Second Marriage

Second Marriage
Bab 98 Ungkapan cinta


__ADS_3

Suamiku yang setia hanya mendengar dan tidak mau bicara justru membuatku bingung. Semua alasan tentang obat penunda kehamilan sudah aku ungkapkan langsung di depannya, seperti yang dia inginkan. Tapi, kenapa malah bungkam setelahnya?


Mungkinkah aku salah bicara lagi?


"Ap_apa aku salah bicara?" Tidak tahan melihatnya yang hanya diam terpaku.


Dia menarik nafas panjang saat mendengar pertanyaan ku lalu tangannya menangkup wajahku.


"Dengarkan aku, dan menurut lah. Aku tidak mau hal ini terjadi lagi. Kau adalah istriku dan aku suamimu. Aku mau kau menjadi Ibu dari anakku. Tidak peduli kau darimana, kau yang pantas melahirkan keturunanku." Ucapnya tenang dan membuat damai di hati.


"Aku percaya padamu, kau bisa menjadi Ibu yang baik bagi anakku nanti." Lanjutnya lalu menggenggam tanganku.


Mendengar dia bicara seperti itu membuat ku terharu sekaligus lega. Nada suaranya yang lembut dan meyakinkan membuat pikiranku tenang dan rasa pusing pun sedikit mereda. Bukan cuma itu, perlakuannya juga sudah tidak menunjukkan kekasarannya.


Aku mengangguk sembari tersenyum, lalu berinisiatif untuk memeluknya duluan.


"Terimakasih sudah memaafkan ku."


"Tentu saja!" Ucapan yang awalnya jelas lama-lama cuma bergumam. "Besarnya cintaku mengalahkan besarnya kesalahanmu." Lirihnya.


"Heh! Benarkah?" Langsung mengurai pelukanku, aku masih butuh mendengar dengan jelas ucapan cintanya barusan.


"Apanya...?" Tanyanya sembari menahan senyum dan pura-pura linglung.


"Tadi itu, apa aku tidak salah dengar?" Ku mainkan kedua alisku dengan menaik-turunkan seraya senyum-senyum.


"Dengar apa?" Eh, malah balik bertanya sembari tersenyum, masih gak mau ngaku. Jadi sebel!


"Ish, menyebalkan!" Ucapku sembari mengerucutkan bibir.


Dia tertawa kecil melihatku yang merajuk, lalu tangannya pelan mencubit bibirku.


"Jangan menggodaku dengan cara ini." Ucapnya dengan tangan yang masih berada di bibirku. Aku pun menepisnya dengan cepat.


"Apa susahnya sih? Bilang cinta sama istrinya. Kau sendiri bilang kalau aku ini istrimu tapi belum pernah aku dengar kata cinta dari mulutmu."


"Apa itu penting?"


"Hem, tidak. Tidak penting!" Ucapku tegas.


Seharusnya tidak perlu di tanya penting atau tidak, pasti pentinglah! Wanita juga butuh kata-kata.


"I love you!"


Aku yang tadinya sudah kesal dan cemberut langsung berubah ekspresi. Mataku berbinar seraya bibirku terangkat. Bahagia rasanya akhirnya mendengar ucapan cinta darinya.

__ADS_1


"Lagi dong..." pintaku lagi dengan memasang wajah imut.


"No! Sekarang giliranmu." Tolaknya langsung.


"Aku?" Tidak menduga kalau dia pun ingin mendengar aku bilang cinta.


"Iya, siapa lagi?"


"I love you too" ku ayunkan nada manja padanya seraya tersenyum.


Tanpa aba-aba dia langsung mencium bibir lembab ku, dengan lembut. perlahan namun dia lakukan dalam semakin dalam hingga menimbulkan gairah dalam diriku.


Ku lepaskan ciumannya setelah aku kesusahan dalam bernafas.


kami saling melempar senyum bahagia dan mata kami seperti saling bicara tentang cinta.


"Sayang, duduklah di sini," ucapnya sembari menepuk pahanya. Dengan senang hati aku pun langsung berpindah dan duduk di pahanya. langsung saja dia melilitkan tangannya ke tubuhku, aku pun ikut memegang kedua bahunya.


"Aku sangat merindukanmu." Dia memelukku, wajahnya menempel di benda kenyal ku, membuatku sedikit menahan gejolak yang sudah muncul saat ciuman tadi.


"Aku juga." Nafasku tersengal karena wajahnya di gesek-gesekan ke dadaku.


Tak berapa lama kemudian dia mengangkat tubuhku, di bawanya dan di baringkan nya perlahan ke atas ranjang. Setelah aku benar-benar sudah berada dalam posisi yang nyaman tak sengaja mata ini menatap ke atas.


Aku tersenyum-senyum bahagia karena sudah tidak ku dapati lagi foto wanita lain di atas ranjang ini. Entah sejak kapan foto itu turun, dan tergantikan dengan foto pernikahan kami, aku baru menyadari sekarang.


"Kenapa, apa masih kurang besar fotonya?" Tanyanya melihatku yang duduk setelah sesaat berbaring.


"Tidak, tidak sayang. Ini sudah cukup" Foto yang ukurannya lebih besar dari foto Vanesa.


Aku masih setia menatap foto itu dengan tersenyum.


"Istirahatlah, kau butuh banyak istirahat dan tidak boleh stres. Mulai sekarang jangan berpikir macam-macam lagi." Dia menyuruhku kembali berbaring, lalu dia pun ikut berbaring di sampingku.


"Apa kau sekarang bisa percaya? Kalau aku sudah mencintaimu." Dia bertanya sembari memelukku, aku pun hanya tersenyum sembari mengangguk.


"Kau tahu, sebenarnya meskipun foto Vanesa dulu masih tergantung di situ, sudah tidak lagi berpengaruh apa-apa bagiku, sejak aku hanya sibuk terus memikirkan mu. Bagaimana cara agar kau tetap di sisiku, bagaimana cara membuatmu cemburu dan bagaimana cara membuat mu juga mencintaiku."


Semua kata-katanya berhasil menghipnotis ku untuk tetap diam dan mendengarkan curahan hatinya.


"Maafkan aku, waktu itu aku tidak bermaksud meninggalkan mu terlalu lama. Aku pergi karena yakin kau tidak akan marah padaku karena aku melakukannya hanya atas dasar kasihan saja, tidak lebih. Aku tidak tahu kau akan tersakiti. Kepergian mu membuat ku semakin sadar kalau aku benar-benar menginginkan mu untuk hidup menua bersamaku."


Aku sudah seperti anak kecil yang mendengar cerita dongeng sebelum tidur. Aku tidak menyangka dia mampu bicara sebanyak itu.


Setelah hening beberapa saat kembali dia mengucapkan maafnya lagi sembari mencium pucuk kepalaku. Aku bisa merasakan dia menyesali perbuatannya.

__ADS_1


"Sayang, ap_apakah boleh?" Dia bertanya sembari tangannya sudah bermain-main di tempat yang dia sukai. Aku tidak mampu menjawabnya karena aku sudah mulai terpancing kembali dengan tindakannya.


"Apa kau kuat sayang?" Mungkin dia mengingat aku yang sedang tidak baik-baik saja. Dia bertanya namun sebelum aku menjawab, mulutku sudah di bungkam oleh bibirnya. Lidahnya pun sudah mulai masuk dan bermain di dalam mulutku.


Tangannya pun tak di hentikan bermain di bagian sensitif ku, hingga aku benar-benar sudah berselimut gairah. Dan tidak merasakan sakit lagi di kepala, hilang bersama keinginan untuk di puaskan.


Akhirnya sebuah kerinduan dan rasa cinta tersalurkan dengan hubungan intim kami malam ini. Sebuah perwujudan dari penyatuan cinta yang baru terucap.


Setelah peluh membasahi tubuh kami berdua, dia pun usai menuntaskan hasratnya. Kemudian tak butuh waktu lama membawaku untuk membersihkan diri.


Malam ini adalah malam yang dingin namun tidak terasa karena cinta kami yang sudah menghangatkan suasananya. Memelukku dan memberikan kehangatan agar aku dapat tidur dengan nyenyak tanpa meragukan lagi cintanya, itulah yang dia lakukan sepanjang malam.


.


.


Pagi pun datang, ku raba-raba tempat di sampingku ternyata sudah kosong. Suamiku sudah bangun dari tidurnya.


Tak berselang lama saat aku turun dari ranjang, pintu terbuka, memunculkan wajah yang ku cari. Dia tersenyum sembari membawa nampan berisi segelas susu, buah dan juga roti.


"Istriku, kau sudah bangun rupanya. Cepatlah basuh mukamu, lalu sarapan." Ucapnya sembari meletakkan nampan di atas meja.


"Iya, sayang," lalu aku ke kamar mandi untuk membasuh muka seperti yang di perintahnya.


"Sayang, kenapa harus di bawa ke atas? Ini susu apa? Kau yang buatnya sendiri?"


"Kenapa banyak tanya? Minumlah, ini susu untuk persiapan rahimmu agar cepat pulih. Dan kau harus tetap berada di kamar, tidak boleh kemana-mana. Ingat itu! Jika kau butuh sesuatu panggil saja pelayan. Mengerti!"


Setelah berucap panjang lebar memberi pesan yang wajib di jalankan. Dia memberikan segelas susu dan harus di habiskan.


Perhatian yang sedikit menyiksa.


Batinku pun berbicara tidak terima dengan protektif nya.


Setelah dia melihat kalau aku sudah minum dengan benar dia beranjak ke sebuah laci yang di dekat tempat tidur.


"Ini untukmu." dia memberikan sesuatu yang dia ambil dari laci.


"Apa ini?" Tanyaku langsung.


.


.


Bersambung 😊

__ADS_1


Hari ini sibuk jadi bisanya up tengah malam😅


Semoga tetap terhibur ya☺️


__ADS_2