
Hari itu hari yang sangat cerah. Entahlah... sepertinya semenjak berada di pondok ini cuaca senantiasa cerah. Aku menyapu halaman pondok itu sambil menyirami tanaman.
Aku sangat bahagia sekarang. Rasanya bebanku sedikit demi sedikit terasa berkurang. Aku tersenyum bahagia saat itu, hingga Mia mengabari aku bahwa ia ditelfon oleh ayahnya bahwa ayah dan ibuku mengalami kecelakaan. Kendaraannya tertabrak oleh mobil saat hendak berziarah kubur.
Seketika aku mengurungkan senyumku dan menjatuhkan sapu di tanganku. Aku berlari dan mengambil sepedaku. Aku mengayuh dengan sekuat tenaga. Pandangan mataku sangat kabur karena dipenuhi air mata.
Aku terjatuh bersama sapedaku. Kakiku terluka, namun aku tak menghiraukannya. Aku terus saja mengayuh hingga aku sampai di depan rumahku.
Seketika kakiku lemas. Aku terduduk di tanah yang sedikit basah saat melihat bendera kuning berkibar didepan rumahku.
"Hiks...hiks..." Aku tak bisa menghentikan tangis ku. Aku mengelap air mataku, berdiri, dan berlari kedalam rumah. Aku mencoba berfikir positif bahwa ini hanya lelucon, atau drama agar aku pulang kerumah.
Namun beberapa detik kemudian aku tak bisa lagi berfikir positif. Tentu saja, aku melihat ayah dan ibuku terbujur bertutupkan kain putih.
Aku memeluk mereka. Aku menangis sangat keras. "Bapak, ibuk..., bagaimana kalian bisa tega buk, aku bahkan belum bisa mencapai cita-citaku, aku belum bisa membahagiakan bapak sama ibuk, aku tau, kalian cuma pura-pura kan, jawab bukkk."
Tak hanya berhenti disitu Utari berganti berbicara pada ayahnya. "Pak... Bapak tau nggak, aku sekarang udah nemu calon menantu buat bapak, yah walaupun aku ngga tau dia mau ngga sama aku, tapi dia tipe idaman bapak, nanti aku kenalin, ayo bapak sama ibuk jangan pura-pura lagi. "Ucapku sambil terisak-isak.
"Cukup." Bentak dari salah satu pria.
Ternyata dia adalah kakakku. Sebenarnya aku memiliki kakak laki-laki namanya Farhan. Dia dulu merantau, namun hingga sekarang tak pernah pulang. Dia mengirimkan uang beberapa bulan sekali untuk keluarga.
Kakakku menarikku dari pelukan ayah dan ibu. "cukup, sudah cukup, ini sudah takdir bapak dan ibu." Ucapnya sambil menatap mataku.
"Semudah itu ya kakak ngomongnya, cuma mereka keluarga kita, kerabat kita udah merantau jauh semua entah kemana, dan aku belum menyelesaikan tugasku sebagai anak kak." Balasku marah pada kakakku.
Kakakku merangkulku dan kita pergi ke pemakaman ayah dan ibu. Aku tetap saja menangis disepanjang perjalanan ke makam. Kami berdoa untuk mengantar kepergian kedua orang tuaku.
Aku masih menangis di barisan paling belakang. Kakakku tak mengijinkanku berada didepan. Tiba-tiba saja ada yang merangkul pundak ku.
__ADS_1
"Sudah Ut, jangan nangis, kamu yang tabah ya" Mia berusaha menenangkan aku.
Mia datang bersama Ahmad dan Rani juga. Pemakaman telah selesai, aku menyuruh Mereka bertiga untuk kembali ke pondok dulu karena aku harus menemani kakakku.
"Tar lu habis ini ikut gue ke kota X aja!" Nada bicara kakakku tiba-tiba berubah saat tidak ada orang lagi.
"Gue mau disini aja kak, kita lapor polisi biar ditangkap orang yang nabrak bapak sama ibuk." Jawabku.
"Gilak lu... Mau ngapain disini, mau jadi guru ngaji haaa, emang lu ngga mau apa, kuliah terus ngraih cita-cita lu, percuma juga kita lapor, gk akan ada yang berubah, bapak sama ibuk nggak bakalan idup lagi, paham lu!!!" ucap kakakku sedikit menyebalkan.
"Emang... Kakak sanggup bayarin kuliahku haaa?" akupun ikut terbawa suasana.
" Bayarin??? Enak banget lu ngomong, ya kerja lah, lu bayar sendiri. Kita itu butuh uang buat makan Tar. Sekarang bapak sama ibuk udah ga ada, kita harus bisa hidup sendiri, lu juga ga bisa hidup di pondok ini terus, suatu hari lu juga bakal keluar dari pondok ini. Terus rencana lu setelah ini apa haa, ngemis gitu,,, paham lu sekarang?" jelas kakakku
"Kalo gue ikut emang kakak bisa jamin aku bakal kerja, terus dapat uang?" tanyaku untuk pertimbangan
"Lu ngga liat gue, nyatanya gue bisa ngirim duit buat lu kan, kota X tu gampang cari duit. Kita jual rumah ini kita pindah kesana, dulu bapak udah ngomong gitu ke gue, kita boleh jual rumah ini kalo ini emang udah jadi milik kita." kakaku sepertinya ingin meyakinkan aku.
"Tiga hari lagi, jadwal gue padet soalnya." dia menyombongkan dirinya padaku.
Hari ini aku menginap dirumah, dan rencananya besok aku akan pergi ke pondok lagi. Semalaman aku berfikir tentang tawaran kakakku.
Setelah difikir-fikir sepertinya benar ucapannya, aku tidak bisa terus di sini dengan keadaanku yang sekarang, aku sudah melamar banyak lowongan kerja di sini, namun nihil.
Esoknya...
Aku menemui kakakku. "Okee... gue setuju sama tawarannya!" Ucapku saat dia duduk sambil main hp.
"Nahhh... Gitu kek dari kemarin, yaudah lu kemasin barang-barang yang mau lu bawa, besok kita berangkat." Jawab kakakku sambil menyeringai.
__ADS_1
"Tapi ijinin aku buat pamit dulu sama orang-orang pondok." aku memohon padanya.
Hari itu aku berkemas dan memilah-milah barang mana yang sekiranya bakal aku bawa. Sebenarnya aku sangat berat sekali meninggalkan semua sahabat-sahabatku.
Aku terus memilah dan melihat foto itu, aku melupakan foto Ahmad. Sudah lama sekali aku menyimpannya.
Siang ini aku pergi ke masjid itu lagi. Aku belum bisa mengatakan apapun, jadi aku tetap melanjutkan aktifitas ku seperti biasanya. Aku melipat-lipat bajuku dan memasukannya dalam tas.
Mia terkejut "Ut lu mau kemana?" Tanyanya bingung.
"Anu Mi, gue susah mau critanya. Besok gue kayaknya udah ngga disini lagi Mi." Aku mengatakannya sambil tertunduk dan terus melipat bajuku.
"Ut, lu mau kemana sih, ceritanya yang jelas dong." Mia semakin memaksaku untuk bercerita.
"Gue mau ikut kakak ke kota X, gue mau ngelanjutin hidup disana Mi, maafin gue ya kalo selama ini gue ada salah, nyebelin, sering ngerpeotin" ucapku pada Mia
"Lu ngga lagi bercanda kan Ut, cuma lu Ut temen gue disini, tega ya lu?" Mia menatapku dengan wajah sedih.
"Kan sekarang udah ada Rani, ada Ahmad, terus ada siapa tu namanya Reno apa siapa tu?"
"Rendi." Jelas Mia padaku
"Iya maksud gue Rendi"
Saat itu Mia menangis tak karuan. Aku memeluknya dengan erat dan sekali lagi meminta maaf.
Setelah itu aku pergi menemui ustadz untuk berpamitan. Dan yang terakhir tentu saja Ahmad. Aku menemuinya langsung ke pondok laki-laki, aku bertanya pada temannya bahwa aku sedang mencari Ahmad. Ahmad menemuiku akupun berbicara padanya tanpa basa basi
"Ahmad, aku akan pergi dari sini besok, aku akan ikut kakakku ke kota X, terimakasih ya kamu udah mau jadi pembimbing aku, berkat kamu, aku menemukan titik terang, dan maaf kalo aku punya salah selama ini." Ucapku pada Ahmad.
__ADS_1
Aku hampir berbalik badan, Namun aku teringat sesuatu. " ini fotomu yang dulu ku pinjam, maaf aku ngga bisa menjaga foto itu dengan baik, bahkan aku sudah sempat lupa untuk mengembalikannya." Sekali lagi aku meminta maaf padanya.
Aku berbalik badan dan berjalan menuju ke pondok. Ahmad memanggil namaku dari kejauhan. Mendengar hal itu aku berhenti sejenak dan melanjutkan langkahku sambil meneteskan air mata.