanesa tercengang mendengar kalau perusahaan akan di limpahkan pada istriku, terlihat jelas dia tidak terima.
"Tapi..."
"Jika tidak setuju, aku bisa cari orang lain untuk mendesain setiap produk yang akan di pasarkan." Sebelum dia protes lagi aku sudah menolaknya.
Aku tahu, Vanesa akan terus mencoba mendekatiku dengan berbagai cara. Dan aku tidak akan menggunakan cara kasar untuk membuatnya menyerah, karena aku tahu dia akan menyerah dengan sendirinya saat dia yakin pada dirinya bahwa aku sudah tidak lagi mencintainya.
Mau tidak mau diapun tidak bisa lagi menolak. Dengan kecewa dia pergi dari rumahku tanpa berucap lagi.
Seminggu kemudian pendirian perusahaan baru telah selesai. Pencarian istriku juga belum menemukan titik terang, hingga membuatku hampir gila. Karena aku sudah tidak lagi perduli pada penampilanku sendiri.
Desas-desus tersiarnya kabar tentang pernikahan ku sudah mulai di dengar di masyarakat dan di semua pembisnis. Dan pastinya akan membuat semua pemburu berita gencar mencari kebenarannya. Dari situ aku berpikir untuk sekalian mengumumkan saja lewat semua stasiun televisi bersamaan dengan peresmian perusahaannya. Aku yakin istriku pasti akan melihatnya.
Dan berharap setelah dia tahu kalau aku mencintainya dia akan muncul dari persembunyiannya lalu kembali padaku.
Ya, sebuah rencana yang sempurna. Aku akan pastikan Ken mampu mengaturnya dengan baik.
Memikirkan rencana itu membuatku kembali bersemangat, aku menyuruh Ken untuk cepat mempersiapkan semuanya dan jangan sampai ada kesalahan.
Gugup, aku sangat gugup saat ini. Belum pernah aku merasakan ketidaktenangan seperti ini saat berhadapan dengan media. Mungkin karena sebelumnya aku terlalu gengsi untuk bicara cinta pada istriku.
Meski jantung ini Jedag-jedug, tapi aku berusaha untuk rileks dan mengontrol emosi, agar aku tidak salah bicara.
.
.
__ADS_1
Sampai sini aja ya POV Nathan memutuskan hubungan dengan Vanesa😊🥰