Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
eps.14 seperti tahanan


__ADS_3

Malam terasa sangat menyiksa, aku tak bisa tidur sedikit pun. Aku hanya bisa meringkukkan tubuhku sambil menangis. Aku sangat menjaga jarak pada Ahmad waktu masih bersamanya, tapi sekarang,,, aku malah sekamar bersama pria asing didalam lingkungan yang entah apa namanya.


Baru saja aku berusaha menutup mataku, namun aku teringat, ini masih bulan suci ramadhan. Aku bahkan hampir melupakannya. Tiba-tiba saja aku merasa seperti kehilangan kedamaian dan kehangatan yang sempat aku dapatkan waktu itu.


Aku melihat jam di dinding kamar itu, dan waktu sudah menunjukan waktu sahur. Aku bangun dari tempatku dan melihat sekeliling.


"Bodohnya aku, aku bahkan tak tau dimana letak dapurnya." batinku.


Jadi aku hanya meminum segelas air putih yang disediakan sejak pertama aku memasuki kamar ini.


Aku memutuskan untuk tidak tidur lagi karena sebentar lagi adalah waktu subuh. Tapi yang benar saja, aku bahkan tak tau apakah disini ada mukena atau tidak. Dan lagi, aku tidak berani berkeliaran hanya untuk mencari air untuk berwudhu. Jadi aku tidak menggunakan mukena dan bertayamum atau bisa disebut mensucikan diri dengan debu.


Pagi pun tiba, aku hanya terduduk dilantai. Dan tiba-tiba saja pria yang di kasurku terbangun. Tapi dia terlihat aneh.


"Heii siapa kau, penyusup yaa?" Laki-laki itu terlihat terkejut melihatku.


"Emmmm... Apa maksud anda?, saya adiknya Farhan yang kemarin dibawa kesini." Jelas ku padanya.


"Astaga... Aku baru ingat sekarang." Laki-laki itu bergumam sendirian.


Lantas dia bangun dari kasur dan hendak keluar dari kamar itu, namun aku berdiri dan bertanya...


"Permisi... Dimana kamar mandinya?" Ucapku dengan lantang.


Laki-laki itu berbalik dengan matanya yang masih sedikit tertutup sambil menunjuk sebuah arah, lalu dia pergi dan menutup pintu.


"Wahhh... Apa paan dia, apa dia benar-benar pria kemarin yang suka marah, tapi hari ini sepertinya..., apa karena masih mengantuk ya, atau jangan-jangan dia berkepribadian ganda." Gumamku.


Aku mondar-mandir selama beberapa menit untuk mencari kamar mandi yang dia tunjukan, aku tak menemukan tempatnya, tapi aku menemukan sebuah ruangan aneh.


Aku memasuki ruangan itu dan betapa terkejutnya aku. Ruangan itu dipenuhi dengan senjata, baik senjata moderen maupun tradisional.


Melihat hal itu aku hanya bisa menelan ludahku sambil ketakutan. Aku berjalan mundur dan akan keluar dari ruangan itu. Namun salah satu orang di situ melihatku dan memanggilku.


Aku terkejut dan berlari berusaha keluar dari rumah itu. Tapi apa daya, terlalu banyak orang di rumahnya. Aku tertangkap dan terus memberontak dan memohon untuk dilepaskan.


"Ada apa ini ribut-ribut?" Lagi-lagi pria itu turun dari tangga dengan pakaian rapi.


"Dia berusaha kabur bos." Ucap salah satu anak buah di situ.

__ADS_1


Klang... Suara pintu besi dibuka.


Aku dipaksa untuk masuk di ruangan itu.


"Tolong lepaskan saya, saya janji tidak akan macam-macam lagi." Aku memohon-mohon pada pria yang sering disebut bos itu.


"Jangan keluarkan dia sampai aku memerintah untuk mengeluarkannya." Ucap pria itu kepada anak buahnya.


"Tidak... Kumohon lepaskan saya." Teriakku sambil menangis. Namun apa daya mereka mengabaikan permohonanku.


Lagi-lagi keadaanku terlihat menyedihkan. Aku terduduk di lantai beralaskan tikar.


"Mungkin benar dia berkepribadian ganda." Gumamku


Tiba-tiba saja ponselku berdering.


"Oh ya ponsel, kenapa aku bisa lupa?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku sangat senang mendengar ada yang menelefonku jadi langsung kujawab panggilannya.


"Assalamu'alaikum Ut, gimana kabar lu?" Tenyata Mia yang menelefon, tapi sejak kapan Mia mengawali pembicaraan telefon dengan salam.


"Wa'alaikumsalam Mi, Mi tolong gue Mi, Bantu gu..." Ucapku terpotong oleh Mia


"Stttt... stttt... Lu diam dulu Ut, gue mau curhat, lu tau kan si Rendi, dia tu anaknya manisss banget, kemarin kan aku kepasar sendirian soalnya Rani lagi kerumah temennya. Nah Sepeda gue bocor, untung aja ada Rendi, dia bonceng gue sambil bawa sepeda gue yang rusak, dia sok-sok an sih, kita jatuh ke parit dong, tapi bukannya marah ehh dia malah ngetawain gue. Sumpahh guee seneng banget. Ohh ya btw tadi lu mau minta tolong apa Ut?" Mia bertanya padaku setelah panjang lebar bercerita.


"Ohh... Kalo Ahmad mah gue juga tau, dia baik-baik aja kok, santai aja..., lu sendiri gimana ikut kakak lu, seru ngga disana?" tanya Mia padaku.


"Se... Seru kok Mi, aku dapat kenalan baru banyak banget, orangnya beragam dan juga baik semua, aku juga bakalan masuk Universitas yang aku pengen dari dulu Mi. Yaudah Mi, sehat selalu ya!" Jawabku pada Mia dengan terus menahan tangisku.


"Wah... Gue jadi ngiri sama elu deh Ut, kapan-kapan gue kesitu ya, dan lu juga sehat selalu Ut, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Aku menutup telefonnya.


"Maafin Mi aku udah bohong, dan gue harap lu ngga akan kesini Mi." Aku berbicara sendiri.


2 jam kemudian...


Seseorang datang sambil membawa sepiring nasi untukku. "Ini makanlah!" perintahnya padaku


"Maaf saya sedang puasa, saya tidak bisa makan sekarang, bisakah anda membawakan makanannya nanti?" Aku meminta padanya.

__ADS_1


"Aduhhh,,, repot amat sih, ya tinggal makan makanan ini nanti pas kamu udah boleh makan." Dia menolak permintaanku.


Orang itu akan pergi namun aku mencegahnya sebentar. "Tunggu..., dimana orang yang sering kalian panggil bos?" Aku bertanya lagi.


"Dia sedang tidak ada, dia sedang ada urusan, mungkin dia akan pulang besok siang." Jawabnya lagi.


"Lalu bagaimana dengan kuliahku, katanya aku akan masuk kuliah hari ini?" Aku terus saja bertanya padanya hingga mungkin membuat dia sedikit geram.


"Hmmmm... Bos sudah bilang padaku, bahwa kau tidak perlu masuk hari ini, ada suatu masalah sehingga kuliahmu akan ditunda. Pahammmm." Jawabnya dengan ekspresi sedikit kesal.


"Iya terimakasih." Jawabku lalu dia pergi.


Melihat orang tadi, entah kenapa aku tak takut, menurutku dia terlihat sedikit konyol. Dan dia sepertinya ingin marah tadi, tapi kenapa harus menahannya, jika dia memang orang jahat biasanya pasti akan langsung mengungkapkannya tanpa basa basi.


Ahmad POV


Aku menemui Mia


"Mia... Apa kau sudah menelefon Tari?" Tanyaku pada Mia.


"Sudah, katanya dia baik-baik saja bahkan dia akan memasuki Universitas yang dia impikan dari dulu."


"Syukurlah, lalu apa dia tidak bertanya tentangku?" aku bertanya lagi.


"Emmm... Sebenarnya dia tanya kabarmu". Jawab Mia


"Gitu doang???" Aku agak kecewa karena melenceng dari perkiraanku.


"Sorii ya, sebenernya aku tadi kebanyakan curhat ke Tari, jadi dia mungkin udah males deh buat tanya yang lain." Ucap Mia.


"Jahat banget sih, padahal kan aku yang nyuruh lu telfon Tari, yaudah deh aku balik dulu." Aku pamit ke Mia.


Utari POV


Aku masih duduk termenung meratapi nasib sambil menunggu adzan magrib. Namun aku mulai curiga, harusnya ini sudah lewat jam magrib, jadi aku mencari jam, aku melihat jam yang berada sedikit jauh dari ruanganku, dan yang benar saja, ini sudah sangat lewat, aku segera membatalkan puasaku dengan segelas air.


Aku melaksanakan sholat magrib dan akan memakan makananku. Baru saja kumakan satu suap, aku memuntahkannya lagi, nasi itu sudah berlendir dan berbau. Mungkin karena makanan ini sudah terlalu lama terkena suhu ruang.


Aku tidak makan apapun hari itu, jadi aku hanya duduk dan membaringkan badanku yang terasa sangat lemas. Tak lama waktu isya sudah datang aku melaksanakan sholat dan kembali berbaring.

__ADS_1


Aku tertidur sebentar, namun tiba-tiba kurasakan perutku sangat sakit, aku terus menahannya dengan sekuat tenaga. Aku tau ini mungkin efek dari sakit magh. Tapi sepertinya kali ini sudah diluar batas.


Aku Merintih kesakitan dan lama-lama semuanya terlihat gelap.


__ADS_2