Selembar Hijab Untukku

Selembar Hijab Untukku
eps.9 mengurungkan niat


__ADS_3

Taaruf??


"Maaf ustadz sepertinya saya masih ragu, dan lagipula Utari sepertinya masih ingin memiliki kebebasan dalam hidupnya" jawab Ahmad pada ustadz.


Namun sepertinya mengetahui isi hati Ahmad, ustadz pun meyakinkannya lagi


"Ahmad... coba saja tanyakan padanya langsung, cobalah mencari suasana yang tepat, dan mintalah pendapatnya".


"Emm...saya akan memikirkannya dulu" ucap Ahmad.


Author POV


Kembali pada Utari dan Mia, Utari yang mengetahui Mia akan mondok disitu juga Utari sangat senang dan mengajak Mia ke pondok perempuan.


Yaa... Mia sudah tidak terlalu canggung dengan keadaan disitu karena sudah pernah berada didalam pondok tersebut.


Utari dkk POV


Aku mengajak Mia masuk dan duduk disana. Belum lama kami duduk salah satu perempuan yang ada disitu menyambutnya


"Lohh... Ini bukannya temanmu yang kemarin juga disini Tar?"


"Eh... Iya kak ini namanya Mia, dia sekarang juga bakalan disini juga" jawabku


"Wahhh... Makin rame dan seru dong kalo gini caranya" ucap kakak itu gembira.


Oh ya perkenalkan, kakak yang menyambut Mia tadi namanya kak Dinda, dia sudah seperti seorang kakak di pondok itu, karena sifatnya yang seperti keibu-ibuan dan yang selalu menasehati kami saat ada masalah, aku sudah bisa dibilang akrab dengannya, karena dia juga selalu bersama Rani, intinya hampir dengan semua penghuni di pondok itu aku sudah mulai berbaur, karena rata-rata usia kami tidak beda jauh, jadi obrolan kita hampir semua nyambung. Dan aku percaya Mia juga akan cepat beradaptasi di tempat ini.


Dan seperti biasa kita menjalankan kegiatan di masjid itu, seharusnya setelah acara itu biasanya aku tidur, tapi entah kenapa aku ingin terus terjaga, aku keluar dan berjalan jalan disekitar masjid, dan aku duduk didenggung tempat aku dulu bertemu dengan Ahmad, aku melihat kearah langit. Suasana langit terlihat sangat tenang. Aku tersenyum dan melihat bintang yang amat cantik.


Aku merasa tak ada masalah apapun, namun entah kenapa perasaan ini datang lagi, rasanya aku ingin menangis dan batin ini terasa sesak, sangat sulit menjelaskannya. Rasanya seperti kau menyeret bola baja dikakimu, setiap langkah hidupku terasa begitu berat dan sakit.


Dan aku berdoa semoga langkah yang kuambil sekarang ini adalah langkah yang benar, dan langkah yang bisa membebaskanku dari belenggu bola baja itu.


Aku ingin mencari petunjuk, petunjuk yang benar-benar akan membawaku pada kebahagiaan...


Aku menangis dimalam itu sambil menatap langit yang indah.


Tak terasa ini sudah hampir jam 1 pagi, aku harus kembali ke pondok perempuan dan bergegas menyiapkan makanan sahur.


Aku masuk kedalam dan ternyata Mia juga bangun, dan dia bertanya padaku


"Dari mana aja lu Ut, aku tau lu ngga ada di sini sejak tadi kan?" ucap Mia khawatir


"Ngga papa kok Mi ,cuma pengen cari angin aja, btw lu juga ngapain udah melek aja jam segini, biasanya paling juga masih molor?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan


"Hmmm... Gue ga bisa tidur Ut, belum terbiasa kali ya" ucap Mia agak resah


"Halaaah,,, gapapa, kan ada guehh" jawabku pada Mia

__ADS_1


Miapun tersenyum dan menanyakan, tentang laki-laki yang waktu itu berbicara padaku


" Ut... Yang waktu itu, Ahmad ya?"


"Y" jawabku singkat


"Ihh... Apaan sih Ut, cuek amat. Jawab Mia kesal


"Oh ya Mi, kok lu bisa kenal sih sama temennya Ahmad, kalo ga salah waktu itu dia Manggil lu kan" tanyaku penasaran


"Hmmm... Giliran lagi kepo aja, baru banyak b***t." Jawab Mia sembarangan


"Jaga omongan lu Mi, kalo bisa mulai sekarang kita ngga usah pakai kata-kata yang begituan, atau kalo bisa, kita manggilnya juga kamu dan aku!" kataku sambil memberikan ide aneh.


Mia langsung syok "Ihhh ogah ogah ogah, apaan, kamu aku??, aneh banget coba nih ya aku contohin, eh kamu udah makan belum Ut aku ambilin makan ya?"


Seketika aku merasa jijik mendengar Mia yang tiba-tiba ngomong gitu, dan aku memutuskan tidak jadi melaksanakan niatku tadi.


Besok sepertinya pasar akan ramai, jadi aku mengajak Mia kepasar untuk berbelanja.


Esok harinya


"Mi ayo berangkat"


Aku bergegas kepasar bersama Mia menaiki sepeda kesayangan kami. Aku melihat-lihat jilbab disitu, dan banyak sekali jenisnya, aku sebenarnya ingin beli, tapi uangku mau aku pakai buat beli cemilan.


Aku mengelilingi seisi pasar itu dan tanpa sengaja kami bertemu dengan Rani, dari kejauhan terlihat Ahmad menuju kearah Rani


"Ehhh... Kak Mia, ikut aku beli kentang yuk, soalnya tadi kelupaan" ucap Rani pada Mia dengan tiba-tiba.


Entah apa yang direncanakan Rani, dia segera menarik tangan Mia dan meninggalkan aku berdua dengan Ahmad.


Suasana seketika jadi sangat canggung untuk yang kedua kalinya setelah hari itu.


"Emmm Ahmad aku akan mengejar Radi dan Mia" aku berusaha pergi, dan akupun berbalik badan untuk mengejar mereka berdua, tapi...


"Eh Tari..."


Ahmad memanggilku dan tanganku..., dia menggenggam tanganku dengan erat, aku melihat tanganku dan menatapnya, dan seketika dia melepaskannya dan terlihat malu, lantas aku tersenyum melihat dia seperti itu.


"Tari... Kita tunggu diluar saja yuk, sambil minum es cendol" ajak Ahmad padaku


"Tapi aku ngga ada uang, gimana doong" jawabku memberi kode padanya


"Emm... Gapapa pake uangku aja" jawaban yang sungguh tak kusangka, padahal aku niatnya cuma bercanda.


Kami minum es cendol dan mengobrol banyak... Kami berbicara soal mantanku, dan lain lain, ya jelas aku jawab, aku nggak punya mantan, karena emang nggak pernah pacaran, dan dia juga tanya tentang hobiku dan lain-lain.


Mia dan Rani POV

__ADS_1


"Rani, katanya mau beli kentang, kok malah ngajakin makan rujak sama es krim disini?"


Tanya Mia bingung.


"Ihh masa kak Mia ngga peka sihh, kita biarin aja mereka berduaan" jawab Rani santai sambil memakan rujaknya.


"Loh bukannya biasanya kalo orang orang alim kek kalian ngga suka berduaan ya, apa lagi bukan mukhrim?" tanya Mia ceplas ceplos dan ikut menikmati rujak Rani.


"Hmmm... Ya kan emang dilarang agama untuk berduaan kalo bukan mukhrim, tapi emang kakak ngga liat ini tu pasar kak... pasar, banyak orang juga, lagipula aku percaya sama kak Ahmad, dia nggak bakalan macem-macem, oh ya satu lagi, sebenernya ini tu kesempatan buat kak Ahmad menyampaikan sesuatu pada kak Tari...


Ahmad dan Tari POV


"Tari... Menurutmu aku gimana" tanya Ahmad


"Gimana, gimana, gimana maksudnya?" aku terlalu binggung untuk jawab.


"Aku mau kenal lebih deket sama kamu Tar" ucap Ahmad sambil menatapku.


"Maksudnya gimana, ya makannya kan kita emang temenan... atau jangan-jangan kamu mau ngajakin pacaran lagi" jawabku asal-asalan.


"Ya nggak lah... Iya maksudku, kita temenan lebih deket, biar kalo ketemu nggak canggung. Jawab Ahmad jadi agak ngegas.


"Yeee... Santai aja kale, masnya ngga usah panik gitu lah hahaha" jawabku sambil mengejeknya


Dan setelah itu Rani dan Mia datang, dan tiba-tiba Ahmad menyuruh Rani pulang bersama aku dan Mia, Ahmad ingin pulang sendiri katanya..., namun belum sampai jauh Ahmad berjalan aku memanggilnya.


"Ahmad makasih ya es cendolnya." Teriakku pada Ahmad.


Ranipun bertanya padaku "gimana kak Tari, jadinya diterima ngga tadi?" ucap Rani menggodaku.


Aku bingung dengan maksud Rani jadi aku menjawabnya. "Emang diterima apanya?"


"Emmm... Bukan apa apa kok kak" jawab Rani sambil terheran.


"Eh btw tadi kamu kesini naik apa Ran?" tanya Mia.


"Ya jalan kaki lah, kenapa emang?" jawab Rani.


"Loh trs gimana dong, aku sama Tari tadi naik sepeda lo, mana boncengan lagi, seenaknya aja kakak lu nitipin kau ke kita." jawab Mia sambil bingung mikirin cara kita pulang bertiga.


"ngapain bingung, kita bertiga jalan kaki bareng lah hahaha" ucap Rani dengan santainya.


Ya mau bagaimana lagi, kita pulang dengan jalan kaki dan gara gara itu kita juga baru sadar kalo Rani itu orangnya santai dan blak blakan.


"Aku curiga aku ngga cuma bakal jadi duo aja sama Mia tapi bakalan tambah personil jadi Trio, wkwkwk". Ucap dalam batinku.


Jangan lupa baca episode salanjutnya...


Maaf apabila ada salah kata, bahasa, maupun penulisan

__ADS_1


Happy reading:)


__ADS_2