
Author POV
Hari ini adalah hari yang sangat indah. Ahmad duduk di sebuah batu besar. Ia menutup mata dan memikirkan seorang wanita.
Ia memikirkan saat pertama melihat wanita itu datang dengan kerudung putih panjangnya, senyuman indah dan sorotan mata yang jernih menatap sekitarnya dengan ramah.
Saat wanita itu berbalik dan akan pergi,,, terlihat kerudung dan gamis panjangnya berkibas seakan sayap bidadari yang akan terbang kelangit. Dan tentu saja dia adalah Utari.
Dari awal bertemu Utari Ahmad sudah memperhatikannya, entah kenapa,,, lalu saat ia mulai berubah Ahmad sangat bersemangat sekali untuk mengajarinya.
Awalnya Ahmad berfikir mungkin memang hanya berniat untuk memenuhi permintaan sahabatnya yang sudah tiada, namun seiring berjalannya waktu,,, perasaan dan hati terasa berubah, seakan itu adalah takdir.
Sekali lagi Ahmad tersenyum tanpa ia sadari dan ia sadar bahwa dirinya sedang berhayal. Ahmad bangun dari tempat duduknya dan akan kembali ke lingkungan masjid. Ahmad tetap berjalan sambil tersenyum malu.
Rendi dan Mia POV
Mia sedang sibuk bermain ponselnya saat itu ia bejalan-jalan sambil mencari koneksi internet, karena saat itu cuaca sedang mendung, dia terus saja berjalan hingga tak sadar sudah berjalan jauh dari masjid itu, dan hingga tiba disuatu tempat ia mendapatkan koneksi sinyal. ia terus mengikuti arah sinyal yang lumayan itu sambil berharap ada koneksi yang lebih kuat.
Mia sepertinya sangat sial, tak lama dari itu terdengar suara petir yang lumayan keras dan hujanpun turun dengan sangat deras. Mia berlari untuk mencari tempat berlindung dan ia memutuskan untuk berlindung disebuah tempat mirip sebuah pos ronda.
Mia duduk di teras pos itu sambil kedinginan karena basah kuyup ditambah lagi cahaya jadi agak redup layaknya hampir magrib. Dan tiba-tiba saja kilatan petir menyambar sebuah ranting pohon. Mia berteriak sambil menutup telinganya, dan ternyata ada orang di dalam pos itu. Ia keluar karena terkejut ada yang berteriak. Ternyata itu adalah Rendi.
Dia adalah orang yang menabrak Mia hari itu. Ia terkejut melihat Rendi ada di situ dan begitupula sebaliknya. Rendi menyuruh Mia untuk masuk juga tapi Mia menolak. Rendi kembali masuk ke dalam, sontak Mia terkejut "bisa-bisanya dia meninggalkan seorang wanita di luar sendirian, mana dingin lagi." Batin Mia.
Tak lama dari itu Rendi keluar lagi dan membawa sajadah untuk menghangatkan badan Mia, karena tadi ia sempat melihat Mia menggigil.
"Ini pakailah untuk menghangatkan badan, sorry nggak ada selimut disini!" ucap Rendi sambil mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Ngga ah, makasih... Percuma pake itu, baju gue udah terlanjur basah kena air, pake itu mah tetep aja dingin." Tolak Mia
"Anu... Justru karena kena air, bajumu jadi transparan tuh." ucap Rendi sambil menggaruk kepala belakangnya.
Mendengar hal itu Mia menatap tajam pria yang ada dihadapannya itu dan perlahan melihat bajunya, dan ternyata benar, karena Mia memakai gamis berwarna muda, saat terkena air warnanya jadi agak transparan terutama pada bagian lengannya yang tidak tertutup hijab.
Mia membelalakkan matanya dan mengambil sajadah ditangan Rendi dengan cepat kemudian ia gunakan untuk menutupi lengan dan bahunya.
"Pfffttt..." Rendi menahan tawanya.
"Apa emang ada yang lucu?" tanya Mia sewot.
"Yah... Walaupun saya sering ada di pondok, gini-gini saya juga laki-laki loh, untung saya bukan tipe mata jelalatan, coba kalo tadi bukan saya!" ucap Rendi sambil berbangga diri.
"Iya iyaaa... Makasih bantuannya" ucap Mia sambil duduk di lantai luar pos itu.
"Ternyata lu orangnya seru juga ya, dulu gue kira anak pondok itu orangnya pasti kaya kuper terus kaya ngga ngikutin perkembangan zaman, gue baru tau kalo mereka ngga kaya gitu" ucap Mia.
"Yeeeee... Ya kali, kita itu anak pondok bukan anak primitif, kita tetep ngikutin zaman kaya orang-orang, cuma kita lebih memilih mana yang bisa di ikuti dan yang tidak, yahh kurang lebih gitu lah, pasti lu juga udah paham." Jelas Rendi pada Mia."
Hujan sudah mereda Mereka berdua berdiri untuk kembali ke pondok.
"Ren... Bareng yuk pulangnya." ajak Mia
"Emm... Lu duluan aja, ngga enak kalo diliat orang" Rendi Menolak ajakan Mia
Mia Mengeluarkan sesuatu dari saku kecilnya, ternyata catatan kecil beberapa lembar kertas yang isinya nomer Mia semua disetiap lembarnya. Mia memang sedikit aneh, ia suka menulis nomer ponselnya dengan jumlah yang banyak, dan ia bawa kemana-mana.
__ADS_1
"Nih disave ya nomer gue" pinta Mia
"Lu kok udah siap sedia nomer, jangan-jangan..."
Belum sampai Rendi menyelesaikan perkataannya, Mia sudah memotong ucapan Rendi.
"Sssstttt... Plis jangan mikir macem-macem, nomer gue tu sakral, ga semua orang bisa punya dengan mudah tau, sejauh ini yang punya nomer gue cuma Tari, sama temen SMA dulu, dan sekarang calonnya bakal ketambahan satu orang deh, pliss jangan ditolak, ini adalah berkah" ucap Mia sambil bergurau.
Rendipun menerima nomor Mia dan mereka pulang secara terpisah.
Dan saat Mia sampai di pondok itu, terlihat ramai sekali orang dan Tari terlihat cemas memikirkan sesuatu
"Ut ada apa, kenapa ramai sekali?" Tanya Mia
"Tadi pas lagi jalan sama temennya, Ahmad tiba-tiba pingsan dan hidungnya mimisan." jawab Tari risau
"Kok ngga dibawa ke rumah sakit, itu masih mimisan terus loh." Mia pun ikut khawatir
"Tadi ngga lama setelah pingsan dia bangun, pas mau dibawa ke RS dia nolak kayanya, aku juga kurang denger." jawab Tari
"Yaudah tenang aja pasti Ahmad cuma kecapekan, makannya dia ngga mau ke RS, mungkin dia lebih suka istirahat di rumah." Ucap Mia berusaha memenangkan Sahabatnya.
Jangan lupa baca eps berikutnya yaa...
Mohon maaf apabila ada kesalahan bahasa dan pengetikan
Happy reading;)
__ADS_1